Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Sandiwara dalam dekapan
Suara mesin mobil Rolls-Royce yang halus hampir tak terdengar, kontras dengan gemuruh di dada Aluna. Di kursi belakang yang luas, ia duduk diapit oleh Tuan Adiguna dan Nyonya Widya.
Sementara itu, Bramasta duduk di kursi depan di samping sopir, punggungnya tegak dan kaku, matanya menatap lurus ke jalanan yang gelap. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa hanya beberapa menit yang lalu, pria di depan itu hampir saja menanggalkan seluruh pertahanan Aluna di atas ranjang villa.
Aluna menyandarkan kepalanya di bahu Nyonya Widya, memeluk lengan wanita tua itu dengan manja.
"Nenek, terima kasih sudah mengizinkan Aluna ke Lembang. Udaranya sangat segar, Aluna merasa jauh lebih tenang sekarang," bisik Aluna dengan nada suara yang sangat tulus, seolah-olah ia baru saja pulang dari retret spiritual yang suci.
Tuan Adiguna mengelus rambut Aluna dengan sayang.
"Kakek senang mendengarnya, Sayang. Apa saja yang kau lakukan dengan Bramasta di sana? Kakek harap dia tidak membosankan dengan terus-menerus membicarakan dokumen kantor."
Aluna terkikik pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat lugu.
"Oh, Daddy sangat baik, Kek. Kami jalan-jalan di sekitar hutan pinus, melihat matahari terbenam, dan Daddy banyak bercerita tentang masa kecilnya. Liburannya sangat seru! Aluna merasa seperti punya kakak laki-laki sekaligus ayah yang hebat."
Dari kaca spion tengah, mata elang Bramasta sempat menangkap tatapan Aluna. Ada kilatan jenaka sekaligus peringatan di sana. Bramasta tahu betul apa yang dimaksud Aluna dengan "jalan-jalan" dan "bercerita"—semuanya adalah kode untuk gairah yang baru saja mereka bagi.
Hanya Aluna yang berani menyebut aktivitas panas mereka sebagai "liburan yang seru" di depan para tetua.
"Benarkah? Bramasta bercerita tentang masa kecilnya?" Nyonya Widya menyahut, jemarinya yang mengenakan cincin berlian besar mengusap pipi Aluna.
"Dia biasanya sangat tertutup. Sepertinya kau memang punya cara khusus untuk membuka hatinya, Aluna."
"Aluna hanya mendengarkan, Nek," sahut Aluna lagi, kini ia beralih memeluk lengan Kakek Adiguna. "Kakek jangan khawatir, Aluna sudah tidak sedih lagi soal Clara. Aluna tahu Kakek dan Nenek selalu ada untuk melindungiku."
Tuan Adiguna tertawa bangga, merasa puas karena cucu angkatnya kembali ceria. Ia tidak menyadari bahwa di balik kemeja putih yang dikenakan Aluna, terdapat tanda kemerahan yang disembunyikan dengan cermat di balik kerah tinggi, hasil dari "gerilya" Bramasta sore tadi.
Gairah Aluna memang telah berlibur dengan sangat hebat, namun fisiknya kini harus kembali mengenakan topeng porselen yang sempurna.
Suasana di dalam mobil terasa begitu hangat dan penuh kasih keluarga, sampai Nyonya Widya membetulkan posisi duduknya dan menatap Aluna dengan binar mata yang penuh rahasia.
"Sebenarnya, Aluna..." suara Nyonya Widya memberat, membuat suasana seketika menjadi lebih serius.
"Nenek dan Kakek menjemput kalian malam-malam begini bukan hanya karena berita di Jakarta yang semakin liar atau karena kami terlalu cemas."
Aluna mengangkat kepalanya, menatap Nenek dengan rasa ingin tahu yang dibuat-buat.
"Lalu karena apa, Nek?"
Nyonya Widya tersenyum misterius, ia melirik Tuan Adiguna yang juga ikut tersenyum penuh arti.
"Ada sebuah kejutan besar yang sudah menunggu di rumah utama. Sesuatu—atau seseorang—yang sudah lama tidak kau temui."
Jantung Aluna mencelos. Seseorang? Siapa?
"Kejutan apa, Nek? Aluna jadi penasaran," tanya Aluna, meskipun kali ini rasa cemasnya nyata.
"Kau akan tahu saat kita sampai, Sayang," sahut Tuan Adiguna sambil menepuk tangan Aluna.
"Kakek sudah menyiapkan ini sejak lama sebagai hadiah karena kau sudah menjadi anak yang sangat baik dan sabar menghadapi semua ujian ini."
Di kursi depan, Aluna bisa melihat rahang Bramasta yang mengeras. Bramasta juga tampak terkejut dengan informasi ini. Ia melirik melalui spion, mencoba berkomunikasi dengan Aluna, namun Aluna terlalu sibuk menenangkan gemuruh di dadanya.
Kejutan di rumah Adiguna tidak pernah menjadi sesuatu yang sederhana. Apakah ini sosok dari masa lalu Aluna yang bisa mengancam rahasianya dengan Bramasta? Atau adakah rencana perjodohan lain yang sedang disiapkan Kakek untuk menjauhkan Aluna dari pengaruh Bramasta?
Mobil terus melaju membelah jalanan tol menuju Jakarta. Aluna kembali menyandarkan kepalanya, namun kali ini ia tidak benar-benar merasa tenang. Sandiwara manja yang ia lakukan tadi kini terasa seperti lapisan es tipis yang bisa pecah kapan saja.
Ia baru saja menikmati puncak gairah bersama sang Daddy, namun sekarang, sebuah kejutan besar di rumah utama siap menunggunya—sebuah kejutan yang mungkin akan mengubah arah permainannya selamanya.