Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fasilitas Kantor
Aiena baru saja keluar dari kamar mandi ketika nama Shane muncul di layar ponselnya yang menyala, membuat jantungnya sedikit melompat. Segera ia menerima panggilan tersebut. Barangkali ada tugas penting atau pemberitahuan bahwa kantor hari ini diliburkan.
“Halo?” sapanya sambil mendudukkan diri di depan meja rias.
“Halo, Na. Aku sudah di depan. Jangan buru-buru.”
Aiena mengernyitkan dahi. “Shane? Kemarin kan sudah aku bilang, aku bisa berangkat sendiri. Aku sudah biasa naik ojek daring.”
“Aku tahu kamu bisa, tapi aku pengen jemput kamu,” potong Shane . “Lagi-‘, mobilku monta jalan-jalan pagi ini. Aku tunggu, santai aja, waktunya masih panjang.”
Aiena mendesah pelan, namun sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Keisengan pria itu terkadang menyebalkan, tapi juga manis. “Baik, pangeran. Tunggu sepuluh menit.”
Segera Aiena mengaplikasikan skincare routine-nya dengan cepat disusul make up tipis, merapikan pakaian, tas, memakai sepatu dan buru-buru keluar agar bosnya itu tidak menunggu terlalu lama.
Begitu ia masuk ke dalam mobil Shane yang sejuk dan wangi itu kecanggungan semalam perlahan memudar, digantikan oleh suasana yang lebih santai.
“Kantorku fasilitasnya luar biasa ya. Pasti nanti kalau buka lowongan baru peminatnya banyak banget,” guraunya saat mobil mulai melaju membelah jalanan komplek.
Shane terkekeh pelan. “Anggap aja ini fasilitas kantor khusus untuk karyawan terbaik. Aku lagi bikin penilaian kinerja, dan sejauh ini, kinerjamu... cukup mengesankan.”
“Cukup? Cuma cukup?” Aiena pura-pura tersinggung, lesung pipinya muncul kembali.
“Oke, oke, sangat mengesankan,” ralat Shane sambil melirik Aiena sekilas. Mata pria itu berkilat jail di bawah sinar matahari pagi.
Percakapan mengalir ringan di antara mereka, dari topik pekerjaan hingga rencana makan siang. Shane terus menggoda Aiena, membuat tawa kecil sesekali lolos dari bibir wanita itu. Rasanya begitu menyegarkan bisa berbicara bebas tanpa takut mendapat tanggapan sinis.
Saat lampu merah di perempatan jalan utama menyala, Shane menghentikan mobilnya di belakang zebra cross. Ia bersandar pada sandaran jok, menatap Aiena dengan tatapan yang lebih serius.
“Biasanya, kamu berangkat kerja sama siapa?” tanyanya pelan.
Pertanyaan itu membuat dada Aiena sedikit berdesir, bayangan Haze sempat melintas. “Dulu… sama Haze. Dia selalu antar jemput. Makanya dia selalu nungguin di depan kantor.”
“Setelah nggak ada dia?”
“Papa, kalau beliau nggak ada urusan pagi. Atau... naik ojek daring,” jawab Aiena jujur.
Shane mengangguk-angguk pelan, seolah sedang memproses informasi itu dalam benaknya. Ia mengetuk-ngetuk kemudi dengan jari-jarinya.
“Mulai hari ini, ada fasilitas khusus untuk karyawan terbaik,” kata Shane, suaranya terdengar tegas namun ada nada kelembutan yang terselip di sana. Ia kembali menatap Aiena, matanya bertemu dengan mata Aiena yang penuh tanda tanya. “Aku bakal jadi taksi khusus Aiena. Antar jemput tepat waktu. Nggak perlu lagi naik ojek daring. Papamu nggak perlu repot antar lagi.”
Aiena tertegun. Jantungnya berdegup kencang, menanti kelanjutan kalimat itu.
Shane kembali menatap lurus ke depan saat lampu lalu lintas berubah hijau. “Itu bagian dari fasilitas kantor yang baru saja aku update. Dan sebagai karyawan terbaik, kamu wajib memanfaatkannya.”
“Ya, baik. Luar biasa fasilitasnya. Aku bakal tulis di review perusahaan, dengan bintang lima,” ucap Aiena sambil tertawa.
Tentu saja sebenarnya itu bukanlah sebuah fasilitas kantor, Aiena tahu itu. Itu adalah sebuah janji tak terucap dari Shane bahwa ia akan selalu ada di sana, melindunginya dan memastikan ia sampai di tujuannya dengan aman. Dan janji itu, meski dibungkus dalam nada gurauan, terasa begitu hangat di hati Aiena.
***
Begitu pintu lift terbuka di basement, Aiena segera melangkah keluar dengan kepala sedikit menunduk. Berusaha mengabaikan belasan pasang mata karyawan lain di basement parkir yang tertuju padanya.
Di slot parkir khusus, mobil Shane sudah terparkir manis, dan sosok sang atasan berdiri tegap di samping pintu pengemudi, menunggu kehadirannya dengan terang-terangan.
Aiena memperlebar langkahnya agar cepat sampai, masuk ke dalam kabin mobil dengan gerakan cepat. Shane mengikuti masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup dan Shane meluncurkan kendaraannya keluar dari area parkir bawah tanah itu, Aiena menghela napas panjang sembari membetulkan posisi tas di pangkuannya.
“Shane, kamu sadar nggak? Tadi pada ngeliatin kita,” gumamnya pelan, matanya melirik ke arah kaca spion samping. “Kita bakal jadi bahan gosip utama di kantin besok pagi. 'Anak digital marketing dan Bos pulang bersama setiap hari', gosipnya nggak bakal berhenti sebelum ada gosip lain yang lebih heboh.”
Pria di sampingnya itu justru terkekeh ringan, jemarinya mengetuk kemudi dengan santai seiring irama musik jazz yang mengalun tipis. “Biarin saja, Na. Mulut orang tidak bisa kita tutup, tapi aku tahu kamu aman sampai rumah setiap hari. Lagi pula, waktu itu… waktu aku sama Haze… nggak ada yang gosipin, kan?”
“Hm, iya sih… Mungkin mereka takut kamu pecat.”
Shane melirik Aiena sekilas di sela kegiatannya menyetir. “Daripada mikirin gosip, gimana kalau kita makan dulu? Aku lapar. Temani aku makan malam, ya?”
Aiena terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Boleh. Kebetulan aku juga malas masak malam ini.”
“Bagus. Jadi, tuan putri mau makan di mana? Fine dining di atap gedung? Atau restoran Italia yang baru buka di mall itu?” tanya Shane dengan nada menggoda.
Aiena tampak berpikir serius, lalu menoleh dengan binar mata yang jujur. “Aku lagi pengen sate maranggi. Ada kedai langgananku di dekat terminal, satenya empuk dan sambalnya enak. Gimana?”
Seketika, tawa Shane pecah. Itu bukan tawa sopan yang biasa ia tunjukkan saat rapat, melainkan tawa lepas, polos, dan terdengar sangat tulus. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan sisa tawa di sudut bibirnya.
“Kamu benar-benar beda ya, Na,” ujar Shane setelah tawanya mereda. “Biasanya, gadis yang aku ajak makan malam akan langsung milih restoran mewah, tempat yang estetik buat foto, atau kafe yang viral di media sosial. Tapi kamu justru minta sate di pinggir terminal.”
Pria itu menatap Aiena dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari biasanya. “Sate maranggi, oke. Pakai nasi atau lontong, Tuan Putri?”
***