Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Makan malam yang mencekik.
Ruangan itu hangat—terlalu hangat untuk sebuah jamuan makan malam keluarga. Lampu gantung kristal di langit-langit memantulkan cahaya keemasan yang berkilau di atas meja panjang dari marmer hitam.
Di atasnya, hidangan mahal tersaji sempurna: steak wagyu, sup abalone, dan wine merah yang memantul di dinding kaca ruangan. Namun bukan makanan yang membuat suasana itu menyesakkan, melainkan tatapan-tatapan penuh maksud dari orang-orang yang duduk di sekelilingnya.
Kim Namjunho duduk di tengah. Wajahnya tampak tenang, tapi jemarinya yang menekan batang gelas memperlihatkan ketegangan yang tak bisa ia sembunyikan. Di sisi kanan, Kim Daejung, sang ayah — pria berwibawa dengan jas hitam rapi dan sorot mata yang tegas — menatap dengan kepuasan tersembunyi.
Di sisi kiri, Han Minseo, ibunya, tampak elegan dalam balutan gaun sutra abu-abu perak. Tatapannya dingin, tapi penuh perhitungan, seperti sedang menilai sesuatu yang harus berjalan sesuai rencana.
Di ujung meja, duduk pasangan Kang Daehyun dan Jung Ji-hye, sahabat lama keluarga Kim. Daehyun adalah pria paruh baya dengan suara berat dan gaya bicara tenang, sedangkan istrinya, Ji-hye, tampak seperti wanita sosialita yang menikmati peran sebagai ibu dari seorang model terkenal.
Di sisi mereka, duduk Kang Sooyeon — wanita berwajah rupawan dengan rambut cokelat gelap bergelombang, bibir merah mengilat, dan senyum yang terlalu sempurna untuk terlihat tulus.
Sooyeon mengenakan gaun pendek berwarna merah burgundy dengan potongan bahu terbuka, menampilkan kesan percaya diri yang mencolok. Ia duduk tegak, menatap Junho dengan mata berbinar seolah sedang menilai trofi berharga yang akan segera dimilikinya.
“Kami sangat senang akhirnya bisa membuat pertemuan ini terjadi, Putri kami sudah lama mengagumi Junho. Bahkan di kamar Sooyeon penuh dengan poster-poster SOLIX,” ujar Kang Daehyun dengan nada ramah.
Tawa kecil terdengar di meja. Junho hanya tersenyum sopan, walau dalam dadanya ada rasa geli yang getir. Ia melirik ayahnya yang hanya mengangguk singkat — isyarat diam untuk bersikap baik. Sooyeon menatapnya dalam, menyilangkan kaki dengan anggun.
“Kau lebih tampan di dunia nyata, Junho Oppa, aku menyukai lagu ‘Moonlight Rain’. Aku sering datang ke konsermu di Seoul atau di luar negeri. Bahkan pernah menunggu di luar hanya untuk melihat mobilmu lewat,” katanya sambil memainkan gelas wine di tangannya.
Junho menunduk sedikit, mencoba menyembunyikan ketidaknyamanannya di balik sopan santun.
“Terima kasih. Aku menghargainya,” balas nya tanpa benar benar menatap wanita itu, senyum Sooyeon melebar, lalu dengan santai menambahkan.
“Kalau nanti kita menikah… apa kau akan menulis lagu khusus untukku?” tanya nya yang membuat suasana mendadak hening.
Hanya terdengar denting lembut garpu yang diletakkan oleh ibunya. Tatapan tajam Han Minseo beralih pada putranya — isyarat agar ia menanggapi dengan baik. Junho mengangkat pandangan, matanya tenang tapi dingin.
“Aku hanya menulis lagu untuk sesuatu yang benar-benar aku rasakan,” jawab nya yang membuat Sooyeon tersenyum kikuk, tertawa kecil untuk menutupi rasa malu yang tak bisa ia sembunyikan.
Sementara itu, ayah Junho menghela napas pendek, suaranya berat dan dalam.
"Kau terlalu formal Junho-ya, dan ya Appa rasa sudah waktunya kau berpikir lebih dewasa. Kariermu sudah stabil, kehidupanmu mapan. Tidak ada alasan untuk terus menunda hal seperti ini. Keluarga Kang sudah sangat kami hormati. Ini kesempatan baik,” kata nya yang membuat Junho menggenggam gelasnya lebih erat, seakan itu satu-satunya pegangan agar tidak meledak.
“Appa, dengan segala hormat, pernikahan bukanlah proyek bisnis. Aku tidak bisa menikah hanya karena ‘waktu yang tepat’. Bukankah aku sudah membahas ini Minggu lalu?” tanya nya berusaha setenang mungkin, Minseo mendongak, suaranya dingin namun lembut seperti bilah kaca.
“Kau selalu punya alasan, Junho. Dunia luar sudah terlalu lama menyanjungmu. Tapi ingat, keluarga adalah hal yang akan tersisa ketika semua cahaya itu padam,” kata nya yang membuat Junho menatap ibunya lama, matanya suram.
“Dan luka juga akan tersisa, Eomma. Sama seperti keluarga yang selalu memaksa kehendak mereka pada anak-anak mereka. Eomma... Appa... hanya karena kalian orang tuaku, kalian tidak bisa mengatur semua hal dalam hidup ku, termasuk soal pilihan hidup. Aku juga butuh memahami hidup dengan pandangan ku, bukan pandangan kalian saja,” ujar nya pelan. Tapi jelas menyiratkan frustasi yang berusaha dia pendam agar tidak meledak saat itu juga.
Keheningan seketika menelan ruangan Jung Ji-hye mencoba tersenyum, kikuk, sementara Daehyun berdeham pelan.
“Ah, mungkin mereka bisa mulai dari berteman dulu saja. Saling mengenal,” sela nya cepat yang membuat Sooyeon menunduk lalu mengangguk setuju.
Ia tersenyum manis, tapi matanya menajam, seperti seorang pemain yang baru menyadari bahwa lawan mainnya menolak mengikuti naskah.
Bagi Junho, malam itu bukan jamuan keluarga. Melainkan ruang sandiwara — di mana setiap orang memainkan peran mereka: ayahnya sebagai produser, ibunya sebagai sutradara, keluarga Kang sebagai investor, dan dirinya sebagai aktor yang tak diizinkan berhenti.
Dan di ujung semua itu, ada satu rasa yang mengeras di dadanya: jijik. Bukan hanya pada Kang Sooyeon, tetapi pada kenyataan bahwa ia bahkan tidak memiliki pilihan untuk menolak.
Junho meneguk sisa air mineral di gelasnya, menatap kosong pada pantulan dirinya di permukaan meja marmer yang licin. Lampu kristal berkilau di atas kepala—indah, mewah, namun dingin. Seolah segala kemewahan di ruangan itu hanyalah cermin dari kehidupan yang diwariskan padanya: berkilau di luar, tapi hampa di dalam.
“Oppa, kamu biasanya makan banyak sekali di variety show, tapi sekarang diam saja? Apa karena grogi duduk di sampingku?” panggilnya lembut, dengan nada manja yang nyaris dibuat-buat.
Junho mengangkat wajahnya perlahan, membalas dengan senyum tipis—palsu, rapi, profesional.
“Tidak. Aku hanya sedang tidak begitu lapar,” Jawab Junho sopan, menundukkan pandangan. Ia berharap Sooyeon menangkap sinyal halus itu dan berhenti berbicara.
Namun, tentu saja, harapan itu sia-sia.
“Kalau nanti kita jalan bersama, kira-kira media akan sadar atau tidak ya? Dan aku penasaran dengan reaksi LUNARIS,” lanjutnya, nadanya seperti gurauan tapi penuh harap.
Junho meneguk kembali air di gelasnya—bukan karena haus, tapi untuk menutupi keengganan yang nyaris menyesakkan dada. Ia bisa merasakan tatapan ibunya dari seberang meja. Tatapan yang tegas, penuh pesan: Tersenyumlah. Jangan mempermalukan keluarga ini.
Tangan ayah Sooyeon mengetuk ringan permukaan meja, berusaha memecah keheningan yang sempat singgah di antara mereka, nada nya tenang namun terlihat jelas jika semua itu hanya di buat-buat.
“Putriku suka menulis juga, mungkin cocok dengan Junho, yang juga gemar menulis puisi. Benar begitu, Sooyeon-ah?” katanya dengan nada bangga. Sooyeon terkekeh pelan menatap Junho yang hanya diam seolah tak peduli.
“Aku pernah menulis puisi tentang cinta pertama,” ujarnya dengan nada menggoda. “Tapi waktu aku mendengar lirik yang kamu tulis, rasanya seperti jatuh cinta ulang,” lanjut nya yang membuat Junho menunduk sejenak.
Jemarinya mengepal di atas paha, sementara tangan satunya meremas gelas terlalu kuat hingga sendi jarinya menegang.
“Senang mendengarnya,” ucapnya datar.
Senyum tipis itu tetap di wajahnya, tapi matanya kosong.
Percakapan di meja terus bergulir, penuh tawa sopan, basa-basi, dan kepura-puraan yang mencekik. Sementara itu, Junho sibuk menghitung waktu dalam diam. Ia ingin keluar dari sana. Udara ruangan terasa terlalu sempit, seakan setiap dinding memantulkan suara sendok dan garpu yang menertawakan kebisuannya.
Ia tetap duduk tegak. Tetap sopan. Tetap diam. Namun bahasa tubuhnya berbicara dengan jujur—bahunya menegang, jarinya tak henti mengusap bibir gelas, dan matanya enggan menatap siapa pun terlalu lama. Ia merasa seperti aktor di atas panggung yang tak pernah ia pilih. Peran yang tak pernah ia audisi. Dialog yang tak pernah ia tulis.
Ayahnya menatapnya sekilas, memberi isyarat halus dengan anggukan kecil—sinyal yang jelas: Bertahanlah. Sedikit lagi.
Berapa lama lagi?
Satu jam?
Dua jam?
Junho tak tahu. Yang pasti, setiap detiknya menambah jarak antara dirinya dan kebebasan yang ia rindukan. Dan di tengah keriuhan meja makan itu.
Junho menyadari sesuatu yang menohok: Ia lebih kesepian saat dikelilingi oleh orang-orang yang berusaha “memiliki” dirinya, daripada ketika duduk sendirian di studio, menulis lirik di tengah malam—dalam keheningan yang jujur.
Terpaksa.
Itu satu-satunya kata yang terus berputar di kepalanya ketika Ayahnya memberi isyarat agar ia berdiri dan menemani Sooyeon ke ruang belakang—ruangan yang katanya “lebih tenang untuk saling mengenal.”
Langkahnya berat. Setiap langkah terasa seperti menjauh dari dirinya sendiri. Mereka duduk di sofa panjang dekat jendela besar. Tirai tipis bergerak lembut tertiup udara dari pendingin ruangan. Lampu gantung bergaya klasik memantulkan cahaya hangat, tapi bagi Junho, cahaya itu terasa seperti sorotan lampu panggung yang menelanjanginya.
“Lucu ya, orang tua kita, mereka menjodohkan kita seperti anak SMA, tapi Oppa jujur saja kalau dengan mu aku tidak masalah,” ucap Sooyeon tiba-tiba sambil terkikik kecil.
Suaranya ringan, nyaring, dan terasa asing bagi telinganya—terlalu cerah untuk suasana yang bagi Junho lebih menyerupai ruang interogasi batin.
Sooyeon bersandar perlahan, jarak antara mereka semakin menipis hingga aroma parfum mahalnya—campuran mawar putih dan amber—menyeruak kuat di udara. Jemarinya yang ramping memainkan ujung rambutnya dengan gaya santai yang terasa terlalu dibuat-buat.
“Sebenarnya… aku sudah lama menyukaimu,” ujarnya lembut, namun tatapan matanya tak selaras dengan nada suaranya—ada kilatan obsesi di sana.
“Bukan hanya karena kamu idol—meskipun, siapa sih yang tidak menyukai Kim Namjunho?” Ia tertawa kecil, mencondongkan tubuh lebih dekat. “Aku juga suka pria yang punya sisi intelektual. Yang membaca buku, yang filosofis, yang... berbeda.”
Namun Junho tidak menanggapi segera dia hanya mengangguk sopan, menjaga ekspresi agar tetap tenang. Namun di balik wajah datarnya, pikirannya berputar.
Kata-kata Sooyeon terdengar seperti ratusan komentar lama yang menumpuk di pesan penggemar—indah di permukaan, tapi kosong di dalam. Terlalu seragam. Terlalu mudah ditebak. Terlalu dangkal untuk seseorang yang katanya mengagumi dirinya
“Kamu itu beda dari semua pria yang pernah aku temui,” lanjut Sooyeon, kali ini suaranya lebih rendah, nyaris seperti bisikan.
“Makanya aku pikir, kenapa tidak mencoba saja? Kita sudah dewasa. Orang tua mendukung. Bahkan… siapa tahu ini memang takdir?”
Tatapannya memanjang, bibirnya melengkung dengan percaya diri—seolah seluruh dunia memang diciptakan untuk menyetujui keinginannya. Junho menatap lurus ke depan, tidak pada wajahnya.
“Kamu percaya pada takdir?” tanyanya perlahan.
Dia berusaha menilai lebih dalam sudut pandang wanita itu, namun ternyata jawabannya sesuai prediksi nya, kosong seperti template yang di pakai ribuan orang yang sama setiap harinya.
"Percaya... Aku percaya semua orang ditakdirkan untuk bertemu pasangan yang cocok. Kamu dan aku hanya perlu menjalani saja. Chemistry bisa dibangun kalau sering bersama. Aku yakin itu,” jawab Sooyeon cepat, senyum di bibirnya tak pernah pudar.
Junho menghela napas perlahan. Suaranya keluar nyaris seperti gumaman, tapi cukup jelas untuk terdengar,
“Chemistry tidak selalu bisa dipaksakan,” jawab nya dan untuk pertama kalinya, Sooyeon terdiam beberapa detik.
Namun bukan karena mengerti. Melainkan karena berpikir bagaimana mengubah pendekatannya. Dan kemudian—ia tertawa. Ringan, nyaring, dan memekakkan telinga bagi Junho yang hanya ingin sunyi.
“Ah, kamu ini… selalu filosofis. Tapi justru itu yang membuat kamu menarik. Oppa, kau tahu... tidak banyak pria yang bisa bersikap tenang seperti mu saat ada di samping ku.” Ia kembali bersandar, kali ini terlalu dekat.
Satu lengan diletakkannya di belakang punggung sofa, sementara tubuhnya sedikit mencondong ke arah Junho.
“Aku suka pria yang tenang seperti kamu. Tidak seperti mantan-mantanku yang kasar dan banyak bicara,” bisiknya, jemarinya dengan berani menyentuh lengan jas Junho.
“Tapi kamu... kamu cool. Calm and collected. Sangat… laki-laki,” lanjut nya, bahkan dengan berani menyenderkan kepalanya di dada Junho, hal itu membuat Junho menegang.
Pandangannya tetap lurus, tidak beralih. Ia menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menarik diri secara tiba-tiba—satu gerakan kasar saja akan menciptakan kesan yang salah. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang bergolak: jijik, risih, marah, sekaligus muak.
Yang ingin ia katakan adalah,
“Aku bukan trofi yang bisa kamu menangkan hanya karena kamu berpikir dirimu ‘berbeda dari penggemar lain.’"
Namun yang akhirnya keluar hanyalah,
“Aku bukan orang yang mudah terbuka. Tolong, duduk dengan benar... aku tidak nyaman,” ujar Junho sedikit bergeser berharap kepala Sooyeon tidak menyentuh dada nya.
Namun gerakan itu malah di respon lain oleh Sooyeon, dia semakin menekan kepalanya di dada pria itu, sembari melanjutkan ucapannya.
“Oh, sama! Aku juga tidak mudah akrab, tapi entahlah... dengan mu rasa nya berbeda,” sahut Sooyeon cepat, mengabaikan nada dingin Junho.
Ia mendongak menatap Junho dengan senyum menggoda.
“Kamu suka bepergian? Aku pernah ke Swiss, Paris, juga Jeju. Ah, Jeju indah sekali, kan? Mungkin kita bisa ke sana lagi… berdua, kalau—” ucapan nya sengaja di gantung seolah terlalu tabu, untuk di ucapkan secara lisan oleh seorang wanita pada pria yang jelas bukan siapa-siapanya.
Junho yang sudah tidak tahan dengan sikap Sooyeon menoleh perlahan, akhirnya menatap matanya langsung. Tatapannya dingin, tenang, tapi tajam seperti kaca yang siap pecah. Ia tidak lagi berusaha bersikap ramah.
“Sooyeon-ssi,” ucapnya pelan, namun nadanya mengandung jarak. “Aku menghormati mu, dan aku mengerti harapan orang tua kita. Tapi aku belum siap. Dan kurasa… aku belum bertemu seseorang yang membuatku merasa siap,” kata nya yang sembari bergerak sedikit kasar kesisi sofa lain, hingga Sooyeon mau tak mau menegakan duduk nya lagi, karena sudah tidak bisa bersandar lagi.
Tapi walaupun begitu senyum Sooyeon menegang. Ada sedikit perubahan di wajahnya—topengnya retak sejenak, menampakkan guratan kesal yang segera ia sembunyikan.
“Tapi kita masih bisa mulai dari teman, kan?” tanya nya masih tak berhenti.
Junho berdiri perlahan, menjaga sikap agar tetap sopan meskipun hati nya sudah tak nyaman sejak tadi.
“Terima kasih sudah berbagi waktu. Tapi aku harus pamit. Ada hal lain yang perlu kupikirkan,” ujar nya tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi.
Langkahnya panjang, cepat, tegas. Namun baru 3 langkah dia berjalan Sooyeon tiba tiba mengejar nya dan memegang lengan nya, hal itu sontak membuat Junho berhenti lalu berbalik menatap tangan nya yang di pegang Sooyeon.
"Kau tidak boleh pergi begitu saja saat wanita sedang bicara Junho, apa kau sekasar itu pada wanita?!" Seru nya kasar.
Junho hanya diam lalu perlahan menarik tangan nya yang masih di pegang Sooyeon, mungkin sedikit kasar karena geram yang ia tahan.
"Tolong berhenti mencoba menyentuh ku, pembicaraan kita sudah selesai," ujar Junho masih berusia mengontrol nada bicaranya. Namun Sooyeon kembali menarik tangan nya.
"Apa idol semunafik itu? Se-jual mahal itu? Ayolah Junho, jangan pura pura tidak mau," Ujar nya menatap Junho dengan pandangan merendahkan bibir nya terangkat.
Junho menatapnya lekat, matanya yang semula tenang kini bergetar menahan kesal.
“Sooyeon-ssi, berhenti mempermainkan kata-kata, aku sama sekali tidak tertarik. Tolong hormati itu,” ucapnya pelan tapi tegas.
Nada suaranya bukan bentakan, tapi cukup dingin untuk membuat udara di antara mereka terasa padat.
Ia kembali melangkah, ingin mengakhiri percakapan yang sejak awal sudah terasa seperti jebakan. Namun, langkahnya baru saja melewati ambang pintu ketika suara jeritan melengking menggema di belakangnya.
“A—ah! Oppa... Sakit!” Suara itu memecah suasana.