NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.

Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

“Auntie, aku senang sekali melihatmu datang. Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja, kan?” 

Bianca menyambut kedatangan Regina dengan senang hati. Mengajaknya masuk dan duduk, ia benar-benar memperlakukan Regina selayaknya menantu. Keduanya berbincang dengan hangat dan seru. 

Namun, obrolan mereka mulai terganggu oleh suara tangis Cayden yang cukup keras. 

Regina yang sama sekali tidak menyukai bayi itu sontak menutup telinganya. “Astaga, Auntie. Kau dengar itu? Suara tangisan bayi pelayan itu benar-benar mengganggu,” katanya mengeluh. 

Bianca sontak berdiri, “Kau tunggu di sini, ya. Aku akan lihat ke atas dulu sekaligus meminta pelayan itu untuk menenangkan bayinya.” 

“Auntie, kenapa kau tidak mengusirnya saja? Kehadirannya benar-benar mengganggu ketenangan di rumah ini,” usul Regina sengaja menghasut Bianca. 

Perempuan itu terdiam sejenak, memikirkan ide Regina. “Sepertinya itu tidak akan baik, Cameo begitu melindunginya. Terlebih lagi, aku masih belum memastikan kebenaran bayi itu. Apakah bayi itu anak Cameo atau bukan. Tapi, membiarkannya dan tidak melakukan apa-apa pun rasanya salah,” gumamnya melirik Regina sesaat. 

“Auntie! Kenapa kau melamun? Ayo lakukan sesuatu pada pelayan itu, jangan diam saja. Apa yang kau pikirkan sebenarnya?” Regina berucap manja. 

“Beri aku waktu, oke? Kita tidak bisa mengusirnya begitu saja, setidaknya kita harus membuat Cameo lengah dulu,” katanya membujuk calon menantunya. 

Tanpa perlu menunggu persetujuan Regina, Bianca melangkah pergi menaiki tangga menuju kamar Giana. 

“Kenapa dia terus menangis?” tanyanya pada Giana yang tengah mengayun Cayden dan berusaha menenangkannya. 

Melihat Bianca yang tiba-tiba datang ke kamarnya, Giana lantas menduduk hormat, bahkan perawat di sampingnya juga ikut menunduk hormat. 

“Ma-maafkan saya, Nyonya. Anda pasti merasa terganggu dengan tangisan Cayden,” ucap Giana panik. 

Kening Bianca mengernyit dalam, ia lalu berjalan mendekat. “Coba kemari, biar aku yang menggendongnya,” pintanya. 

Meski merasa heran, Giana tetap menyerahkan Cayden pada Bianca. Ia dan perawat itu saling llirik. 

Dengan penuh perhatian, Bianca mengayun Cayden sambil bersenandung pelan. Momen itu mengingatkannya pada masa di mana ia menggendong Cameron yang masih bayi. 

Dan ajaibnya, Cayden yang semula menangis keras pun mendadak menjadi tenang saat Bianca mengayunnya. “Nah, seperti ini kan lebih baik, jangan menangis lagi, ya.” Ia mengembalikan Cayden yang sudah tenang itu kepada Giana. 

“Anda hebat sekali, Nyonya. Cayden langsung tenang begitu Anda menggendongnya,” puji Giana tulus.

Namun, alih-alih tersenyum atau mengucapkan terima kasih, Bianca hanya menatapnya dingin. “Jika dia kembali menangis, cobalah bersenandung lembut,” katanya lalu langsung berlalu dari sana. 

Bianca menatap telapak tangannya, “Aku berhasil mendapatkan rambut bayi itu,” gumamnya lalu berjalan ke kamarnya untuk menyimpan sehelai rambut yang begitu berharga baginya. 

“Kenapa kau begitu lama, Auntie? Apakah kau sudah memarahinya?” tanya Regina saat melihat Bianca kembali turun. 

Bianca hanya mengangguk tanpa memberikan jawaban yang jelas, dibandingkan kembali mengobrol dengan Regina, Bianca justru fokus dengan ponselnya.

Hal itu membuat Regina merasa jengkel karena tidak dihargai. “Auntie! Kau tidak mendengarkan aku, ya?!” 

Bianca menoleh dan langsung menyembunyikan ponselnya. “Maaf, ya. Aku harus membalas pesan penting tadi.” 

Regina semakin merapatkan duduknya. “Auntie, ayo kita pergi jalan-jalan dan shopping, sudah lama kita tidak pergi bersama, bukan?” 

Bianca hendak menjawab namun ponselnya bergetar lebih dulu, sebuah panggilan dari orang penting. 

“Tunggu sebentar, ya.” 

Regina semakin dibuat jengkel. “Bukan hanya anaknya yang sering mengabaikan aku, tetapi Ibunya juga! Memangnya apa yang bisa lebih penting selain aku?!” 

“Regina, Sayang. Maaf sekali, aku ingin pergi denganmu tetapi aku memiliki satu hal penting yang harus diurus. Tidak masalah ya jika kau pergi sendiri dulu?” ujar Bianca usai mengangkat teleponnya. 

“T-tapi … Auntie!” 

Sebelum Regina sempat protes, Bianca sudah lebih dulu pergi dengan langkahnya yang terburu-buru. Ia berdiri dan menyambar tasnya dengan kasar. “Menyebalkan sekali! JIka tahu akan seperti ini akhirnya, aku tidak akan datang ke sini!” 

Sementara di kamarnya, Giana memperhatikan wajah Cayden yang mulai tertidur pulas setelah minum susu. Memandangnya dengan intens, Giana mencoba mencari kemiripannya dengan Cameron. 

“Maaf jika aku meragukanmu, Cayden Sayang. Tetapi … bukankah ayahmu itu aneh? Apa yang sebenarnya dia sembunyikan? Aku benar-benar jadi penasaran,” monolog Giana dengan kening mengernyit dalam. 

Ia berbaring tepat di samping Cayden. “Haruskah aku mencari tahu? Tapi … bukankah itu tidak sopan, Cayden?” 

***

Di kantornya, Cameron tampak sibuk, ada banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan. Tetapi pikirannya sama sekali tidak bisa fokus. Entah mengapa, pikirannya justru tertuju pada Giana. 

Sikap polosnya semalam dan bagaimana perempuan itu salah paham padanya membuat Cameron lagi dan lagi memikirkannya. “Bagaimana jika mulai mencari tahu kebenarannya sendiri? Bagaimana jika nanti ia tahu kebenaran tentang Cayden? Akankah dia tetap mau menjadi ibu susu baginya? Atau … haruskah aku memberitahunya saja?” 

Cameron mengacak rambutnya sendiri, merasa frustasi. “Argh! Kenapa hal ini terjadi kepadaku?”

“Tuan.” 

Cameron menoleh. “Apa?” sahutnya kembali merapikan pakaiannya saat ia melihat asistennya berjalan masuk ke dalam ruangannya. 

“Nona Regina meminta izin bertemu dengan Anda,” lapor sang asisten, menyampaikan pesan Regina padanya. 

Mendengar nama Regina disebut, Cameron langsung berpura-pura membuka dokumen yang berada di atsnya agar terlihat sibuk. 

“Katakan padanya aku tidak bisa menemuinya sekarang, aku sangat sibuk,” sahutnya tanpa menoleh. Tatapannya fokus pada dokumen yang sedang dipegangnya. 

Tanpa mengatakan apapun lagi, sang asisten itu berjalan keluar, meskipun ia tahu bahwa Cameron hanya berpura-pura sibuk hanya agar tidak perlu menemui calon istrinya. 

Selepas kepergian asistennya itu, Cameron kembali menyadarkan kepalanya. Tangannya yang bebas mengetuk-ngetuk meja. “Sepertinya, aku memang harus segera memberitahunya agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. Apalagi sekarang di rumah ada Ibu. Aku harus segera melakukan sesuatu sebelum semuanya menjadi tidak terkendali.” 

1
awesome moment
thx, kak. sdh mengembalikan giana dan cay ke panti. buat agak lamaan di panti jg g p2. biar regina dan bianca tau smuanya dlu. biar cameron terbuka dlu. biar bianca nyesel dlu..biar...cay gemoy dlu😄😄😄
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Cerita yg sangat seru 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Harusnya kamu berterima kasih pada Giana 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg harusnya di usir Regina 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
rasain luuhh.. bela aja teruus calon mantu manjamu ituu
E Putra
bagus ceritanya
mawar hitam
tanda kutipnya ketinggalan nih
mawar hitam
gugup
mawar hitam
gumamnya
mawar hitam
km salah paham ih 🤣
mawar hitam
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mawar hitam
Make-up artist
mawar hitam
???
mawar hitam
bener2 deh si Rengginang ini 😶
mawar hitam
terpisah kalimatnya 😐
mawar hitam
kurang titik nih
mawar hitam
cakeeep, gini dong ah, tegasss
mawar hitam
dih lebay bgt
awesome moment
giana ditolong ibu panti asuhan. dibawa ke panti. tinggal dan bekerja di panti, krn disana, giana dan cay aman dan hidup layak meski...sebatas rakyat kebanyakan. bukan sbg horang kayah dan...smua tu menyiksa cameron. krn giana pergi bawa cay dan...tdk mintol samsek. kn hp ketinggalan😉😉😉
mawar hitam
hadeuhhh provokator
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!