Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Baiklah Sarah. Ini untuk kesekian kalinya dia menyesali perbuatannya hari ini. Sikapnya yang menjadi bodoh saat berhadapan dengan Marvin memang tidak pernah berubah.
Andai saja melupakan perasaannya terhadap Marvin semudah itu, mungkin hidupnya akan menjadi lebih mudah. Sekarang dirinya seperti sedang menghianati Kayla. Sungguh memang sulit untuk melupakan seseorang yang dicintai.
Sekarang Sarah sedang menikmati perjalanan bersama Marvin menggunakan sepeda motornya. Tanpa dirinya sadari motor Martin telah terparkir rapi di sebuah parkiran rumah sakit.
Tunggu rumah sakit?
Untuk apa Marvin ke sini?
Marvin kemudian turun dari motornya dan pergi begitu saja, dia beranjak seolah tidak menghiraukan keberadaan Sarah di sana. Dengan terpaksa Sarah turun dari motor sendiri sembari menggerutu, kemudian dia segera mengikuti Marvin.
Tidak ada yang memulai percakapan hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah ruang ICU.
Mereka berdua pun masuk, begitu masuk ke dalam Sarah dapat melihat seorang wanita paruh baya yang sangat cantik terbaring lemah dengan beberapa peralatan medis yang terpasang di tubuh wanita itu.
Sarah hanya diam terpaku melihat ke arah wanita itu. Dia tidak bertanya apapun saat ini pada Marvin.
"Lo tunggu di sini." Ucap Marvin lalu pergi. Dia melihat laki-laki itu sedang menemui seorang dokter yang berdiri di ranjang pasien lain.
Sambil menunggu Sarah pun menghampiri ranjang wanita tua tadi dan duduk di bangku yang berada di samping ranjang di mana wanita itu terbaring. Ia memandangi wanita itu, entah kenapa dia merasa tidak asing dengan wajah wanita itu.
Tidak berselang lama, Marvin datang. Ia berdiri di sisi lain ranjang. Marvin menatap lamat wanita itu kemudian menghela napas berat.
Baru pertama kalinya Sarah melihat wajah Marvin yang terlihat sangat lelah dan tertekan. Beberapa detik kemudian, laki-laki itu mengubah ekspresi nya seperti biasa.
"Ayo," ucap laki-laki itu lalu menarik tangan Sarah keluar dari ruangan.
Selama perjalanan menuju parkiran, mereka hanya berjalan tanpa berbicara satu sama lain. Hanya ada keheningan di antara mereka, bahkan setelah mereka melanjutkan perjalanan keduanya masih diam membisu.
Beberapa menit perjalanan, motor yang mereka kendarai telah sampai di depan gerbang rumah Sarah. Gadis itu pun turun dari motor lalu mengucapkan terima kasih. Saat Sarah sudah membuka sedikit gerbang rumahnya, tiba-tiba Marvin memanggil namanya.
"Sarah."
Sarah menoleh ke arah Marvin dan memberikan tatapan bingung.
"Lo gak penasaran?"
Sarah lama terdiam, ia tahu maksud dari ucapan Marvin." Jujur aja gue penasaran."
"Terus kenapa Lo gak tanya sesuatu?" Kini Marvin yang bertanya seolah penasaran dengan jawaban gadis itu.
"Apa lo akan baik-baik aja kalau gue tanya sesuatu?"
Marvin hanya terdiam mendengar jawaban Sarah, keduanya saling memandang menebak pikiran masing-masing. Cukup lama keduanya saling bertatapan sampai akhirnya Marvin memutuskan untuk mengalihkan pandangannya.
"Gue balik."
Setelah mengatakan itu, maafin tersenyum tipis. Senyuman yang baru pertama kali Sarah lihat seumur hidupnya. Senyuman Marvin yang benar-benar ditujukan padanya, bahkan di kehidupan sebelumnya pun ia tidak pernah melihat laki-laki itu tersenyum untuknya.
Sarah memegang dadanya yang berdegup dengan kencang, dia jadi semakin ragu. Apakah niatnya untuk melupakan Marvin di kehidupannya kali ini bisa berhasil?
....
Semenjak ingatan mengenai kehidupan sebelumnya bermunculan kembali, Sarah jadi banyak berpikir. Beberapa hal dalam hidupnya banyak yang berubah. Mungkin hal itu menjadi salah satu faktor perubahan sikap Sarah yang sangat berbeda dibandingkan kehidupan sebelumnya.
Tapi Sarah sadar, ada beberapa hal yang tidak bisa Sarah ubah. Seperti contohnya adalah kejadian kecelakaan beberapa bulan yang lalu, meskipun Sarah sudah menahan Aldo yang menjadi penyebab kecelakaan itu tapi tetap saja kejadian itu terjadi, meskipun pada saat kejadian itu Sarah tidak sampai meninggal seperti di kehidupan sebelumnya.
Setelah kejadian kecelakaan itu, Aldo menghilang, Bahkan dia tidak bersekolah lagi di sma-nya. Ini persis seperti di kehidupan sebelumnya, bedanya dulu Marvin lah yang membuat laki-laki itu sampai pindah sekolah. Tapi kali ini, Sarah tidak tahu apa dan siapa yang membuat Aldo menghilang bahkan tidak lagi bersekolah di sekolahnya. Mungkinkah yang membuat laki-laki itu pergi adalah Marvin juga?
Hal inilah yang membuat Sarah menjadi resah, bagaimana jika terpuruknya perekonomian keluarganya tetap terjadi? Bagaimana jika beberapa tahun kedepan Sarah tetap dibunuh oleh orang yang sampai saat ini tidak tahu siapa. Tidak ada petunjuk apapun mengenai orang yang telah mendorongnya di jembatan kala itu.
Pikiran Sarah jadi bercampur aduk. Entahlah dia harus memulai dari mana untuk memperbaiki semuanya. Meskipun ia sudah mengambil langkah dengan mengumpulkan uang hasil dari jerih payahnya sendiri, tapi hal itu tidak semerta-merta menjadi solusi permasalahan ekonomi keluarganya nanti.
"Ayo dong, Kay. Ikut ya." Rengek Tamara sambil menggoyang-goyangkan lengan kanan Kayla. " Sarah, bantuin gue bujuk Kayla dong."
Sarah yang sedari tadi melamun, tersentak begitu mendengar rengekan Tamara." Eh? Kenapa?"
"Bantuin gue bujuk Kayla supaya ikut sama kita."
Seakan tersadar Sarah pun mengangguk paham, ia langsung meraih lengan kiri Kayla dan ikut menggoyang-goyangkannya seperti yang dilakukan Tamara sebelumnya." Iya Kay, ikut kita ya."
Kayla menghela nafas, Kenapa mereka berdua sangat kompak membuat Kayla menjadi bimbang.
Beberapa hari yang akan datang mereka sudah memasuki liburan kenaikan kelas. Untuk mengisi waktu liburan itu Tamara memiliki ide untuk berlibur bersama. Rencananya Tamara ingin mengajak Sarah dan juga Kayla untuk berkemah. Sarah dengan senang hati menyetujui bahkan menawarkan villa milik keluarganya yang berada di dekat hutan, namun Kayla masih bimbang sehingga berakhirlah dua temannya itu membujuknya untuk ikut.
"Gue harus bantuin ibu jagain anak-anak panti."jawab Kayla dan memberikan tatapan memohon supaya kedua temannya ini paham.
Tamara mengerucutkan bibirnya, ia paham betul bagaimana posisi Kayla di panti asuhan. Tapi apakah saat hari libur pun Kayla tidak bisa meluangkan waktunya?
"Dipantikan masih ada kakak-kakak yang lain. Gantian dong, masa lo nggak bisa meluangkan waktu buat liburan sebentar aja?"
"Iya bener tuh, kalau mau gue bisa kirim orang buat gantiin lo di panti, gimana?" Penawaran Sarah membuat senyum lebar di wajah Tamara semakin terlihat, tapi justru berbanding terbalik dengan Kayla.
"Gak usah Sar, itu tanggung jawab gue. Maaf ya teman-teman." Ucap Kayla menampilkan senyum tidak enak.
Tamara dan Sarah saling menatap kemudian menghela napas, akhirnya mereka pasrah dan mengangguk paham.
"Yaudah deh, kalau nggak bisa juga nggak apa-apa. Gue bisa kemah berdua sama Sarah. Iya kan Sar?"
Sarah hanya mengangguk, Kayla yang merasa tidak enak dengan kedua temannya itu hanya bisa tersenyum untuk menanggapi mereka.
....
Sarah sudah siap dengan barang-barang yang akan dia bawa saat berkemah, dibantu oleh asisten rumah tangganya dia merapikan barang-barang tersebut. Setelah semuanya selesai, dia mengamati penampilannya di cermin. Senyum manis terpampang di wajah cantiknya, Sarah sangat senang karena ini pertama kalinya dia berlibur bersama seorang teman.
"Keliatan nya senang banget, neng," ucap asisten rumah tangganya.
"Iya, mbok. Aku mau liburan bareng temanku," jawab Sarah antusias.
"Oh, teman kamu yang mana?"
"Ada deh pokoknya, nanti aku bawa teman ku ke rumah supaya bisa kenalan sama mbok."
"Siap neng, nanti mbok Bu buatin makanan yang enak kalau teman neng datang ke sini."
Setelah percakapan selesai asisten rumah tangganya pun membantu Sarah membawa barang-barangnya turun ke lantai bawah menuju ke pintu utama. Di ruang makan, Sarah melihat kedua orang tuanya yang sedang makan sembari bercengkrama. Sarah tersenyum tipis, berharap pemandangan yang dia lihat ini akan selalu sama.
Ingatan di kehidupan sebelumnya ketika keadaan ekonomi keluarganya hancur kembali terbayang di otaknya, Sarah setiap hari hanya mendengar pertengkaran antara ayah dan Ibunya. Bahkan ayahnya menjadi jarang pulang sehingga ibunya harus bersusah payah menghidupi Sarah yang pada saat itu belum bisa menerima kenyataan bahwa ekonomi mereka sedang buruk.
"Papah! Mamah!" Sarah memanggil kedua orang tuanya lalu memeluk mereka.
"Anak papah kenapa jadi manja banget kayak gini sih, mah?" Ucap ayahnya sambil menatap Sarah dengan heran.
Sarah melepas pelukannya kemudian mengerucutkan bibirnya.
"Papa ngeselin, padahal kan aku kayak gini karena aku sayang sama kalian."
"Tapi yang dibilang Papah kamu benar loh, akhir-akhir ini kamu jadi manja banget. Ya sudah kamu duduk dulu kita sarapan."
Sarah kemudian duduk di kursi dan mengambil beberapa makanan yang berada di atas meja.
"Papa dan Mama kan sibuk terus, aku Jadi kesepian. Gimana kalau sekali-kali kita liburan keluarga?"usul Sarah pada kedua orang tuanya.
Baik ayah dan ibunya saling bertatapan penuh arti begitu mendengar ucapan semata wayangnya." Untuk beberapa hari ke depan kita berdua sangat sibuk. Tapi mamah dan papa janji akan mengatur jadwal supaya kita bisa liburan bersama nanti. Iya kan pah?"
Papah ya mengangguk.
"Janji ya mah, pah?"
"Iya nak, yasudah lanjutkan sarapannya."
Sarah mengangguk." Oh iya pah, villa yang aku minta kemarin udah di bersihkan?"
Papahnya mengangguk seraya mengacungkan jempolnya, sebagai tanda bahwa semua yang diminta oleh anaknya sudah dikabulkan. Sarah tersenyum lebar dan berterima kasih pada papanya.