NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Makan Siang yang Memuakkan

Pagi itu Ardi bangun dengan perasaan berat yang tidak bisa dijelaskan.

Maya masih tidur di sampingnya, rambut berantakan di atas bantal, napas teratur. Ardi menatapnya sebentar—wajah tenang, bebas kerutan, bebas rasa bersalah setidaknya untuk beberapa jam. Dia ingin membiarkan Maya tidur lebih lama, tapi ponselnya bergetar di meja samping.

Pesan dari Sari: Di, hari ini kita makan siang bareng ya. Aku, kamu, sama Kak Maya. Aku yang traktir.

Ardi menegang. Dia membaca pesan itu dua kali, tiga kali, mencari makna di balik kata-kata yang tampak biasa. Sari mengajak makan siang. Bersama Maya. Setelah Sari mulai curiga.

Dia mengetik: Ada perlu apa?

Tidak ada. Aku kangen ngobrol bareng kalian berdua.

Ardi tidak bisa menjawab. Di satu sisi, ini kesempatan untuk menjelaskan, untuk mencoba memperbaiki sesuatu yang mulai retak. Tapi di sisi lain, ini jebakan. Sari tidak mungkin tiba-tiba baik-baik saja. Wanita yang semalam menatapnya dengan mata penuh kecurigaan tidak akan bangun pagi ini dengan senyum dan ajakan makan siang.

Oke. Jam berapa? balas Ardi akhirnya.

Jam 12. Di restoran langganan kita di Senopati. Aku tunggu.

Ardi meletakkan ponsel, menatap langit-langit. Di sampingnya, Maya bergerak, tangannya meraih pinggang Ardi, menariknya mendekat.

"Pagi," bisik Maya, suara masih serak karena kantuk.

"Pagi."

Maya membuka mata, menatap Ardi sebentar. Matanya masih sayu, tapi ada kecemasan di sana. "Kamu gelisah."

"Sari ajak makan siang. Kita bertiga."

Maya terdiam. Perlahan dia duduk, menarik rambut ke belakang, menatap Ardi dengan mata yang kini sepenuhnya sadar. "Dia tahu?"

"Aku belum bilang. Tapi dia mulai curiga."

"Dan dia masih mau makan siang dengan kita?" Maya tertawa kecil, tapi tawanya tidak bahagia.

Ardi duduk di tepi ranjang. "Kita bisa tidak usah datang."

"Tidak." Maya menggeleng. "Kalau kita tidak datang, dia akan semakin curiga."

Dia turun, berjalan ke kamar mandi. Di ambang pintu, menoleh. "Kita akan datang. Kita akan berpura-pura semuanya normal. Dan kita akan lihat apa yang sebenarnya dia mau."

---

Restoran di Senopati itu tempat yang dulu sering Ardi dan Sari kunjungi. Meja favorit di pojok, dekat jendela, dengan pemandangan taman kecil yang selalu rapi. Sekarang Ardi duduk di meja yang sama, tapi di hadapannya ada Maya dan Sari, dan udara di antara mereka terasa seperti kaca yang siap pecah.

Sari datang lebih dulu. Blus putih, rambut diikat rapi, senyum cerah—terlalu cerah. Ketika Ardi dan Maya masuk, Sari berdiri, menyambut Maya dengan pelukan hangat.

"Kak Maya! Aku kangen. Kok jarang ke apartemenku lagi?"

Maya tersenyum, membalas pelukan itu dengan kaku. "Sibuk, Sari. Banyak urusan rumah."

"Urusan rumah?" Sari melepaskan pelukan, menatap Maya dengan mata berbinar. "Kak Maya kan punya ART, masa sih repot?"

Maya tertawa kecil, mengambil kursi di seberang Sari. "Yuni memang membantu, tapi tetap saja ada yang harus aku urus."

Ardi duduk di samping Maya, menjaga jarak. Sari di hadapan mereka, matanya bergerak cepat dari Maya ke Ardi, seperti sedang menghitung sesuatu.

"Kalian berdua akrab banget ya?" Sari bertanya dengan nada bercanda, tapi matanya serius.

Ardi menegang. Maya menjawab lebih cepat. "Iya. Di rumah cuma kami berdua sering. Bram jarang ada. Jadi ya terpaksa akrab."

Sari mengangguk, membuka menu. "Aku pesan steak, biasa. Kak Maya?"

"Steak."

"Di?"

"Juga."

Pelayan datang, mencatat pesanan, pergi. Tiga orang duduk diam, tidak ada yang tahu harus memulai dari mana. Sari yang akhirnya memecah keheningan.

"Di, kamu tahu, tadi pagi aku ketemu ibu kamu."

Ardi mengangkat alis. "Ibu Sari?"

"Iya." Sari tersenyum, memainkan sendok. "Ibu tanya kenapa kita jarang keliatan bareng. Aku bilang kita lagi sibuk."

"Kamu bohong?" Maya ikut bertanya, suaranya sedikit aneh.

Sari menoleh ke Maya, senyum masih terpasang. "Sedikit. Aku nggak bilang kalau kita ada masalah."

Ardi menatap Sari. "Sari—"

"Aku belum selesai, Di." Sari memotong, suara tetap lembut tapi ada nada yang tidak bisa diabaikan. "Aku pikir kita butuh bicara serius. Jangan dihindari."

Maya diam, tangan menggenggam erat ujung rok. Ardi merasakan kakinya bergerak tanpa sadar, mencari kaki Maya di bawah meja, tapi Maya menarik menjauh.

"Kamu tidak perlu melakukan ini, Sari," kata Ardi pelan.

"Melakukan apa?"

"Berpura-pura semuanya baik-baik saja. Kamu tahu—" Ardi berhenti, matanya bertemu Maya sekilas. "Kamu tahu ada yang berubah."

Sari tertawa. Tawa pahit. "Kamu lihat, Kak Maya? Dia selalu begitu. Terus terang sampai menyakitkan." Sari menatap Maya, menunggu reaksi.

Maya tersenyum tipis, tidak menunjukkan apa pun. "Mungkin dia hanya tidak mau berbohong."

"Tidak mau berbohong?" Sari mengulang, mata tidak lepas dari Maya. "Menurut Kak Maya, apakah Ardi pernah berbohong?"

Ruangan terasa sesak. Ardi menahan napas, tangan di bawah meja mengepal. Maya menatap Sari dengan tenang—terlalu tenang.

"Setiap orang pernah berbohong, Sari," jawab Maya akhirnya. "Termasuk aku."

Sari menatapnya lama. Lalu tersenyum lagi, senyum yang tidak sampai ke mata. "Kak Maya baik banget. Selalu membela Ardi."

"Karena dia anak Bram. Aku harus menjaga dia."

"Aku juga sayang Ardi, Kak. Tapi akhir-akhir ini dia jadi dingin."

Kalimat itu menggantung. Ardi melihat Maya menelan ludah, jari memilin ujung rok lebih erat.

Untungnya, pelayan datang membawa pesanan. Tiga piring steak diletakkan, saus mengilap, kentang goreng di samping. Ardi mengambil pisau dan garpu, memotong daging dengan gerakan mekanis, meskipun perut mual.

Maya makan, tapi hanya beberapa suap. Sari makan dengan lahap, sesekali berkomentar tentang rasa daging, tentang restoran, tentang film yang baru ditonton—topik biasa yang terasa tidak biasa karena ketegangan di antara mereka.

"Kak Maya," Sari memecah keheningan.

"Ya?"

"Kamu tahu, Di dulu kalau ke apartemenku suka banget bawa bunga. Setiap kali, bunga berbeda. Aku suka banget." Sari tersenyum, mata menerawang. "Sekarang dia nggak pernah lagi. Mungkin dia kasih ke orang lain sekarang."

Ardi menghentikan gerakan pisau. "Sari—"

"Aku cuma bercanda, Di." Sari tertawa, tapi tawa tidak ramah. "Kamu jangan tegang. Aku kan cuma ngobrol."

Maya meletakkan garpu, mengambil gelas air, menyesap pelan. Ardi melihat tangannya sedikit gemetar.

"Kak Maya kenapa?" Sari bertanya. "Makanannya nggak enak?"

"Enak. Aku hanya kenyang."

"Makannya sedikit banget." Sari mencondongkan tubuh, mata menatap Maya dengan penuh perhatian. "Jangan-jangan Kak Maya lagi diet? Atau lagi—" dia berhenti, mata berbinar. "Atau lagi hamil?"

Maya tersedak. Ardi ikut menegang, jantung berdebar kencang.

"Tidak," Maya menjawab cepat, suara sedikit serak. "Aku tidak hamil."

"Untung." Sari kembali memotong steak, bicara sambil makan. "Soalnya kan Pak Bram jarang di rumah. Kalau Kak Maya hamil, orang pasti bertanya-tanya."

Ardi merasakan darah mendidih. "Sari, cukup."

Sari mengangkat wajah, menatap Ardi dengan mata yang tiba-tiba kehilangan senyum. "Cukup apa, Di? Aku cuma ngobrol biasa. Kenapa kamu marah?"

"Kamu—"

"Di." Maya memotong, tangan menyentuh lengan Ardi sebentar. "Tenang. Sari tidak bermaksud apa-apa."

Sari melihat sentuhan itu, sekilas, tapi cukup untuk membuat senyum kembali. "Iya, Di. Aku nggak bermaksud apa-apa. Aku cuma kangen ngobrol sama kalian. Soalnya—" suara berubah, lebih pelan. "Soalnya aku nggak tahu kapan bisa ngobrol lagi seperti ini."

Ardi terdiam. Maya juga. Mereka bertiga makan dalam sunyi, hanya suara pisau dan garpu yang beradu dengan piring.

---

Setelah selesai, Sari memanggil pelayan untuk membayar. Kartu kredit dikeluarkan, diserahkan tanpa melihat jumlah.

"Aku duluan, ya," kata Sari sambil berdiri. "Ada janji sama teman."

Ardi dan Maya ikut berdiri. Sari menghampiri Maya, memeluk lagi, lebih lama. "Kak Maya, terima kasih sudah mau makan siang bareng. Aku senang banget."

Maya membalas dengan kaku. "Iya, Sari. Sama-sama."

Sari melepaskan pelukan, menatap Maya dengan mata basah. "Kak, aku titip Di, ya. Jaga dia baik-baik."

Maya tidak menjawab. Sari tersenyum, lalu berpaling ke Ardi. Berdiri di depan Ardi, menatapnya lama.

"Di," bisiknya.

"Sari."

"Aku nggak akan berhenti berusaha." Suara begitu pelan, hanya Ardi yang bisa mendengar. "Tapi aku harap kamu jujur. Suatu hari."

Ardi tidak bisa menjawab. Sari mencium pipinya cepat, lalu berbalik, meninggalkan restoran dengan langkah tegap, tidak menoleh.

Ardi dan Maya berdiri di samping meja, melihat Sari menghilang di balik pintu kaca. Di luar, langit masih mendung, hujan rintik mulai turun.

"Aku ingin pulang," bisik Maya.

Ardi mengangguk.

---

Di mobil, Maya duduk di kursi penumpang, menatap ke luar jendela. Ardi melaju perlahan, masuk ke arus lalu lintas yang mulai padat.

Di tengah perjalanan, Maya berbicara tanpa menoleh. "Dia tahu."

"Tahu apa?"

"Dia tahu ada yang salah. Tapi dia belum tahu apa." Maya menarik napas, suara bergetar. "Dia tidak marah. Dia hanya memberi tahu bahwa dia akan menunggu."

Ardi tidak menjawab. Di depan, lampu merah menyala, dia menginjak rem. Hujan semakin deras.

"Mungkin dia benar," kata Ardi akhirnya.

Maya menoleh, mata basah. "Benar tentang apa?"

"Bahwa aku harus jujur. Cepat atau lambat."

Maya terdiam. Lampu hijau menyala, Ardi melaju lagi.

---

Di rumah Menteng, Yuni sedang merapikan dapur. Wanita itu menoleh sekilas, lalu kembali mencuci piring. Netral. Tidak ramah, tidak hangat. Sejak insiden foto, sikapnya berubah.

Ardi dan Maya naik ke lantai dua tanpa bicara. Di kamar Maya, mereka duduk di tepi ranjang, berdua, dengan jarak yang tidak biasa.

"Kita tidak bisa terus begini," bisik Maya.

"Apa maksudmu?"

"Berpura-pura. Berlari dari kenyataan." Maya menunduk, jari memainkan ujung baju. "Sari ada di luar sana, menunggu. Bram mulai curiga. Yuni tahu. Semakin lama kita diam, semakin banyak orang yang akan tahu."

"Apa yang kau mau aku lakukan?"

Maya mengangkat wajah, mata jujur. "Aku tidak tahu. Aku hanya tahu aku tidak bisa kehilangan kamu. Tapi aku juga tidak bisa terus bersembunyi."

Ardi meraih tangan Maya, menggenggam erat. "Kita akan cari jalan."

"Mencari jalan?" Maya tersenyum pahit. "Kita sudah mencoba, Ardi. Dan kita selalu berakhir di sini."

Ardi tidak menjawab.

"Aku lelah," bisik Maya. "Tapi aku tidak bisa berhenti."

Ardi menarik Maya ke dalam pelukan. Di luar, hujan masih turun, membasahi taman, membasahi rumah besar yang terasa semakin sempit.

Malam itu, mereka tidak bicara lagi. Tidak ada janji, tidak ada rencana. Hanya keheningan yang penuh.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra screet love
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!