Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.Intervensi
Langkah kaki Ren dan Bibi Dong di koridor lantai dua terdengar seperti dentuman yang terukur di tengah kesunyian yang mencekam. Para siswa yang biasanya berlarian menuju kelas kini mematung di sisi dinding, memberikan jalan secara sukarela seolah-olah sepasang penguasa purba sedang melintas. Pintu geser kelas 2-B sudah terlihat di depan mata. Suara riuh rendah dari dalam kelas mendadak senyap saat bayangan mereka jatuh di atas permukaan kayu pintu tersebut.
Ren menggeser pintu dengan gerakan satu tangan yang luwes. Suara gesekan pintu kayu itu terasa lebih nyaring dari biasanya. Begitu pintu terbuka sepenuhnya, seluruh pasang mata di dalam kelas—termasuk Issei yang baru saja duduk dengan napas terengah-engah—langsung terpaku ke arah ambang pintu.
Guru wanita yang sedang merapikan buku di meja depan pun terdiam. Kapur di tangannya nyaris patah saat ia mendongak dan melihat sosok Bibi Dong yang berdiri dengan keanggunan yang melampaui segala standar kecantikan di kota itu.
"Saiba-kun... siapa dia?" tanya sang guru dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba mempertahankan wibawanya sebagai pengajar.
Ren melangkah masuk terlebih dahulu, lalu menarik kursi di samping kursinya sendiri yang entah bagaimana sudah tersedia di sana—hasil manipulasi ruang yang halus sehingga tidak ada yang menyadari kapan kursi itu muncul. Ia kemudian memberi isyarat lembut agar Bibi Dong maju.
"Ini Bibi Dong," ucap Ren dengan nada datar namun memiliki bobot otoritas yang tidak bisa dibantah. "Dia baru saja menyelesaikan urusan administrasinya di ruang OSIS. Mulai hari ini, dia akan belajar di kelas ini, tepat di sampingku."
[SISTEM: Deteksi upaya pengamatan energi oleh Issei Hyodo. Status Ddraig: Ketakutan tingkat tinggi. Ia menyarankan penggunanya untuk tidak melakukan kontak mata langsung dengan Bibi Dong.]
[REN: Biarkan naga itu gemetar. Jika dia berani mengeluarkan hawa nafsu sedikit saja, aku akan membiarkan Dong'er yang mengurusnya.]
Bibi Dong melangkah maju ke depan kelas. Ia tidak membungkuk atau memberikan salam formal khas Jepang yang berlebihan. Ia hanya berdiri tegak, tangannya tertaut dengan anggun di depan tubuhnya. Matanya yang indah menyapu seluruh ruangan, membuat para siswa laki-laki secara refleks menahan napas, sementara para siswi merasa seolah-olah cahaya mereka redup seketika.
"Bibi Dong," ucapnya singkat. Suaranya jernih, dingin, namun memiliki getaran yang membuat jantung setiap orang di sana berdegup kencang. "Aku tidak suka keributan. Jadi, kuharap kita bisa menjaga jarak yang sopan satu sama lain."
Kalimat itu bukan sekadar perkenalan; itu adalah sebuah dekrit.
Guru itu berdehem, mencoba mencairkan suasana. "E-eh, baiklah. Saiba-san, silakan duduk di tempat yang sudah disediakan. Kita akan memulai pelajaran sejarah hari ini."
Bibi Dong berjalan menuju kursinya di samping Ren. Setiap langkahnya diikuti oleh puluhan pasang mata yang tidak berani berkedip. Issei, yang duduk hanya dua baris di belakang mereka, merasa seolah-olah ia sedang duduk di samping gunung berapi yang aktif. Hawa keberadaan Bibi Dong begitu pekat hingga Issei merasa sulit untuk sekadar menelan ludah.
"Ren," bisik Bibi Dong setelah ia duduk dengan sempurna, kursinya bergeser sedikit lebih dekat ke arah Ren daripada jarak standar antar meja. "Kenapa pria berambut cokelat di belakang itu terus menatapku dengan tatapan yang menyedihkan?"
Ren melirik Issei melalui sudut matanya yang masih tertutup kacamata hitam. "Itu Issei. Dia memiliki 'sesuatu' di dalam dirinya yang mencoba mengenali siapa kau sebenarnya. Jangan dipedulikan, Dong'er. Fokus saja pada apa yang ingin kau lakukan hari ini."
Bibi Dong membuka buku pelajarannya dengan gerakan jemari yang sangat halus. "Apa yang ingin kulakukan hari ini sangat sederhana, Ren. Aku ingin melihat bagaimana kau menjalani hidupmu di antara makhluk-makhluk lemah ini. Dan mungkin... aku akan mencari cara untuk membuat tempat ini sedikit lebih nyaman bagi kita berdua."
[SISTEM: Hubungan Sosial diperbarui—Kelas 2-B. Status: Terintimidasi secara pasif.]
[SISTEM: Peringatan! Sensor sihir di luar kelas mendeteksi keberadaan Akeno Himejima yang sedang mengamati dari bayangan koridor.]
Ren menyandarkan punggungnya, menatap papan tulis dengan senyum tipis. Ia bisa merasakan tatapan Akeno dari kejauhan, namun ia tidak peduli. Baginya, kehadiran Bibi Dong di sampingnya adalah prioritas tunggal. Pelajaran sejarah yang membosankan pun terasa jauh lebih menarik hanya karena aroma melati yang lembut dari tubuh istrinya memenuhi indera penciumannya.
"Pelajaran sejarah, ya?" gumam Bibi Dong sambil menatap buku tentang sejarah Jepang Kuno. "Mereka menuliskan pahlawan-pahlawan kecil ini seolah-olah mereka adalah dewa. Sangat lucu."
Ren terkekeh pelan di bawah napasnya. "Setiap dunia butuh mitosnya sendiri, Dong'er. Tapi di kelas ini, kita adalah mitos yang menjadi nyata."
Pelajaran berlanjut dalam keheningan yang janggal. Tidak ada satu pun siswa yang berani berbisik-bisik seperti biasanya. Kehadiran Bibi Dong menciptakan sebuah "zona kedaulatan" yang memaksa semua orang untuk bersikap sopan secara paksa. Bagi Ren, ini adalah awal yang sempurna untuk hari pertama permaisurinya di dunia DxD.