NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 Di Ambang Kematian

Rasa dingin menjadi hal pertama yang ia sadari saat kesadarannya kembali merayap perlahan. Bukan dingin yang datang dari angin malam yang menyusup melalui celah dinding, melainkan dingin yang muncul dari dalam tubuhnya sendiri, menyebar pelan seperti sesuatu yang hidup dan bergerak tanpa bisa dihentikan.

Alverion Dastan terbaring di lantai bangunan tua itu dengan posisi setengah miring, satu tangannya menekan permukaan kasar yang dipenuhi debu. Tubuhnya terasa berat, seolah setiap bagian ditarik ke bawah oleh beban yang tidak terlihat.

Napasnya tersendat dengan ritme yang tidak teratur, setiap tarikan terasa seperti usaha yang dipaksakan. Ada tekanan di dadanya yang membuat udara sulit masuk, dan tenggorokannya terasa kering hingga setiap gerakan menelan berubah menjadi rasa perih yang menjalar sampai ke dalam.

Ia mencoba membuka matanya lebih lebar, meskipun kelopak itu terasa berat seperti tertahan sesuatu. Pandangan di depannya kabur, langit-langit bangunan yang retak tampak bergeser perlahan, seolah dunia kehilangan keseimbangannya.

Butuh beberapa detik sebelum ingatan itu kembali tersusun di kepalanya, muncul satu per satu tanpa urutan yang jelas. Wajah Kaelen, senyum tipis yang tidak lagi terasa hangat, lalu kata-kata yang diucapkan tanpa ragu, semuanya kembali dengan jelas.

Tangan Alverion mengepal lemah, kukunya menekan kulit sendiri tanpa ia sadari. Rasa sakit dari tekanan itu hampir tidak terasa dibandingkan dengan kekacauan yang terjadi di dalam tubuhnya.

“...sial...” gumamnya pelan, suaranya serak dan nyaris tidak terdengar.

Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, memaksakan ototnya untuk merespons meskipun sinyal yang ia kirim terasa tidak sampai. Lengan kirinya gemetar saat berusaha menopang tubuh, tetapi hanya mampu bertahan sesaat sebelum kembali jatuh tanpa tenaga.

Otot-ototnya kehilangan kekuatan, seolah tidak lagi terhubung dengan keinginannya. Racun yang disebut Kaelen itu menyebar lebih cepat dari yang ia perkirakan, membuat tubuhnya tidak lagi bisa diandalkan.

Tidak ada yang datang.

Tidak ada suara langkah.

Tidak ada tanda bahwa dunia di luar bangunan ini masih berjalan seperti biasa.

Hanya dirinya sendiri yang tergeletak di tempat itu, tanpa siapa pun yang mengetahui keberadaannya.

Pikiran itu terasa pahit, lebih tajam daripada rasa sakit fisik yang ia alami.

Alverion menghembuskan napas pelan, meskipun setiap hembusan terasa berat dan tidak lega. Dadanya bergerak naik turun dengan susah payah, seolah udara yang masuk tidak pernah cukup.

“Beginikah akhirnya...” bisiknya dengan suara yang hampir tidak terbentuk.

Ia mencoba tertawa kecil, tetapi yang keluar hanya hembusan napas yang terputus dan tidak stabil. Tidak ada nada ringan di dalamnya, hanya sisa kesadaran yang mulai goyah.

Di luar, angin malam masih berhembus melewati celah bangunan, membawa hawa dingin yang semakin memperburuk kondisinya. Suara itu terdengar samar, tetapi cukup untuk mengisi keheningan yang menekan dari segala arah.

Waktu terasa berjalan lambat, setiap detik memanjang tanpa ujung yang jelas. Dalam keadaan seperti itu, pikirannya mulai mengembara tanpa arah yang pasti.

Bukan ke masa depan yang tidak lagi ia pikirkan.

Melainkan ke masa lalu yang tidak bisa ia hindari.

Ia melihat bayangan dirinya yang dulu berdiri di tengah arena latihan, tubuhnya tegap dengan sikap yang penuh keyakinan. Orang-orang di sekelilingnya memandang dengan kagum, menyebut namanya dengan nada yang berbeda dari sekarang.

Alverion Dastan.

Harapan keluarga yang selalu dibicarakan.

Bintang generasi yang dipandang sebagai penerus.

Semua itu terasa nyata, begitu jelas hingga sulit dipercaya bahwa itu adalah dirinya yang sama.

Namun kini, semua itu terasa jauh, seperti cerita yang tidak lagi memiliki hubungan dengannya.

Apa yang sebenarnya salah, pertanyaan itu kembali muncul tanpa bisa ia cegah.

Kali ini ia tidak mencoba menolaknya, tidak berusaha mengalihkan pikiran ke arah lain.

Ia membiarkan dirinya mengingat lebih dalam, menelusuri setiap kejadian yang membawanya ke titik ini.

Setiap keputusan yang ia ambil.

Setiap kepercayaan yang ia berikan.

Dan perlahan, rasa itu muncul tanpa bisa ditahan.

Penyesalan yang tidak datang secara tiba-tiba, tetapi mengisi ruang di dalam dirinya sedikit demi sedikit.

Seharusnya ia lebih waspada terhadap hal-hal kecil yang ia abaikan. Seharusnya ia tidak menutup mata terhadap kemungkinan yang tidak ingin ia akui.

Kaelen bukan sekadar teman yang selalu berada di sisinya, tetapi juga seseorang yang mengetahui banyak hal tentang dirinya. Seseorang yang memahami kebiasaan, pola pikir, bahkan celah yang bisa dimanfaatkan.

Namun Alverion tidak pernah melihat itu sebagai ancaman.

Ia memilih untuk percaya karena itu lebih mudah, karena itu membuat segalanya terasa sederhana.

Dan sekarang, ia harus menanggung akibat dari pilihan itu.

“Bodoh...” gumamnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Matanya terpejam sesaat, bukan karena ingin beristirahat tetapi karena pikirannya terasa berat. Penyesalan itu tidak datang sebagai ledakan yang menghancurkan, melainkan seperti gelombang yang terus menghantam tanpa jeda.

Namun di balik itu, ada sesuatu yang lain yang mulai muncul.

Sesuatu yang lebih panas.

Kemarahan.

Bukan hanya terhadap Kaelen yang telah mengkhianatinya, tetapi juga terhadap dirinya sendiri yang tidak melihat semua itu lebih awal.

Kenapa ia harus berada di posisi ini, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya tanpa jawaban yang jelas.

Dari seseorang yang berada di puncak, ia jatuh ke dasar tanpa kesempatan untuk bertahan. Dari harapan yang tinggi, ia berubah menjadi bahan ejekan yang tidak dihargai.

Dan sekarang, ia berada di ambang kematian tanpa siapa pun di sekitarnya.

Alverion membuka matanya lagi, tatapannya kosong tetapi tidak sepenuhnya mati. Di dalamnya, ada sesuatu yang masih bergerak, sesuatu yang belum padam meskipun tubuhnya hampir menyerah.

“Kenapa...” suaranya pelan namun terasa berat.

Pertanyaan itu tidak ditujukan kepada siapa pun, tetapi tetap memiliki tekanan yang nyata.

“Kenapa harus seperti ini...”

Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya sedikit, gerakan kecil yang terasa seperti usaha besar. Tubuhnya semakin dingin, kesadarannya perlahan tergerus oleh kelelahan yang tidak bisa ia lawan.

Namun pikirannya justru menjadi lebih jernih di tengah kondisi itu.

Ia membenci keadaan ini, membenci dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga membenci dunia yang terasa tidak adil, seolah semuanya sudah ditentukan tanpa memberi ruang untuk perubahan.

Namun di tengah semua itu, satu hal muncul dengan jelas.

Ia tidak ingin mati.

Keinginan itu muncul perlahan, tetapi semakin kuat seiring waktu. Bukan keinginan yang tenang, melainkan dorongan kasar yang menolak untuk hilang.

“Aku... belum selesai...” bisiknya pelan.

Suaranya lemah, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang bertahan.

Ia mencoba menggerakkan tubuhnya lagi, memaksa dirinya untuk tidak diam begitu saja. Usahanya tidak berhasil, tetapi ia tidak berhenti.

Ia mencoba lagi.

Dan lagi.

Meskipun hasilnya hampir tidak terlihat, setiap usaha itu terasa seperti perlawanan kecil terhadap keadaan yang menekannya.

Napasnya semakin berat, pandangannya mulai menggelap di bagian tepi. Dunia di sekitarnya perlahan menghilang, tetapi keinginan itu tetap ada.

Ia tidak lagi memikirkan hal lain.

Tidak tentang kehormatan.

Tidak tentang nama keluarga.

Tidak tentang masa lalu yang sudah hilang.

Yang ia inginkan sekarang hanya satu.

Bertahan.

“Aku... tidak akan...” suaranya terputus saat ia berusaha berbicara.

Ia menarik napas dalam, meskipun terasa seperti menusuk dari dalam.

“...mati di sini.”

Kalimat itu keluar dengan susah payah, tetapi cukup jelas untuk dirinya sendiri.

Untuk sesaat, seolah tidak ada apa pun di sekitarnya.

Tidak ada suara.

Tidak ada gerakan.

Hanya detak jantungnya yang terasa semakin lemah.

Lalu sesuatu berubah.

Bukan dari luar.

Melainkan dari dalam dirinya.

Ada sensasi aneh yang muncul di kedalaman tubuhnya, sangat samar hingga hampir tidak terasa. Seperti percikan kecil yang muncul di tengah kegelapan tanpa alasan yang jelas.

Alverion mengerutkan kening, mencoba memahami apa yang ia rasakan. Sensasi itu terlalu lemah untuk dikenali, tetapi cukup nyata untuk membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang berbeda.

Sebelum ia sempat memahaminya lebih jauh, kesadarannya kembali goyah.

Kegelapan mulai mendekat, perlahan menutupi penglihatannya.

Menelan suara yang tersisa.

Menekan pikirannya hingga hampir hilang.

Ia berada di ambang untuk menyerah, membiarkan dirinya tenggelam tanpa perlawanan.

Namun pada saat itu, sesuatu terjadi.

Sebuah suara muncul.

Bukan dari luar ruangan.

Bukan dari pintu.

Bukan dari angin yang berhembus.

Suara itu muncul langsung di dalam kepalanya, jelas dan tidak terhalang oleh apa pun.

[Deteksi kondisi pengguna...]

Pikiran Alverion terhenti sejenak, meskipun tubuhnya tidak bergerak.

Suara itu terasa berbeda dari halusinasi biasa.

Terlalu teratur.

Terlalu jelas.

[Kerusakan tubuh melebihi batas aman.]

Setiap kata terdengar datar, tanpa emosi, tetapi justru itu yang membuatnya terasa nyata.

[Status energi... nol.]

Alverion mencoba merespons, mencoba membuka mulutnya untuk berbicara. Namun tidak ada suara yang keluar, tubuhnya tidak mampu mengikuti perintah itu.

[Evaluasi... pengguna berada di ambang kematian.]

Ada jeda singkat setelah itu, seolah sesuatu sedang diproses.

[Memulai prosedur aktivasi darurat.]

Jantungnya berdegup lebih cepat, atau setidaknya ia merasakannya seperti itu.

[Aktivasi sistem...]

Waktu terasa berhenti sejenak.

[Berhasil.]

Suara itu menghilang, tetapi efeknya tetap terasa.

Sensasi hangat muncul di dalam tubuhnya, sangat kecil namun jelas berbeda dari dingin yang sebelumnya mendominasi. Titik panas itu perlahan menyebar, menembus rasa dingin yang mengikat tubuhnya.

Alverion merasakannya meskipun kesadarannya hampir hilang.

[Selamat datang, pengguna.]

Kata-kata itu menjadi hal terakhir yang ia dengar sebelum kegelapan benar-benar menutup segalanya.

Namun kali ini, kegelapan itu tidak terasa seperti akhir.

Ada sesuatu yang berubah, meskipun ia belum mampu memahaminya.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!