NovelToon NovelToon
JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:714
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa

Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.

Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?

"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Turun Gunung

Hutan Hitam biasanya tidak pernah membiarkan siapa pun keluar dalam keadaan hidup, namun pagi ini, kabut tebal seolah membelah diri, memberi jalan bagi sesosok pemuda yang memanggul busur besar berselimut kain hitam. Song Yuan melangkah keluar dari bayang-bayang pohon raksasa. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, sinar matahari yang tidak terhalang rimbunnya daun mengenai wajahnya yang pucat.

"Ingat, Yuan-er," suara desisan Mo Chen terngiang di telinganya sebelum ia pergi tadi subuh. "Di dunia manusia, lidah lebih tajam dari anak panah. Jangan tarik busurmu kecuali kau berniat memanen nyawa. Seekor ular yang menunjukkan taringnya terlalu dini hanya akan berakhir di kuali sup."

Yuan tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju Kota Perbatasan Yan, tempat paling dekat untuk mencari informasi tentang pergerakan militer Ibukota.

Begitu memasuki gerbang kota, indranya yang sudah diasah secara ekstrem oleh Mo Chen langsung bekerja lembur. Bau pasar yang amis, keringat manusia, parfum murahan, dan suara teriakan pedagang menghujam kepalanya. Bagi orang biasa, ini adalah hiruk-pikuk kehidupan. Bagi Yuan, ini adalah kebisingan yang tidak berguna.

Ia berjalan melewati kerumunan. Orang-orang secara refleks memberi jalan, bukan karena mereka tahu siapa dia, tapi karena aura dingin yang terpancar dari tubuhnya membuat bulu kuduk mereka berdiri. Yuan berhenti di sebuah kedai tuak kumal yang penuh dengan tentara bayaran dan pemburu bayaran.

"Satu mangkuk mie polos dan air," ucap Yuan saat duduk di sudut paling gelap. Suaranya rendah, namun entah kenapa membuat pelayan kedai itu gemetar saat meletakkan pesanan.

Di meja tengah, sekelompok pria dengan seragam militer kusam sedang tertawa keras sambil menenggak tuak.

"Kau dengar kabar dari Ibukota?" tanya salah satu tentara yang bermata satu. "Kaisar baru sedang membersihkan sisa-sisa pengikut Jenderal Song. Katanya, mereka menemukan jejak kalau 'Lencana Naga Langit' masih ada di wilayah utara."

Tangan Yuan yang sedang memegang sumpit berhenti sesaat. Matanya menyipit, pupilnya mengecil menyerupai celah vertikal—warisan dari racun Mo Chen.

"Ah, bukankah Jenderal Song sudah mampus terbakar di desa terpencil tujuh tahun lalu?" sahut yang lain sambil bersendawa. "Kasihan sekali. Padahal dia itu pahlawan perang, tapi matanya dicongkel dan keluarganya dibantai hanya karena selembar lencana."

Krak!

Sumpit di tangan Yuan patah menjadi dua. Amarah yang selama tujuh tahun ini ia tekan di bawah didikan sadis Mo Chen mendadak mendidih. Namun, ia tidak bergerak. Ia mengingat latihan "Bidikan Tanpa Mata"—fokus pada sasaran, abaikan emosi.

"Dengar-dengar, pemimpin pasukan yang membantai desa itu sekarang sudah naik jabatan jadi Komandan Garda Depan. Namanya Gao Shuo," lanjut si mata satu. "Dia orang kepercayaan Kaisar sekarang."

Gao Shuo. Nama itu terukir dengan tinta darah di otak Yuan. Sosok bertopeng baja yang wajahnya sempat ia gores tujuh tahun lalu.

Tiba-tiba, seorang tentara bayaran bertubuh besar menghampiri meja Yuan. Ia merasa terganggu dengan aura pemuda di sudut itu yang terasa sangat "menindas".

"Hei, Bocah! Kenapa kau menatap kami seperti itu? Mau pamer busur rongsokanmu itu, ya?" bentak tentara itu sambil menggebrak meja Yuan. Mie polos Yuan tumpah ke lantai.

Yuan perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang kuning keemasan menatap langsung ke mata pria itu. Tidak ada ketakutan, tidak ada kemarahan yang meluap-luap. Hanya ada kekosongan yang mematikan.

"Kau mengotori lantainya," ucap Yuan datar.

"Apa?! Kau berani menantangku?!" Pria itu menarik parang besar dari pinggangnya.

Dalam sekejap mata—begitu cepat hingga tak ada seorang pun di kedai itu yang bisa melihat gerakannya—Yuan sudah berdiri di belakang pria itu. Busur hitamnya masih di bahu, tapi ada sebuah anak panah tanpa ujung tajam yang kini menekan jakun pria bertubuh besar itu.

"Jika aku ingin kau mati, kepalamu sudah berada di meja itu sebelum parangmu keluar dari sarungnya," bisik Yuan di telinga pria itu. Hawa dingin dari tubuh Yuan membuat pria itu kencing di celana.

Seluruh kedai mendadak sunyi senyap. Keberanian para tentara tadi menguap seketika.

Yuan melepaskan pria itu, lalu melemparkan sekeping koin perak ke meja sebagai ganti mie yang tumpah. Ia berjalan keluar dari kedai dengan langkah tenang. Informasinya sudah cukup. Targetnya sudah punya nama: Gao Shuo.

Di luar kota, di bawah bayangan pohon jati tua, Yuan menatap ke arah selatan—arah Ibukota berada. Ia merogoh lencana kayu dari ayahnya yang tersembunyi di balik baju.

"Ayah, Ibu... buruannya sudah terlihat," gumam Yuan.

Ia tidak lagi merasa seperti mangsa. Sekarang, dialah predatornya. Dengan teknik memanah dari Jenderal Song dan kesadisan dari Mo Chen, Song Yuan mulai melangkah menuju pusat badai.

Perjalanan balas dendam yang berdarah-darah baru saja membuka babak barunya.

"Yuan menarik napas dalam, membiarkan udara Kota Yan yang kotor memenuhi paru-parunya. Baginya, udara ini berbau seperti mangsa yang ketakutan. Ia melangkah pergi, meninggalkan kedai yang masih membeku itu. Di belakangnya, langit senja mulai memerah seolah-olah cakrawala sedang bersiap untuk banjir darah yang akan dibawa oleh sang pemanah."

1
HarusameName
namanya yang bener yang mana, bang?
Devilgirl: Yuan-er panggilan khusus ayah ke anaknya dalam gaya wuxia...kalau secara langsung panggilan sayang julukan
total 3 replies
Devilgirl
Hai,readers mampir sini dong!!
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!