NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:30.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Menjelang jam makan siang, Ananda melangkah menuju kantin perusahaan di lantai dasar bersama Riska. Begitu mereka memasuki area kantin yang luas, suasana mendadak agak riuh. Tanpa disengaja, Ananda langsung menjadi pusat perhatian utama, terutama bagi kaum adam yang sedang mengantri makanan.

Banyak dari mereka yang menatap tanpa berkedip, mengagumi sosok sekretaris baru itu. Tubuhnya tinggi semampai dengan proporsi yang proporsional, parasnya cantik alami, serta memiliki kulit wajah yang bersih dan mulus. Di dalam hatinya, Ananda berulang kali mengucap syukur atas perubahan drastis pada dirinya.

Semua metamorfosis ini tidak luput dari peran besar Feby, sahabat sejatinya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Feby yang kini sukses menjadi penata rias artis papan atas dan memiliki klinik perawatan kulit, adalah orang yang dengan sabar menuntun Ananda untuk merawat diri, menyembuhkan trauma kulitnya, hingga ia terlahir kembali menjadi wanita yang memukau. Berbeda dengan masa lalunya yang suram, kini Ananda bisa berdiri dengan kepala tegak.

Saat Ananda dan Riska baru saja mendudukkan diri di salah satu meja kosong, dua pria dengan nampan makan siang di tangan tiba-tiba mendekat dengan senyum semringah. Mereka adalah Aris dan Yanto.

"Permisi... Boleh kami duduk di sini?" tanya Aris dengan nada yang dibuat selembut mungkin.

Ananda mendongak, lalu menyunggingkan senyum ramahnya. "Oh, silakan, Mas. Duduk saja, kebetulan masih kosong."

Otomatis, Aris dan Yanto langsung kegirangan. Mereka segera mengambil posisi duduk di samping Ananda dan Riska, memicu pandangan iri dan gigit jari dari para pria jomblo lain di sudut kantin. Aris, yang bekerja sebagai staf HRD, memang sudah terpesona sejak kemarin saat tidak sengaja berpapasan dengan Ananda di ruangannya. Sementara Yanto, seorang asisten manajer yang kerap dicap sebagai 'bujang lapuk' karena terlalu lama menjomblo, mendadak merasa menemukan harapan baru setelah melihat senyum Ananda. Obrolan seru pun mengalir begitu saja, diselingi candaan yang membuat Ananda tertawa lepas.

Sementara itu, tepat di sebelah area kantin umum, terdapat sebuah restoran eksekutif mewah yang dibatasi dinding kaca transparan tempat khusus di mana hanya para jajaran atasan dan direksi yang sering makan siang.

Tristan melangkah gagah melintasi lorong tersebut, diikuti oleh Kevin yang setia mengekor di belakangnya. Namun, langkah kaki Tristan mendadak terhenti total. Netranya menembus kaca transparan, tertuju lurus pada satu meja di kantin umum.

Di sana, Ananda tampak sedang tertawa lepas, begitu lepas hingga matanya menyipit indah, merespons lelucon dari dua pria di hadapannya.

Deg!

Tristan terpaku. Dadanya berdesir hebat, memicu rasa sesak yang familiar. Nada tawa itu... cara wanita itu menutup mulutnya sedikit saat tertawa... lagi-lagi sangat mirip dengan si itik buruk rupa.

Tristan ingat betul, ia pernah melihat si itik tertawa lepas seperti itu di kantin kampus enam tahun lalu. Saat itu, si itik sedang mengobrol dan berbagi bekal sederhana dengan satu-satunya sahabat yang ia miliki di kampus seorang mahasiswi yang merupakan anak dari petugas cleaning service di universitas mereka. Karena tidak ada yang sudi berteman dengan gadis cupu bernoda jerawat seperti si itik, ia hanya menghabiskan waktu bersama sesama golongan bawah. Dulu, Tristan kerap mencemooh mereka, menganggap pertemanan itu sebagai sekumpulan rakyat jelata yang pantas berbaur di sudut terpencil.

Namun kini, melihat tawa yang persis sama keluar dari bibir wanita secantik Ananda, Tristan tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ada rasa tidak suka yang tiba-tiba membakar dadanya melihat sekretarisnya itu bisa tertawa sebahagia itu dengan pria lain, sementara di depannya wanita itu selalu memasang wajah sedingin es.

"Tuan Tristan? Ada yang salah?" tanya Kevin hati-hati, bingung melihat bosnya tiba-tiba mematung seperti patung bernyawa sambil menatap ke arah kantin karyawan.

Tristan masih terpaku di posisinya, menatap tajam ke arah meja kantin tempat Ananda berada. Rasa tidak suka yang aneh merayapi dadanya melihat senyum lepas sang sekretaris yang diberikan untuk pria lain.

"Tuan Tristan? Ada yang salah?" tanya kevin hati-hati, memecah lamunan bosnya.

Tristan tidak langsung menjawab. Ia membalikkan tubuhnya, melangkah masuk ke dalam restoran mewah eksekutif, lalu menoleh ke arah Kevin dengan tatapan dingin. "Cepat kau panggil wanita itu ke sini!" perintahnya ketus, tepat saat pelayan mulai menyiapkan meja untuk pesanan makanan yang sudah ia pesan sebelumnya.

Kevin tersentak, namun ia langsung paham siapa "wanita itu" yang dimaksud sang bos. Tanpa banyak tanya, ia buru-buru berbalik arah menuju kantin karyawan.

Sementara itu, di meja kantin, Ananda sedang asyik mengobrol dan tertawa bersama Riska, Aris, dan Yanto. Tiba-tiba, sosok Kevin muncul di dekat meja mereka dengan napas yang sedikit memburu.

"Nanda, cepat ikut dengan ku... Tuan memanggilmu di restoran!" ucap Kevin setengah berbisik namun terdengar panik.

Ananda seketika menghentikan tawanya. Ia menghela napas panjang menahan dongkol. Rasanya ia ingin sekali berteriak dan menolak perintah konyol pria itu. Ini adalah jam istirahat, haknya sebagai karyawan! Namun, mengingat ia masih harus bertahan di perusahaan ini demi Elvano, Ananda terpaksa menelan kekesalannya.

"Maaf ya semuanya, saya harus ke sebelah dulu," pamit Ananda kepada teman-teman satu mejanya dengan senyum terpaksa.

Riska, Aris, dan Yanto kompak menatap Ananda dengan raut wajah penuh keprihatinan dan rasa kasihan. Begitu Ananda melangkah pergi mengikuti Kevin, Aris langsung menopang dagunya, menatap nanar ke depan.

"Wah, pasti dia bakalan mendapatkan banyak tekanan dari Tuan Tristan. Semoga saja dia betah bekerja di sini," gumam Aris penuh harap. Ia lalu menegakkan punggungnya dengan percaya diri. "Kalau pun sampai dia gak betah terus berhenti, gue sanggup kok menanggung seluruh kebutuhan hidupnya!"

Mendengar bualan maut staf HRD tersebut, Riska dan Yanto saling berpandangan selama satu detik, lalu seketika tawa mereka pecah bersamaan, menertawakan kegelian atas rasa percaya diri Aris yang terlalu tinggi.

Setibanya di dalam restoran mewah yang bernuansa tenang dan elegan, Ananda melangkah mendekati meja nomor satu tempat Tristan duduk. Pria itu tampak sangat berwibawa, namun di mata Ananda, ia tetaplah monster yang menyebalkan.

"Selamat siang, Tuan Tristan. Ada keperluan apa memanggil saya ke mari?" tanya Ananda formal, mencoba menekan nada ketusnya.

Tristan mendongak, menunjuk kursi kosong tepat di sebelah kanannya dengan dagu. "Duduk...!" perintahnya singkat.

Ananda mengerutkan keningnya, namun tetap duduk dengan canggung. Tak lama kemudian, pelayan menghidangkan menu seafood mewah, termasuk sepiring besar udang bakar saus madu yang menguarkan aroma lezat.

Tristan menggeser piring udang tersebut tepat ke hadapan Ananda. "Tolong kau kupaskan kulit udang itu untukku, aku tidak mau tangan ku bau amis!" ucapnya santai tanpa beban.

Deg!

Mendengar perintah yang teramat seenaknya itu, darah Ananda seketika mendidih. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Rasanya ia ingin sekali mencekik leher pria arogan di hadapannya ini sampai tidak bernapas! Bagaimana bisa seorang CEO memperlakukan sekretarisnya seperti pelayan pribadi di depan umum?

Bukan hanya Ananda, Kevin yang baru saja duduk di meja sebelah juga langsung tercengang tak percaya. Matanya membelalak menatap perintah konyol dan tak masuk akal dari bosnya.

‘Gila... Tuan Tristan sengaja banget nyari gara-gara atau lagi ngerjain ini anak baru? Sungguh malang nasibmu, Nona Cantik,’ batin Kevin bergidik ngeri.

Sambil menghela napas dalam-dalam untuk meredam emosinya, Ananda akhirnya meraih garpu dan pisau. "Baik, Tuan," ucapnya lirih.

Satu per satu, Ananda mulai mengupas kulit udang yang masih melekat panas. Dari jarak yang sangat dekat, Tristan diam-diam memperhatikan jemari lentik Ananda. Gerakan tangan wanita itu, caranya memegang sendok, entah mengapa terus mengunci perhatian Tristan.

Namun, kedekatan mereka yang tampak intim dari kejauhan itu tanpa sengaja tertangkap oleh sepasang mata lain. Di ambang pintu restoran, seorang wanita cantik dengan pakaian bermerek melangkah masuk dan langsung menghentikan langkahnya. Wajahnya seketika berubah merah padam dikuasai api cemburu yang membakar.

Sementara itu, di meja makan, Ananda yang menyadari tatapan intens Tristan sengaja menyusun rencana kecil. Pada udang ketiga, ia sengaja mengupas bagian ekor dan kulit tengahnya dengan tidak bersih, menyisakan sedikit potongan kulit udang yang tajam tersembunyi di balik lumuran saus madu yang tebal. Dengan senyum profesional yang dibuat-buat, ia meletakkan udang itu di piring Tristan.

Tristan yang tidak menaruh curiga langsung menusuk udang tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut.

Uhuk!

Uhuk!

Baru dua kali mengunyah, Tristan seketika tersedak hebat. Kulit udang yang tajam itu menusuk tenggorokannya, membuat wajah tampannya memerah seketika sambil terbatuk-batuk.

Melihat pemandangan itu, Ananda menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyuman puas yang terkembang di bibirnya.

‘Rasakan itu, dasar monster tengil!’ batinnya bersorak kegirangan.

"Tristan?! Ya ampun, kamu kenapa?!"

Tiba-tiba, sebuah suara pekikan wanita dengan nada yang teramat khawatir menggema di dalam restoran. Suara high heels yang melangkah tergesa-gesa terdengar mendekat.

Ananda yang sedang memegang tisu langsung menoleh ke arah sumber suara. Namun, begitu pandangannya bertubrukan dengan sosok wanita yang kini sudah berdiri di samping meja Tristan sambil panik menyodorkan segelas air putih, jantung Ananda serasa berhenti berdetak.

Wanita itu... Bella.

Dunia seolah berputar kembali ke masa lalu. Ananda mematung dengan tubuh yang mendadak dingin. Ia sama sekali tidak menyangka, di hari keduanya bekerja, takdir langsung melemparkannya ke dalam sarang serigala yang utuh. Di hadapannya kini, berdiri dua orang yang dulu pernah menindasnya habis-habisan dan menghancurkan masa depannya tanpa ampun.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
kasian Kevin layu sebelum berkembang ya vin, udah sm aku aj ya 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berkembang jadi apa? /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
Nar Sih
pasti sdh gk sbr ingin ketemu terus dgn putra mu juga pujaan hti mu ya tristan☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak🤭
total 1 replies
Nar Sih
kini satu maaf sdh kau dpt tristan dri ibu mila tinggal langkah selanjut nya💪
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
Dartihuti
Ciieee...yang udah dapat sama" buka diri aaa ...lega,ttp ti ati cr bukti gimana busuknya si Bello😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
nyonya Mutia dengarin tuh kata tuan Surya, nyari pasangan tuh yang tulus jangan dilihat dari hartanya tuh kaya Bela walaupun kaya tapi hatinya jahat dan busuk,ayo Tristan selidiki lebih lanjut Bela dan hasilnya kasih tahu nyonya Mutia biar tahu betapa jahatnya Bella
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 👍🏼😉
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya kmu tau kan tristan saat nya kmu lebih berusaha agar nanda memaaf kan mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!