Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: RAHASIA YANG MENGGANTUNG DAN KEPULANGAN SANG PEMBURU
Malam kian merambat pekat di atas Lembah Shrouded, membawa serta gulungan kabut hitam yang terus berputar gelisah di luar batas desa. Namun, di dalam aula kuil batu yang biasanya sunyi dan sakral, suasana justru terasa sangat panas dan dipenuhi ketegangan yang mendesak. Belasan tokoh penting desa, mulai dari kepala pengawal, perwakilan warga, hingga beberapa sesepuh yang tersisa, duduk melingkari sebuah meja kayu besar yang lapuk. Di tengah-tengah mereka, Mayang berdiri tegak dengan jubah beludru merah tuanya yang masih menyisakan noda lumpur kering, menjadi pusat perhatian dari seluruh pasang mata yang ada di dalam ruangan tersebut.
Rencana penyerangan dan penyelamatan Dion tengah digodok dengan saksama. Peta kuno lembah yang digambar di atas kulit domba dibentangkan di atas meja, memperlihatkan rute-rute rahasia menembus hutan maut menuju benteng klan kabut yang bertengger di puncak tebing berbatu.
"Jika kita bergerak melalui jalur barat, kita bisa menghindari patroli utama makhluk The Stalker," ujar kepala pengawal desa, menunjuk sebuah jalur setapak sempit yang memotong lereng bukit curam. "Namun, risiko longsor dan hawa dingin di sana dua kali lebih mematikan. Kita butuh jaminan bahwa kita tidak akan membeku sebelum sempat menginjakkan kaki di benteng mereka."
Mayang melangkah maju, meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja kayu. Sepasang mata jernihnya seketika berkilat keemasan, memancarkan pendaran cahaya hangat fajar yang langsung menerangi seluruh ruangan kuil dan mengusir hawa dingin yang sempat merembes masuk dari celah dinding batu. "Aku yang akan berada di barisan paling depan," ujar Mayang dengan nada suara yang mutlak dan penuh tekad. "Cahaya di dalam tubuhku ini cukup kuat untuk membakar hawa dingin kabut hitam mereka dan membentuk perisai bagi kalian semua. Kita harus bergerak malam ini juga, sebelum Penguasa Gorgan menyadari bahwa kita sedang merencanakan pemberontakan."
Melihat demonstrasi kekuatan tersebut, seorang sesepuh desa bertubuh bungkuk yang mengenakan jubah putih usang—Aki sarman—perlahan menegakkan punggungnya yang ringkih. Sepasang mata tua Aki Sarman yang sudah kelabu menatap lekat-lekat ke arah pendaran cahaya keemasan yang keluar dari sela-sela jemari Mayang. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menggelengkan kepalanya dengan gurat wajah yang dipenuhi rasa takjub bercampur kecemasan yang mendalam.
"Mayang, anakku..." suara Aki Sarman terdengar bergetar rendah, bergema di sela-sela pilar kuil batu. "Kau selalu mengira bahwa kekuatan yang ada di dalam tubuhmu ini hanyalah berkah sihir penyembuh biasa, atau sekadar energi elemental cahaya yang bangkit karena emosimu. Tapi ketahuilah, apa yang bersemayam di dalam darahmu itu jauh lebih purba, lebih langka, dan lebih berbahaya daripada apa yang bisa kaupahami saat ini."
Mayang menghentikan pendaran cahayanya, menatap Aki Sarman dengan kening yang berkerut bingung. Rasa ingin tahu seketika merayap di dalam dadanya. "Apa maksudmu, Aki? Kekuatan ini... bukankah ini hanya sihir cahaya fajar biasa?"
Aki Sarman membelai janggut putihnya yang panjang, lalu menunjuk ke arah langit-langit kuil yang dipenuhi oleh relief kuno yang sudah kabur dimakan usia. "Dua ratus tahun yang lalu, sebelum lembah ini dikutuk oleh kabut kelabu, ada sebuah ramalan kuno tentang Aethelgard—Sang Inti Cahaya Abadi. Kekuatan itu tidak dilahirkan dari garis keturunan penyihir, melainkan dipilih langsung oleh alam semesta untuk menjadi penyeimbang kegelapan mutlak. Kekuatan itu murni, namun ia menuntut sebuah pengorbanan raga yang sangat besar. Jika wadah manusianya tidak mampu menahan tekanan energinya, atau jika emosi di dalam hatinya berubah menjadi kebencian..." Aki Sarman menggantungkan kalimatnya, menatap Mayang dengan tatapan yang sangat serius, "...maka cahaya itu tidak akan menyelamatkan, melainkan akan membakar habis seluruh jiwa sang pemilik beserta orang-orang di sekitarnya. Dan syarat mutlak untuk membangkitkan wujud sempurna dari kekuatan langka itu adalah..."
"Aki! Lanjutkan! Apa syarat mutlaknya?!" desak Mayang dengan jantung yang mulai bertalu kencang, merasa bahwa rahasia ini adalah kunci untuk menyelamatkan Dion.
Namun, penjelasan krusial dari Aki Sarman mendadak harus terputus secara kasar.
TENGGG! TENGGG! TENGGG!
Suara dentang lonceng darurat di menara pengawas luar desa mendadak dipukul bertubi-tubi dengan ritme yang sangat cepat dan panik. Suara gemuruh teriakan warga desa dari arah luar kuil seketika pecah, memotong keheningan malam dan menghancurkan fokus rapat koordinasi mereka dalam sekejap mata.
"Bahaya! Ada serangan! Siaga darurat semuanya!"
"Monster kabut datang! Cepat ambil senjata kalian!"
Mendengar jeritan panik tersebut, kepala pengawal desa langsung menarik pedang besinya dari sarung, sementara Mayang dengan cepat berlari keluar menembus pintu kuil, diikuti oleh para tokoh desa lainnya. Di luar halaman kuil, suasana sudah berubah menjadi kacau balau. Warga desa berlarian ke sana kemari membawa obor, sementara para pria dewasa membentuk barisan pertahanan darurat di gerbang kayu pinggiran desa yang berbatasan langsung dengan kegelapan hutan pinus.
Seorang warga desa bertubuh kurus dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang pucat pasi berlari menghampiri Mayang dan kepala pengawal. "Ada pergerakan di pinggiran hutan! Tadi... tadi saat aku sedang mencari kayu bakar ekstra di dekat semak-semak perbatasan, aku melihat ada seseorang dari klan kabut sedang berjalan merangkak keluar dari tengah hutan maut menuju ke arah desa kita! Sosoknya sangat menyeramkan, dilingkupi asap perak tipis! Kita harus bersiap menghadapi serangan!"
Mendengar laporan itu, seluruh warga desa langsung memasang posisi siaga satu, mengacungkan tombak dan cangkul mereka ke arah kegelapan malam, mengira bahwa Penguasa Gorgan telah mengirimkan pembunuh bayaran untuk meratakan desa mereka. Mayang melangkah ke barisan paling depan, matanya yang berkilat keemasan mencoba menembus kepekatan kabut hitam di ujung jalan setapak hutan.
Perlahan tapi pasti, dari balik rerimbunan pohon pinus yang gelap, sesosok tubuh tinggi menjulang tampak melangkah tertatih-tatih. Sosok itu berjalan dengan satu tangan yang memegangi dada bidangnya, sementara tangan lainnya bertumpu pada batang pohon untuk menahan agar tubuhnya tidak jatuh tumbang ke atas tanah. Napasnya terdengar sangat pendek, berat, dan dipenuhi oleh uap darah yang kental. Di bawah temaram cahaya obor warga yang bergoyang, pakaian kulit hitam yang dikenakan sosok itu tampak telah hancur terkoyak, memperlihatkan luka menganga yang sangat mengerikan di dadanya, berbaur dengan lumpur jurang dan darah segar yang terus menetes membasahi tanah becek.
Begitu sosok itu melangkah keluar sepenuhnya ke area yang diterangi cahaya obor, seluruh alun-alun desa mendadak tertegun mati rasa. Senjata-senjata yang dipegang erat oleh para pengawal perlahan-lahan diturunkan dengan tangan yang gemetar akibat keterkejutan yang luar biasa.
"Dion...?" bisik Mayang, suaranya tercekat di tenggorokan, dan seluruh pertahanan batinnya runtuh seketika saat mengenali wajah tegas dengan rahang kokoh dan sepasang mata abu-abu badai yang kini tampak sangat redup tersebut.
Itu benar-benar Dion. Pemburu kabut yang mereka kira telah mengkhianati desa, kini kembali dalam kondisi yang melampaui batas kemanusiaan. Tubuh kekarnya dipenuhi oleh bekas siksaan yang mengerikan; kulit di lengan kanannya melepuh hitam akibat hancurnya segel kutukan, dan separuh wajah tampannya ternoda oleh darah kering. Dion telah merangkak naik dari dasar jurang kematian, berjalan menembus hutan maut dengan sisa-sisa napas terakhirnya hanya untuk kembali ke tempat wanita yang dicintainya berada.
Dion menatap lurus ke arah Mayang melalui pandangannya yang mulai mengabur. Sebuah senyuman tipis yang sangat lemah terbit di bibirnya yang pecah-pecah sebelum akhirnya kedua lutut kokohnya menyerah. Tubuh tinggi Dion ambruk, jatuh tersungkur tak sadarkan diri di atas tanah berlumpur di depan gerbang desa.
"Dion!!!" menjeritlah Mayang dengan suara yang memecah kesunyian malam. Ia langsung berlari sekencang mungkin, menjatuhkan dirinya ke atas tanah becek untuk memangku kepala Dion yang terasa sedingin es. "Cepat bantu aku! Bawa dia ke rumahku sekarang juga! Nyawanya dalam bahaya!" teriak Mayang kepada penduduk desa yang kini dengan sigap dan penuh rasa bersalah langsung membantu memapah tubuh kekar sang pemburu, melarikan diri dari kejaran kabut hitam yang kian pekat mengintai takdir mereka di luar sana.