Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teh di Taman Timur
Suara langkah para pelayan terdengar pelan di sepanjang lorong istana.
Berbeda dengan mansion yang hangat dan tenang, istana utama terasa jauh lebih besar.
Jauh lebih megah. Dan sangat dingin.
Langit-langit tinggi dipenuhi ukiran emas dan lambang kerajaan. Cahaya matahari siang masuk melalui jendela-jendela besar, memantul di lantai marmer mengilap hingga hampir terasa menyilaukan.
Ada satu perkataan Madam Elish yang diingatnya—bahkan dinding kerajaan memiliki telinga dan mata.
Lilly berjalan beberapa langkah di sisi Noah.
Gaun lembut berwarna putih yang dikenakannya bergerak perlahan mengikuti langkahnya.
Di balik ketenangan wajahnya, Lilly sadar— tempat ini di satu malam benar-benar telah mengubah segalanya.
Jika dulu ia menciptakan skandal.
Namun kini—
seluruh istana mengenalnya sebagai calon Putri Mahkota.
Tatapan para pelayan yang menunduk hormat setiap kali mereka lewat.
Hal ini tentu terasa begitu asing baginya.
“Yang Mulia.”
Seorang kepala pelayan wanita berhenti di hadapan mereka sebelum membungkukkan badan hormat.
“Yang Mulia Permaisuri telah menunggu Lady Lillyane di ruang teh timur.”
Noah menganggukkan kepala pelan.
“Aku akan menyusul setelah menemui Raja."
“Baik, Yang Mulia.”
Tatapan Noah sempat jatuh pada Lilly.
“Aku tidak akan lama,” ucap Noah pelan.
Lilly membalas dengan senyum kecil.
“Saya akan baik-baik saja, Yang Mulia.”
Noah menatapnya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya berjalan menjauh bersama para pelayan istana.
Dan ketika sosok Putra Mahkota itu menghilang di balik lorong panjang—
Lilly benar-benar sendirian.
Kepala pelayan kerajaan mempersilahkannya berjalan ke arah lain. Lorong yang mereka lewati perlahan berubah.
Dan ketika pintu kayu besar itu akhirnya dibuka—
aroma teh hangat langsung menyambut Lilly pelan.
Ruangan itu terang.
Cahaya matahari masuk melalui jendela besar yang menghadap taman bagian timur istana. Bunga-bunga musim panas tampak bermekaran di luar, bergerak perlahan tertiup angin.
Sebuah meja teh panjang telah tertata rapi di tengah ruangan.
Teko porselen putih.
Cangkir-cangkir porselen kecil dengan garis keemasan di luarnya.
Dan tungku arang kecil di tengah meja yang menjaga suhu air tetap hangat—sama seeprti dalam ruang makan personal. Serta beberapa jenis daun teh tertata rapi di sisi meja.
Perpaduan elegan serta tradisional. Dan terlalu tenang hingga terasa menekan. Tiga orang telah menunggunya di sana.
Permaisuri.
Selir Sonya.
Dan Putri Grace.
“Lady Lillyane.”
Suara Permaisuri terdengar lembut.
Lilly segera membungkukkan badan hormat.
“Yang Mulia Permaisuri.”
Tatapan Permaisuri mengamati Lilly beberapa saat sebelum wanita itu tersenyum samar.
“Anda terlihat jauh lebih baik dibanding terakhir kali kita bertemu.”
“Terima kasih, Yang Mulia.”
“Duduklah.”
Lilly dipersilakan duduk di kursi kosong yang telah disiapkan.
Dan begitu ia duduk—
ia langsung merasakan tatapan Sonya.
Lebih tajam dibanding sebelumnya.
Tidak lagi terang-terangan meremehkan.
Namun justru karena itu terasa lebih sulit dibaca.
Sonya mengangkat cangkir tehnya perlahan.
“Saya mendengar seluruh aula membicarakan dansa Anda semalam.”
Nada suaranya terdengar lembut.
“Bahkan beberapa bangsawan mulai mengatakan bahwa Anda terlihat pantas berdiri di sisi Putra Mahkota.”
Grace tersenyum kecil di samping ibunya, sementara Lilly tetap mempertahankan senyum sopannya.
“Itu semua berkat pelatihan Madam Elish.”
Sonya tersenyum tipis.
“Tentu saja.”
Tatapannya turun sekilas pada tangan Lilly yang terletak tenang di atas pangkuannya.
“Meski tetap mengejutkan melihat seseorang dapat berubah begitu cepat.”
Suara lembut air mendidih dari tungku arang yang terdengar samar di tengah ruangan.
Lilly diam sesaat. Lalu perlahan mengangkat pandangan.
Tatapan hazelnya tetap tenang.
“Saya adalah calon Putri Mahkota.”
Jawaban sederhana.
Cukup membuat ruang teh itu terasa sedikit lebih sunyi.
Bahkan Grace tampak terdiam sesaat.
Sonya tidak langsung menjawab.
Netranya bertahan pada Lilly beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya wanita itu tersenyum tipis di balik cangkir tehnya.
Permaisuri meletakkan cangkir tehnya perlahan.
“Saya telah membaca laporan kesehatan dari dokter kerajaan.”
Suasana di meja langsung berubah sedikit lebih formal.
Tatapan Permaisuri jatuh bergantian pada Lilly dan Noah yang baru saja memasuki ruangan tanpa suara.
“Kalian berdua dalam kondisi sehat.”
Nada suaranya tetap lembut.
“Dan tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan.”
Lilly merasakan jemarinya sedikit menegang di bawah meja.
Namun wajahnya tetap tenang.
“Pernikahan akan dilaksanakan satu bulan lagi.”
“Persiapan harus dipercepat.”
Tatapannya kemudian jatuh tepat pada Lilly.
“Saya harap kalian berdua menjaga kesehatan dengan baik.”
Noah menganggukkan kepala singkat.
“Tentu, Yang Mulia.”
Sementara Lilly membalas lebih pelan.
“Saya mengerti.”
Permaisuri kembali menyeruput tehnya sebelum melanjutkan.
“Mulai minggu ini, seluruh jadwal kegiatan Anda akan sepenuhnya berada di bawah pengawasan Madam Elish.”
Nada suaranya tetap tenang. Namun terasa seperti keputusan yang tidak bisa ditolak.
“Saya harap Lady Lillyane dapat menjalankannya dengan baik.”
Lilly menundukkan kepala sopan.
“Tentu, Yang Mulia.”
Dan di balik hangatnya aroma teh yang ia minum hari ini membuatnya sadar—
Malam dansa itu bukan akhir dari ujian.
Itu baru permulaan.
Pintu ruang teh perlahan terbuka ketika pertemuan itu akhirnya selesai.
Aroma teh hangat masih samar tertinggal di udara saat Lilly melangkah keluar bersama Noah ke lorong utama istana.
Dan meski wajahnya tetap tenang, Lilly bisa merasakan kelelahan kecil mulai memenuhi pundaknya.
Menjaga setiap kata.
Setiap senyum.
Dan setiap tatapan di dalam ruang itu ternyata jauh lebih melelahkan dibanding berdansa di hadapan seluruh bangsawan semalam.
Langkah Noah melambat sedikit di sisinya.
Tatapan pria itu sempat jatuh sekilas pada Lilly.
“Kau lelah.”
Bukan pertanyaan. Lilly menghela napas kecil sebelum tersenyum samar.
“Sedikit.”
Noah tidak mengatakan apa-apa lagi.
Namun langkahnya tanpa sadar menjadi sedikit lebih pelan, seolah menyesuaikan dirinya dengan Lilly.
Dan tepat ketika mereka berbelok di ujung lorong—
suara langkah kaki lain terdengar mendekat dari arah berlawanan.
Beberapa pengawal kerajaan berjalan lebih dulu sebelum seorang pria berambut gelap dengan pomade yang membuatnya terlalu rapi muncul di belakang mereka.
Albert.
Mantel hitam panjang yang dikenakannya masih menyisakan debu perjalanan tipis di bagian bawah. Sarung tangannya belum dilepas sepenuhnya, sementara beberapa dokumen masih berada di tangan salah satu asistennya.
Ia tampak baru saja kembali dari perjalanan panjang.
Langkah Albert sempat terhenti begitu melihat Noah dan Lilly berdiri bersama di lorong istana.
Tatapan matanya bergeser perlahan pada Lilly.
Lalu pada Noah.
Dan untuk sesaat, sudut bibirnya bergerak samar.
“Yang Mulia.”
Albert membungkukkan badan hormat singkat.
“Aku baru saja kembali dan hendak melapor pada Yang Mulia Kaisar.”
Noah mengangguk pelan.
“Perjalananmu?”
“Lebih tenang dibanding sidang dewan terakhir.”
Jawaban itu terdengar datar.
Namun cukup untuk membuat Noah mendengus pelan nyaris seperti tawa kecil.
Dan setelah itu—
tatapan Albert kembali jatuh pada Lilly.Kali ini sedikit lebih lama. Lalu akhirnya Albert tersenyum tipis.
“Sepertinya rumor yang beredar benar.”
Tatapannya bergantian jatuh pada Noah dan Lilly.
“Lady Lillyane tampak serasi dengan Anda.”
Lorong istana mendadak terasa lebih sunyi sesaat.
Lilly sedikit terdiam.
Mungkin karena itu pertama kalinya seseorang mengatakan hal tersebut tanpa nada sindiran tersembunyi.
Dan Noah masih memasang ekspresi yang sama.
“Memang.”
Jawabannya singkat.
Namun Lilly merasakan desir lembut di dadanya. Setelah Noah dan Lilly berjalan menjauh.
Albert masih berdiri di tempatnya beberapa saat.
Tatapannya tertuju pada arah di mana pasangan itu menghilang di balik deretan pilar marmer istana.
Awalnya hanya skandal yang ia seret.
Dan sekarang—
bahkan para bangsawan tua mulai memperhatikan.
“Lord Albert.”
Salah satu asistennya mendekat sambil membawa beberapa dokumen.
“Mengenai gala amal lusa.”
Albert akhirnya mengalihkan pandangan.
“Pasangan Putra Mahkota dipastikan hadir atas permintaan istana.”
****