NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10 jarum perak pemutus maut dan harta karun berdebu

Ranjang raksasa yang terbuat dari Es Kutub Utara disingkirkan secara paksa oleh enam pengawal zirah berat. Lantai kayu eboni di tengah ruangan kini dikosongkan. Lin Zheng, sang Ketua Paviliun yang sekarat, dibaringkan langsung di atas permukaan kayu yang keras. Hawa dingin kebiruan masih mengepul pelan dari pori-pori kulitnya yang menghitam, membuat lantai di sekeliling tubuhnya membeku dan tertutup lapisan es tipis.

Suasana di lantai tujuh pagoda utama sangat sunyi. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara, bahkan bernapas pun dilakukan dengan sangat pelan. Lin Muxue berdiri mematung di sudut ruangan, kedua tangannya saling meremas erat hingga buku-buku jarinya memutih. Master Gu Yan, yang kesombongannya telah dihancurkan hingga ke akar, berdiri menunduk sambil memegang kotak kayu cendana berisi sembilan puluh sembilan jarum perak murni.

Yan Xinghe berdiri di sisi tubuh Lin Zheng. Wajahnya sedingin danau beku di musim dingin. Jubah kulit serigalanya yang lusuh sangat kontras dengan kemewahan ruangan tersebut, wibawa tak kasat mata yang menguar dari posturnya membuat siapa pun mengabaikan penampilannya.

"Buka kotak itu," perintah Xinghe tanpa menoleh.

Gu Yan bergegas mematuhi, membuka tutup kotak cendana dan menyodorkannya ke hadapan Xinghe. Di dalamnya, sembilan puluh sembilan jarum perak berjejer rapi, berkilau memantulkan cahaya kristal ruangan. Jarum-jarum ini ditempa oleh pandai besi khusus, memiliki ketebalan setipis sayap jangkrik dan kelenturan luar biasa.

Bagi tabib biasa, jarum ini adalah alat untuk merangsang saraf. Di mata seorang mantan Kaisar Pedang, setiap benda panjang dan tajam bisa diubah menjadi pedang. Dan jarum-jarum ini akan menjadi serdadu-serdadunya malam ini.

Xinghe tidak mengambil jarum itu satu per satu. Ia menyapukan telapak tangan kanannya tepat satu inci di atas deretan jarum tersebut. Seketika itu juga, untaian tipis energi petir ungu—esensi dari *Seni Penempaan Tulang Sembilan Kesengsaraan* miliknya—mengalir keluar dari pori-porinya, menempel pada setiap batang jarum.

*Sring! Sring! Sring!*

Tiga puluh tiga jarum perak melayang serentak ke udara, bergetar mengeluarkan suara dengungan tajam menyerupai dengungan ribuan lebah.

Mata Gu Yan terbelalak hingga nyaris robek. "M-mengendalikan benda menggunakan Qi? Ini... ini adalah teknik legendaris Pengendalian Udara! Bukankah itu hanya bisa dilakukan oleh ahli di Alam Transformasi Roh Sejati?!"

"Diam dan perhatikan. Jangan mencemari udaraku dengan kebodohanmu," potong Xinghe dingin. Ia sama sekali tidak menggunakan Qi dalam jumlah besar. Apa yang ia gunakan adalah manipulasi mutlak dari Niat Pedang yang dilapisi secercah kecil energi guntur. Teknik ini tidak membutuhkan samudra energi, melainkan kontrol presisi tingkat mikroskopis yang tidak dimiliki oleh siapa pun di benua fana ini.

Jari tangan Xinghe menjentik pelan. Tiga puluh tiga jarum perak itu melesat lurus ke bawah layaknya hujan meteor miniatur, menancap secara bersamaan di tiga puluh tiga titik meridian besar di tubuh Lin Zheng. Mulai dari titik Baihui di ubun-ubun, turun ke titik Shanzhong di dada, hingga ke titik Yongquan di telapak kaki.

Formasi jarum itu tidak menembus sembarangan. Setiap jarum menusuk dengan kedalaman yang bervariasi; ada yang sedalam satu sentimeter, ada yang nyaris menyentuh tulang. Di mata Gu Yan, pola tancapan ini menyerupai rasi bintang yang menyegel seluruh aliran aura Yin dari dalam tubuh Lin Zheng.

*Formasi Sembilan Istana Pembalik Yang*.

Sebuah formasi pengobatan kuno yang bahkan tidak tercatat dalam arsip sejarah Benua Tanah Spiritual.

Begitu kumpulan jarum pertama tertancap, tubuh Lin Zheng mengejang hebat. Urat-urat biru es di lehernya berdenyut liar, seolah makhluk hidup di dalam darahnya sedang meronta kesakitan karena jalurnya dikunci. Hawa dingin yang memancar dari tubuhnya meningkat drastis, membuat embun beku mulai merambat naik ke dinding-dinding ruangan.

"Racun itu mulai memberontak," Xinghe mengamati perubahan warna kulit pasien. "Sembilan Cacing Embun Pematikan adalah parasit energi murni. Mereka memiliki insting bertahan hidup. Saat merasa wilayahnya disegel, mereka akan menggali lebih dalam menuju jantung."

Xinghe menengadahkan tangan kirinya. "Berikan padaku botol giok itu. Botol yang berisi pil sampah buatanmu."

Gu Yan tidak berani membantah sekecil apa pun. Ia segera menyerahkan botol giok berisi Pil Darah Berkilau Kualitas Sempurna yang sangat ia banggakan. Pil itu bernilai puluhan ribu keping emas, cukup untuk membeli sebuah sekte kecil.

Tanpa sedikit pun keraguan, Xinghe menuangkan pil merah delima itu ke telapak tangannya, lalu meremasnya dengan kuat.

*Kraak!*

Pil berharga itu hancur menjadi bubuk halus bersinar. Gu Yan merasa jantungnya seperti ditusuk belati melihat mahakaryanya dihancurkan begitu saja, rasa takut menahannya untuk memprotes.

Xinghe kemudian mengambil Bunga Teratai Darah yang tergeletak di atas meja. Ia merobek tujuh kelopak bunga tersebut, mencampurkannya dengan bubuk pil di tangannya, lalu memerasnya menggunakan energi guntur. Suhu di telapak tangan Xinghe melonjak ekstrem, membakar campuran itu hingga berubah menjadi pasta kental berwarna merah menyala yang mendidih. Pasta ini murni mengandung elemen Yang yang sangat buas dan meledak-ledak.

"Tabib sejati tidak pernah memasukkan badai ke dalam rumah yang rapuh," gumam Xinghe. Ia melangkah mendekati Lin Zheng, lalu mengoleskan pasta mendidih itu bukan ke dalam mulut sang Ketua Paviliun, melainkan tepat di atas pusarnya—titik pusat Dantian, gerbang utama energi spiritual.

*BZZZZT! SHHHH!*

Suara desisan keras meledak saat pasta elemen api itu bersentuhan dengan kulit yang membeku. Uap tebal berwarna kelabu mengepul ke udara, membawa bau busuk yang sangat menyengat.

Pertarungan hidup dan mati kini terjadi secara kasat mata di permukaan tubuh fana Lin Zheng. Pasta elemen Yang bertindak sebagai umpan yang luar biasa lezat sekaligus mematikan. Racun Sembilan Cacing Embun Pematikan, yang tertahan oleh formasi jarum di seluruh tubuh, merasakan daya tarik energi murni di bagian pusar tersebut. Karena rute menuju jantung telah disegel oleh jarum-jarum Xinghe, racun-racun itu tidak memiliki jalan lain selain bergerak mundur, berkumpul menuju Dantian untuk melahap umpan tersebut.

Garis-garis hitam legam mulai bergerak terlihat di balik kulit pucat Lin Zheng, merayap dari ujung kaki dan kepala menuju bagian perut. Garis-garis itu menggeliat layaknya cacing tanah yang nyata.

Lin Muxue menutup mulutnya, menahan rasa mual bercampur ngeri melihat pemandangan menjijikkan tersebut. Ayahnya sedang dimakan dari dalam oleh parasit energi yang mengerikan.

"Siapkan wadah tembaga yang diisi arak api!" perintah Xinghe cepat.

Hua Qingying yang sedari tadi bersiaga segera mengambil sebuah baskom tembaga besar dari sudut ruangan, mengisinya dengan arak keras berkualitas tinggi, lalu meletakkannya di dekat kaki Xinghe.

Garis-garis hitam di tubuh Lin Zheng semakin banyak berkumpul di area perut. Suhu ruangan berganti-ganti secara ekstrem antara panas membakar dan dingin menggigit, seiring dengan benturan elemen di dalam tubuh sang pasien.

Xinghe menyapukan tangannya kembali ke atas kotak cendana. Tiga puluh tiga jarum perak gelombang kedua melesat terbang. Kali ini, jarum-jarum itu tidak menancap sembarangan. Xinghe mengarahkannya membentuk formasi spiral tepat mengelilingi pusar Lin Zheng.

"Buka Gerbang Neraka!"

Xinghe menyuntikkan Niat Pedang yang jauh lebih tajam ke dalam jarum formasi pusat tersebut. Niat Pedang itu bertindak sebagai mata bor, menusuk masuk ke dalam lapisan Dantian, menciptakan saluran buang darurat yang menembus pertahanan tubuh.

*CROOOT!*

Cairan hitam pekat yang berbau amis menyengat dan membekukan udara seketika memancar keluar dari pusar Lin Zheng. Cairan itu tidak seperti darah, melainkan menyerupai lumpur es. Di dalam lumpur tersebut, terlihat belasan bayangan energi kecil berbentuk kelabang yang menggeliat liar. Parasit Yin mencoba melarikan diri dari tekanan elemen Yang yang menyiksa mereka.

Xinghe tidak memberikan kesempatan. Ia menendang baskom tembaga hingga melayang tepat ke atas perut Lin Zheng, menangkap seluruh muntahan racun es tersebut. Begitu lumpur hitam itu menyentuh arak api di dalam baskom, Xinghe menjentikkan jarinya, melempar setitik percikan guntur ungu.

*WHOOOSH!*

Api merah menyala berkobar hebat di dalam baskom, membakar arak dan racun es secara bersamaan. Suara jeritan aneh berfrekuensi tinggi, menyerupai tangisan bayi yang menyayat hati, bergema dari dalam api tersebut. Itu adalah suara Sembilan Cacing Embun Pematikan yang sedang dibakar hingga musnah menjadi ketiadaan.

Proses pengeluaran racun berlangsung selama seperempat jam. Wajah Lin Zheng perlahan mulai kehilangan rona hitam legamnya. Urat-urat birunya mereda, digantikan oleh kepucatan normal orang sakit biasa. Napasnya yang tadinya nyaris tak terdengar kini berubah menjadi tarikan yang panjang dan stabil.

Master Gu Yan jatuh terduduk di lantai, kakinya kehilangan tenaga. Selama puluhan tahun mempraktikkan ilmu alkimia, ia merasa seperti katak dalam tempurung. Teknik pengobatan yang dipamerkan pemuda ini melampaui semua batasan yang ia ketahui. Manipulasi Qi, pemahaman elemen, dan pengendalian formasi, semuanya menyatu dalam sebuah harmoni mutlak yang menundukkan maut itu sendiri.

Meskipun sembilan puluh persen racun telah dikeluarkan, mata Xinghe justru semakin menyipit tajam. Pertarungan belum usai.

Di dalam lubang pusar Lin Zheng, masih tersisa satu gumpalan energi hitam yang tidak mau keluar. Gumpalan itu ukurannya jauh lebih besar dari parasit lainnya, bersembunyi erat di balik dinding Dantian. Ini adalah Induk Cacing Embun. Parasit utama yang menanamkan racun-racun kecil di awal. Induk ini memiliki sedikit kecerdasan, ia menolak terpancing oleh umpan pasta Yang, memilih berpegangan kuat pada akar vitalitas Lin Zheng.

Jika induk ini tidak dihancurkan, Lin Zheng hanya akan memperpanjang umurnya selama setahun sebelum racun itu bereproduksi dan membunuhnya dalam semalam.

Induk racun itu tiba-tiba bergerak ganas. Menyadari koloninya telah musnah, ia melepaskan sisa racun Yin terakhirnya dalam satu ledakan keputusasaan, melesat ke atas melalui jalur meridian pusat lurus menuju jantung Lin Zheng.

"Gawat! Sisa racun berbalik arah!" teriak Gu Yan panik, meskipun ia hanya melihat fluktuasi energinya.

"Trik murahan," dengus Xinghe dingin.

Menarik parasit menggunakan umpan sudah tidak mempan. Menggunakan jarum perak tidak akan cukup kuat untuk menembus cangkang energi induk parasit tersebut. Xinghe mengambil langkah drastis. Ia mencabut pedang besi berkarat miliknya dari sarungnya, menghasilkan bunyi gesekan logam yang tajam.

Melihat Xinghe menghunus pedang ke arah ayahnya, Lin Muxue nyaris menjerit melangkah maju. "Apa yang kau lakukan?!"

"Jangan bergerak atau ayahmu mati!" bentak Xinghe tanpa menoleh, aura dominasinya memaku kaki Muxue di lantai kayu.

Xinghe tidak memosisikan mata pedangnya untuk menebas. Ia meletakkan bagian datar bilah pedang besi itu tepat rata menempel di atas dada kiri Lin Zheng, persis di atas letak jantung.

Induk cacing es itu melesat cepat, hanya berjarak dua inci dari otot jantung.

Xinghe menutup matanya. *Sembilan Meridian Petir* di dalam tubuhnya meraung. Ia menarik seratus persen dari Niat Pedang Pembelah Langit miliknya, mengumpulkannya di telapak tangannya, lalu mengalirkannya ke dalam bilah pedang karatan tersebut.

Ini adalah taruhan gila. Ia menembakkan serangan niat pedang pembunuh langsung ke arah organ paling vital manusia fana.

"Hancur," bisik Xinghe.

Pedang besi itu bergetar hebat memancarkan dengungan yang memekakkan telinga. Sebuah gelombang kejut yang tidak terlihat melesat menembus bilah pedang, menembus dada Lin Zheng tanpa merusak satu pun sel daging atau tulang, dan menghantam telak induk cacing energi hitam tersebut secara akurat di tingkat spiritual.

*CRAAAK!*

Suara pecahnya kaca terdengar menggema dari dalam tubuh Lin Zheng. Induk Sembilan Cacing Embun Pematikan hancur berkeping-keping di bawah tekanan Niat Pedang absolut, lenyap tak berbekas dibakar oleh sisa energi guntur yang menyertainya.

Seketika itu juga, Lin Zheng membelalakkan matanya lebar-lebar. Tubuh bagian atasnya tersentak bangun, dan ia memuntahkan gumpalan darah kotor yang sangat besar ke atas lantai kayu. Darah itu tidak lagi berwarna hitam es, melainkan merah tua pekat—darah kotor sisa penyumbatan.

Napas sang Ketua Paviliun tersengal rakus, menyedot udara segar ke dalam paru-parunya seolah baru muncul dari dasar lautan. Rona merah kehidupan menyapu wajahnya dengan cepat. Hawa mematikan di tubuhnya lenyap tanpa sisa.

Xinghe perlahan menarik pedangnya, mengibaskannya ke samping, lalu menyarungkannya kembali dengan bunyi klik yang menenangkan. Ia melambaikan tangannya, dan seluruh jarum perak yang tertancap di tubuh Lin Zheng tercabut secara serentak, terbang kembali masuk ke dalam kotak cendana.

"Selesai," Xinghe mengumumkan datar. Keringat dingin terlihat membasahi pelipisnya. Operasi tingkat spiritual ini menguras staminanya lebih parah daripada bertarung melawan seratus bandit. Ia berjalan mundur beberapa langkah, menyandarkan punggungnya ke dinding ruangan.

"Ayah!" Lin Muxue mengabaikan segalanya dan berlari memeluk Lin Zheng. Air mata bahagia membasahi pipinya yang mulus.

Lin Zheng, yang masih kebingungan, membalas pelukan putrinya dengan tangan gemetar. Ia merasakan kehangatan tubuhnya sendiri untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Rasa sakit yang menyiksa tulang-tulangnya setiap malam bagaikan mimpi buruk yang telah menguap. Ia hidup.

Master Gu Yan, di sisi lain, melakukan tindakan yang membuat rahang Hua Qingying hampir jatuh. Pria tua arogan yang statusnya setinggi langit di Kota Awan Mengambang itu merangkak menghampiri Yan Xinghe, lalu bersujud dalam-dalam hingga dahinya membentur lantai kayu.

"Dewa Pengobatan! Tuan Muda adalah Dewa Pengobatan yang turun ke bumi!" ratap Gu Yan, suaranya bergetar penuh rasa hormat dan pemujaan mutlak. "Mata tua ini buta telah menghina gunung Tai. Tolong, Tuan Muda, terimalah orang tua bodoh ini sebagai murid Anda! Saya rela mencuci kaki Anda setiap hari asalkan Anda mau menurunkan satu persen saja dari ilmu formasi jarum tadi!"

Melihat pakar alkimia bersujud di kakinya, wajah Xinghe tetap datar tanpa riak emosi. Di masa lalu, jutaan tabib suci antre berlutut di luar gerbang istananya hanya untuk meminta petunjuk. Permintaan Gu Yan tidak lebih dari angin lalu.

"Bangunlah. Kau sudah terlalu tua, meridianmu kaku, dan fondasi pemahaman alammu penuh dengan kesesatan dogmatis. Mengajarimu sama saja dengan mencoba mengajari babi membaca aksara suci," tolak Xinghe dengan kekejaman verbal yang tanpa ampun. "Simpan sujudmu. Paviliun Awan Putih telah membayar jasaku melalui kesepakatan dengan Nona Lin."

Penolakan kasar itu tidak membuat Gu Yan marah, ia justru semakin menunduk merasa tidak pantas. Tabib jenius selalu memiliki kebiasaan aneh, dan di matanya, Xinghe adalah eksistensi tertinggi yang berhak mengutuk siapa pun.

Lin Zheng, yang kondisinya sudah mulai stabil, dibantu duduk oleh Muxue. Pria paruh baya itu memancarkan wibawa alamiah seorang pemimpin, sorot matanya tajam layaknya pedang yang baru diasah. Ia menatap pemuda berjubah lusuh di sudut ruangan, menganalisis aura dan sikapnya. Berkat penjelasan singkat Muxue, Lin Zheng memahami situasi yang terjadi.

Ketua Paviliun itu menyatukan tangannya dan memberikan salam hormat yang dalam dari tempat tidurnya.

"Kebaikan sebesar gunung tidak bisa ditebus dengan kata-kata, Tuan Muda Yan. Anda telah menyelamatkan nyawa saya dan masa depan Paviliun Awan Putih," ucap Lin Zheng tulus, suaranya berat dan berwibawa. "Muxue memberitahuku tentang syarat yang Anda ajukan. Akses menuju perbendaharaan inti paviliun. Ini adalah permintaan yang belum pernah saya kabulkan pada orang luar mana pun sepanjang sejarah faksi ini."

Lin Zheng terdiam sejenak, menciptakan ketegangan singkat di udara.

"Nyawa saya jauh lebih berharga dari sekumpulan benda mati," Lin Zheng tersenyum lebar, memecah ketegangan. "Mulai malam ini, Tuan Muda Yan adalah Penatua Kehormatan Tertinggi Paviliun Awan Putih. Status Anda setara dengan saya. Perbendaharaan inti terbuka sepenuhnya untuk Anda. Ambil apa pun yang Anda butuhkan tanpa perlu melapor."

Keputusan mutlak itu mengukuhkan posisi Xinghe di Kota Awan Mengambang. Dalam waktu kurang dari sehari sejak kedatangannya, ia telah mendaki struktur sosial fana hingga mencapai puncaknya.

"Keputusan yang sangat logis, Ketua Lin," Xinghe mengangguk menerima jabatan tersebut. Ia tidak butuh status sosial, gelar itu akan menyingkirkan banyak lalat pengganggu di masa depan. "Nona Lin, antar aku ke perbendaharaan itu sekarang. Aku memiliki urusan mendesak dengan meridianku yang harus diselesaikan malam ini."

Muxue menyeka sisa air matanya dan mengangguk patuh. Ia memberikan instruksi pada Hua Qingying dan Gu Yan untuk menjaga ayahnya, lalu berjalan memandu Xinghe keluar dari ruangan penyembuhan.

Mereka berdua berjalan menyusuri lorong pagoda dalam keheningan. Lampu-lampu kristal menerangi bayangan mereka yang beriringan. Muxue beberapa kali mencuri pandang ke arah profil wajah Xinghe dari samping. Wajah pemuda itu tidak bisa dibilang tampan rupawan layaknya pangeran kerajaan, garis rahangnya yang tegas, kulit pucatnya, dan sepasang mata gelap tak berdasar itu memancarkan karisma dominasi yang membuat jantung Muxue berdetak lebih cepat.

Ia adalah jenius berdarah dingin, monster di medan pertarungan, tabib yang mengalahkan maut, dan pemuda yang tampak selalu membawa beban langit di pundaknya. Siapa sebenarnya Yan Xinghe?

Muxue menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu besi baja raksasa di lantai dasar pagoda tanah bawah. Pintu itu diukir dengan formasi pertahanan padat yang memancarkan aura merah menyala. Muxue menggigit jarinya, meneteskan darah pada ukiran formasi, lalu memasukkan kunci giok khusus miliknya.

Suara roda gigi berat berputar lambat. Pintu baja berketebalan setengah meter itu terbuka, mengembuskan aroma herbal berumur ratusan tahun bercampur wangi logam mulia.

"Ini adalah Perbendaharaan Inti Paviliun Awan Putih," Muxue melangkah mundur, memberikan jalan. "Semua kekayaan yang dikumpulkan nenek moyangku selama tiga ratus tahun tersimpan di sini. Silakan, Tuan Yan."

Xinghe melangkah melewati ambang pintu. Ruangan bawah tanah itu membentang seluas lapangan sepak bola fana. Rak-rak yang terbuat dari kayu spiritual berjajar rapi tak terhitung jumlahnya. Di satu sisi, tumpukan batangan emas dan koin permata disusun setinggi bukit. Di sisi lain, deretan senjata mulai dari pedang, tombak, hingga zirah menyala memancarkan berbagai macam aura elemen. Di bagian tengah, ratusan kotak giok penyimpanan herbal memancarkan aroma yang memabukkan pikiran.

Bagi seniman bela diri fana, tempat ini adalah surga duniawi. Mereka akan menjadi gila karena keserakahan.

Xinghe berjalan melewati tumpukan emas raksasa itu bahkan tanpa meliriknya sedikit pun. Matanya yang memancarkan pendar ungu memindai gelombang energi di dalam ruangan, mencari bahan-bahan spesifik yang ia butuhkan untuk merajut kembali tiga meridian petirnya yang hancur.

Berjalan melewati deretan senjata tajam berkilau, langkah Xinghe berhenti di depan lemari kayu yang menyimpan bahan baku alam.

"Tiga batang *Akar Petir Ungu* berusia seratus lima puluh tahun. Dua bongkah *Batu Tetesan Bintang* dari pegunungan utara. Sebongkah *Inti Besi Dingin* yang belum diproses," gumam Xinghe sambil mengambil barang-barang berharga tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong penyimpanan sutra birunya. Ketiga bahan ini lebih dari cukup untuk menyempurnakan fondasi *Seni Penempaan Tulang* putaran ketiganya.

Muxue mengikuti dari belakang, diam-diam terkejut melihat pilihan pemuda itu. Xinghe mengabaikan senjata pusaka tingkat menengah dan pil-pil spiritual siap pakai, memilih bahan mentah yang sangat sulit diolah.

"Apakah hanya itu yang Anda butuhkan, Tuan Yan?" tanya Muxue lembut. "Ada beberapa set zirah pertahanan tingkat tinggi di ujung ruangan yang mungkin cocok untuk Anda kenakan di Turnamen Aliansi Pedagang bulan depan."

"Zirah hanya memperlambat pergerakanku," tolak Xinghe mentah-mentah. Ia berbalik, bersiap meninggalkan ruangan.

Saat kakinya melangkah memutar, sebuah getaran aneh tiba-tiba merayapi jiwanya. Bukan peringatan bahaya, melainkan resonansi spiritual yang sangat samar dan purba. Getaran ini familiar. Getaran yang berasal dari kehidupan masa lalunya. Sesuatu yang berasal jauh dari atas langit Benua Tanah Spiritual. Sesuatu dari Tiga Ribu Dunia.

Napas Xinghe terhenti sejenak. Ia memfokuskan Niat Pedangnya, melacak sumber getaran tersebut. Arahnya berasal dari sudut ruangan yang paling gelap, sebuah rak usang yang dipenuhi debu tebal tempat paviliun membuang barang-barang rongsokan yang gagal diidentifikasi.

Xinghe berjalan mendekati rak tersebut, menyingkirkan jaring laba-laba raksasa. Pandangannya terpaku pada sebuah benda panjang yang terbungkus kain kanvas kotor.

Ia menyibak kain itu, dan jantungnya berdetak satu kali lebih cepat dari biasanya.

Benda itu adalah sebongkah logam hitam keabuan berkarat, berukuran sepanjang lengan pria dewasa. Bentuknya tidak beraturan, menyerupai patahan dari sebuah senjata raksasa. Tidak ada bilah tajam, tidak ada fluktuasi energi spiritual, dan beratnya sangat tidak masuk akal. Permukaannya kasar, tidak ada ahli pandai besi fana yang akan meliriknya dua kali.

Di mata Xinghe, benda rongsokan ini jauh lebih berharga dari gabungan seluruh emas dan permata di dalam ruangan ini.

Saat ia memegang logam patahan itu, memori dari ribuan tahun lalu meledak di benaknya. Aroma darah dari para dewa, kilatan badai di Puncak Nirwana, dan suara dentuman pedang yang menghancurkan galaksi.

Ini bukan sembarang logam. Ini adalah bongkahan *Meteorit Bintang Kegelapan*, material tingkat Dewa Ilahi yang sangat langka. Jauh lebih mengejutkan lagi, ukiran pola di sudut patahan logam ini menegaskan sebuah fakta mengerikan. Ini adalah sisa patahan dari *Pedang Pemutus Surga*, senjata pusaka milik saudara seperguruannya yang mengkhianatinya—Feng Jiantian.

"Bagaimana patahan senjata dewa pembunuh itu bisa jatuh ke benua fana yang kotor ini?" batin Xinghe, matanya berkilat penuh dengan spekulasi gelap. Saat pedang Jiantian menembus dadanya dan meledak menghancurkan jiwanya, mungkin sebagian dari pedang itu ikut hancur dan tersedot ke dalam pusaran ruang waktu bersama sisa jiwanya, lalu jatuh di benua ini bertahun-tahun yang lalu.

Muxue berjalan menghampiri, melihat Xinghe menatap lekat pada bongkahan besi buruk rupa itu.

"Ah, benda itu," Muxue menjelaskan dengan nada meremehkan. "Kakek buyutku membelinya dari seorang penjelajah puluhan tahun lalu dengan harga sangat mahal. Penjelajah itu bilang logam itu jatuh dari langit dan tidak bisa dilebur oleh api api terpanas sekalipun. Setelah ratusan ahli gagal memprosesnya untuk dijadikan senjata, benda itu akhirnya berujung sebagai pemberat rak barang rongsokan."

Senyum tipis dan menyeramkan perlahan terukir di bibir Xinghe. Tentu saja api fana tidak bisa meleburnya. Diperlukan Niat Pedang tingkat Kaisar Ilahi dan lautan energi guntur kosmik untuk melunakkan debu dari logam ini.

"Aku akan mengambil 'pemberat rak' ini," ucap Xinghe, memegang erat bongkahan logam hitam tersebut.

Bilah pedang karatan yang ia bawa saat ini terlalu rapuh untuk menampung kekuatan masa depannya. Sekarang, takdir telah mengantarkan material terkuat di semesta ke telapak tangannya. Meskipun kondisinya hancur dan ia harus menempanya perlahan seiring pertumbuhan meridiannya, memiliki bongkahan ini sama dengan memegang kunci gerbang dimensi.

Muxue mengangguk, meskipun tidak memahami daya tarik besi rongsokan tersebut.

Malam itu, di dalam paviliun fana yang dipenuhi intrik dagang kecil, langkah pertama menuju balas dendam kosmik mulai dirajut. Di tangan pemuda berjubah kulit serigala tersebut, hancurnya kesombongan para dewa hanyalah masalah waktu. Turnamen Aliansi Pedagang hanyalah batu loncatan kecil menuju awan yang sesungguhnya. Tiga Ribu Dunia belum menyadari bahwa badai telah bangkit dari dasar jurang terdalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!