NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 1

Anya Wiratama. Seorang gadis muda yang baru saja pergi merantau sendiri ke Jakarta. Anya terpaksa tidak meneruskan pendidikannya karena harus membantu ekonomi keluarganya di kampung. Dan hari ini, Anya berniat mendatangi sebuah rumah yang akan menerimanya sebagai asisten rumah tangga.

Ketika berada di depan rumah yang tidak pernah Anya bayangkan sebelumnya, Anya merasa kagum. Atas keindahan dan kemegahan rumah dari keluarga Adiwijaya. Pagar hitam yang menjulang tinggi ke atas kini berada di hadapannya, Anya terlihat seperti orang bingung yang berdiri di depannya dengan membawa sebuah tas besar.

"Waah ... Besar banget! Apakah rumah-rumah orang di Jakarta memang sebesar ini?" gumam Anya pelan merasa kagum, ketika pandangannya seperti melihat mencari-cari sesuatu.

Tidak lama dari itu, muncul seseorang berpakaian hitam rapih menghampiri Anya dari balik gerbang gerbang besar itu. Namanya Hartono, bekerja sebagai satpam di keluarga ini dan akrab di panggil pak Tono.

"Permisi dek! ... Adek sedang mencari siapa?" tanya Tono, bersikap ramah kepada setiap orang atau tamu yang ingin berkunjung kerumah besar keluarga Adiwijaya.

"Hem ... Ini pak, apakah benar ini rumah keluarga Adiwijaya?" tanya balik Anya, sambil memberikan kertas kecil di tangannya yang sedari tadi ia pegang.

Di dalam isi kertas itu, tertulis "Jl. Melati no A-62+" alamat yang benar dari rumah besar keluarga Adiwijaya. Ketika pak Tono telah selesai membaca, ia kembali menatap Anya. Menyisirnya dari ujung bawah sampai ujung atas rambutnya. Seorang gadis yang sedang membawa tas besar di depannya itu, berhasil membuat Tono bingung.

"Benar, ini alamatnya. Tapi ... Kamu ingin bertemu siapa? Apakah sebelumnya sudah membuat janji?" tanya balik Tono, dengan sangat halus agar tidak menyakiti hati Anya di depannya.

"Soal itu ..." jawab Anya yang terputus. Ketika suara perempuan yang telah lama Tono patuhi memanggilnya. Dan itu adalah hukum mutlak bagi hidup Tono yang tidak bisa ia bantah.

"Tono ... !!!" Wanita yang berpakaian rapih berwarna merah sedang berdiri di depan pintu besarnya. Memanggil Tono dari kejauhan.

Mendengar majikannya memanggil Tono, Tono langsung berbalik badan dan dengan sigap menghampiri Nyonya Laras. Meninggalkan Anya yang masih berdiri begitu saja di depan gerbang besar berwarna hitam itu.

"Iyaa, Nyonya ... Nyonya memanggil saya?" tanya Tono, dengan perasaan takutnya dan terus menunduk tidak berani menatap majikannya sendiri. Setelah ia harus berlari cukup jauh dari gerbang utama menuju pintu karena jarak yang sangat lumayan.

Setelah Tono tiba pun, wanita yang memiliki gelar Nyonya di rumah besar ini merasa kesal. Karena jalan Tono yang menurutnya masih lambat. Entah apa alasannya, Nyonya Laras benar-benar tidak perduli.

"Iyalah! Emang siapa lagi yang bisa saya panggil?!" bentak Laras, ketika merasa kerja Tono yang semakin hari semakin lambat.

"Maaf Nyonya ..." jawab Tono, masih dengan perasaan takutnya dan menunduk di hadapan sang Nyonya besar rumah ini.

"Dari mana, sih? ... Itu siapa di depan gerbang? Kalau pengemis, kenapa nggak kamu usir? Malah asik ngobrol!" kata Laras, dengan pertanyaan yang bertubi-tubi dan cepat. Membuat Tono merasa semakin takut di hadapannya sekarang.

"Anu ..."

"Kenapa?!" bentak Laras lagi, karena merasa sangat tidak sabar dan sudah geram melihat Tono yang sering berbelit-belit dalam bicara. Tidak jarang bentakan seperti itu membuat Tono ikut merasa kaget sebelum menjawab.

"Yang cepet kalau bicara!" sambung Laras, tanpa sama sekali memikirkan perasaan orang yang telah lama bekerja untuk keluar Adiwijaya ini seperti Tono.

"Maaf Nyonya ... Sepertinya, ia ingin bertemu dengan orang dirumah, karena ia membawa alamat ini ..." ucap Tono, sambil ingin memberikan kertas kecil yang tadi ia pegang dari Anya yang masih berdiri di depan gerbang.

Tidak ingin memegang kertas itu, Laras hanya melihatnya dengan perasaan kurang suka karena takut mengandung virus di kertas itu.

"Astaga ... Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?!"

"Itu mungkin orang yang ingin melamar bekerja menjadi pembantu dirumah ini. Suruh dia masuk! Saya akan menunggu di dalam. Jangan lama!" ucap Laras, sambil terus menikan nada suaranya seperti sedang mengomeli Tono di depannya.

Dengan cepat, Tono langsung sigap kembali menghampiri Anya yang masih menunggu. Setelah Nyonya Laras kembali masuk kedalam rumah, Tono baru bisa menghela nafas yang panjang karena merasa lega.

"Huh ... Bisa jantungan aku, jika terus berhadapan dengan orang seperti dia." gumam Tono pelan, sambil terus melanjutkan langkahnya ingin membuka pintu gerbang untuk Anya.

Dari kejauhan Anya melihat pak Tono yang kembali menghampirinya, memberikan keramahan lewat senyum khasnya. Karena akan bekerja keluar Adiwijaya, setidaknya sekarang Tono harus mengetahui siapa nama gadis muda ini.

"Hem ... Karena kamu akan mulai bekerja di dalam rumah ini, kalau boleh tahu ... Siapa nama kamu?" tanya Tono, usai membukakan pintu gerbang untuk Anya.

"Nama saya ... Anya Wiratama. Bapak bisa memanggil saya Anya saja." ujar Anya, sambil tersenyum menunjukan wajah polos dan lugunya.

"Saya Hartono, panggil pak Tono saja," sambungnya, seraya mengantar Anya berjalan menuju depan pintu rumah.

Sebelum sampai di depan pintu, Anya kembali merasa kagum. Karena baru pertama kali melihat taman yang seluas seperti ini. Juga bangunan yang memiliki interior mewah dan indah.

"Apa ... Rumah orang di Jakarta, memang sebesar seperti ini semua pak?" tanya Anya, mengisi sela-sela kekosongan perjalanan mereka.

"Tidak semuanya ... Hanya orang-orang pintar saja," balas Tono, yang Anya tidak mengerti apa maksudnya.

"Oh, iyaa ... Yang tadi itu, namanya Nyonya Laras. Jika bisa, kamu jangan membuat masalah dengannya ..."

"Dia sangat tidak berperasaan!" bisik Tono, memperingati Anya sebagai anak baru yang akan bekerja di rumah ini. Anya hanya mengangguk, berusaha memahami hal yang belum ia tahu dan pahami sepenuhnya.

Beberapa langkah kemudian, mereka akhirnya tiba di depan pintu masuk rumah kediaman keluarga Adiwijaya. Dan Tono yang bekerja sebagai satpam dan sopir tidak bisa masuk lebih dalam ketika tidak di suruh.

"Saya hanya bisa mengantar sampai sini ... Kamu bisa langsung masuk kedalam. Semoga kamu betah, yaa Anya." kata Tono, kembali tersenyum menyemangati anak yang sedang berjuang di tengah kerasnya kota.

"Iyaa pak ... Terimakasih, yaa ..." ucap Anya dengan sungkan, merasa terbantu atas masukan dan saran yang Tono berikan. Walau ia adalah orang asing bagi Anya, tapi Tono cukup baik menurutnya.

"Sama-sama," balas Tono, lalu akhirnya pergi meninggalkan Anya sendiri di depan pintu besar berwarna putih. Dengan patung singa kecil yang sebagai hiasan di tepi pegangannya.

Karena pintu itu sudah terbuka satu, Anya jadi tidak perlu membuka semuanya. Ia perlahan melangkahkan kakinya pertama kali masuk kedalam rumah mewah dan besar seperti ini.

"Permisi~" ucap Anya, sambil terus perlahan melangkah maju ke depan. Pandangannya, terus melihat-lihat hal yang membuatnya kagum. Bahkan tanpa Anya sadari, mulutnya kini terbuka sedikit ketika melihat lampu besar yang bergantung di atas kepalanya.

"Besar sekali~ ... Apakah itu tidak akan jatuh karena berat?" gumam Anya pelan dalam hati, seraya memikirkan hal-hal yang terus membuatnya penasaran.

Hingga beberapa saat kemudian, suara cukup keras dari wanita yang sedang duduk menunggu Anya, menghancurkan lamunannya.

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

"Bi~"

"Bi Inah ..." teriak Laras dengan keras, yang selalu ingin apapun menjadi lebih cepat berjalan dari seharusnya.

Anya terdiam. Menghentikan ucapannya dan tidak lagi berani menatap mata Nyonya Laras. Anya kini hanya terus menunduk dan menggenggam tas besar yang ia bawa sedari tadi dengan lebih erat dari sebelumnya.

Selama Anya hidup, Anya baru pertama kali merasakan ketegangan seperti ini. Perasaan seperti tertekan namun tidak bisa berbuat apa-apa.

Bersambung ...

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!