NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

"Nata, Lo oke?" tanya Nathan dengan lembut.

Natalie berdiri dari duduknya. Memasang helm yang ia sampirkan di motor.

"Nata, Lo mau ke mana?" tanya Fabian.

"Gue mau pulang," jawabnya singkat.

"Kita ikut!"

Nathan berlari ke dalam rumah Dewi untuk berpamitan, sekaligus meminta izin pada beliau untuk mengantar Natalie sampai rumahnya. Keduanya buru-buru menyusul Natalie yang sudah pergi lebih dulu meninggalkan mereka.

Di sisi lain, Natalie mengendarai motornya secara ugal-ugalan. Ia menaikkan gasnya hingga kecepatan maksimal. Tak memperdulikan orang-orang yang mencaci makinya. Yang ia inginkan sekarang adalah pulang, menghirup aroma bunga di halaman rumahnya sendiri.

Sesampainya di depan rumah, Natalie langsung melepas helmnya. Ia berlari ke hamparan bunga yang cantik. Duduk lesehan beralaskan tanah dengan napas memburu. Ia menghirup dalam-dalam aroma bunga hingga memenuhi rongga dadanya.

Setelah di rasa cukup tenang, ia beralih mencari tempat yang beralaskan rumput. Natalie tidur di tengah-tengah hamparan bunga, sambil menatap langit malam.

Kesunyian menemaninya, membuat kantuk datang menghampirinya. Secara perlahan, mata indah itu tertutup pelan. Mengais mimpi yang lebih indah dari realita.

Sedangkan di sisi lain, Nathan dan Fabian baru sampai di depan rumah Natalie. Namun mereka tak menemukan keberadaan sang empu. Hanya motornya saja yang terparkir di depan.

Keduanya berpencar mencari keberadaan Natalie—namun tak ada yang menemukannya.

"Kita udah cari ke sekeliling rumah nggak ketemu juga. Terus sekarang gimana?" tanya Nathan dengan nada khawatir.

"Kita tunggu di sini, kalau bisa tidur di sini," ucap Fabian.

"Gue setuju. Biar gue yang ambil karpet di dalem. Seenggaknya baju kita nggak kotor," usul Nathan yang di setujui Fabian.

Keduanya memilih untuk tidur di teras rumah Natalie. Meskipun dingin menyerang, tak membuat keduanya goyah begitu saja. Mereka tetap menunggu—sampai melihat Natalie dengan mata kepala mereka sendiri.

......................

Waktu sudah menunjukkan dini hari, Natalie terbangun dari tidurnya. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku dan sedikit pegal akibat tidur di rerumputan. Saat berdiri, ia menyipitkan matanya kala melihat siluet seseorang yang sedang tiduran di teras rumah.

"Siapa yang tiduran di situ. Nggak dingin, kah?" batinnya.

Saat sudah semakin dekat, barulah ia sadar bahwa yang sedang tiduran di teras rumah adalah kedua sahabatnya. Natalie memilih untuk masuk ke dalam rumah, untuk mandi.

Selesai mandi, ia kembali keluar dengan pakaian rapi serta sebuah selimut di tangannya. Ia menyelimuti keduanya dengan selimut agar tidak kedinginan. Apalagi udara pagi ini cukup dingin dari biasanya, bisa-bisa mereka berdua masuk angin.

"Cimol, cimel, kalian diam di sini ya. Temanin mereka berdua, jangan di ganggu," bisiknya pada kedua hewan peliharaannya itu.

Dan anehnya, kucing dan anjing itu nurut dengan perintah natalie. Si kucing tidur di atas perut Nathan, dan si anjing tidur di samping Fabian. Natalie terkikik geli saat melihat keduanya nurut. Karena biasanya cimol jarang sekali nurut dengan perintahnya. Dan sekarang?

Natalie berjinjit pelan menuju motornya. Ia menyingkirkan motor kedua sahabatnya agar motornya bisa lewat. Menuntun motornya sampai depan gerbang. Saat di rasa sudah agak jauh dari rumahnya, barulah ia menyalakan motornya.

Tujuannya sekarang adalah rumah Tante Dewi. Ia akan menjemput paksa kembarannya itu. Natalie nggak mau lagi menyusahkan Tante kesayangannya itu, maka dari itu ia akan menjemputnya secara paksa.

Tapi sayang, saat sudah sampai di depan gerbang rumah tantenya ia lupa membawa handphonenya. Seingatnya tadi malam handphonenya ia taruh di samping bunga mawar putih, dan ia lupa membawanya.

Jadilah sekarang ia berdiri di depan gerbang—berharap satpam melihatnya. Setelah nunggu beberapa menit, akhirnya satpam rumah datang dengan secangkir kopi.

"Mang Ujang, tolong bukain gerbangnya dong," pinta Natalie.

"Non Nata ngapain ada di situ. Di luar dingin atuh non, entar masuk angin," ujar mang Ujang.

"Saya baru dateng mang, semalam saya tidur di rumah."

Setelah di bukakan gerbangnya oleh mang Ujang, Natalie berhasil masuk ke dalam rumah tantenya. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya masuk ke dalam.

"Nata, kok kamu sudah ke sini pagi-pagi gini?" tanya Dewi heran saat melihat keponakannya yang sudah ada di depannya dini hari.

"Iya, Tan, aku mau jemput Nisa. Aku mau ijin bawa dia pulang ke rumah Tan, nggak enak kalau numpang di sini terus," jawab Natalie.

"Kenapa harus pindah? Kami nggak nyaman tinggal di sini? Atau kenapa?"

"Aku nggak mau ngerepotin Tante terus. Apalagi kalau inget sikap Nisa sama Tante kemarin."

"Yaudah kalau memang itu keputusan kamu," pasrah Dewi.

"Aku mau bangunin Nisa dulu ya, Tan."

Natalie berjalan menuju kamar Nisa. Ia berhenti sejenak di depan kamar Nisa, di mana dulu itu adalah kamarnya yang di ambil paksa oleh kembarannya itu.

Saat masuk ke dalam, pergerakannya terdiam sesaat. Melihat suasana kamar dengan pandangan syok. "Astaga, kamar gue …!"

Bagaimana tidak syok coba? Guling dan bantal berserakan di lantai. Buku-buku di meja belajar tak karuan. Sampah-sampah berserakan di dalam kamar—udah kayak kapal pecah.

Natalie seketika pusing di buatnya. Dengan kesabaran yang masih tertahan, ia beranjak membangunkan Nisa dengan sedikit brutal.

"Ugh, apa sih Tan. Masih malem juga," ucapnya.

"Nisa, bangun. Udah jam tujuh, Lo mau terlambat!"

"Hah, apa!" teriak Nisa.

Terbangun dari tidurnya dengan paksa. Bahkan rambutnya berdiri semua akibat bangun secara paksa. Natalie menahan tawanya melihat ekspresi yang err … sedikit lucu menurutnya.

"Ishh, Natalie. Kamu ngapain sih, bangunin aku pagi-pagi gini!" protesnya.

"Udah deh, Lo nggak usah kebanyakan protes. Buru mandi, gue mau beresin kamar lo yang kayak kapal pecah ini," sahut Natalie.

Dengan dumelan dan decakan sebal Nisa jalan ke arah kamar mandi. Sedangkan Natalie mulai membersihkan kamar yang sangat mengganggu matanya.

Setelah selesai membereskan kamar, ia langsung mengemasi semua barang-barang Nisa. Ia bersihkan tanpa kecuali—hanya menyisakan seragam yang akan di pakai nanti.

"Kamu ngapain masukin barang-barang ku ke koper?" tanya Nisa yang ingin mengambil seragamnya.

"Kita pulang ke rumah," jawab Natalie singkat.

Nisa hanya beroh ria sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Natalie mengernyitkan keningnya bingung. Tumben nggak protes, pikirannya.

"Siap!" pekiknya.

Natalie langsung membawa barang-barang Nisa ke bawah. Ia juga sudah bilang ke tantenya untuk meminjam mobilnya—untuk membawa semua barang ini. Nggak mungkin kan kalau barang sebanyak ini di angkut sepeda motor? Yang ada motornya nggak muat dong. Mau duduk di mana dirinya kalau naik motor.

"Tan, kita pamit dulu ya. Kasian mereka pasti panik nyariin aku di rumah," pamitnya.

"Mereka?" tanya Dewi heran, sebelum. Akhirnya mengangguk mengerti. "Mereka tidur di rumah kamu?"

"Iya. Tidur di teras rumah."

"Yaampun, kasian sekali. Kenapa nggak di suruh masuk Nata? Bisa-bisa tubuh mereka membeku kelamaan di luar nungguin kamu," canda Dewi.

"Boro-boro mereka. Gue aja juga ketiduran di taman," batinnya.

"Ya, aku juga nggak tau Tan kalau mereka ada di teras. Yaudah aku biarin aja di sana. Tenang aja Tan, mereka nggak akan kedinginan kok. Ada cimol sama Cimel yang nemenin," jawabnya yang berbeda dengan isi hatinya.

"Yaudah, hati-hati. Kasian mereka nanti kelamaan di sini kamunya," ucapnya Dewi yang terkesan seperti mengusir.

Setelah keduanya berpamitan—lebih tepatnya Natalie yang berpamitan, mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil. Sebenarnya Natalie ogah satu mobil bareng Nisa, tapi ia terpaksa. Dan motornya ia tinggalkan di rumah Dewi. Nanti setelah mengantar Nisa sekolah baru ia ambil motornya.

"Pak, kita mampir ke bandara dulu, ya," ucap Nisa.

"Ngapain?" tanya Natalie heran.

"Nenek mau ke sini, semalem nelpon aku. Nenek mau nemenin aku selama di sini," ucapnya sedikit sombong.

"Apalagi ini Tuhan …," batinnya lelah.

.

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!