Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Bertahan dan Pergi
Ada saat di mana hati dan pikiran tidak lagi berjalan searah.
Hati ingin bertahan,
tapi pikiran sudah lelah untuk percaya.
Aku berada di titik itu sekarang.
Bukan lagi tentang dia berubah atau tidak.
Bukan juga tentang siapa yang salah.
Tapi tentang diriku sendiri
sampai kapan aku mau bertahan
di tempat yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Hari-hari berjalan lebih sunyi dari sebelumnya.
Bukan karena dia benar-benar pergi,
tapi karena aku mulai menjauh dengan cara yang tidak terlihat.
Kami masih saling tahu kabar.
Masih sesekali bertukar pesan.
Tapi semuanya terasa… jauh.
Tidak ada lagi rasa yang sama.
Tidak ada lagi keinginan untuk memperbaiki.
Yang tersisa hanya kebiasaan.
Dan aku mulai sadar
kebiasaan bisa terasa seperti cinta,
padahal sebenarnya hanya sulit untuk dilepaskan.
Suatu malam, aku duduk sendiri di kamar.
Lampu redup.
Suasana tenang.
Tapi pikiranku tidak.
Semua kenangan tentangnya datang satu per satu.
Tentang awal kami yang terasa ringan.
Tentang caranya dulu menjemputku.
Tentang momen kecil yang membuatku merasa dipilih.
Lalu perlahan,
kenangan itu berubah.
Menjadi hal-hal yang selama ini aku coba abaikan.
Tentang saat aku menunggu sendirian.
Tentang saat dia memilih orang lain.
Tentang malam di mana aku menangis
dan dia tidak datang.
Aku menutup mata.
Berusaha menghentikan semuanya.
Tapi satu pertanyaan tetap muncul…
“Kalau aku tetap di sini, apa yang akan berubah?”
Aku tahu jawabannya.
Tidak ada.
Semuanya akan berjalan seperti sebelumnya.
Dia akan datang lagi,
membuatku percaya,
lalu perlahan menghilang.
Dan aku…
akan kembali di titik yang sama.
Lelah.
Tapi tidak benar-benar pergi.
Ponselku bergetar.
Namanya muncul lagi.
“Kamu lagi apa?”
Pertanyaan yang sama.
Selalu sama.
Aku menatap layar cukup lama.
Dulu, aku akan langsung menjawab.
Tapi sekarang,
aku justru bertanya pada diriku sendiri
“Aku mau jadi apa di hidupnya?”
Karena selama ini,
aku seperti ada…
tapi tidak pernah benar-benar dianggap ada.
Aku tidak pernah benar-benar menjadi pilihan.
Hanya tempat kembali
saat dia butuh.
Dan tiba-tiba, semuanya terasa jelas.
Bukan karena aku tidak cukup baik.
Bukan karena aku kurang sabar.
Tapi karena aku bertahan di tempat
yang memang tidak pernah dibuat untukku.
Air mataku jatuh tanpa suara.
Bukan karena aku sedih semata.
Tapi karena akhirnya…
aku jujur pada diriku sendiri.
Aku lelah.
Lelah berharap.
Lelah mengerti tanpa dimengerti.
Lelah bertahan di hubungan
yang bahkan tidak pernah benar-benar dimulai dengan jelas.
Aku membuka pesan itu lagi.
Menatap namanya,
yang selama ini selalu punya arti.
Jari-jariku sempat ragu.
Ada bagian kecil di dalam diriku yang masih ingin menjawab.
Masih ingin tetap di sana.
Tapi kali ini…
aku tidak ingin lagi kalah oleh perasaan yang sama.
Aku menarik napas panjang.
Lalu perlahan…
aku meletakkan ponselku.
Tidak membalas.
Bukan karena aku membencinya.
Tapi karena aku mulai mencintai diriku sendiri
sedikit lebih dari sebelumnya.
Dan mungkin,
keputusan terbesar dalam hidupku bukan tentang memilih dia…
tapi tentang berani memilih
untuk tidak lagi bertahan.
Meskipun itu berarti
aku harus kehilangan sesuatu
yang selama ini aku jaga dengan sepenuh hati.
Ternyata, melepaskan tidak selalu tentang pergi dengan tegas.
Tidak selalu tentang mengucapkan kata “selesai” dengan jelas.
Kadang, melepaskan hanya tentang…
berhenti berharap.