NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 - Murid Pindahan

Suara hujan turun perlahan di luar gedung sekolah. Langit pagi terlihat gelap, membuat suasana kelas XI-A terasa lebih dingin dari biasanya.

Sebagian murid masih sibuk mengobrol, beberapa memainkan ponsel mereka diam-diam sebelum guru datang. Namun di bangku paling belakang dekat jendela, seorang laki-laki duduk sendirian sambil membaca buku.

Tidak ada yang berani mengganggunya.

Kemeja putihnya rapi, dasinya sedikit longgar, dan tatapannya terlihat dingin meski wajahnya tenang.

Leon Knight de Arther.

Namanya terkenal di sekolah itu, bukan karena ia ramah atau aktif bersosialisasi, melainkan karena semua orang tahu satu hal: Jangan cari masalah dengan Leon.

Tidak ada yang benar-benar tahu alasan pastinya, tetapi rumor tentang keluarganya sudah cukup membuat semua orang menjaga jarak.

Leon membalik halaman bukunya tanpa peduli dengan keributan kelas.

Sampai suara pintu terbuka membuat suasana mendadak hening.

Guru wali kelas masUk bersama seorang perempuan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Selamat pagi."

"Pagi, Bu," jawab murid-murid hampir bersamaan.

"Hari ini kita kedatangan murid pindahan."

Beberapa murid langsung terlihat antusias. Yang lain mulai berbisik penasaran.

Perempuan itu melangkah maju pelan.

Rambutnya panjang berwarna cokelat gelap, matanya teduh, dan wajahnya terlihat tenang meski puluhan pasang mata sedang menatapnya.

"Silakan perkenalkan diri." ucap Bu Guru.

Perempuan itu tersenyum kecil. "Namaku Rachael Velencia. Salam kenal." ucapnya.

Suasana kelas langsung ramai. Semua banyak bertanya-tanya, "Cantik banget..."

"Anak pindahan dari mana?"

Leon yang sejak tadi tidak peduli akhirnya mengangkat pandangannya sekilas. Matanya berhenti tepat pada sosok gadis itu. Entah kenapa, untuk beberapa detik Leon tidak memalingkan wajahnya.

Rachael menyadari tatapan itu. Mata mereka bertemu singkat.

Tidak ada rasa takut di mata gadis itu. Padahal biasanya orang-orang langsung menghindari kontak mata dengannya.

Leon menutup bukunya pelan lalu kembali melihat ke arah jendela, seolah tidak tertarik. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suasana kelas terasa sedikit berbeda.

"Rachael, kamu duduk di kursi kosong belakang sana ya." Wali kelas menunjuk bangku kosong tepat di sebelah Leon.

Beberapa murid langsung saling menatap.

"Serius...?"

"Kasihan banget dia."

"Dia duduk sebelah Leon?"

Rachael berjalan ke arah belakang kelas tanpa banyak bicara. Saat sampai di samping meja Leon, ia berhenti sebentar. "Hei, boleh aku duduk di sini?"

Leon tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, laki-laki itu menoleh sedikit. "... Duduk." Hanya itu. Nada suaranya datar dan dingin.

Namun Rachael justru tersenyum kecil tidak terlalu peduli. "Terimakasih. Aku Rachael."

Leon mengernyit samar. 'Aneh, Biasanya orang akan gugup saat bicara dengannya. Tetapi gadis ini terlihat biasa saja.' ucap dalam hatinya.

"...Leon." jawab Leon singkat.

Rachael mengangguk pelan "Senang berkenalan dengan mu."

Leon tidak menjawabnya lagi, diam memalingkan wajahnya kembali menatap jendela.

Pelajaran dimulai seperti biasa, tetapi entah kenapa Leon beberapa kali sadar kalau dirinya melirik ke arah bangku sebelah.

Rachael fokus menulis tanpa banyak bicara dan ia tenang.

Berbeda dari kebanyakan murid lain yang sibuk mencari perhatian.

Di luar kelas, hujan masih turun perlahan.

Dan tanpa Leon sadari untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mulai menarik perhatiannya.

Rachael fokus menulis catatan yang guru jelaskan, sesekali memperhatikan guru sebelum menulis.

Leon melirik Rachael, memperhatikan apa yang di tulisnya.

......................

Bel istirahat berbunyi nyaring memenuhi koridor sekolah.

Suasana kelas langsung berubah ramai. Beberapa murid keluar menuju kantin, sementara yang lain masih berkumpul membicarakan murid pindahan baru.

Rachael menutup bukunya pelan sambil melihat ke sekeliling kelas.

Baru hari pertama, tetapi ia sudah bisa merasakan ada sesuatu yang aneh dengan sekolah ini.

Atau lebih tepatnya—dengan laki-laki di sebelahnya.

Leon masih duduk di tempatnya, menatap layar ponsel dengan ekspresi datar. Sejak pelajaran pertama dimulai, hampir tidak ada yang berbicara padanya.

Dan anehnya, semua orang seperti sengaja menjaga jarak.

Rachael akhirnya memberanikan diri bicara.

"Kamu nggak ke kantin?"

Leon mengalihkan pandangan sebentar. "Malas." Jawabannya singkat.

"Kamu memang jarang bicara ya?"

Leon memasukkan ponselnya ke saku. "Tergantung orangnya."

Rachael mengangguk pelan setuju dengan hal itu.

Meski sikap Leon dingin, entah kenapa ia tidak merasa takut. Justru laki-laki itu terlihat seperti seseorang yang terlalu terbiasa sendirian.

Tiba-tiba dua siswi mendekati meja mereka.

"Rachael, ikut ke kantin nggak?" tanya salah satunya ramah.

"Boleh." Rachael berdiri pelan sebelum salah satu siswi berbisik cepat padanya. "Eh... mending jangan terlalu dekat sama Leon."

Rachael terlihat bingung. "Kenapa?"

Kedua siswi itu saling menatap ragu. "Kamu belum tahu ya?"

"Ssst, jangan keras-keras." Mereka langsung menarik Rachael menjauh dari meja belakang. Mereka berbisik-bisik pelan.

Leon mendengar semuanya, tetapi ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Sudah biasa, orang-orang memang selalu seperti itu.

Di kantin, suasana jauh lebih ramai.

Rachael duduk bersama dua siswi tadi sambil mendengarkan mereka bercerita tentang sekolah.

Namanya ternyata Selina dan Viona.

"Leon itu sebenarnya pintar banget," kata Selina pelan. "Nilainya selalu tinggi."

"Terus kenapa semua orang takut sama dia?" tanya Rachael.

Viona langsung mengecilkan suara. "Katanya keluarganya berbahaya."

"Berbahaya?" tanya Rachael.

Selina mengangguk cepat. "Aku pernah dengar ayahnya punya hubungan sama kelompok besar di kota ini."

"Kelompok besar?" tanya Rachael.

Viona menelan ludah sebelum berbisik, "Mafia."

Rachael sedikit terdiam. "Mafia?"

"Iya. Makanya nggak ada yang berani cari masalah sama dia." Selina melirik ke sekitar sebelum melanjutkan. "Dulu ada anak yang sengaja nyebarin rumor buruk tentang Leon."

"Terus?"

"Besoknya anak itu pindah sekolah." Suasana mendadak hening sesaat.

Namun, Rachael justru tidak langsung percaya. Entah kenapa ia merasa rumor tentang Leon terlalu dibesar-besarkan.

"Lagipula," kata Viona pelan, "Leon nggak pernah benar-benar ganggu orang lain kalau tidak di usik duluan."

Rachael terdiam sambil mengingat ekspresi Leon tadi pagi, dingin, sepi sepertinya bukan seperti orang jahat.

Sementara itu, di roof top sekolah.

Leon berdiri sendirian sambil menatap hujan yang belum berhenti. Angin dingin meniup rambut hitamnya pelan.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat. Seorang laki-laki berseragam sekolah masuk ke roof top sambil tersenyum tipis.

"Kamu kelihatan lebih sering melamun hari ini."

Leon tidak menoleh. "Ada perlu apa, Axel?"

Axel terkekeh kecil. Sebagai sepupu Leon, ia sudah terlalu mengenal sifat dingin laki-laki itu. "Dengar-dengar ada murid pindahan duduk sebelah mu."

Leon diam. Axel langsung menyeringai. "Wah, serius? Kamu benar-benar tertarik ya?"

Tatapan Leon berubah dingin. "Jangan mulai."

"Hahaha, santai saja." Axel berjalan mendekat lalu ikut bersandar di pagar roof top. "Tapi aku penasaran... gimana reaksi dia setelah tahu siapa kamu sebenarnya?"

Leon menatap hujan di kejauhan. Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya menjawab pelan.

"...Dia sepertinya berbeda."

Axel mengangkat alis. Itu pertama kalinya Leon mengatakan hal seperti itu tentang seseorang.

Dan untuk pertama kalinya juga Axel melihat sedikit perubahan di mata dingin milik putra kedua keluarga de Arther itu.

"Berbeda bagaimana? Apa karena kecantikannya?" Axel langsung menyeringai.

"Sulit di jelaskan. Yang jelas begitu." Leon tetap menatap hujan.

Jam pelajaran terakhir berlangsung lebih lama dari biasanya.

Sebagian murid sudah kehilangan fokus, termasuk guru yang beberapa kali menghela napas melihat kelas mulai ribut sendiri.

Namun di bangku belakang dekat jendela, suasana tetap tenang.

Rachael sedang menulis catatan ketika tanpa sengaja penghapusnya jatuh ke bawah meja Leon.

"Ah- maaf tidak sengaja" Rachael hendak mengambilnya, tapi Leon sudah duluan membungkuk mengambilkan tanpa banyak bicara.

"Terimakasih..."

Leon hanya menganggukkan kepalanya.

Rachael kembali menulis catatan, sesekali ia memperhatikan Leon.

"Kau tidak banyak bicara?"

Leon melirik Rachael sebelum bicara, "Tidak ada hal yang perlu di bicarakan."

"Ada" sahut Rachael, "Kau teman sebangku ku. Jadi aku bisa banyak bertanya padamu tentang sekolah ini."

Leon mengernyitkan dahinya, heran karena Rachael tidak takut padanya. 'Gadis ini, Dia benar-benar tidak tahu siapa aku?' ucap dalam hatinya.

"Apa yang mau kau tanyakan?"

Rachael menatap Leon. "Aku ingin tahu jadwal pelajaran. Lalu letak perpustakaan dan ruang ekskul lainnya."

"Banyak mau." jawab Leon singkat.

Rachael sedikit kesal dengan sikap dingin Leon, tapi ia tetap tenang. "Kau sendiri yang bertanya apa yang mau ku tanyakan."

Leon menjawabnya dengan singkat lagi, "Tanyakan saja pada yang lain."

Rachael memilih diam dan kembali memperhatikan guru. Dalam hatinya, 'Menyebalkan sekali cowok ini.'

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Suasana kelas langsung ramai. Murid-murid mulai membereskan barang mereka dan keluar satu per satu.

Rachael memasukkan bukunya ke tas sambil menghela napas kecil. "Hujannya masih deras..." Menatap hujan di luar yang masih deras.

Leon berdiri setelah merapikan barangnya.

"Kau akan pulang? Bawa payung atau tidak?" tanya Rachael.

"Kenapa?" tanya Leon heran ada yang berani bertanya seperti ini.

"Kau bisa gunakan payung ku." Rachael memberikan payung lipat berwarna hitam.

Leon diam ini pertama kalinya di pinjamkan sesuatu oleh orang lain. Tapi dia menerimanya lalu pergi tanpa berbicara lagi.

Beberapa murid yang masih berada di koridor langsung menyingkir memberi jalan saat Leon lewat. Tatapan mereka terlihat takut sekaligus hormat.

Rachael memperhatikan semua itu dalam diam.

Sampai akhirnya Selina tiba-tiba muncul di sampingnya.

"Kamu memberikan payung mu ke Leon?"

Rachael mengangguk.

Selina langsung syok, "Gila... Leon gak pernah menerima pemberian siapapun."

Rachael menggunakan jas hujannya lalu mengganti sepatunya dengan sandal. 'Kenapa begitu?' Dalam hanya bertanya-tanya.

Di depan sekolah, sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu.

Beberapa pria berpakaian hitam berdiri di sekitar mobil dengan ekspresi serius.

Leon berjalan mendekat tanpa peduli pada tatapan murid-murid lain.

Seorang pria dewasa memakai setelan jas hitam membukakan pintu mobil untuknya.

"Selamat sore, Tuan Leon."

Leon masuk ke dalam mobil tanpa menjawab.

Namun sebelum pintu tertutup sepenuhnya, matanya sempat melihat Rachael keluar gerbang sekolah memakai jas hujan. Tatapan Leon berubah sedikit lembut.

Rachael berjalan keluar sekolah menuju halte bus.

"Tuan muda." Suara berat seorang pria membuat Leon kembali fokus. Seorang pria paruh baya duduk di kursi depan mobil. Wajahnya dingin dan penuh luka lama. "Tuan besar ingin bertemu Anda malam ini."

Ekspresi Leon langsung berubah datar lagi. "Ada masalah?"

"Sepertinya ada yang ingin Tuan Besar bicarakan dengan anda Tuan Muda."

Suasana di dalam mobil mendadak terasa lebih dingin. Leon menatap jendela mobil pelan. Dunia gelap itu memanggilnya.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!