NovelToon NovelToon
Duda Menikahi Gadis Polos

Duda Menikahi Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Duda
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.

***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketauan Ciuman oleh Riska

Tak terasa, sudah lebih dari dua minggu Cya menikah dengan Rajendra. Namun hingga saat ini, orang tua Aurel masih menetap di rumah itu.

Di depan cermin, Cya memperhatikan bayangan dirinya.

Rambutnya terurai rapi dengan jepit pita di sisi kanan. Blus putih bermotif kupu-kupu yang ia kenakan dipadukan dengan rok pink di atas lutut, membuatnya terlihat manis dan sedikit lebih dewasa.

Hari ini adalah hari pertamanya kuliah.

“Cantik,” gumamnya pelan sambil tersenyum pada bayangannya sendiri.

Di waktu yang sama, Rajendra berada di dapur, menyiapkan sarapan untuk semua orang di rumah.

“Jendra,” panggil Bu Riska sambil menghampirinya. “Mama lihat setiap hari kamu yang masak.”

“Iya, Ma,” jawab Rajendra singkat sambil menaruh nasi goreng di atas meja.

“Kenapa kamu enggak suruh istri kamu saja? Kamu kan kerja. Pasti capek kalau tiap pagi masih harus masak.”

“Aku sudah terbiasa, Ma. Enggak masalah.”

Bu Riska menghela napas, jelas tidak setuju. “Bagaimanapun, masak itu seharusnya tugas istri, bukan suami.”

Rajendra terdiam sejenak. “Cya… kayaknya belum bisa masak, Ma.”

Ia memang belum pernah melihat Cya memasak sekalipun.

Bu Riska mendengus pelan. “Hm… benar-benar istri yang enggak ada gunanya.”

Ucapan itu terdengar santai, tapi cukup untuk menusuk.

Rajendra hanya diam. “Hari ini dia sudah mulai kuliah, Ma,” lanjutnya, mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Buat apa dia kuliah?” sahut Bu Riska cepat. “Memangnya dia mau bantu kamu kerja?”

“Aku enggak akan izinkan dia kerja.”

“Lalu untuk apa kuliah? Buang-buang uang saja.”

Rajendra menghela napas pelan. “Dia kuliah untuk menuntut ilmu, Ma. Bukan untuk cari kerja.”

Bu Riska tersenyum tipis, lalu berkata, “Saran Mama, kamu enggak usah biayai kuliahnya. Kalau dia memang mau kuliah, biar dia tanggung sendiri. Dulu Aurel juga begitu.”

Seperti biasa—Aurel kembali dibawa-bawa.

Rajendra langsung mengoreksi, “Aurel enggak membiayai kuliahnya sendiri, Ma. Aku yang biayai.”

Bu Riska langsung terdiam.

Ia tidak bisa membantah.

Memang Rajendra yang selama ini menanggung semua biaya kuliah Aurel sampai lulus.

“Ya sudah… Mama makan dulu saja,” ucapnya akhirnya. “Aku panggil Cya dulu buat sarapan.”

"iya, nak."

Ia pun berbalik, melangkah keluar dari dapur—tanpa sadar, pikirannya kembali dipenuhi oleh satu nama yang sama.

Cya.

***

Rajendra tidak jadi naik ke lantai dua untuk memanggil Cya karena gadis itu sudah lebih dulu menuruni tangga. Ia pun hanya berdiri menunggu di ujung tangga.

“Pagi,” sapa Rajendra, berusaha bersikap lebih lembut setelah beberapa waktu terakhir hubungan mereka sering memanas.

Cya menatapnya datar. “Ada apa, Om? Mau nyuruh saya apa lagi?”

Nada dingin itu membuat Rajendra terdiam sesaat, tapi ia tetap menahan diri.

“Ayo makan.” Rajendra hendak meraih tangan Cya, namun dengan cepat gadis itu menghindar.

“Enggak usah, Om. Saya sarapan di kampus saja.”

“Makanan di rumah lebih sehat daripada di kampus,” balas Rajendra, masih mencoba tenang.

“Saya enggak pilih-pilih makanan, kok.”

Rajendra menghela napas pelan, lalu mengeluarkan sebuah kartu hitam dari saku celananya. “Kalau begitu, ambil ini.”

Cya melirik kartu itu sekilas.

“PIN-nya tanggal pernikahan kita,” lanjut Rajendra.

Namun Cya justru menggeleng. “Enggak usah, Om. Mulai sekarang Om enggak perlu kasih saya uang jajan lagi.”

Rajendra mengernyit. “Kenapa?”

“Saya bisa minta ke orang tua saya saja.”

Seketika rahang Rajendra mengeras. “Kamu mau taruh di mana harga diri saya, kalau kamu malah minta uang ke orang tua kamu? Saya ini suami kamu, Cya.” Nada suaranya mulai meninggi, meski ia sebenarnya berusaha menahan emosi. Beberapa hari terakhir ia memang mencoba lebih sabar, tapi sikap Cya yang dingin justru membuatnya semakin gelisah.

Cya tetap santai. “Santai saja, Om. Saya bilang ke orang tua saya kalau saya memang enggak mau nerima uang dari Om.”

Rajendra menghembuskan napas berat, lalu tiba-tiba berkata, “Kamu mau kita pindah dari rumah ini?”

Cya terdiam sejenak, keningnya berkerut.

Rajendra melanjutkan, “Kalau kamu enggak nyaman di sini… kita bisa cari rumah lain.”

Namun Cya justru salah menangkap maksudnya. “Enggak usah, Om,” jawabnya pelan tapi menusuk. “Kalau Om mau saya pergi dari rumah ini, saya bisa ngekos atau pindah ke apartemen.”

Rajendra langsung menatapnya tajam. “Saya bisa beli rumah baru untuk kamu.”

Cya mengangkat alis, tatapannya berubah. “Jadi… Om memang benar-benar mau saya pergi dari rumah ini?”

Suasana mendadak hening. Kata-kata yang dimaksudkan sebagai solusi, justru terdengar seperti penolakan.

“Tidak, Cya,” sanggah Rajendra cepat. “Maksudku… kita yang pindah. Aku dan kamu. Aku enggak mau tinggal terpisah sama kamu.”

“Terus rumah ini gimana?”

“Enggak apa-apa ditempati Papa dan Mama mertua aku sampai mereka puas.”

Cya tersenyum.

Tapi senyum itu… terasa dipaksakan. “Sesayang itu ya kamu sama istri pertama kamu… sampai dia sudah enggak ada pun, kamu masih sangat peduli sama orang tuanya.”

“Iya,” jawab Rajendra tanpa ragu. “Aku memang sangat sayang sama Aurel.”

Jawaban itu—menusuk lebih dalam dari yang ia sadari.

Tatapan Cya langsung berubah, meski hanya sesaat.

“…”

Ada jeda.

Singkat, tapi berat.

“Tapi ini bu—”

“Saya enggak mau pindah ke mana pun sama Om,” potong Cya cepat. “Kecuali kalau saya pindah sendiri… hari ini pun saya bisa pergi.”

Rajendra langsung menatapnya tajam. “Kalau begitu, kamu enggak boleh pindah sampai kapan pun.”

Nada suaranya tegas. Tidak memberi ruang untuk dibantah.

Karena jujur saja—beberapa jam saja Cya tidak ada di rumah, ia sudah gelisah.

Apalagi kalau benar-benar berpisah tempat.

“Oke,” jawab Cya singkat.

Ia tidak ingin memperpanjang.

Cya melirik jam di pergelangan tangannya. “Saya berangkat dulu, Om. Nanti saya telat.”

“Tunggu.” Rajendra menahan pergelangan tangannya.

Cya menoleh. “Kenapa?”

Untuk sesaat, Rajendra hanya menatapnya.

Wajah itu… yang jarang ia lihat tanpa ekspresi dingin.

“Kamu mau ke kampus pakai baju seperti itu?” tanyanya akhirnya, menatap dari atas sampai bawah.

Cya ikut melihat dirinya sendiri.

“Iya. Kenapa?”

“Ganti.” Nada itu tidak memberi pilihan. “Lebih baik pakai celana panjang atau rok panjang. Lebih sopan.”

Cya mengernyit.

“Ini juga sopan, kok.”

“Kamu mau ganti sendiri… atau aku yang gantikan?” ujar Rajendra, satu alisnya terangkat.

Cya langsung menatapnya kesal. “Saya bukan bayi, Om.”

“Makanya ganti sendiri.”

“Enggak mau.”

Rajendra menarik napas, mencoba menahan emosi. “Kali ini dengarkan aku, Cya,” ucapnya lebih pelan. “Kalau hal lain kamu bantah, aku masih bisa maklumi. Tapi untuk yang satu ini… jangan.”

“Enggak mau. Saya nyaman pakai ini.”

Hening.

Lalu—Rajendra melangkah maju.

Cya refleks ingin mundur, tapi tubuhnya tertahan.

Tangan Rajendra sudah lebih dulu melingkar di pinggangnya, menariknya lebih dekat.

Jarak mereka—hilang.

“Om—”

Cya hendak protes.

Namun kata-katanya terhenti.

Rajendra membungkamnya dengan cara yang membuat Cya terdiam seketika.

"Hmpph-"

Satu tangannya menahan tubuh Cya agar tidak menjauh, sementara yang lain menahan di tengkuknya.

Bukan kasar—tapi tegas.

Seolah tidak ingin memberinya celah untuk lari.

Detik terasa melambat. Bukan hanya karena kedekatan itu tapi karena perasaan yang bercampur di dalamnya.

Kesal.

Marah.

Dan… sesuatu yang lebih dalam, yang bahkan mereka sendiri belum berani akui.

“Ya ampun, apa yang kalian lakukan?!” Pekikan Bu Riska memecah suasana.

Wanita itu berdiri di ambang dapur, menatap keduanya dengan mata membelalak, jelas tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.

Ia benar-benar tidak menyangka.

Selama ini Rajendra selalu mengatakan bahwa ia masih sangat mencintai Aurel. Ditambah lagi, hubungan Rajendra dan Cya terlihat dingin setiap kali ia berada di rumah itu.

Tapi sekarang—pemandangan di depan matanya berkata lain.

Dengan terpaksa, Rajendra melepaskan Cya. Pelukannya di pinggang gadis itu terurai, begitu juga jarak di antara mereka.

Rahangnya mengeras.

"Sial." Ia mendengus pelan, kesal karena momen itu harus terputus.

Bu Riska melangkah mendekat. “Kalian ini apa-apaan?” sentaknya tajam. “Enggak pantas melakukan hal seperti itu di tempat terbuka!”

Meski sebenarnya bukan tempat yang benar-benar terbuka, nada suaranya jelas dipenuhi kekecewaan.

Tatapannya lalu beralih pada Cya yang tanpa sadar mengusap bibirnya.

“Kamu jangan coba-coba merayu Rajendra. Dia itu cuma cinta sama Aurel!”

Cya hendak membuka suara, tapi—

“Cya enggak merayu aku, Ma,” potong Rajendra tegas. “Aku sendiri yang tergoda sama dia.”

Hening.

Ucapan itu menggantung di udara.

Bahkan Rajendra sendiri seolah baru menyadari apa yang baru saja ia katakan.

Bu Riska membelalakkan mata.

Begitu juga Cya.

Ia benar-benar tidak menyangka.

“Jendra…” suara Bu Riska bergetar. “Kamu sendiri yang bilang kamu masih mencintai Aurel. Tapi sekarang kamu malah tergoda sama perempuan ini?”

“Cya bukan perempuan lain. Dia istri aku.”

“Iya, istri yang tidak pernah kamu inginkan!” balas Bu Riska cepat. “Harusnya kamu menjaga cinta kamu untuk Aurel, bukan sibuk mengurusi dia!”

Rajendra mengembuskan napas panjang, mulai lelah. “Ma, ini masih pagi. Tolong jangan mulai keributan.”

Cya yang berdiri di sana hanya terdiam.

Ada sesuatu yang berbeda. Karena Rajendra tidak membela ibu mertuanya.

Ia tidak tau, di belakangnya pun sebenarnya Rajendra sering melakukan hal yang sama.

Bu Riska langsung memasang wajah sedih. “Kamu memarahi Mama? Tega sekali kamu, Nak…”

“Bukan begitu, Ma,” suara Rajendra melunak. “Aku cuma enggak mau ada pertengkaran di rumah ini.”

“Buktinya kamu membela istri kedua kamu!” Air mata mulai jatuh di pipi Bu Riska “Mama masih sakit hati kehilangan Aurel… dan sekarang kamu malah menyakiti Mama dengan mencium perempuan lain di depan Mama!”

Cya memutar bola matanya pelan.

Muak.

Tanpa suara, ia memanfaatkan situasi itu. Perlahan, ia melangkah mundur… lalu pergi begitu saja.

Tidak ada yang menahannya.

Fokus Rajendra sepenuhnya teralihkan.

“Aku minta maaf kalau sikap aku menyakiti Mama.”

Pada akhirnya—Rajendra tetap luluh. Rasa hormatnya pada Bu Riska terlalu besar untuk membuatnya terus bersikeras.

Namun, bukannya mereda, tangis Bu Riska justru semakin menjadi.

“Lain kali… jangan lakukan itu lagi di depan Mama.”

“Jadi kalau di belakang Mama… kamu masih mau melakukannya?” selidik Bu Riska tajam.

Rajendra menatap lurus. “Aku laki-laki, Ma. Dan Cya itu halal buat aku.”

Jawaban itu cukup.

Namun justru membuat pikiran Bu Riska berputar lebih liar.

Jangan-jangan… Rajendra mulai jatuh cinta pada Cya.

Tidak boleh. Itu tidak boleh terjadi.

“Mama harap kamu tetap ingat Aurel,” ucapnya lirih. “Aurel sangat mencintai kamu. Dia pasti sedih kalau tau kamu menyentuh perempuan lain.”

Rajendra terdiam.

Kalimat itu—menusuk.

Benar… Aurel pasti sedih.

Seharusnya aku menjaga perasaan itu… bukan malah membuka hati.

Tanpa sadar, ia mulai goyah.

“Cya mana?” Rajendra menoleh, baru menyadari gadis itu sudah tidak ada di sana.

Bu Riska mengangkat bahu. “Mungkin sudah pergi.”

“Ya ampun, anak itu…” Rajendra berdecak kesal sambil menepuk jidatnya.

Bayangan pakaian Cya tadi kembali terlintas di kepalanya.

Pergi ke kampus dengan pakaian seperti itu… Ia mendesah pelan, mulai merasa pusing.

Hatinya—dan pikirannya—tidak pernah sejalan.

Ia berusaha menolak, tapi selalu ada dorongan untuk peduli pada gadis itu.

“Itu contoh istri yang tidak baik,” sambung Bu Riska lagi. “Seharusnya dia izin dulu sebelum pergi.”

Rajendra mengabaikan.

“Mama sama Papa sarapan saja. Aku langsung berangkat.”

Tanpa menunggu jawaban, Rajendra berbalik, berjalan cepat menuju lantai dua untuk bersiap.

Pikirannya kacau.

Bu Riska mendengus kasar, tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya.

“Sampai kapan pun… Mama tidak akan terima kamu bahagia dengan istri barumu, Jendra!”

Tatapannya mengeras, penuh kebencian yang ia tahan sejak lama. “Kalian berdua… harus berpisah.”

Kalimat itu keluar pelan—namun tegas, seolah sudah menjadi keputusan mutlak.

Di dalam hatinya, tekad itu semakin menguat.

Apa pun caranya… ia tidak akan membiarkan Rajendra hidup bahagia bersama Cya.

1
aku
plot twist cya udh nyiapin bukti cctv dr awal ortu aurel pindah buat jd pisah sm jendra. mampusss 🙏🙏
Nifatul Masruro Hikari Masaru
cya kok gak mau sih diajak pindah
Aidil Kenzie Zie
ngapain pulang sih Cya biar Jendra pusing nyari kamu
Aidil Kenzie Zie
Cya minggat aja kerumah ortumu dari pada nggak dianggap
Nifatul Masruro Hikari Masaru
di rekam aja cya biar ada bukti
Adinda
pergi cya buat apa juga bertahan kalau gak dihargai
Fegajon
tenang... masih ada bu kiran, mertuanya cya. tunggu aja 😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh. pulang aja kerumah sendiri cya daripada sakit hati
Aidil Kenzie Zie
jangan dikasih dulu Cya sampai bisa terima pernikahan ini tanpa bayangan masa lalunya lagi
Aidil Kenzie Zie
betul nggak sih kalo Bela itu Aurel
Fegajon: bener gak yaaa😛
total 1 replies
anakkeren
jujur,lebih suka kalo authornya buat cerita bertema pesantren.tapi cerita ini bagus juga kok
Aidil Kenzie Zie
kok kamar yang ditempati sama Aurel tor bukannya mereka belum pernah tinggal disana
Fegajon: iya. itu rencana saat masih proses pengerjaan rumah Rajendra.
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si mama egois
apa Bela itu sebenarnya Aurel
Aidil Kenzie Zie
ngapa nggak delivery aja Cya
Aidil Kenzie Zie
Rajendra udah tua masak nggak bisa hargai perasaan Cya dikit-dikit Aurel
Buddy Aprilianto
kedepannya bisa lebih menarik alur cerita nya 🙏
Fegajon: iya kak terimakasih masukannya🙂
total 1 replies
just a grandma
aku ska karakter cya
cutegirl
semangat berkarya
Anak manis
lucu ceritanya
Anak manis
kasian rajendra🤣
Buddy Aprilianto: masih iman nya kuat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!