NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman balik

Brak! Brak!

Suara benda yang dibanting terdengar nyaring, menggema di dalam ruangan.

“Sial, kenapa Xavero masih hidup!”

Liora mengapalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengeras. Ia benar-benar yakin sebelumnya—Xavero sudah dilenyapkan oleh Arga.

“Harusnya dia sudah mati!” kesalnya, napasnya memburu.

Dengan gerakan cepat, Liora meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Jemarinya menekan layar dengan kasar, lalu segera menghubungi Arga.

Beberapa detik kemudian, panggilan itu terhubung.

“Halo,” ucap Arga dari seberang sana, suaranya terdengar tenang.

“Kenapa kamu bohong, hah!” bentak Liora tanpa basa-basi. Nada suaranya tinggi, penuh amarah yang tak tertahan.

Di seberang sana, Arga terdiam sesaat.

Suasana mendadak menegang.

“Bohong? Maksud kamu apa, Liora?” tanyanya, nadanya masih terdengar terkendali, meski ada sedikit tekanan di dalamnya.

Liora mendengus kasar.

“Kamu bilang Xavero sudah kamu lenyapkan,” ucapnya tajam, hampir menekan setiap kata. “Kenapa dia masih hidup, Arga!”

Arga kembali terdiam.

Seolah sedang menahan sesuatu.

“Dia ditolong seseorang,” ucap Arga akhirnya, singkat namun jelas.

Kalimat itu justru membuat emosi Liora semakin memuncak.

“Dasar tidak becus, mengurus satu orang saja,” ketus Liora kesal, nada meremehkannya terdengar begitu jelas.

Arga mengepalkan tangannya. "Jaga ucapan kamu, Liora."ucapnya dengan nada dingin. “Kamu lupa sedang bicara dengan siapa?”

Liora mendengus kesal.

“Aku nggak peduli! Yang aku tahu, kamu gagal.”

“Aku tidak pernah gagal,” balas Arga pelan, nadanya rendah dan berbahaya. “Hanya saja, ada faktor yang tidak terduga.”

Liora menyipitkan mata.

“Faktor apa?”

“Seseorang menolongnya,” jawab Arga singkat. “Dan orang itu, bukan orang biasa.”

Liora terdiam sejenak.

Pikirannya langsung berputar.

“Siapa?” tanyanya tajam.

“Masih dalam pencarian,” ucap Arga. “Tapi satu hal yang pasti—Xavero sekarang tidak sendiri.”

Liora menggertakkan giginya.

Kesal.

Jengkel.

Sekaligus tidak terima.

“Kalau begitu, habisi dia lagi,” ucapnya tanpa ragu. “Kali ini jangan gagal. Kalau tidak, aku tidak akan menyuruh papaku menolong perusahaanmu.”

Ucapan itu meluncur dingin, tanpa sedikit pun keraguan.

Di seberang sana, tangan Arga langsung terkepal erat. Rahangnya mengeras, menahan emosi yang mulai naik. Namun perlahan, sudut bibirnya justru terangkat, membentuk senyum miring yang penuh arti.

“Silakan,” balas Arga santai, seolah tidak terpengaruh. “Kalau kamu tidak ingin membantuku. Tapi…” ia menjeda sejenak, memberi tekanan pada kata berikutnya, “siap-siap saja semua orang tahu seorang putri kedua Mahendra pernah menikah secara diam-diam.”

Deg!

Untuk sesaat, dunia Liora seperti berhenti.

Matanya melebar, napasnya tertahan.

‘Dari mana Arga tahu?’ batinnya panik, pikirannya langsung kacau.

“Kenapa diam, Liora?” ucap Arga dengan nada santai, bahkan terdengar seperti sedang menikmati situasi. “Benar, kan apa yang aku katakan?”

“Jangan asal ngomong kamu, Arga! Aku belum pernah menikah sama sekali,” bantah Liora cepat, berusaha menutupi kegugupannya. Namun nada suaranya sedikit bergetar.

“Ha ha ha…” Arga tertawa pelan, tapi penuh ejekan. “Kamu pikir aku bodoh, Liora? Aku sudah tahu semuanya.”

Ia menjeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih tajam,

“Termasuk alasan kamu mencelakai Xavero.”

Deg!

Untuk kedua kalinya, Liora terhenyak.

Tangannya semakin mencengkeram ponsel, hingga buku jarinya memutih.

Arga tersenyum puas di seberang sana, seolah bisa melihat reaksi Liora tanpa harus bertatap muka.

“Bagaimana jika media mengetahui, jika Liora Mahendra pernah menikah dengan seorang buruh pabrik?”

“Diam!” bentak Liora, suaranya meninggi. Wajahnya memucat, campuran antara marah dan panik.

“Jalankan perintahku,” lanjut Arga dingin, tanpa sedikit pun ragu. “Sebelum aku bicara di depan media.”

Tut!

Panggilan terputus begitu saja, menyisakan keheningan yang menekan.

“Arga sialan…” desis Liora, napasnya memburu.

Dengan emosi yang memuncak, ia melempar ponselnya ke atas tempat tidur.

Dadanya naik turun. Pikirannya masih dipenuhi satu pertanyaan yang sama.

“Kenapa dia tahu?” gumamnya pelan. Suaranya lebih rendah, sarat kegelisahan. “Ini tidak bisa dibiarkan.”

Tanpa membuang waktu, Liora berbalik.

Ia meninggalkan kamarnya dengan langkah cepat, raut wajahnya gusar dan tegang.

Sepanjang koridor mansion, langkahnya terdengar tegas, menuju satu tujuan—

Kamar papanya.

Tok! Tok!

“Papa, buka pintunya,” ucap Liora dengan nada tinggi, hampir seperti perintah.

Krek!

Pintu terbuka. Bima muncul dari baliknya dengan raut wajah yang sedikit terkejut, alisnya mengernyit melihat putrinya yang tampak gelisah.

“Ada apa, Liora?” tanyanya, suaranya tegas namun penuh tanda tanya.

“Pah, suntikan dana ke perusahaan Arga sekarang juga,” jawab Liora tanpa basa-basi, napasnya masih terdengar tidak stabil.

Bima langsung menggeleng tegas.

“Tidak! Perusahaan Arga di ambang kebangkrutan,” ujarnya tanpa ragu. “Kamu tinggalkan dia. Sebentar lagi Wijaya Group tinggal nama.”

Mata Liora langsung melebar.

“Perusahaan Arga bangkrut?” ucapnya tak percaya, suaranya sedikit melemah.

Bima mengangguk pelan.

“Iya, Liora. Kamu tinggalkan dia, kalau kamu mau posisi kamu tetap aman.”

Liora terdiam sejenak.

Pikirannya berputar cepat, namun perlahan ia menggeleng pelan.

“Tidak bisa, pah…”

“Kenapa?” tanya Bima, nadanya mulai meninggi. “Kamu mau nama kamu hancur, hah? Ingat, kalau kamu masih dekat dengan dia, nama Mahendra juga ikut terseret.”

Liora menunduk sebentar, lalu kembali menggeleng.

“Aku nggak bisa, pah.”

“Kenapa tidak bisa?” desak Bima, kini benar-benar tidak mengerti. “Cuma memutuskan saja, kan.”

Liora perlahan mengangkat wajahnya.

Tatapannya dalam, penuh tekanan yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Arga sudah tahu aku pernah menikah, pah.”

“Apa?!”

1
indri ana
wadduuhh..si bagas mau ganggu ketua Black Venom nichhh,kayaknya dia yg cari mati deehh😄😄😄
Hendra Yana
kehidupan sesungguhnya baru di mulai
Hendra Yana
sedihhh banget plus bahagia
Hendra Yana
lanjut
Adrianus Eleuwarin
mantaf thor hari ini banyak up nya 👍👍👍💪💪💪
Hendra Yana
lanjut
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!