Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Rekonsiliasi di Ujung Tanduk
3 Desember 1930. Pukul 21.00 waktu Batavia.
Lorong Gelap di Belakang Pasar Senen.
Hujan gerimis turun membasahi jalanan becek di belakang pasar. Bau amis ikan asin dan sampah busuk menyengat hidung, tapi Raden Mas Arya tidak peduli. Dia berdiri di bawah bayangan atap seng sebuah gudang beras, tangannya dimasukkan ke dalam saku jas hujan yang basah.
"Barangnya ada?" tanya Arya pelan.
Seorang pria bertubuh kurus dengan tato naga di lehernya mengangguk. Dia membuka bungkusan kain kumal di tangannya.
Di bawah remang lampu jalan yang berjarak sepuluh meter, kilatan logam hitam terlihat. Sebuah pistol semi-otomatis FN Browning M1910. Pistol buatan Belgia yang populer di kalangan perwira Eropa dan... penjahat kelas atas.
"Pelurunya enam butir. Masih bagus. Minyaknya baru," kata si penjual dengan suara serak. "Harganya 40 Gulden. Nggak kurang."
Itu harga yang sangat mahal. Setara gaji Arya tiga bulan sebagai juru tulis. Tapi nyawa tidak ada harganya. Arya menyerahkan amplop berisi uang tabungannya—uang yang seharusnya dia pakai untuk menyewa rumah yang lebih layak jika menikah nanti.
Arya mengambil pistol itu. Dingin. Berat. Terasa asing di tangannya yang terbiasa memegang pena.
"Cara pakainya?" tanya Arya kaku.
Si penjual terkekeh meremehkan. "Tarik kokang slide-nya ke belakang. Arahkan ke perut musuh. Tarik pelatuk. DOR. Jangan ragu. Kalau ragu, Tuan yang mati."
Arya mengangguk, menyembunyikan pistol itu di balik pinggang celananya. Dia berbalik pergi, melangkah cepat meninggalkan dunia hitam itu.
Tiga hari ini, dia berubah.
Sejak tahu nyawanya dihargai murah oleh Van Heutz, dan sejak dia merasa dikhianati oleh Alina, Arya menutup hatinya. Dia tidak menyentuh mesin tik. Dia tidak pulang ke kosan Gang Kenari kecuali untuk tidur. Dia menghabiskan waktunya belajar menembak di hutan pinggiran Meester Cornelis (Jatinegara) dan mempelajari rute pelarian.
Arya marah. Marah pada Van Heutz, marah pada takdir, dan yang paling menyakitkan: marah pada Alina.
Sampai di kamar kosnya, Arya meletakkan pistol itu di meja, tepat di sebelah mesin tik yang bisu. Dua benda logam. Satu untuk membunuh, satu untuk mencintai. Dan saat ini, dia merasa lebih butuh yang pertama.
Dia melirik kertas di roller mesin tik. Masih kertas yang sama dari tiga hari lalu. Penuh dengan tulisan Alina yang memohon, meminta maaf, memanggil namanya.
Arya menghela napas panjang. Rasa marahnya mulai surut, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa. Dia rindu. Sangat rindu. Tapi egonya menahan tangannya untuk mengetik.
TAK.
Tiba-tiba tuas bergerak. Alina mengetik lagi.
3 Desember 2024. Pukul 21.00 WIB.
Apartemen Alina.
Alina sudah menyerah pada harga dirinya. Dia tidak peduli lagi kalau Arya menganggapnya cengeng atau lemah.
Dia duduk di depan mesin tik dengan mata bengkak. Tiga hari tanpa kabar dari Arya terasa seperti tiga abad. Dia takut Arya nekat melakukan sesuatu yang bodoh sendirian.
Alina mengetik dengan jari gemetar, menuangkan seluruh isi hatinya tanpa filter.
> Arya... tolong baca ini. Jangan dibalas kalau kau tidak mau. Tapi bacalah.
> Kau bilang kau kecewa karena aku tidak mempercayai kekuatan mentalmu.
> Kau salah, Arya.
> Aku tidak meragukanmu. Aku meragukan diriku sendiri.
>
Alina berhenti sejenak, menyeka air matanya.
> Setiap kali aku melihatmu di foto museum, setiap kali aku membaca namamu di arsip... aku melihat hantu.
> Tapi sejak kita bicara, kau bukan hantu lagi. Kau nyata. Kau hangat. Kau lucu. Kau menyebalkan.
> Aku tahu tanggal 31 Desember itu ada. Aku tahu "Rawa Ancol" itu ada.
> Dan alasan aku menyembunyikannya bukan untuk memanipulasimu.
> Aku menyembunyikannya karena aku egois.
>
Di Batavia, Arya mendekatkan kursinya. Dia membaca kata "egois" itu dengan kening berkerut.
> Aku egois karena aku ingin menikmati sisa waktu bersamamu tanpa bayang-bayang kematian.
> Aku ingin kita tertawa membahas sajak, membahas hujan, membahas masa depan... seolah-olah kita punya waktu selamanya.
> Karena aku tahu, begitu kau tahu tanggal kematianmu, tawa itu akan hilang.
> Dan aku benar, kan? Tawa itu hilang sekarang.
>
Arya tertegun.
> Arya, aku mencintaimu. Sangat dalam sampai rasanya sakit.
> Dan ketakutan terbesarku bukan melihatmu mati.
> Ketakutan terbesarku adalah menjadi janda dari seorang suami yang bahkan belum pernah kunikahi.
> Menjadi wanita yang harus hidup sisa umurnya mengenang pria yang jasadnya pun tak pernah ditemukan.
> Jadi maafkan aku kalau aku pengecut. Aku cuma wanita biasa yang takut kehilangan dunianya.
>
Alina menundukkan kepalanya di atas meja, menangis tersedu-sedu. Dia sudah mengatakan semuanya.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Nyawa seolah dalam genggaman penjahat.
Damai sekejap, lepas beban berat
tapi belati dan peluru kembali mengintai.
Jika cinta butuh pengorbanan,semua telah berkorban.
Mengalah
Melepaskan
Merelakan dalam keikhlasan.
Bertahan walau hidup serasa di parit busuk.
Melindungi sekeping hati dari duka.
Menjaga dan mencoba memperpanjang kontrak hidup
mati-matian mencari jalan keluar
Pontang- panting dengan akses masa depan yang canggih
semoga kali ini bisa lolos lagi dari si mata satu
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.
Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.
kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda
rasa takut kehilangan itu wajar adanya
hari2 kosong ,tiba-tiba terisi dan ketika akan habis masa nya ,maka hati lah yang bicara
tak peduli logika diantara ada dan tiada tapi kau terasa nyata.
salah kah jika ada harapan untuk bisa bersama, walau itu mustahil
Semua memenuhi rongga dada ,hingga sesak mendera