NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Pertemuan di Persimpangan Jalan

Dua bulan telah berlalu sejak pesan terakhir dari Mia. Dua bulan yang diisi dengan rutinitas yang perlahan-lahan terasa normal kembali. Aisha bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk Baskara, mengantarnya ke sekolah, lalu pulang untuk mengurus rumah atau bekerja dari rumah. Ia memutuskan untuk memulai bisnis kecil-kecilan—katering rumahan dengan menu sehat untuk anak-anak. Bukan untuk mencari uang, tapi untuk mengisi waktu dan membuatnya tetap produktif.

Arka kini lebih sering datang ke rumah. Bukan setiap hari, tapi setidaknya dua atau tiga kali seminggu. Ia datang untuk Baskara, tapi seringkali berakhir dengan Aisha dan Arka berbincang lama setelah Baskara tidur. Mereka membahas banyak hal—tentang masa lalu, tentang kesalahan yang pernah mereka buat, tentang bagaimana mereka bisa menjadi orang tua yang lebih baik untuk Baskara.

Tidak ada janji untuk kembali bersama. Tidak ada harapan yang dibangun terlalu tinggi. Hanya dua orang dewasa yang belajar untuk saling memaafkan dan melanjutkan hidup.

---

Pagi itu, Aisha sedang menyiapkan pesanan katering di dapur ketika teleponnya berdering. Nomor tidak dikenal. Ia mengangkat dengan sedikit ragu.

“Halo?”

“Selamat pagi, Bu Aisha. Saya Mira, konselor sekolah Baskara. Apakah Ibu punya waktu untuk bicara sebentar?”

Jantung Aisha berdegup lebih kencang. “Ada apa dengan Baskara?”

“Tenang, Bu. Baskara baik-baik saja secara fisik. Tapi ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan dengan Ibu mengenai kondisi psikologis beliau.”

“Saya bisa datang ke sekolah sekarang.”

“Baik, Bu. Saya tunggu.”

Aisha buru-buru menyelesaikan pesanan kateringnya, menitipkannya pada tetangga untuk diantar, lalu berganti pakaian. Dalam waktu setengah jam, ia sudah berada di ruang konseling sekolah Baskara.

Mira, konselor dengan rambut sebahu dan senyum ramah itu, menyambutnya dengan hangat. “Terima kasih sudah datang, Bu Aisha. Silakan duduk.”

Aisha duduk di kursi di hadapan Mira. Ruangan itu hangat, dindingnya dihiasi poster-poster motivasi dan gambar-gambar karya siswa.

“Ada apa dengan Baskara?” tanya Aisha langsung ke inti.

Mira mengambil napas panjang. “Bu Aisha, Baskara adalah anak yang cerdas dan baik hati. Dia juga sangat tangguh. Tapi dari hasil observasi kami beberapa minggu terakhir, Baskara menunjukkan beberapa tanda kecemasan yang cukup mengkhawatirkan.”

“Kecemasan seperti apa?”

“Dia mudah terkejut dengan suara keras. Dia sulit berkonsentrasi di kelas, meski nilai-nilainya masih bagus. Dan yang paling kami perhatikan, dia cenderung menarik diri dari teman-temannya. Dia lebih sering menyendiri, tidak mau terlibat dalam permainan kelompok.”

Aisha menunduk. Tangannya menggenggam erat di pangkuan. “Apakah ini karena... trauma dari kejadian beberapa bulan lalu?”

“Sangat mungkin, Bu. Baskara mengalami peristiwa yang sangat traumatis dalam usianya yang masih sangat muda. Melihat perselingkuhan Ibu, perceraian orang tua, penculikan, kecelakaan mobil, ancaman fisik... itu semua adalah beban yang sangat berat untuk anak seusianya.”

Air mata Aisha jatuh. “Apa yang harus saya lakukan? Saya sudah berusaha melindunginya. Saya sudah berusaha membuatnya merasa aman.”

Mira mengulurkan kotak tisu. “Ibu sudah melakukan yang terbaik. Tapi trauma tidak selalu bisa disembuhkan hanya dengan cinta dan perlindungan. Baskara mungkin butuh bantuan profesional. Saran saya, bawalah Baskara ke psikolog anak. Terapi akan membantunya memproses apa yang dia alami.”

Aisha mengangguk, menyeka air matanya. “Baik. Saya akan cari psikolog untuk Baskara.”

“Saya punya rekomendasi jika Ibu butuh.”

“Terima kasih, Bu Mira.”

---

Sepulang dari sekolah, Aisha tidak langsung pulang. Ia duduk di taman dekat sekolah, memandangi anak-anak yang bermain ayunan dan perosotan. Pikirannya kacau.

Ia merasa gagal sebagai ibu. Ia sudah berusaha sekuat tenaga melindungi Baskara, tapi luka di hati anak itu ternyata lebih dalam dari yang ia kira.

Ia mengambil ponselnya, menelepon Arka.

“Aisha? Ada apa?” suara Arka terdengar sedikit terburu-buru.

“Arka, kita harus bicara. Tentang Baskara.”

“Ada apa dengan Baskara?”

“Konselor sekolah bilang Baskara menunjukkan tanda-tanda trauma. Dia cemas, menarik diri, sulit konsentrasi. Dia butuh psikolog.”

Diam sejenak. Lalu suara Arka lebih tenang. “Aku setuju. Aku akan cari psikolog anak terbaik. Kita tangani bersama.”

“Terima kasih, Arka.”

“Aisha, ini bukan salahmu. Ini salah kita berdua. Kita yang gagal melindunginya.”

“Tapi aku yang memulai semuanya. Jika aku tidak berselingkuh, Baskara tidak akan—”

“Berhenti, Aisha. Menyalahkan diri sendiri tidak akan membantu Baskara. Sekarang fokus pada penyembuhannya.”

Aisha menghela napas. “Kau benar. Maaf.”

“Tidak perlu minta maaf. Kita cari psikolognya hari ini juga. Aku akan cari referensi.”

---

Sore harinya, Arka datang ke rumah dengan membawa beberapa nama psikolog anak. Mereka berdua duduk di ruang tamu, meneliti satu per satu.

“Yang ini bagus,” kata Arka, menunjuk sebuah nama. “Dokter Andini. Spesialis trauma pada anak dan remaja. Banyak pasien anak dengan pengalaman kekerasan atau kehilangan orang tua.”

Aisha membaca profil dokter itu. “Harganya mahal.”

“Tidak masalah. Aku yang bayar.”

“Arka, aku tidak mau membebanimu.”

“Ini untuk Baskara, Aisha. Bukan untukku atau untukmu. Biarkan aku bertanggung jawab.”

Aisha tidak membantah. Ia tahu Arka juga ingin menjadi ayah yang baik.

“Baik. Aku akan hubungi besok pagi.”

Arka mengangguk. Mereka berdua diam sejenak, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Aisha,” Arka memecah keheningan. “Aku mau cerita sesuatu.”

“Apa?”

“Mia... Mia kabar baik. Terapisnya bilang kemajuannya sangat pesat. Dia mulai bisa menerima masa lalunya. Dia tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri atau orang lain secara berlebihan.”

Aisha tersenyum tipis. “Itu kabar baik. Aku senang mendengarnya.”

“Dia juga minta maaf lagi. Khususnya padamu. Dia bilang, kalau ada kesempatan, dia ingin bertemu denganmu. Bukan untuk mengulang masa lalu, tapi untuk... memulai awal yang baru.”

Aisha terdiam. Bertemu Mia? Wanita yang hampir membunuhnya? Wanita yang mengancam Baskara?

“Aku tidak tahu, Arka. Aku masih... aku masih butuh waktu.”

“Tentu. Tidak ada paksaan. Aku hanya menyampaikan.”

Mereka terdiam lagi. Baskara turun dari kamar, menghampiri mereka dengan wajah ceria.

“Bu, Ayah, aku lapar. Makan malam apa?”

Aisha berdiri, mengusap rambut Baskara. “Ibu masak sop ayam kesukaan kamu. Tunggu sebentar, ya.”

“Aku mau bantu, Bu!”

“Baik, kamu potong wortel. Tapi hati-hati.”

Mereka bertiga pergi ke dapur. Baskara memotong wortel dengan pisau tumpul khusus anak-anak, sementara Aisha memotong ayam dan sayuran lainnya. Arka membantu mencuci beras untuk nasi.

Dapur yang biasanya sunyi, kini ramai oleh tawa dan canda. Aisha merasakan kehangatan yang lama hilang. Kehangatan keluarga.

---

Setelah makan malam, Arka pamit pulang. Baskara memeluknya erat-erat.

“Ayah, besok main lagi, ya.”

“Besok Ayah ada rapat. Lusa, ya? Ayah janji.”

“Lusa, ya, Ayah. Jangan lupa.”

“Ayah tidak akan lupa.”

Arka menatap Aisha sekilas, tersenyum tipis, lalu pergi. Aisha berdiri di teras, melambai sampai mobil Arka hilang di tikungan.

“Bu,” Baskara menarik ujung baju Aisha. “Aku mau cerita sesuatu.”

“Apa, Nak?”

“Aku kadang masih mimpi buruk. Mimpi tentang Bibi Mia. Tentang Om Ren. Tentang Ibu dan Ayah berkelahi.”

Aisha berlutut di hadapan Baskara, meraih kedua tangannya. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak tahu kamu masih mimpi buruk. Kenapa kamu tidak bilang?”

“Aku takut Ibu sedih. Ibu sudah sering nangis. Aku nggak mau Ibu nangis lagi.”

Aisha memeluk Baskara erat-erat. “Ibu tidak apa-apa, Nak. Ibu kuat. Kamu boleh cerita apa pun pada Ibu. Janji?”

“Janji, Bu.”

“Besok Ibu akan ajak kamu ke dokter. Bukan dokter biasa, tapi dokter yang bisa bantu kamu berhenti mimpi buruk. Kamu mau?”

Baskara mengangguk. “Asal Ibu ikut.”

“Ibu ikut. Ibu tidak akan tinggalkan kamu.”

---

Keesokan harinya, Aisha membawa Baskara ke psikolog anak, Dokter Andini. Ruang praktik dokter itu hangat, penuh dengan mainan dan buku cerita. Baskara tampak ragu pada awalnya, tapi perlahan mulai merasa nyaman.

Dokter Andini adalah wanita paruh baya dengan rambut pendek dan senyum yang menenangkan. Ia meminta Aisha menunggu di ruang tunggu sementara ia berbincang dengan Baskara.

Aisha duduk di kursi ruang tunggu, memegang erat tasnya. Ia berdoa dalam hati semoga Baskara mau terbuka pada dokter.

Setelah satu jam, pintu terbuka. Baskara keluar dengan senyum di wajahnya. “Bu, Dokter Andini baik banget. Aku boleh main sama boneka-boneka di sana.”

Aisha menghela napas lega. “Kamu mau kembali lagi?”

“Mau! Besok lagi, ya, Bu?”

“Dokter akan kasih tahu jadwalnya, Nak.”

Dokter Andini keluar, tersenyum pada Aisha. “Bu Aisha, Baskara anak yang sangat baik dan kooperatif. Kami baru ngobrol ringan hari ini. Minggu depan, kami akan mulai sesi terapi yang lebih intensif. Saya akan beri Ibu beberapa catatan.”

“Terima kasih, Dok.”

“Sama-sama, Bu.”

---

Sepulang dari psikolog, Aisha mampir ke supermarket. Ia ingin membeli bahan makanan untuk seminggu ke depan. Baskara meminta es krim, dan Aisha mengizinkan.

Di lorong es krim, Aisha bertemu dengan seseorang yang tidak pernah ia duga.

Ren.

Pria itu berdiri di depan lemari es krim, memegang dua kotak es krim rasa cokelat dan vanila. Ketika melihat Aisha, ia terkejut. Wajahnya berubah—antara ingin lari atau ingin bicara.

“Aisha,” sapanya pelan.

Aisha membeku. Tangannya secara naluriah melindungi Baskara yang berdiri di sampingnya.

“Om Ren?” Baskara menatap pria itu dengan mata penuh ketakutan.

“Baskara,” Ren tersenyum canggung. “Kamu... kamu sudah besar.”

Aisha menarik Baskara ke belakangnya. “Ren, apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku... aku tinggal di kompleks sebelah. Aku pindah kembali ke Indonesia dua minggu lalu. Aku hanya ingin belanja. Aku tidak tahu kalau kau juga di sini.”

“Ini kebetulan yang tidak menyenangkan.”

Ren menunduk. “Aisha, aku tahu aku tidak pantas minta maaf. Tapi aku ingin kau tahu... aku berubah. Aku menjalani terapi selama di luar negeri. Aku menyesali semua yang sudah aku lakukan.”

“Kata maaf tidak cukup, Ren.”

“Aku tahu. Tapi setidaknya aku ingin... aku ingin Baskara tahu bahwa Om Ren menyesal. Bahwa Om Ren tidak akan mengganggu kalian lagi.”

Baskara masih bersembunyi di balik Aisha. Matanya waspada, tubuhnya sedikit gemetar.

“Kamu baik-baik saja, Nak?” tanya Ren lembut.

Baskara tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Aisha lebih erat.

“Ren, sebaiknya kau pergi,” kata Aisha tegas.

Ren mengangguk. Ia meletakkan es krim yang dipegangnya kembali ke lemari es, lalu berjalan pergi. Sebelum keluar dari lorong, ia menoleh sekali lagi.

“Aisha, aku tidak akan menghubungimu lagi. Tapi jika suatu hari nanti Baskara sudah besar dan dia ingin tahu... aku akan siap menjawab.”

Ren pergi. Aisha menghela napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.

“Bu,” Baskara berbisik. “Om Ren kenapa di sini?”

“Dia juga belanja, Nak. Kebetulan.”

“Aku takut, Bu.”

“Tidak usah takut, Nak. Ibu di sini. Om Ren tidak akan ganggu kita lagi. Ibu janji.”

Aisha memeluk Baskara erat-erat di tengah lorong supermarket yang sunyi. Ia tidak peduli jika orang-orang menatap mereka. Yang ia pedulikan hanyalah anaknya.

---

Malam harinya, setelah Baskara tidur, Aisha menelepon Arka. Ia menceritakan pertemuannya dengan Ren.

Arka terdiam lama. Lalu ia berkata, “Aku tahu Ren sudah kembali. Dia menghubungiku minggu lalu. Dia minta maaf padaku juga.”

“Kau maafkan dia?”

“Aku tidak tahu. Mungkin suatu hari nanti. Tapi sekarang, aku masih butuh waktu.”

“Aku juga.”

Mereka terdiam beberapa saat. Aisha mendengar suara napas Arka di seberang sana.

“Aisha,” Arka memecah keheningan. “Besok aku akan ke rumah. Aku ingin masak untuk Baskara. Aku ingin... aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya.”

“Tentu. Baskara pasti senang.”

“Terima kasih, Aisha. Untuk semuanya.”

“Sama-sama, Arka.”

Panggilan berakhir. Aisha mematikan lampu, membaringkan tubuh di tempat tidur. Ia memandangi langit-langit kamar yang gelap, memikirkan tentang pertemuannya dengan Ren.

Ren tampak berbeda. Lebih tenang, lebih rendah hati. Mungkin ia benar-benar berubah. Mungkin terapi di luar negeri membantunya.

Tapi Aisha tidak mau berharap. Ia sudah lelah dikecewakan. Ia hanya ingin fokus pada Baskara, pada penyembuhannya, pada masa depannya.

---

Pukul dua dini hari, Aisha terbangun oleh suara tangis dari kamar Baskara. Ia berlari masuk, menemukan Baskara duduk di tempat tidur dengan wajah basah air mata.

“Bu, aku mimpi lagi. Mimpi buruk.”

Aisha memeluknya. “Cerita pada Ibu, Nak. Mimpi apa?”

“Aku mimpi Om Ren datang lagi. Dia bawa pisau. Dia mau bunuh Ibu.”

Aisha mengecup kening Baskara. “Itu hanya mimpi, Nak. Om Ren tidak akan bunuh Ibu. Ibu di sini. Ibu baik-baik saja.”

“Aku takut, Bu. Aku takut Om Ren muncul lagi.”

“Ibu akan lindungi kamu, Nak. Ibu tidak akan biarkan siapa pun menyakiti kamu.”

Aisha membaringkan Baskara kembali, menyelimutinya, lalu berbaring di sampingnya. Ia tidak akan kembali ke kamarnya malam itu. Ia akan menjaga Baskara, memeluknya, membuatnya merasa aman.

“Bu,” bisik Baskara sambil memejamkan mata. “Aku sayang Ibu.”

“Ibu sayang kamu, Nak. Lebih dari apa pun di dunia ini.”

Baskara tersenyum tipis, lalu tertidur. Aisha tetap terjaga, memandangi wajah anaknya yang tenang.

Ia tahu perjalanan masih panjang. Luka Baskara mungkin tidak akan sembuh dalam semalam. Tapi ia akan ada di sini, setiap saat, setiap langkah.

---

Pagi harinya, Arka datang dengan membawa bahan makanan. Ia akan memasak soto untuk makan siang—soto kesukaan Baskara.

Baskara senang sekali. Ia membantu Arka memotong sayuran, meski masih canggung dengan pisau. Aisha duduk di meja dapur, memandangi mereka berdua.

Arka dan Baskara tertawa bersama ketika Baskara secara tidak sengaja memotong tomat terlalu besar. Arka mengajarinya dengan sabar, sesekali mencuri pandang ke arah Aisha.

Aisha tersenyum. Untuk sesaat, ia merasa seperti kembali ke masa lalu. Ketika mereka masih utuh. Ketika kebahagiaan masih sederhana.

Tapi ia sadar, mereka tidak akan pernah kembali ke masa lalu. Yang bisa mereka lakukan hanyalah membangun masa depan yang baru. Masa depan yang lebih baik.

Untuk Baskara.

Untuk diri mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!