Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Di Balik Tatapan Tenang
Ekspresi Are tak berubah sedikit pun. Tenang. Datar.
“Itu tidak penting.”
“Penting,” balas Zelia cepat.
“Kenapa?”
Zelia maju satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Jarak mereka kini sangat dekat. Dan—
“Aku makin menyukaimu!”
Ia langsung menubruk dada Are, memeluknya erat sambil menghentak-hentakkan kaki kecil seperti anak yang terlalu senang menahan rasa bahagia.
Are sedikit melebarkan matanya, tapi tubuhnya tetap kokoh. Tangannya refleks menahan bahu Zelia agar tidak kehilangan keseimbangan.
Senyum samar terbit di bibirnya tanpa sadar. "Gadis ini… kenapa bisa semenggemaskan ini?"
Zelia menyandarkan kepalanya di dada pria itu, masih memeluk erat seolah itu tempat paling aman di dunia.
“Are…” panggilnya pelan.
“Hm,” sahut Are rendah.
“Apa… hatimu sudah ada yang punya?”
Zelia masih memeluknya, menunggu jawaban.
Are menatapnya beberapa detik. Tatapannya tetap tenang, sulit dibaca. Lalu ia mengalihkan pandangan seolah pertanyaan itu tidak pernah dilontarkan.
“Kita punya hal yang lebih penting untuk dipikirkan.”
Zelia mengerutkan kening, masih bersandar di dadanya.
“Fokus pada perusahaan,” lanjut Are datar. “Ingat, kalau dalam enam bulan kau tidak bisa melampaui papamu…” Ia melirik ke arah kursi CEO di belakang meja. “…kursi itu bukan lagi milikmu.”
Suasana mendadak terasa lebih serius.
“Dan kemungkinan besar,” tambahnya pelan, “warisan dari ibumu akan kembali berada di bawah kendali papamu.”
Zelia melepaskan pelukannya. Ia membuang napas kasar.
Bibirnya mengerucut kesal.
“Tak bisakah kau membiarkan aku bahagia sedikit?” keluhnya. “Semua pekerjaan itu bikin kepalaku panas. Bisa-bisa rambutku rontok dan aku botak sebelum punya anak.”
Tuk.
“Ahk!” Zelia refleks menutup dahinya sambil mengusap pelan. “Sakit tahu!”
Are menurunkan tangannya dengan ekspresi datar, tapi ada kilatan samar di matanya.
“Belajar dengan benar,” katanya tenang, “agar kau bisa mempertahankan kursi CEO tanpa kehilangan rambut.”
Zelia melotot kesal, tapi sudut bibirnya tetap naik tanpa sadar.
Pria ini… Selalu berhasil membuatnya kesal… sekaligus merasa lebih ringan.
Sementara Are berbalik menuju meja, seolah percakapan tadi hanyalah gangguan kecil.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal. Ia sengaja mengalihkan.
Karena jika ia menjawab dengan jujur… keadaan tidak akan tetap sesederhana ini.
***
Ruang kerja Fero berantakan. Tablet tergeletak di lantai. Gelas kristal pecah di dekat meja.
Di layar televisi yang masih menyala, grafik saham bergerak turun tajam seperti jurang yang tak berujung.
Merah. Semua merah.
Fero berdiri membelakangi layar dengan rahang mengeras, napasnya berat. Urat di pelipisnya menegang jelas.
“Turun lagi, Pak…” suara sekretarisnya terdengar hati-hati dari ambang pintu.
Fero hanya diam membisu. Tangannya mengepal begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
Video itu.
"Video sialan!" umpatnya menendang udara.
Bayangan wajah Zelia saat memutar rekaman di depan publik kembali terlintas, tatapan dingin tanpa sedikit pun keraguan.
Zelia mempermalukannya dan menghancurkannya di depan semua orang.
Dan yang lebih parah… Investor mulai menarik diri. Kerja sama strategis mulai ditinjau ulang. Nama keluarganya jadi bahan gosip pasar.
Fero mengambil remote lalu mematikan televisi dengan satu tekan keras.
Ruangan itu langsung sunyi.
“Batalkan semua rapat hari ini,” ucapnya datar.
Sekretarisnya menelan ludah. “Baik, Pak.”
Pintu tertutup.
Fero berjalan pelan ke jendela besar, menatap kota di bawah sana. Biasanya pemandangan itu memberinya rasa kuasa.
Hari ini tidak. Hari ini terasa seperti semua orang sedang menertawakannya.
Tangannya bertumpu di kaca.
“Zelia…” gumamnya pelan, nyaris seperti desisan.
Matanya menyipit, menatap gedung-gedung perkantoran dan lalang kendaraan di bawah sana.
“Kau mempermalukan aku di depan publik. Membuat perusahaanku di ambang kehancuran.” Suaranya rendah, bergetar tipis oleh amarah yang ditahan. “Dan sekarang kau pikir bisa duduk tenang begitu saja?”
Sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum hangat. Lebih seperti sesuatu yang dingin… dan berbahaya.
“Kalau aku jatuh… aku pastikan kau ikut jatuh bersamaku.”
Ia berbalik menuju meja, menekan tombol interkom dengan satu gerakan tegas.
“Panggil tim legal dan divisi strategi. Sekarang.”
Klik.
Ruangan kembali sunyi.
Fero membuka laci paling bawah, mengeluarkan sebuah map hitam tebal. Map yang seharusnya tak pernah ia sentuh lagi. Logo kerja sama lama tercetak samar di sudutnya.
Perjanjian lima tahun.
Jarinya membuka halaman demi halaman dengan perlahan. Klausul demi klausul. Banyak celah. Terlalu banyak.
Matanya berhenti pada satu bagian.
Klausul penalti.
Ujung jarinya menyusuri kertas itu… dan ingatannya terseret mundur ke malam ketika semua rencana dimulai.
—
Ruang rapat hotel malam itu remang dan sunyi. Hanya terdengar denting sendok beradu dengan cangkir kopi.
Atyasa duduk di ujung meja, wajahnya setenang permukaan air tanpa riak.
“Setelah kamu menikah dengan Zelia, kita ambil alih semua hartanya,” katanya datar. “Setelah itu, ceraikan dia. Kau bisa menikah dengan Desti. Perusahaan kalian akan kita satukan.”
Fero menyandarkan punggungnya, senyum tipis muncul di wajahnya.
“Kenapa Om melakukan ini? Bukankah Zelia juga putri kandung Om?”
Tatapan Atyasa berubah dingin.
“Karena wajahnya selalu mengingatkan aku pada ibunya,” jawabnya tanpa jeda. “Wanita yang membuat orang mengira aku hanya menumpang hidup.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah.
“Andai dia mau mundur dari perusahaan dan membiarkan aku menjadi CEO, tak akan ada yang memandang rendah aku.”
Tidak ada emosi dalam suaranya. Tidak ada penyesalan. Hanya keputusan.
Kembali ke saat ini.
Fero menutup map itu perlahan. Senyumnya kini lebih jelas… lebih gelap.
“Permainan belum selesai.”
***
Are baru saja selesai makan dan duduk di ruang tengah bersama Zelia ketika ponselnya berdering.
Zelia melirik ponsel yang tergeletak di atas meja. Di layar muncul panggilan dari rumah sakit.
Tanpa berpikir panjang, Are langsung mengangkatnya.
“Halo,” sapanya singkat.
“Pak, kami ingin menginformasikan bahwa ibu Anda sudah sadar,” ujar suara dari seberang.
Tatapan Are langsung berubah.
Ada sesuatu yang bergetar tipis di matanya… sesuatu yang jarang terlihat.
“Saya ke sana sekarang,” ucapnya cepat sebelum menutup panggilan dan memasukkan ponsel ke saku.
“Ada apa?” tanya Zelia.
“Ibuku sudah sadar,” jawab Are sambil berdiri. “Aku harus ke rumah sakit.”
“Aku ikut,” sahut Zelia tanpa ragu.
Are menyipitkan mata. “Buat apa?”
Zelia tersenyum lebar, matanya berbinar nakal.
“Buat ketemu ibu mertua. Aku harus ambil hatinya supaya anaknya bisa kudapatkan,” katanya ringan.
Are tertawa pendek. “Humph. Percaya diri sekali.”
“Harus,” balas Zelia sambil menghampiri.
Seperti biasa, tanpa izin, ia langsung memeluk lengan Are.
“Ayo berangkat.”
Are menghela napas pelan, melirik lengannya yang dipeluk erat.
"Aku harap pernikahan kontrak ini segera berakhir… atau aku tak akan bisa mengendalikan diriku sendiri."
***
Di sisi lain, Atyasa menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kerja.
Bayangan rapat pagi tadi masih berputar di kepalanya.
“Are bukan pria sembarangan… bukan tukang parkir biasa,” gumamnya pelan. “Cara bicara dan pembawaannya seperti orang kalangan atas.”
Ketukan di pintu membuatnya segera menegakkan tubuh dan merapikan kemeja.
“Masuk.”
Seorang pria masuk membawa amplop cokelat di tangannya.
“Bagaimana? Kau sudah dapat informasi lebih lanjut tentang Are?” tanya Atyasa.
...✨“Masalahnya bukan kontraknya. Masalahnya… ia mulai tidak ingin ini berakhir.”...
...“Aku ingin pernikahan ini segera berakhir… atau ia tidak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri.”...
...“Kontrak itu punya batas waktu. Perasaannya… sepertinya tidak.”...
...“Ia seharusnya tidak peduli. Tapi setiap kali wanita itu tersenyum… sesuatu di dalam dirinya bergeser.”...
...“Ia sengaja menjaga jarak. Karena ia tahu, sekali melangkah… ia tidak akan mundur.”✨...
.
To be continued
Ingatanya kepada Fero, Desti keluar kamar hotel.
Sampai di apartemen Fero - memberitahu kalau diusir dari rumah. Desti dan mamanya - untuk sementara mau tinggal di tempat Fero.
Alih-alih Fero mengijinkan. Malah menyalahkan Desti dan ayahnya.
Fero si tolol tak merasa salah juga. Niatnya mau menikah dengan Zelia tidak tulus. Mau merebut kekayaan milik Zelia. Selingkuh dengan saudara tiri Zelia.
Menjadi CEO berdiri sejajar dengan Zelia cuma mimpi. Sekarang semua hancur.
Wow...Desti yang menjebak duluan. Fero si tolol juga menikmati. Gimana sih.
Saling menyalahkan.
Kedatangannya yang dangan disambut dingin Atyasa.
Salah satu pria menyerahkan sebuah map tebal di meja.
Dokumen pengalihan aset. Aset milik Zelia.
Are bicara sesuai fakta yang ada.
Rumah yang mereka tempati, aset perusahaan, rekening investasi, semua tercatat sebagai warisan dari mendiang Ibu Zelia.
Yang selama ini di kelola Atyasa. Akan dialihkan kepada pemilik sahnya.
Dian, Desti, dan Atyasa, mulai hari ini dimiskinkan.
Zelia dan Are tahu kalau Atyasa tidak akan berhenti. Atyasa pasti akan berulah lagi.
Are punya cara membereskan Atyasa. Tapi Zelia akan terlihat kejam.
Atyasa dimiskinkan.
Agar Atyasa tidak bisa bergerak bebas - Zelia harus mengambil semua aset yang masih ada pada Atyasa.
Are juga berhenti beberapa langkah di belakangnya.
Atyasa merasa Are yang menyebabkan ia mundur.
Apapun kalimat yang terucap dari mulut Atyasa - Are bisa menanggapi dengan tenang.
Atyasa masih percaya diri - Are yang jatuh.
Direktur senior bicara. Direktur lain langsung menimpali.
Dewan memutuskan untuk sementara menonaktifkan Atyasa dari jabatan komisaris sampai investigasi selesai.
Direktur lain lebih keras lagi. Untuk menjaga reputasi perusahaan, dia mengusulkan Atyasa mengundurkan diri.
Keputusan diambil lewat voting. Mayoritas angkat tangan setuju Atyasa mengundurkan diri.
Fero juga kena batunya. Kerja sama dengan perusahaan milik Fero dihentikan. Kontrak yang sedang berjalan ditinjau ulang. Perusahaan dimasukkan dalam daftar hitam mitra bisnis Angkasa Group.
Atyasa tidak protes berarti mengakui kesalahannya.
Masih mau mencari celah - Are yang di tatap.
Bukti rekaman yang didapat Are jelas valid. Dan rumor memang sengaja diciptakan.
Rumor itu hampir meruntuh reputasi Angkasa Group.
Bukan datang dari pesaing luar, melainkan dari orang yang berada di lingkaran sendiri.
Kepentingan pribadi seseorang, hendak mengorbankan perusahaan.
Tinggal menunggu semua bukti dinyatakan sah.
Atyasa masih kelihatan santai. Padahal ketua dewan mengatakan - bukti yang disampaikan menunjukkan keterlibatan Atyasa dalam penyebaran rumor yang merugikan Angkasa Group.
Harusnya sebagai komisaris Atasya memiliki kewajiban untuk melindungi kepentingan perusahaan.
Atyasa malah bicaranya seperti menantang - kita lihat saja siapa yang benar-benar jatuh di akhir permainan ini.
Zelia saja belum tahu siapa Are yang sebenarnya.
Ditunggu rapat dewan berikutnya. Are kalau bisa membuktikan Atyasa dan Fero yang menyebarkan rumor, bakal tamat riwayat kalian berdua.
Menjatuhkan Zelia saja tidak bisa, apalagi menjatuhkan Are. Bisa jadi Atyasa dan Fero yang jatuh.
Atyasa sangat berambisi.
Are sudah kecanduan membikin lelah Zelia setiap malam.
Zelia lucu. Tidak gugup. Berusaha terlihat tenang. Are tahu itu.
Zelia lagi-lagi ingin mengatakan - aku tidak - gugup maksudnya.
Bibir Are sudah menyentuh bibirnya dengan lembut. Jantung Zelia langsung berdebar keras.
Akhirnya Zelia dan Are sudah menyatu dengan tidak penuh drama 😄.
Malam pertama yang tertunda sangat lama.
Fero masih penasaran dengan seorang tukang parkir yang tiba-tiba muncul menikahi CEO Angkasa Group.
Di atas ranjang terdapat beberapa kelopak mawar bertebaran.
Zelia sudah bisa menebak maksudnya, tetap bertanya - ini apa maksudnya.
Tubuh Zelia langsung menegang ketika tiba-tiba dari belakang lengan kokoh Are melingkar di pinggangnya.
Are benar-benar niat sekali menagih janjinya. Ia telah mempersiapkan pakaian dinas untuk istrinya - lingerie warna hitam 😄.
Zelia masuk ke kamar mandi - mau tidak mau harus memakainya. Iya harus menepati janjinya.
Zelia sudah keluar dari kamar mandi.
Kini jantungnya semakin berdetak lebih cepat ketika tangan Are perlahan menyentuh pergelangan tangannya.
Atyasa masih ingin menyelidiki siapa sebenarnya Are. Nanti kalau tahu yang sesungguhnya siapa Are jangan kejang-kejang Atyasa. Juga Fero.
Di apartemen Zelia yang terlihat lelah langsung berbinar ketika mencium aroma rendang.
Wina yang sedang masak rendang menoleh ketika Zelia memanggilnya dengan riang.
Interaksi menantu dengan mertua yang harmonis.
Are mulai mengingatkan permintaannya pada Zelia.
Pranata sudah membaca semuanya. Kualifikasinya juga sudah tahu.
Fero semakin gelisah, masih menyanggah.
Tatapan Pranata pada Fero cukup membuatnya diam.
Pranata kembali menoleh ke meja direksi lalu bilang -Investasi Pranata Group - tidak dibatalkan.
Beberapa direksi bernafas lega.
Pranata menambahkan - kami akan melipatgandakan nilai investasinya.
Atyasa meradang tuh... Menurutnya - ini keputusan gegabah.
Pranata secara tidak langsung memuji Zelia dan Are.