Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetangga Baru dan Langganan Setia
Pagi itu, embun masih terlihat menetes dari ujung daun-daun di halaman rumah. Udara pagi terasa sangat sejuk dan segar, menembus masuk lewat celah-celah jendela dan pintu yang terbuka lebar. Matahari baru saja terbit, memancarkan sinar keemasan yang lembut, menyinari jalanan desa yang mulai hidup dengan suara ayam berkokok dan langkah kaki warga yang berangkat ke ladang atau ke pasar.
Seperti biasa, Aini sudah sibuk sejak pukul empat pagi di dapurnya. Tangan-tangannya yang cekatan sudah menyelesaikan proses memasak nasi uduk yang pulen dan beraroma wangi, lengkap dengan aneka lauk pendamping, orek tempe yang manis gurih, sambal kacang yang pas pedasnya, telur dadar iris, bihun goreng, dan kerupuk yang renyah. Semuanya ditata rapi di atas meja panjang di teras depan rumah, ditutup dengan kain bersih agar tetap hangat dan bersih.
Syafa sudah siap duduk di kursi kecil di samping ibunya, dengan semangat mengipasi-ngipasi bungkusan nasi yang sudah siap, sementara Satria duduk di dalam ayunan di dekat pintu, bermain dengan mainan sederhana buatan ibunya sambil sesekali mengoceh riang.
Aini baru saja selesai menata kembali susunan bungkusan agar terlihat lebih rapi dan menarik, saat langkah kaki seseorang terdengar mendekat di jalan setapak berumput di depan pagar rumahnya. Ia mengangkat wajah, tersenyum ramah seperti biasa, siap menyapa siapa pun yang datang.
Seorang laki-laki berjalan santai mendekat, lalu berhenti tepat di depan meja dagangan Aini. Penampilan laki-laki itu sederhana sekali, bahkan terlihat agak kumal dan tidak terawat. Laki-laki kemaren yang makan disini.
"Selamat pagi, Bu," sapa laki-laki itu. Suaranya berat, dalam, dan terdengar tenang namun tegas. Ia menatap Aini lurus-lurus dengan kedua matanya yang tajam itu.
"Boleh minta disiapkan satu porsi? Mau makan di sini saja."
Aini segera mengangguk, menyembunyikan rasa herannya.
"Boleh, Pak. Silakan duduk dulu. Saya siapkan sekarang."
Aini segera bergerak cepat. Ia mengambil piring, menyendokkan nasi uduk yang mengepul hangat, menumpuk lauk pauk dengan porsi yang banyak, lalu menuangkan sambal kacang kental di atasnya. Sambil menyiapkan pesanan itu, pikiran Aini masih memikirkan sosok laki-laki di belakangnya. Siapa ya dia? Wajahnya berwibawa sekali, berbanding terbalik dengan pakaiannya yang sederhana . Bukan warga sekitar, baru kemaren dia muncul di warung Aini.
Setelah piring penuh itu diserahkan, laki-laki itu mulai menyantapnya dengan lahap namun tetap sopan, Aini memberanikan diri bertanya juga dengan sopan.
"Sepertinya Bapak baru di sini ya? Saya belum pernah melihat Bapak lewat jalan ini sebelumnya."
Laki-laki itu berhenti mengunyah sejenak, menelan makanannya, lalu menatap Aini sambil tersenyum tipis.....senyum yang membuat sorot matanya yang tajam itu sedikit melembut.
"Iya, Bu. Benar sekali," jawabnya santai. "Nama saya Jaja. Saya baru pindah ke desa ini kemaren. Saya ngontrak di sebelah kanan rumah Ibu. Rumah kecil yang halamannya penuh rumput tinggi itu."
Aini membulatkan matanya kaget.
"Wah, ternyata tetangga baru ya, Pak Jaja? Selamat datang di sini, Pak. Semoga betah tinggal di sini. Warga di sini ramah-ramah semua, tenang, dan aman."
Jaja mengangguk puas, kembali menyuap nasi uduknya.
"Saya sudah mengetahui ketenangan desa ini sejak semalam . Dan soal keramahan... saya rasa sudah menemukan yang paling ramah pagi ini." Ia menunjuk piring di depannya dengan dagunya.
"Nasi uduknya enak sekali, Bu. Gurihnya pas, bumbunya meresap sampai ke dalam. Masakan Ibu enak sekali."
Wajah Aini memerah....tersipu malu mendengar pujian itu.
"Ah, Bapak bisa saja. Ini cuma masakan sederhana, seadanya saja."
Jaja menghabiskan makanannya sampai bersih, lalu menyeka mulutnya dengan punggung tangan. Ia menatap Aini lekat-lekat, lalu menatap sebentar ke arah Syafa yang tersenyum malu-malu, dan ke arah Satria yang masih asyik bermain di ayunan.
"Bu Aini..." panggilnya, seolah ia sudah tahu nama ibu dua anak itu. Aini terkejut lagi, tapi Jaja segera menjelaskan sebelum ia bertanya.
"Kemaren sempat dengar Ibu-Ibu tetangga sebelah menyebut nama Ibu saat menyapa. Saya mau bilang sesuatu."
Jaja mencondongkan sedikit tubuhnya, sorot matanya yang tajam kembali menatap lurus ke manik mata Aini.
"Mulai hari ini, saya pastikan saya akan jadi langganan tetap di sini. Setiap pagi, sepulang saya berkeliling atau sebelum saya berangkat kerja, saya akan mampir ke sini. Pesannya sama saja....satu porsi nasi uduk, makan di tempat. Saya suka masakan Ibu, dan saya suka suasana di sini. Tenang, bersih, dan hangat."
Ia tersenyum lagi, senyum yang kali ini terasa lebih akrab dan bersahabat.
"Jadi tolong sediakan selalu buat saya, Bu Aini. Jangan sampai kehabisan sebelum saya datang. Karena ini akan jadi sarapan wajib saya setiap hari ke depannya."
Aini merasa sangat senang dan bersyukur. Mendapatkan langganan tetap berarti ada kepastian rezeki setiap hari. Ia tersenyum lebar, matanya berbinar gembira.
"Siap, Pak Jaja! Terima kasih banyak ya. Alhamdulillah, rezeki anak-anak. Insya Allah setiap pagi saya akan pastikan ada porsi khusus buat Bapak. Terima kasih sudah menyukai masakan saya."
Jaja mengangguk puas, membayar uang makanannya dengan uang pas, lalu bangkit berdiri. Sebelum pergi, ia menatap sekeliling sekali lagi, menatap batas pagar rumahnya yang bersebelahan.
"Sama-sama, Bu. Kita tetangga, jadi anggap saja seperti keluarga sendiri. Kalau ada apa-apa atau butuh bantuan apa pun, panggil saja saya. Saya ada di sebelah."
Dengan langkah santai namun tegap, Jaja berjalan menuju rumah kecil di sebelah yang dulu terlihat sepi dan penuh rumput, kini mulai ada tanda-tanda kehidupan.
Aini menatap punggung tetangga barunya itu sampai menghilang di balik pintu pagar. Ia menghela napas panjang penuh rasa syukur. Di desa yang damai ini, di rumah kecil ini, Tuhan terus saja mengirimkan kebaikan dan pertolongan lewat orang-orang baru yang datang. Mulai dari Bu Lilis, Komandan Sejiwa, dan sekarang Pak Jaja, tetangga baru, dan berjanji akan menjadi langganan setia.
Hari itu, semangat Aini berkali-kali lipat lebih besar. Ia merasa hidupnya makin lengkap, makin aman, dan makin penuh harapan. Di sampingnya, Syafa berseru riang,
"Ibu! Ada langganan baru ya! Nanti kalau Pak Jaja datang lagi, Syafa yang akan ambilkan piringnya ya!"
Aini tertawa kecil, mengusap kepala putrinya dengan kasih sayang.
"Iya, Nak. Kakak yang jadi asisten Ibu ya. Kita berjuang terus ya, demi Dedek, demi kita semua."
"Bu....itu tadi namanya Paman Jaja ya?"
"Iya Kak, Kenapa...?"
"Syafa jadi ingat sama Ayah. Kenapa sampai sekarang masih belum menjemput kita."
Deg!!!!
Hati Aini seperti dipukul palu besar....sakit!!!
"Ayah tidak tau kita disini Kak. Sudah ya...kakak jangan tanya-tanya ayah lagi."
Aini mengelus rambut putrinya. Air matanya hampir saja tumpah. Tapi dia tahan....dia tak boleh lemah.
Dan di rumah sebelah, di balik jendela kecil, sepasang mata tajam itu menatap sekilas ke arah teras rumah Aini.
********