Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
After The Waltz
Pesta akhirnya mulai berakhir ketika malam semakin larut.
Satu per satu para tamu meninggalkan aula besar mansion dengan kendaraan mereka masing-masing. Cahaya chandelier masih menyala terang di dalam aula, namun suasananya tak lagi semeriah beberapa jam sebelumnya.
Para pelayan mulai membereskan gelas-gelas kristal dan sisa jamuan makan malam.
Sementara dari balkon lantai dua mansion, Noah berdiri dalam diam memandangi halaman depan yang perlahan mulai kosong.
Angin malam bergerak pelan melewati rambut hitam pria itu.
Tatapannya tetap tenang seperti biasa.
Sulit ditebak.
Namun entah mengapa, malam itu atmosfer di sekeliling Noah terasa jauh lebih ringan dibanding biasanya.
Ketukan heels terdengar pelan dari belakangnya.
Viviane muncul beberapa detik kemudian sambil membawa satu gelas wine di tangannya.
Gaun hitam keperakan wanita itu masih tampak sempurna meski pesta telah berlangsung panjang sejak sore tadi.
Ia berhenti di samping Noah sebelum ikut melihat ke arah halaman mansion.
“Kupikir dia akan membuat kesalahan.”
Noah tidak langsung menjawab.
Viviane tersenyum kecil.
“Ternyata jauh dari apa yang kubayangkan.”
Keheningan singkat hadir di antara mereka sebelum Noah akhirnya berbicara pelan,
Tatapan wanita itu bergeser pelan ke arah Noah.
“Sebenarnya ada alasan lain kenapa suasana hatimu cukup bagus malam ini?”
Noah tidak bereaksi banyak.
Namun itu justru membuat senyum Viviane semakin melebar samar.
“Teritorialmu terganggu secara terang-terangan tadi.”
Tatapan Noah akhirnya beralih padanya.
Dingin.
Sesuatu yang cukup untuk membuat Viviane tertawa kecil.
“Aku serius.”
Wanita itu menyandarkan siku pada pagar balkon.
“Para bangsawan tua itu jelas mencoba mengelilinginya saat kau pergi mengambil minuman.”
Tatapan Viviane mengarah samar ke aula bawah.
“Dan kau langsung kembali sebelum mereka sempat terlalu jauh.”
Noah tetap diam.
Akan tetapi kali ini Viviane bisa melihat jawaban itu jelas dari ekspresinya.
Tepatnya—
dari cara Noah tidak menyangkalnya sama sekali.
“Menarik.”
Viviane menghela napas kecil sebelum menghabiskan wine di tangannya.
“Dulu aku tidak pernah membayangkan akan melihatmu berdiri di sisi seseorang seperti yang kau lakukan tadi.”
Noah memandang halaman mansion beberapa saat.
"Pulanglah, Viviane.”
Wanita itu langsung menoleh tidak percaya.
“Setelah aku datang jauh-jauh hanya untuk memberi ucapan selamat?”
“Sudah terlalu malam.”
Viviane menyipitkan matanya samar.
Noah terlihat sedikit menghela napas kecil.Dan reaksi sekecil itu justru membuat Viviane tertawa pelan.
“Baiklah, baiklah.”
Wanita itu mulai melangkah mundur.
Noah tidak menoleh.
Viviane tersenyum kecil. “Aku menyukainya.”
Tatapan Noah akhirnya bergerak pelan ke arahnya.
Viviane mengangkat bahu ringan. "Lady Lillyane.”
Senyumnya berubah jauh lebih lembut. Terlihat sangat tulus.
“Dia jauh lebih kuat dibanding yang pernah ku bayangkan.”
Setelah mengatakan itu, Viviane akhirnya benar-benar pergi meninggalkan balkon.
Dan Noah kembali sendirian.
Hanya suara angin malam dan samar musik terakhir dari aula bawah yang masih terdengar pelan.
Beberapa menit kemudian, Noah akhirnya berbalik meninggalkan balkon.
Langkahnya tenang melewati koridor mansion mulai sepi. Suara musik mengalun pelan dari piringan yang diputar pelayan. Beberapa lampu juga mulai redup.
Hingga akhirnya pria itu berhenti di depan salah satu ruang ganti.
Cahaya lampu hangat terlihat samar dari balik pintu yang tidak tertutup sepenuhnya.
Dan dari dalam—
terdengar suara Madam Elish.
“Kau melakukannya dengan sangat baik malam ini.”
Suara Lilly terdengar jauh lebih pelan.
“Itu karena Madam terus melatihku.”
“Tidak.”
Madam Elish terdengar tegas seperti biasanya.
“Kau berhasil karena kau tidak lari malam ini.”
Noah tetap berdiri diam di luar ruangan.
“Kau berdiri di depan mereka semua dan tidak menundukkan kepalamu.”
Suara Madam Elish terdengar lebih lembut daripada biasanya.
“Itu bukan sesuatu yang bisa diajarkan hanya lewat etiket.”
Noah mendengar keheningan panjang setelahnya.
Lalu suara Lilly terdengar pelan,
“Aku hanya tidak ingin mempermalukan siapa pun.”
Madam Elish terkekeh kecil.
“Kalau begitu, teruslah seperti itu.”
Tak lama kemudian terdengar suara langkah mendekat dari dalam ruangan.
Noah sedikit menyingkir dari depan pintu tepat beberapa detik sebelum Madam Elish keluar.
Wanita tua itu sempat menghentikan langkahnya ketika melihat Noah berdiri di koridor.
Seperti biasa, ekspresinya sulit ditebak.
“Yang Mulia.”
Noah menganggukkan kepala pelan.
Madam Elish memperhatikan pria itu beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum samar.
“Saya rasa murid saya cukup melelahkan malam ini.”
“Tidak.”
Jawaban Noah datang jauh lebih cepat dibanding biasanya.
“Saya mengerti." Wanita itu undur diri dari sana.
Noah menunggu hingga langkah Madam Elish benar-benar menghilang sebelum akhirnya membuka pintu ruang ganti perlahan.
Lilly masih berdiri di depan cermin besar.
Gaun champagne keemasan itu masih melekat indah di tubuhnya, hanya bagian rambutnya yang kini sedikit lebih longgar dibanding saat pesta berlangsung.
Ia tampak sedang mencoba melepaskan salah satu antingnya sendiri. Namun jemarinya sedikit kesulitan mencapai pengait kecil di belakang telinga.
Lilly baru menyadari kehadiran Noah ketika pantulan pria itu muncul di cermin. Mata hazelnya sedikit melebar samar.
“Yang Mulia?”
Noah berjalan mendekat dengan tenang.
“Madam Elish baru saja keluar.”
Lilly mengangguk kecil.
“Beliau baru saja selesai memarahiku.”
“Itu tidak terdengar seperti marah.”
Lilly terkekeh kecil pelan.
“Mungkin karena Madam selalu terdengar seperti sedang memarahiku.”
Noah berhenti tepat di belakang Lilly.
Tatapannya jatuh pada anting yang masih berusaha dilepas gadis itu.
“Diam.”
Lilly sedikit membeku samar sebelum akhirnya menurut.
Noah mengangkat tangannya perlahan. Jemarinya bergerak hati-hati menyentuh bagian belakang telinga Lilly untuk membuka pengait kecil anting tersebut.
Napas Lilly sedikit tertahan.
Anting pertama akhirnya berhasil dilepas. Lalu yang kedua. Noah meletakkan keduanya di meja rias tanpa banyak bicara.
Lilly menatap pantulan mereka dari cermin beberapa detik sebelum akhirnya berbicara pelan, Napasnya tertahan. Bahkan dadanya turun dengan hembusan napas lega.
“Terima kasih.”
Noah tidak langsung menjawab.
Tatapannya jatuh pada kalung kecil yang masih melingkar di leher Lilly.
“Balik badanmu sedikit.”
Lilly menurut pelan.
Noah mengangkat kedua tangannya menuju pengait kalung di belakang leher gadis itu. Jarak mereka kini terasa jauh lebih dekat dibanding sebelumnya. Bahkan Lilly dapat merasakan hembusan napas pelan Noah dan sedikit aroma sisa sampanye.
Lilly bahkan juga bisa merasakan samar aroma musk wood yang melekat pada pakaian Noah.
Sementara pria itu membuka pengait kalung tersebut perlahan tanpa tergesa. Ketika kalung itu akhirnya terlepas, Noah memegangnya beberapa detik sebelum meletakkannya di meja rias.
“Kau hebat malam ini.”
Suara Noah terdengar rendah di tengah ruangan yang sunyi itu.
Lilly terdiam mendengar pujian tersebut. Tatapannya turun samar sebelum tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Ia memandang pantulan Noah dari balik cermin.
“Itu berkat Madam Elish.”
Noah tetap berdiri di belakangnya.
Tatapan pria itu jatuh pada pantulan mereka berdua di cermin besar tersebut.
Gaun champagne keemasan.
Kemeja hitam formal Noah yang kini sedikit lebih longgar dibanding saat pesta.
Dan dua sosok yang kini berdiri jauh lebih dekat dibanding ketika mereka terseret skandal.
“Kuharap ke depannya kau seperti ini.”
Lilly mengangkat pandangannya perlahan.
Noah masih memandang pantulan mereka di cermin.
“Lebih berani menjawab mereka.”
Noah tidak memintanya menjadi sempurna.
Tidak memintanya menjadi bangsawan ideal.
Pria itu hanya memintanya untuk tidak membiarkan dirinya diinjak. Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menenangkan dibanding seluruh pujian yang ia terima malam ini.
Senyum kecil perlahan muncul di wajah Lilly.
“Aku akan berusaha.”
Noah memandangnya beberapa detik lebih lama.
Lalu perlahan mengangguk kecil.
Dan malam itu, di tengah ruang ganti yang mulai sunyi setelah pesta panjang—
Lilly merasa dirinya benar-benar mulai memiliki tempat di sisi pria itu.
******