NovelToon NovelToon
Suami Yang Tak Di Inginkan

Suami Yang Tak Di Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11. Queen sangat kesal

Queen masih memegang ponselnya sambil mengetik balasan untuk Nathan.

Queen : Maaf ya, ternyata belum selesai juga.

Tak lama balasan masuk.

Nathan : Santai, aku tunggu dan kamu jangan stres.

Queen langsung mengembuskan napas lega.

Setelah itu ia meletakkan ponselnya dan kembali duduk.

"Sudah?" tanya Revan tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.

"Sudah, Pak."

"Bagus."

Queen kembali menatap tumpukan revisi di depannya. Awalnya ia mengira pekerjaannya sudah hampir selesai.

Sampai Revan menggeser beberapa lembar dokumen ke arahnya.

"Ini."

Queen melihat halaman yang ditunjuk Revan.

Lalu halaman berikutnya, dan berikutnya lagi. Perlahan wajahnya berubah.

"Tunggu."

"Hm?"

"Ini masih harus direvisi?"

"Iya."

Queen langsung menunjuk tiga halaman itu bergantian.

"Tiga lembar?"

"Iya."

"Pak..."

"Hm?"

"Satu lembar ini aja kemarin saya ngerjain lebih dari satu jam."

Revan mengangguk santai. "Iya."

Queen mulai panik. "Kalau tiga lembar berarti..."

"Kurang lebih tiga sampai empat jam."

"Apa!" Suara Queen langsung menggema.

Ibu Farah yang kebetulan lewat di depan pintu sampai menoleh. "Ada apa lagi?"

"Ma!" Queen menunjuk dokumennya. "Ini masih ada tiga lembar!"

Ibu Farah melirik sekilas. "Loh bagus dong."

"Bagus dari mana?"

"Artinya tinggal tiga."

Queen hampir menangis. "Ma, satu lembar aja bisa satu jam lebih!"

Ibu Farah malah tertawa lalu melanjutkan langkahnya.

Revan menahan senyum.

Sedangkan Queen sudah menjatuhkan kepalanya ke meja. "Kenapa harus ada skripsi sih?"

"Karena itu syarat lulus."

"Pak, saya tidak butuh kenyataan pahit."

"Kamu harus menerimanya."

Queen mengerang pelan.

Namun yang membuatnya semakin putus asa adalah saat Revan kembali membuka catatan di laptopnya.

"Dan ini baru revisi minggu ini."

Queen perlahan mengangkat kepala. "Maksudnya?"

Revan menatapnya datar. "Kamu pikir setelah tiga lembar ini selesai, skripsimu langsung selesai?"

Queen membeku. "Hah, memangnya belum selesai juga?"

"Tentu belum."

"Pak..."

Revan menutup laptopnya sebentar lalu menyandarkan tubuh ke kursi. "Queen, kalau kamu bisa konsisten di minggu ini."

Queen langsung memperhatikan.

"Mungkin dalam satu minggu kamu bisa menyelesaikan semua ini."

Mata Queen sedikit berbinar.

"Tapi."

"Kenapa selalu ada tapi sih?"

Revan mengabaikan protesnya. "Kalau kamu tidak konsisten dan justru sibuk jalan-jalan, nongkrong, pacaran."

Queen mulai merasa tidak enak.

"Maka skripsi kamu kemungkinan baru bisa selesai satu bulan lagi."

Wajah Queen langsung pucat.

Revan melanjutkan dengan tenang. "Bahkan yang lebih parahnya lagi berbulan-bulan."

"Hah!"

"Saya serius dan sedang tidak bercanda."

Queen langsung terduduk lemas.

Revan menatapnya serius. "Masalahmu bukan tidak bisa."

Queen terdiam.

"Kamu sebenarnya mampu."

Kalimat itu membuat Queen menoleh.

"Tapi kamu kurang konsisten."

Kali ini Queen tidak membantah. Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu Revan benar. Berkali-kali ia menunda revisi dan memilih melakukan hal lain. Akibatnya skripsinya tidak pernah benar-benar bergerak maju bahkan ia harus mengulang di tahun berikutnya.

Revan menunjuk tiga lembar di depannya. "Kalau kamu serius dan konsisten, ini semua pasti selesai.

Tatapan pria itu kemudian bertemu dengan mata Queen.

"Tapi kalau kamu sendiri tidak bisa serius, tidak ada dosen pembimbing yang bisa menolongmu."

Ruangan mendadak hening. Queen menatap lembar revisinya cukup lama. Lalu menghela napas panjang.

"Pak."

"Hm?"

"Kalau saya benar-benar niat..."

Revan mengangguk.

"Saya bisa lulus tahun ini?"

Untuk sesaat Revan terdiam. Kemudian pria itu tersenyum tipis. "Saya tidak akan mau datang lagi ke rumahmu, kalau saya tidak yakin kamu bisa lulus."

Queen membeku. Entah kenapa kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.

Sedangkan Revan sudah kembali membuka laptopnya. "Nah."

Queen masih menatapnya.

"Dari pada melamun." Pria itu mengetuk meja pelan. "Kita selesaikan lembar pertama."

Queen langsung menarik napas dalam-dalam. Lalu meraih laptopnya lagi. "Baik, Pak Revan."

Kali ini bukan karena dipaksa. Melainkan karena ia benar-benar ingin menyelesaikannya.

Tanpa terasa waktu terus berjalan. Suasana rumah yang tadinya masih ramai perlahan menjadi semakin tenang. Hanya terdengar suara ketikan keyboard dan sesekali lembaran kertas yang dibalik.

Queen masih duduk di depan laptopnya. Matanya fokus pada layar. Jari-jarinya terus bergerak mengetik tanpa henti.

Sedangkan di seberangnya, Revan juga masih sibuk dengan laptopnya sendiri. Sesekali pria itu memeriksa hasil revisi Queen lalu kembali mengetik sesuatu.

Waktu berlalu begitu saja, hingga tanpa sadar. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Di sofa dekat jendela, Ibu Farah yang sejak tadi menemani mereka mulai beberapa kali menguap.

"Huaaah..."

Wanita itu mengusap matanya pelan. Beberapa menit kemudian ia kembali menguap lagi. Revan yang sedang membaca dokumen akhirnya mengangkat kepala.

"Tante."

"Hm?" Ibu Farah menoleh.

"Tante sebaiknya istirahat saja."

Ibu Farah tersenyum kecil. "Tidak apa-apa."

"Saya rasa sebentar lagi Queen selesai."

Mendengar namanya disebut, Queen yang sedang mengetik langsung mengangkat kepala.

"Kenapa?"

Namun fokusnya masih berada pada laptop.

Sedangkan Revan kembali melihat hasil revisinya. "Tinggal sedikit lagi."

Queen mengangguk lalu kembali mengetik.

Beberapa detik kemudian ia baru benar-benar memperhatikan wajah ibunya.

"Memangnya jam berapa sih, Ma? Ko Mama udah ngantuk aja."

Ibu Farah langsung menatap putrinya seolah tidak percaya. "Kamu serius nanya?"

"Iya."

"Tuh lihat sendiri."

Queen mengernyit lalu mengikuti arah telunjuk ibunya. Matanya langsung jatuh pada jam dinding.

DEG.

11.20 PM.

"Astaga!"

Queen langsung tersentak dari kursinya. "Apa!"

Ibu Farah sampai tertawa. "Nah akhirnya sadar juga."

Queen membelalak lebar. "Sebelas lewat dua puluh?"

"Iya."

"Mana mungkin!"

Revan yang berada di seberangnya terlihat sangat tenang.."Mungkin."

"Tapi tadi kan masih jam delapan!"

"Itu tiga jam yang lalu."

Queen langsung memegang kepalanya. "Astaga..."

Kini dalam hidupnya ia fokus mengerjakan skripsi sampai lupa waktu. Dan saat itulah sesuatu terlintas di pikirannya.

"Nathan!"

Queen langsung meraih ponselnya yang tergeletak di samping laptop. Layar ponsel menyala dan seketika wajahnya berubah.

Ada beberapa panggilan tidak terjawab. 4 missed call. Queen langsung membeku. Belum lagi sederet pesan yang memenuhi layar.

Nathan : Aku pulang dulu ya kalau gitu.

Nathan : Kamu fokus aja sama skripsinya.

Nathan : Nanti kabarin kalau sudah selesai.

Queen menatap layar ponselnya dengan wajah syok.

Beberapa detik ia hanya diam. Lalu perlahan mengangkat kepala. Tatapannya langsung mengarah pada Revan. Tatapan kesal.

Revan yang sedang menutup laptopnya mengangkat alis. "Kenapa?"

"Pak Revan."

"Hm?"

"Saya gagal jalan sama pacar saya."

"Itu pilihan yang berat."

"Pacar saya udah nungguin dari jam delapan."

Revan mengangguk. "Iya."

"Terus sekarang dia pulang."

"Iya."

Queen sampai melotot. "Kok Bapak santai banget sih?!"

Sudut bibir Revan terangkat tipis.

Karena untuk pertama kalinya sejak mengenal Queen. Gadis itu benar-benar tenggelam dalam skripsinya sampai lupa pada dunia luar. Dan entah kenapa, fakta itu membuat Revan merasa cukup puas.

"Kalau tidak salah..." ujar Revan santai sambil membereskan dokumennya. "Kamu sendiri yang bilang ingin cepat lulus."

Queen langsung terdiam.

"Dan malam ini." Revan mengetuk pelan hasil revisinya. "Kamu membuat kemajuan yang jauh lebih besar, itu di luar ekspetasi saya."

Queen membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Karena sialnya, ia tidak bisa membantah.

Melihat ekspresi putrinya, Ibu Farah langsung tertawa sampai memegang perut.

Sedangkan Queen hanya bisa mendesah panjang. Lalu menatap pesan Nathan sekali lagi.

"Habislah saya besok."

Revan berdiri sambil membawa laptopnya. "Sampaikan terima kasih dari saya."

Queen membelalak. "Hah!"

"Karena kalau dia tidak sabar menunggu, mungkin kamu sudah kabur dari tanggung jawab kamu sejak jam delapan."

"Pak Revan!"

Ibu Farah langsung tertawa semakin keras.

Sementara Revan berjalan menuju pintu dengan ekspresi tenang, meninggalkan Queen yang sekarang tidak tahu harus kesal kepada dosennya, skripsinya, atau kepada dirinya sendiri karena ternyata malam ini ia benar-benar lupa waktu.

1
Amoera
Queen jangan khianatin pak Revan. kasian dia. lagian mau aja sama sih mokondo🤣
Arditya
cie... akhirnya nikah juga🤭
It's me Sky: hhheeee🤣
total 1 replies
Arditya
sejauh ini keren banget thoor👍
Siska Amelia
good
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 1 replies
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉






Saling support sabi kali ya😉
It's me Sky: wihh makasih kakak/Smile/
total 1 replies
Reichan Muhammad
ya ampun torrr keren bgttt kmu punya 4 novel yg on going semua
It's me Sky: iya kakak, selama lagi ada ide jalan terus🤭
total 1 replies
Arditya
jadi inget inggit dan mas Arya, tapi ini kemasannya beda top lah thoor👍
It's me Sky: wkwkwkwkwk🤭
total 1 replies
Arditya
wajah di baca ini cerita menarik banget, remajanya dapet kisahnya fresh. suka sma Revan dan Queen. sukses thoor/Smile/
It's me Sky: makasih bnyk/Hey/
total 1 replies
Arditya
seru banget thoor😍
It's me Sky: wihhh makasihhh/Tongue/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!