NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:945
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Melodi Misterius Dari Dalam Lautan

Evelyn dan Sofia masih berada di area festival, tak jauh dari tempat Damian berada. Mereka telah menghabiskan waktu hampir satu jam untuk mencoba berbagai wahana dan mencicipi makanan di setiap kedai. Sisa waktu bebas mereka tinggal satu jam lagi sebelum harus kembali ke restoran tempat bus sekolah terparkir, di mana para guru sudah menanti.

Namun, malam yang semakin larut sama sekali tidak menyurutkan semangat Sofia. Gadis berambut keriting gantung itu seolah tidak memiliki rasa lelah. Kondisinya berbanding terbalik dengan Evelyn yang tampak linglung dan didera banyak pikiran setelah kejadian mengerikan beberapa jam lalu, saat ia hampir mati tertabrak truk di jalan raya.

"Eve! Ini sangat seru! Aku sudah lama sekali tidak naik komidi putar seperti ini!" teriak Sofia riang pada Evelyn yang duduk di bangku replika kuda di sampingnya.

Evelyn hanya membalas dengan anggukan samar. Alih-alih bersemangat seperti Sofia, isi kepalanya justru penuh dengan bayang-bayang dua pria misterius yang menolongnya tadi: Benjamin sang Mage naga, dan Damian si Raja Demon.

Evelyn sudah bertemu Benjamin dua kali, tetapi saat ini ia tengah bersusah payah mengingat kembali detail wajah Damian serta ucapan aneh pria itu tentang 'belahan jiwa'. Gadis itu merasa familier dengan guratan wajah tampan yang dingin tersebut.

Detik berikutnya, sebuah ingatan mendadak melintas di benaknya, membuat napas Evelyn tercekat. Dia... pria itu... Dia iblis yang kemarin malam kulihat di hutan. Pria yang ditemui Ibu! batin Evelyn mendesis.

Memori mengerikan kemarin malam berputar kembali. Saat itu, Evelyn diam-diam mengikuti ibunya, Karina, yang menyelinap ke dalam hutan.

Tanpa diduga, Karina ternyata menemui sang Raja Demon untuk menebus kesalahan besar. Karina secara tidak sengaja telah membunuh salah satu pelayan Damian menggunakan peralatan ghost hunter milik mendiang suaminya demi membayar utang pada Bos Hunter di Kota Luminara. Rencana awal Karina adalah memburu makhluk immortal untuk diserahkan kepada bosnya agar utang mereka lunas. Namun sial, Karina justru menolak mentah-mentah permintaan Damian yang menginginkan Evelyn sebagai gantinya.

Penolakan itu berakhir tragis. Karina tewas mengenaskan, menjadi santapan segerombolan demon liar tepat di depan mata kepala Evelyn sendiri. Sementara itu, Damian pergi begitu saja dari lokasi kejadian. Evelyn yang syok melihat pemandangan berdarah tersebut langsung jatuh pingsan karena serangan kanker otaknya mendadak kambuh.

Beruntung, Damian sebenarnya kembali lagi untuk menyelamatkan gadis itu dan membawanya pulang ke rumah sewa mereka yang kumuh. Namun, karena Damian langsung pergi sebelum Evelyn siuman, gadis itu tidak pernah tahu bahwa sang Raja Demon-lah yang telah menolongnya.

Aku harus membalaskan dendam Ibu, batin Evelyn mencengkeram pegangan komidi putar dengan erat. Ia terlanjur mengira bahwa Damian adalah dalang di balik kematian tragis ibunya.

"Eve, kau mendengarku tidak, sih? Dari tadi kau hanya diam saja seperti bicara dengan patung. Jangan bilang sakit kepalamu kambuh lagi?" tanya Sofia cemas, membuyarkan lamunan Evelyn tepat saat komidi putar mulai melambat.

Evelyn tersentak dari lamunannya. "Aku dengar, kok. Iya, ini seru sekali! Aku tidak apa-apa, Sofia. Kepalaku sudah mendingan sekarang," dalih Evelyn berbohong.

Padahal, pelipisnya kembali berdenyut nyeri. Rasa sakit itu sempat menyerangnya tiba-tiba di area zebra cross tadi, membuatnya limbung dan hampir mati tertabrak truk. Beruntung, dua pria asing itu langsung merapalkan mantra misterius yang seolah menghentikan waktu seketika.

Evelyn masih kebingungan dengan kejadian supranatural itu. Ia tidak tahu bahwa Damian dan Benjamin pun sama bingungnya; mereka berdua datang murni karena insting batin kuat yang menuntun mereka secara tak terencana.

"Baguslah. Ayo kita turun, Eve. Wahananya sudah berhenti," ajak Sofia seraya melompat turun. "Tapi aku ingin membeli jagung bakar dulu. Kalau kau mau duluan ke bus, jalan saja duluan."

"Sepertinya aku akan menunggumu saja. Tapi aku mau ke toilet dulu untuk membersihkan wajah," sahut Evelyn.

"Ya sudah, aku tunggu di kedai jagung bakar, ya," ucap Sofia melambaikan tangan.

Evelyn mulai melangkah mencari toilet umum. Namun sayang, toilet di sekitar area festival sangat penuh dan mengantre panjang.

Dengan terpaksa, ia berjalan ke arah toilet yang berada di dekat pesisir pantai—tempat yang sedari tadi mati-matian ingin ia hindari. Sebab, sejak berada di restoran pesisir pantai tersebut, Evelyn merasa sangat tidak nyaman. Di dalam kepalanya terus bergema suara nyanyian aneh yang seolah memanggil-manggil namanya dari arah lautan lepas.

"Apa boleh buat," desah Evelyn frustrasi seraya melangkah masuk ke toilet pantai yang sepi.

Dan benar saja, begitu ia mendekati wastafel, nyanyian misterius itu kembali berdengung, menembus gendang telinganya dengan nada yang menyayat hati. Evelyn mencoba mengabaikannya dan mulai membasuh wajahnya dengan air dingin.

"Me-nya-tu-lah... pa-da... be-la-han... ji-wa-mu..."

Begitulah lirik gaib yang berdendang di kepalanya. Jika ia seorang penakut, mungkin Evelyn sudah berlari tunggang-langgang sambil berteriak histeris. Namun, karena kondisi kesehatannya yang buruk, Evelyn lagi-lagi mengira bahwa nyanyian itu hanyalah halusinasi akibat stadium lanjut dari kanker glioblastoma yang dideritanya.

"Menyatulah pada belahan jiwamu?" Evelyn terkekeh hambar sembari menatap pantulan wajah pucatnya di cermin wastafel. "Hah, ada-ada saja. Mentang-mentang hidupku tidak akan lama lagi, aku sepertinya mulai gila."

Ia menyeka sisa air di wajahnya dengan kasar. "Tapi... nada nyanyian itu mirip sekali dengan suara putri duyung yang sering kutonton di ponsel. Ah, lupakan. Tidak mungkin hal konyol seperti itu ada di dunia nyata. Jangan gila, Evelyn. Setidaknya, jangan mati dulu untuk sekarang. Aku harus bertahan hidup dan membalaskan dendam Ibu pada pria iblis itu. Setidaknya, dendam itu memberiku alasan untuk berjuang di detik-detik terakhir sebelum kematian menjemputku."

"Da-tang-lah... te-mui... be-la-han... ji-wa-mu..."

Suara itu mengalun lagi, kini terdengar jauh lebih keras dan bergaung di dalam rongga dadanya.

"Datanglah menemui belahan jiwamu? Apa lagi kali ini—"

Kalimat Evelyn terputus. Tubuhnya mendadak kaku dan mematung seolah dikendalikan oleh kekuatan tak kasat mata. Kesadarannya masih utuh, namun di luar kendali logikanya, kedua kakinya mulai melangkah sendiri keluar dari toilet. Langkah demi langkah menuntun tubuhnya berjalan lambat, mengikuti alunan melodi gaib itu menuju ke arah bibir pantai yang gelap dan sunyi.

Langkah kaki Evelyn sontak terhenti begitu telapak kakinya mulai menyentuh dinginnya air laut.

"Tidak... apa yang terjadi denganku?!" ucapnya panik.

Namun, sepasang kakinya seolah tidak memiliki rem. Tubuhnya terus dipaksa melangkah masuk ke dalam gulungan lautan yang semakin dalam dan gelap. Evelyn celingukan dengan raut wajah pias. Sial baginya, suasana di sekitar pantai benar-benar sepi senyap. Tidak ada satu pun murid Vesperania High School atau para guru yang terlihat. Tampaknya semua orang masih terlalu sibuk bersenang-senang di area festival.

"Aku tidak mau mati sekarang! Tolong, berhentilah!" teriak Evelyn frustrasi sembari memukul-mukul permukaan air laut.

Segala usahanya sia-sia. Kini air laut sudah merangkak naik sebatas dadanya. "Jangan sekarang, kumohon... Argh, sialan!"

Blub... blub...

Gulungan ombak besar menerjang, menenggelamkan seluruh kepalanya ke dalam pelukan samudra. Evelyn memejamkan mata bersiap menyambut maut. Namun, alih-alih mati kehabisan napas karena tenggelam, keajaiban justru terjadi. Evelyn masih hidup, dan anehnya, ia bisa menghirup udara dengan sangat lega di dalam air.

Pada detik yang sama, air laut di hadapannya mendadak terbelah secara ajaib, membentuk sebuah lorong panjang menyerupai terowongan raksasa. Seketika itu juga, sekawanan ubur-ubur berpendar dan alga laut yang memancarkan cahaya kebiruan mulai berkerumun, mengelilingi dinding lorong air yang tadinya gelap gulita.

Evelyn mematung di tempatnya berdiri. Ia kini berpijak di atas pasir kedalaman laut—sebuah tempat yang mustahil bagi manusia normal untuk bertahan hidup tanpa tabung oksigen. Namun, kekaguman itu hanya bertahan beberapa detik.

Suara gaib yang sedari tadi mengiang di kepalanya kembali memanggil, memaksa fisiknya untuk terus melangkah maju menelusuri lorong tersebut.

"Kenapa... bagaimana bisa aku menjadi seperti ini?" bisik Evelyn tak percaya, meratapi takdir aneh yang tengah menyeretnya kian jauh dari dunia manusia.

Langkah kakinya terus menyeretnya semakin jauh ke dalam pelukan lautan. Evelyn yang awalnya menolak keras, kini mulai tampak pasrah. Rasa takutnya perlahan terkikis, digantikan oleh rasa terpesona saat menyaksikan keajaiban makhluk-makhluk laut bersinar yang berenang mengelilingi lorong air tersebut.

Tepat di hadapannya, sebuah gerbang berbentuk pusaran air yang menyala terang telah menanti. Di sekeliling gerbang itu ditumbuhi oleh hamparan bunga cantik nan wangi. Kelopak bunga tersebut berwarna merah keemasan, dengan bentuk menyerupai bola-bola lampu unik yang memancarkan pendar cahaya redup yang menenangkan.

"Indah sekali..." bisik Evelyn takjub.

Jemarinya bergerak menyentuh kelopak bunga itu sekilas, sebelum akhirnya tubuhnya melangkah maju dan tertelan sepenuhnya oleh pintu gaib tersebut.

Zztt!

Begitu melewati gerbang air, pandangan Evelyn langsung disuguhi oleh pemandangan yang mencengangkan. Di hadapannya kini terpampang nyata sebuah bangunan megah, luas, dan arsitekturnya luar biasa indah bak istana kerajaan kuno. Itulah Istana Abyssal Trench—jantung pertahanan kaum mermen yang tersembunyi.

"Wow... tempat apa ini?!"

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!