NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pengadilan Sang Singa Tua

Kediaman utama keluarga Dirgantara berdiri kokoh di kawasan elit Menteng, sebuah rumah bergaya kolonial yang memancarkan aroma kekuasaan, warisan dan rahasia yang terkubur rapat. Pagi itu, kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung di halaman rumput yang luas namun atmosfer di dalam ruang kerja utama sudah terasa panas membakar.

​Tuan Besar Albert Dirgantara duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari kayu jati tua. Singa tua itu bersedekah dada, wajahnya yang dipenuhi kerutan usia tampak sekeras batu karang. Di depannya, layar televisi besar masih menayangkan berita darurat mengenai penangkapan Bram dan Arsen.

​Tok! Tok!

​Pintu kayu jati itu terbuka Adrian melangkah masuk dengan langkah tegap, meskipun bahu kanannya masih sedikit kaku akibat balutan perban di balik jas hitam barunya. Di sebelahnya, Renata berjalan dengan anggun mengenakan dress formal berwarna hitam pekat yang sopan namun tegas. Keberanian terpancar jelas dari sepasang matanya.

​"Duduk," suara Albert terdengar berat, serak namun masih memiliki resonansi otoritas yang mutlak.

​Adrian dan Renata duduk di dua kursi kulit di hadapan sang kakek. Keheningan mencekam sempat menyelimuti ruangan selama beberapa saat hanya terdengar detak jam bandul antik di sudut ruangan.

​Albert menatap Adrian dengan pandangan menusuk "Kamu telah membuat kegaduhan yang luar biasa Adrian. Mengirim paman dan sepupumu sendiri ke penjara membiarkan nama Dirgantara Group menjadi santapan empuk media massa sejak subuh tadi. Saham kita turun lima persen dalam pembukaan pasar dua jam lalu."

​"Saham bisa kembali naik Kakek," sahut Adrian tenang, tanpa ada nada gentar sedikit pun di suaranya. "Tetapi membiarkan seorang pembunuh dan koruptor memimpin divisi strategis perusahaan akan menghancurkan fondasi Dirgantara Group dari dalam hingga ke akarnya."

​Adrian mengeluarkan sebuah tablet dan meletakkannya di atas meja Albert. Di layarnya tertera salinan buku agenda hitam Arsen dan video pengakuan Rendra yang sudah terenkripsi dengan aman.

​"Semua bukti sudah bersih dan mutlak Kakek, Bram dan Arsen menggelapkan dana pelabuhan Surabaya bukan untuk memajukan bisnis melainkan untuk menutupi hutang judi kasino mereka di luar negeri dan membayar uang tutup mulut atas kasus pembunuhan Maya, kakak dari Renata," lanjut Adrian sambil melirik lembut ke arah wanita di sampingnya.

​Albert mengalihkan pandangan tajamnya kepada Renata. Sepasang mata tua itu seolah sedang menguliti jiwa Renata, mencari tahu motif asli dari gadis yang selama ini ia kira hanya seorang pustakawati biasa.

​"Jadi... kamu adalah adik dari wanita malam itu?" tanya Albert, nadanya datar namun sarat akan tekanan psikologis. "Kamu mendekati cucuku masuk ke dalam rumah ini menggunakan pernikahan kontrak yang kalian rekayasa, hanya untuk membalas dendam?"

​Renata tidak menunduk ia menegakkan punggungnya, menatap langsung ke dalam manik mata sang penguasa tua.

​"Saya masuk ke sini untuk mencari keadilan yang telah diinjak-injak oleh keluarga Anda, Tuan Besar Albert," jawab Renata, suaranya terdengar bergetar namun penuh penekanan yang berani. "Kakak saya bukan sekadar 'wanita malam'. Dia adalah korban kebiadaban Arsen dan Bram. Uang dan kekuasaan Dirgantara mungkin bisa membungkam hukum selama satu tahun, tetapi darah kakak saya terus berteriak meminta keadilan. Jika Anda menganggap pencarian keadilan ini sebagai ancaman bagi saham Anda maka saya tidak akan meminta maaf."

​Adrian langsung menggenggam tangan Renata di atas pangkuannya menyalurkan kekuatan dan menegaskan posisinya di depan sang kakek bahwa ia akan membela Renata sampai titik darah penghabisan.

​Albert terdiam sudut bibirnya perlahan berkedut dan di luar dugaan, sebuah tawa rendah dan serak keluar dari mulut sang singa tua.

​"Luar biasa..." Albert menggelengkan kepalanya, "Selama satu tahun ini, aku tahu ada yang tidak beres dengan laporan keuangan Bram. Aku juga tahu Arsen terlibat dalam kematian wanita itu tetapi aku tidak memiliki bukti fisik yang cukup kuat karena mereka menyembunyikannya dengan sangat rapi."

​Albert menatap Adrian dan Renata bergantian dengan binar mata yang kini berubah menjadi kepuasan yang aneh. "Adrian... kamu benar-benar cucuku yang paling mirip denganku. Kamu kejam, penuh perhitungan dan tahu kapan harus memotong daging yang membusuk sebelum menyebar ke seluruh tubuh."

​Albert lalu menunjuk Renata dengan jari telunjuknya yang gemetar karena usia. "Dan kamu, gadis kecil... keberanianmu mengingatkanku pada mendiang nenek Adrian. Kebanyakan wanita akan gemetar dan menangis di ruangan ini, tetapi kamu berdiri tegak menuntut hakmu."

​Albert menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Hukum tetaplah hukum. Biarkan Bram dan Arsen membusuk di penjara. Aku tidak akan mengeluarkan satu rupiah pun untuk menyewa pengacara bagi mereka. Mulai hari ini, Adrian... aku menyerahkan sepuluh persen saham pribadi milikku kepadamu. Kamu adalah penguasa tunggal Dirgantara Group tanpa ada gangguan lagi."

​Adrian mengangguk hormat. "Terima kasih, Kakek."

​"Tapi ingat..." Albert memajukan tubuhnya kembali, menatap Renata dengan tajam. "...pernikahan kontrak kalian. Aku tahu itu palsu pada awalnya. Namun, Dirgantara Group tidak boleh menghadapi skandal baru tentang pernikahan rekayasa setelah kasus korupsi ini. Jadi pilihannya hanya dua, kalian benar-benar bercerai sekarang dan Renata pergi dengan membawa uang kompensasi, atau..."

​Adrian langsung memotong ucapan kakeknya sebelum Albert sempat menyelesaikan kalimatnya.

​"Pilihan kedua, Kakek," ujar Adrian dengan nada mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Ia mengangkat tangan Renata yang berada di genggamannya memperlihatkan cincin pernikahan mereka. "Tidak akan ada perceraian. Bulan depan, kami akan menggelar resepsi pernikahan yang sesungguhnya di depan seluruh kolega bisnis dan media. Renata adalah istriku, sekarang dan selamanya."

​Renata menoleh menatap Adrian dengan mata yang berkaca-kaca, merasakan kesungguhan yang teramat dalam dari setiap kata yang diucapkan pria itu. Singa tua Albert hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman restu yang menandakan bahwa pengadilan keluarga hari ini telah resmi berakhir dengan kemenangan mutlak di tangan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!