Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.
Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Ketegangan yang melanda lorong sekolah sejak siang tadi ternyata belum selesai begitu saja. Sepanjang perjalanan pulang meski menggunakan kendaraan yang berbeda, suasana di antara Gwen dan Kiyo masih terasa kaku dan berisi amarah yang belum mereda, persis seperti kabel listrik yang terbuka dan siap menyambar siapa saja yang terlalu dekat. Perasaan marah itu masih menyala nyala, tertahan di balik rahang yang terus mengeras dan kepalan tangan yang belum juga rileks.
Begitu melangkah masuk ke lobi rumah mewah keluarga Anderson, langkah kedua kakak beradik itu mendadak berhenti bersamaan. Mereka tertegun tak percaya. Di ruang tengah tepat di atas sofa berlapis kulit yang mahal, Maxwell Anderson sudah duduk tegak menunggu. Pria itu menatap lurus ke depan dengan pandangan yang tajam dan mengintimidasi, sementara tangannya menggenggam erat segelas wiski yang disajikan tanpa es batu.
Maxwell jarang sekali pulang secepat ini. Biasanya ia baru akan muncul saat tengah malam tiba atau bahkan memilih bermalam saja di kantor perusahaannya. Kehadirannya yang tiba-tiba di jam selarut ini adalah sinyal bahaya yang jelas bagi siapa pun yang ada di rumah itu.
Joy si anak bungsu yang sedari tadi duduk bersandar di sofa seberang sambil asyik menatap layar ponselnya, langsung meletakkan benda canggih itu begitu saja. Ia menatap kedua kakaknya bergantian dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan, ada rasa iba namun bercampur pula keinginan untuk mengejek keadaan.
"Kalian sudah pulang?" suara Maxwell terdengar rendah namun berat, getarannya saja sudah cukup membuat siapa pun yang mendengarnya merinding ketakutan.
Gwen dan Kiyo hanya bisa diam terpaku di tempat mereka berdiri. Mereka saling melirik sekilas, lalu menundukkan kepala dalam-dalam. Tak ada lagi sisa kegarangan atau keberanian yang biasa mereka tunjukkan sebagai penguasa di sekolah saat berhadapan langsung dengan sosok ayah mereka.
"Sini. Duduk," perintah Maxwell singkat dan jelas.
Dengan langkah yang ragu dan pelan, mereka berdua mendekat lalu duduk di kursi yang posisinya berseberangan dengan sang ayah. Maxwell meletakkan gelas kaca yang dipegangnya ke atas meja, menimbulkan bunyi dentuman pelan namun terasa penuh tekanan.
"Papa sudah dengar kabar dari sekolah," Maxwell memulai pembicaraan, matanya menatap tajam ke arah Kiyo lalu beralih menatap Gwen. "Dua putra kebanggaan Anderson, saling pukul seperti anak jalanan di koridor sekolah. Memalukan."
"Pa, itu sebenarnya—" Kiyo mencoba membuka suara untuk menjelaskan, namun kalimatnya langsung terpotong begitu saja saat ayahnya mengangkat tangan memberi isyarat berhenti.
"Diam!" bentak Maxwell. "Papa tidak mau dengar alasan sampah. Kalian itu menyandang nama Anderson! Nama yang dibangun dengan darah dan keringat, bukan untuk dikotori oleh drama picisan kalian di sekolah!"
Maxwell lalu berdiri dari duduknya dan berjalan perlahan mengitari deretan sofa itu, menciptakan tekanan batin yang sangat kuat bagi kedua anaknya. "Dua bersaudara tidak seharusnya berantem hanya karena seorang gadis. Kalian tahu betapa konyolnya itu? Kalian adalah masa depan perusahaan, bukan pemeran utama di sinetron remaja murahan."
Joy ikut menyahut dari tempat duduknya sambil melipat kedua tangan di dada. "Iya, gila banget. Apa sih hebatnya si Bianca itu? Sampai Kak Kiyo sama Kak Gwen harus baku hantam di depan orang banyak. Kayak nggak ada cewek lain aja di Jakarta," cetusnya dengan nada yang meremehkan.
Maxwell berhenti berjalan tepat di belakang kursi tempat Gwen dan Kiyo duduk. "Gadis yang pernah menginap itu... siapa namanya? Bianca?"
Keduanya hanya mengangguk pelan tanpa berani menoleh atau menatap wajah ayah mereka.
"Dia memang terlihat lugu, Papa akui itu," lanjut Maxwell dengan nada bicara yang lebih berhati-hati. "Tapi kalian harus tetap waspada. Kita tidak tahu asal-usul aslinya secara mendalam. Zaman sekarang, wajah polos bisa jadi kedok yang paling mematikan. Papa tidak ingin kalian kehilangan akal sehat hanya karena masalah cinta yang nggak jelas itu."
Maxwell menghela napas panjang berusaha menenangkan emosinya sendiri yang mulai naik kembali. "Papa tidak mau dengar ada keributan lagi. Sekarang, kalian berdua berbaikan di depan Papa. Minta maaf."
Gwen dan Kiyo saling melempar pandangan yang penuh ketidaksukaan dan rasa benci yang sangat kentara. Bekas luka lebam di wajah masing-masing seolah menjadi pengingat abadi atas rasa sakit yang mereka timbulkan satu sama lain siang tadi. Namun di bawah tatapan tajam Maxwell yang seolah siap membunuh, mereka sama sekali tidak punya pilihan lain selain menurut.
"Maafin gue, Yo," ucap Gwen dengan nada datar dan hampir tanpa ada perasaan sama sekali.
"Iya, gue juga minta maaf, Kak," balas Kiyo dengan nada yang sama dingin dan kaku.
"Pelukan," perintah Maxwell lagi.
Dengan rasa berat hati yang luar biasa, kedua saudara yang tinggi badannya hampir sama itu berdiri lalu berpelukan sekilas saja, sebuah gerakan formalitas yang terasa sangat kaku dan hambar. Setelah dirasa cukup, Maxwell mengibaskan tangannya memberi isyarat agar mereka pergi.
"Masuk ke kamar kalian. Renungkan apa yang Papa katakan," pungkas Maxwell mengakhiri pertemuan itu.
Kiyo dan Gwen langsung berjalan cepat menuju tangga ke lantai atas tanpa berani menoleh ke belakang lagi. Joy pun ikut bangkit dari duduknya dan berniat menyusul ke atas karena masih merasa penasaran dengan kelanjutan drama kakak-kakaknya itu.
Namun baru saja sampai di lorong lantai atas tepat di depan pintu kamar masing-masing, Gwen mendadak menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap tajam ke arah Kiyo. Sikap sopan dan damai yang mereka tunjukkan di depan ayah tadi langsung hilang begitu saja.
"Yo, asal lo tau aja," desis Gwen dengan suara pelan agar tidak terdengar sampai ke lantai bawah. "Gue pastikan Bianca bakal lebih memilih gue. Dia butuh pelindung, bukan orang posesif yang cuma bisa bikin dia ketakutan."
Kiyo terkekeh pendek penuh sindiran, matanya berkilat menantang kakaknya. "Jangan mimpi, Kak. Dia nyaman sama gue karena gue yang paling tahu cara memperlakukan dia. Lo cuma pengen jadi pahlawan kesiangan yang sebenernya nggak dia butuhin."
"Lo bener-bener nggak tau diri ya?" Gwen mencengkeram kuat bahu adiknya. "Lo pikir dia bakal suka sama cowok yang bikin dia nangis di koridor tadi?"
"Dia nangis karena lo yang mulai duluan, bego!" balas Kiyo sambil menyentakkan tangan Gwen dari bahunya.
Suara pembicaraan mereka mulai meninggi kembali. Joy yang sedari tadi diam-diam menguping di balik tiang lorong akhirnya merasa sudah tidak tahan lagi. Ia segera melangkah keluar lalu berdiri tepat di tengah-tengah mereka dengan wajah yang sangat kesal.
"STOP! Ya ampun, bisa berhenti nggak sih?!" teriak Joy sambil berkacak pinggang. "Nggak capek apa dari tadi pagi bahas Bianca terus? Kuping gue panas dengerinnya!"
Gwen dan Kiyo serentak menoleh ke arah adik bungsu mereka itu.
"Daripada kalian berdua berantem lagi dan bikin Papa ngamuk jilid dua, mending kalian bantuin gue sekarang," lanjut Joy dengan nada memerintah yang manja. "Bantu gue pilih outfit yang bagus buat besok. Besok gue mau date bareng Jonathan, dan gue harus kelihatan perfect."
Kiyo memutar bola matanya dengan rasa malas yang mendalam, rasa tertariknya langsung hilang sama sekali. "Sama Gwen aja sana. Gue mau tidur," ucapnya singkat sebelum memutar gagang pintu kamarnya lalu masuk begitu saja tanpa menunggu jawaban.
Joy mendengus kesal lalu beralih menatap Gwen dengan pandangan memohon. "Kak Gwen... bantuin ya? Ya?"
Gwen menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya yang terasa sangat lelah. "Aduh Joy, gue lagi capek banget, sumpah. Lagian lo pilih sendiri aja lah. Biasanya meski gue sama Kiyo udah capek-capek kasih saran, lo juga nggak mau dengerin dan tetep pake pilihan lo sendiri, kan?"
"Ih, kok gitu sih?!" Joy menghentakkan kakinya ke lantai kayu lorong dengan rasa kesal, persis seperti anak kecil yang tidak mendapatkan mainan yang diinginkannya.
"Udah ah, gue mau mandi terus tidur. Bye," ucap Gwen sambil buru-buru masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu rapat-rapat sebelum Joy sempat mengeluarkan protes lebih lanjut.
Joy berdiri sendirian di tengah lorong yang kini kembali sepi. Ia menatap pintu kamar kedua kakaknya bergantian dengan wajah yang sangat cemberut.
"Ih! Dasar kakak-kakak nggak berguna! Awas ya nanti kalau butuh apa-apa sama gue!" gerutunya dengan suara keras agar bisa terdengar sampai ke dalam kamar mereka.
Dengan langkah yang kasar dan kesal, Joy akhirnya masuk ke kamarnya sendiri lalu membanting pintu sebagai tanda protesnya.