Sebuah pernikahan yang begitu megah, suatu hal yang selama ini diimpikan oleh Devina, tiba-tiba dihancur begitu saja oleh seseorang yang selama ini sangat dia benci.
Bukan hanya pernikahannya, tapi perusahaan keluarganya pun mengalami kehancuran.
"Aku sanggup membuat perusahaan ayahmu kembali berjalan, tapi dengan satu syarat, kamu harus menikah denganku!"
Itulah yang diucapkan oleh Abian Pratama, seorang CEO dingin dan kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Tak berhenti sampai disitu, Devina masih ingin memanfaatkan keberadaan orang tuanya Abian. Dia dengan sengaja mengatakan ingin ini, ingin itu. Dan sang mama mertua dengan sigap segera memerintah Abian untuk mengikuti apapun yang Devina inginkan.
"Bian, Devina ingin ini! Cepat buatkan!"
"Bian, Devina ingin itu! Cepat belikan!"
"Bian..."
"Bian..."
Abian merasakan kepala pusing tujuh keliling. Dia adalah korban yang sebenarnya. Dia yang kurang tidur dan seluruh badannya terasa pegal-pegal, tapi mamanya malah memanjakan Devina, dan terus menyuruhnya untuk melakukan apapun yang Devina inginkan. Benar-benar membuatnya kesal.
"Seharusnya aku berpikir 1001 kali sebelum menikahi gadis itu," keluhnya dengan nada menyesal.
Di dunia ini tidak ada satu orang pun yang membuatnya takut, kecuali mamanya. Karena itu, selagi ada mamanya, dia tidak bisa berkutik.
Abian pun segera menelepon adiknya, yang kini menjadi dokter muda di Amerika.
"Ada apa, Kak?" tanya Ziano setelah mengangkat telepon dari sang kakak.
"Tolong bantu kakak. Bagaimana pun caranya, kamu harus membuat Mama dan Papa segera kembali ke Amerika," pinta Abian dengan menekan.
Ziano malah menolak. "Justru dengan Mama dan Papa ada disana, aku merasa merdeka. Aku bisa berkencan dengan pacar-pacarku."
Abian langsung mengumpat. "Dasar playboy tengik!"
Ziano malah tertawa. "By the way, sorry aku gak bisa datang ke Indonesia. Aku harus menghandle pekerjaan Papa disini. Aku sudah melihat foto istrimu, istrimu cantik juga. Kakak nemu dimana cewek secantik itu?"
Abian menjawab dengan ngasal. "Di lereng Gunung Merapi."
Ziano mendesis kesal. "Ya elah, aku serius bertanya."
Abian berkata dengan nada menekan. "Pokoknya aku gak mau tahu, kamu harus segera membuat Mama dan Papa kembali ke Amerika. Kalau gak, aku akan membocorkan rahasiamu pada Mama."
Ziano menghela nafas. Kakaknya memang agak rese. Jika perintahnya tidak dituruti, pasti akan mengeluarkan ancaman yang membuatnya tidak berkutik. Bagi kedua saudara itu hal yang paling menakutkan memang sang mama.
"Ya ampun, tega amat sih sama adikmu sendiri," protes Ziano. "Oke, oke, nanti aku akan telepon Mama dan Papa."
Setelah menutup telepon, Abian pun tersenyum smirk. Saat ini, dia sedang berada di kedai gado-gado Mpok Lastri, yang setiap harinya selalu dipenuhi pembeli.
Dia hanya bisa mencelos saat melihat ada puluhan orang yang sedang mengantri berdempetan untuk bisa mendapatkan gado-gado legend itu.
"Sepertinya dia sengaja ingin membeli gado-gado ini, agar bisa mengerjaiku," gumam Abian dengan nada kesal.
Tak lama kemudian, asistennya pun datang. "Maaf, saya datang terlambat, Tuan."
"Bagaimana pun caranya, aku ingin mendapatkan gado-gado di kedai ini secepat mungkin," perintah Abian dengan nada tegas.
Asisten Zayn langsung mengangguk. "Baik, Tuan."
Abian pun segera masuk ke dalam mobil. Dia sangat merasa tidak nyaman dengan suasana yang ramai disana .
Asisten Zayn bergegas berjalan mendekati pemilik gado-gado itu. Seketika wajahnya menjadi pucat setelah mendengar nama Abian Pratama. Dia dengan buru-buru segera mengutamakan pesanan dari Abian.
...****************...
"Sudah lama Mama tidak makan gado-gado. Semua makanan khas Indonesia memang sangat enak," gumam Bianca sambil menikmati gado-gado yang dibeli oleh Abian.
Abian memang sengaja membeli tiga bungkus gado-gado untuk Devina dan orang tuanya.
Devina pun tersenyum sambil menikmati makanannya. "Iya, gado-gado ini memang sangat legend, Ma."
Dylan menawarkan gado-gadonya pada Abian. "Kamu gak mau coba? Dulu, mamamu awalnya gak suka. Tapi setelah mencobanya, langsung ketagihan."
Abian langsung menggelengkan kepala. "Aku tidak suka, Pa."
Bianca tiba-tiba meletakan sendok dan garpu di atas piring, dengan berat hati berkata, "Sebenarnya Mama dan Papa ingin tinggal lama disini. Tapi Ziano tiba-tiba telepon, disana ada masalah yang cukup urgent. Jadi kami harus segera kembali ke Amerika hari ini."
Devina yang sedang lahap menikmati gado-gado, dia langsung terpaku, itu artinya... mulai hari ini dia hanya akan tinggal berdua dengan Abian?
Seketika hatinya menjadi deg-degan, apalagi saat dia melihat cara Abian menatap tajam padanya. Dia hanya bisa mengigit bibir bawahnya, entah bagaimana nasibnya setelah ini.
pasti elian cuma ngaku2 doang....😡