Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Chen Yang, Festival Lampion, dan Bayangan di Balik Cahaya
Langkah kaki Yu Fan bergema di lorong sunyi menuju ruangan Dekan. Di dadanya, terlelap seorang anak perempuan mungil yang nafasnya teratur, seolah dunia di luar sana tidak sedang bergejolak. Saat pintu besar itu terbuka, Dekan dan Wakil Dekan yang sedang memeriksa gulungan kuno serentak mendongak. Mata mereka membelalak, bukan karena kehadiran Yu Fan, melainkan karena sosok kecil yang ia bawa.
"Yu Fan... siapa anak yang kau bawa itu?" tanya Dekan, suaranya mengandung nada keheranan yang tak tertutupi.
Yu Fan membungkuk hormat, lalu dengan hati-hati ia meletakkan anak itu di sofa empuk di sudut ruangan. Ia menceritakan segalanya: tentang reruntuhan yang terbuka karena darahnya, tentang akar pohon spiritual yang hidup, dan bagaimana anak ini tersegel di dalam giok emas di jantung reruntuhan tersebut.
Dekan mendekat, mengamati aura yang terpancar dari tubuh si anak. Tangannya yang keriput bergetar saat merasakan denyut energi yang sangat murni. "Ini luar biasa... Yu Fan, jika dugaanku benar, anak ini adalah sosok kuno yang telah tertidur selama ribuan tahun. Namun, dia adalah versi yang berbeda dari dirinya yang asli."
"Versi yang berbeda?" Yu Fan mengernyitkan dahi. "Apa maksud Senior?"
"Begini," jawab Dekan sambil mengelus janggutnya yang tipis. "Tubuh aslinya mungkin sudah hancur atau mati dalam perang besar puluhan ribu tahun lalu. Seseorang, entah siapa meletakkan sisa-sisa jiwanya di istana itu, di pusat energi yang sangat murni. Selama ribuan tahun, ia menyerap energi tersebut dan 'bereinkarnasi' dalam bentuk fisik yang baru. Dia bukan lagi orang yang sama dari masa lalu; dia adalah eksistensi baru yang lahir dari benih lama. Itulah sebabnya dia kehilangan seluruh ingatannya."
"Bagaimana Senior bisa begitu yakin?" tanya Yu Fan lagi.
Wakil Dekan menyahut, "Pengetahuan tentang reinkarnasi energi murni adalah dasar yang umum diketahui oleh para kultivator tingkat tinggi, meski jarang terjadi. Namun..." Ia menatap Yu Fan dengan tajam. "Yang lebih mengherankan bagiku adalah kau, Yu Fan. Kau baru saja pergi beberapa hari dan sekarang kau sudah berada di Master Tingkat 4 Tahap Akhir? Kecepatan ini... ini benar-benar tidak masuk akal."
Yu Fan terdiam. Ia teringat kilasan memori di bawah tanah tadi. Dulu, aku juga terbangun di sebuah gua gunung, dikelilingi pecahan giok... apakah aku dan anak ini memiliki asal-usul yang serupa? Namun, ia menyimpan pikiran itu untuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba, anak perempuan itu menggeliat. Matanya yang bulat terbuka perlahan, menatap langit-langit ruangan yang asing. Ia langsung terduduk dan menatap sekeliling dengan cemas, tangannya gemetar kecil. Namun, saat matanya bertemu dengan Yu Fan, ketakutan itu mereda.
"Kakak..." suaranya kecil dan merdu. "Wajahmu... aku merasa pernah melihatmu di suatu tempat yang sangat jauh, tapi aku tidak ingat."
Yu Fan menurunkan anak itu dan mendudukkannya di sebelahnya. Saat itulah, pemandangan aneh terjadi. Kedua tetua akademi yang biasanya sangat berwibawa dan menakutkan, tiba-tiba berubah. Wajah serius Dekan meleleh menjadi senyum lebar yang terlihat konyol.
"Aduh, aduh... lihat pipinya yang tembam itu! Menggemaskan sekali!" seru Wakil Dekan dengan nada tinggi yang tidak pernah didengar Yu Fan sebelumnya.
"Sini, Nak... kakek punya sesuatu untukmu," Dekan merogoh sakunya, dan seperti sulap, tangannya mengeluarkan permen warna-warni dan kue manis yang aromanya memenuhi ruangan.
Anak itu ragu sejenak, lalu matanya berbinar melihat makanan manis itu. Ia mulai memakan permen itu dengan gembira, membuat kedua kakek itu tertawa terbahak-bahak seolah mereka baru saja mendapatkan cucu kandung. Yu Fan hanya bisa tersenyum kaku sambil berkeringat dingin melihat "sisi lain" dari pimpinan akademinya.
"Ehem!" Dekan tiba-tiba berdehem keras setelah sadar Yu Fan memperhatikannya. "Yu Fan, apa yang kau lihat tadi... harus dirahasiakan dari seluruh murid. Mengerti?"
"Tentu, Senior," jawab Yu Fan cepat.
Anak itu tiba-tiba menggenggam tangan Yu Fan erat-erat. "Kakak, aku tidak ingat namaku. Bisakah Kakak memberiku nama?"
Yu Fan berpikir sejenak. Ia melihat cahaya matahari yang masuk melalui jendela, memantul di wajah anak itu yang cerah dan membawa kebahagiaan bagi sekitarnya. "Namamu adalah Chen Yang (Matahari Pagi). Kau menyukai itu?"
"Chen Yang! Aku Chen Yang!" Anak itu melompat-lompat kegirangan, berlari mengelilingi meja Dekan sambil tertawa lepas.
"Senior," Yu Fan menatap Dekan dengan serius. "Aku meminta izin agar Chen Yang tinggal di sini di bawah pengawasan kalian. Aku akan menghadapi misi-misi berbahaya ke depan, dan aku tidak bisa selalu menjaganya. Bersama kalian, dia akan aman."
"Tentu saja!" Wakil Dekan menjawab paling cepat. "Kami sudah lama tidak memiliki cucu untuk dimanjakan. Kami akan menjaganya seperti permata akademi."
Yu Fan berlutut di depan Chen Yang, mengelus kepalanya dengan lembut. "Chen Yang, jadilah anak yang baik di sini. Jangan merepotkan kedua kakek ini, ya? Kakak akan sering berkunjung." Chen Yang mengangguk patuh, meski matanya menunjukkan sedikit kesedihan saat Yu Fan berdiri untuk pamit.
Festival Lampion dan Dinginnya Lin Xueru
Seminggu berlalu. Koridor akademi yang biasanya tenang tanpa kehadiran Putri Yuexin, tiba-tiba pecah oleh suara omelan yang sangat familiar.
"Ugh! Misi macam apa itu? Hutan berlumpur, monster yang bau, dan sama sekali tidak ada penginapan mewah! Dekan benar-benar keterlaluan!"
Yu Fan yang sedang duduk di ambang jendela besar koridor tertawa kecil. Tak salah lagi, itu adalah Yuexin yang baru pulang dari misinya. Saat Yuexin melihat Yu Fan, wajahnya yang cemberut langsung berubah menjadi kegembiraan yang luar biasa. Ia berlari mendekat, namun langkahnya terhenti saat ia merasakan aura Yu Fan.
"Tunggu... Yu Fan?! Kau... kau sudah Master Tahap Akhir?!" teriaknya kaget. "Bagaimana bisa? Aku baru pergi sebentar dan kau sudah melompat sejauh ini? Benar-benar monster!"
Meskipun mengomel, matanya memancarkan kebanggaan. "Sudahlah! Lupakan kultivasi sejenak. Kau harus ikut aku ke kota! Hari ini adalah Festival Lampion, dan aku tidak mau melewatkannya. Ayo, ini perintah!"
Yuexin menarik tangan Yu Fan tanpa menunggu jawaban. Sepanjang perjalanan menuju kota, ia terus mengoceh tentang betapa lelahnya dia, namun Yu Fan bisa melihat bahwa gadis itu sangat bahagia bisa kembali bersamanya. Yu Fan merasa hangat; setidaknya ada warna dalam hidupnya yang penuh misteri ini.
...****************...
Malam jatuh di kota, namun kegelapan sama sekali tidak terasa. Ribuan lampion berwarna merah dan emas terbang ke langit, memantulkan cahaya di sungai yang membelah kota. Bau makanan enak merayap di setiap sudut jalan sate bakar, bakpao panas, dan manisan buah.
"Wah! Lihat itu, Yu Fan! Tarian Barongsai!" Yuexin menarik Yu Fan ke kerumunan. Mereka makan dengan lahap, tertawa melihat atraksi jalanan, dan sejenak melupakan beban sebagai kultivator. Namun, Yuexin yang terlalu bersemangat akhirnya mabuk setelah meminum arak buah terlalu banyak. Ia mulai mengigau dan menyanyi tidak jelas.
"Aku... aku adalah Ratu! Semua lampion ini adalah rakyatku! Yu Fan... kau adalah pengawal pribadiku yang paling tampan..." gumamnya sambil bersandar di bahu Yu Fan.
Yu Fan tersenyum, menyandarkannya di bangku taman yang agak sepi. Saat itulah, ia melihat sosok berbaju putih di sudut jalan yang gelap. Lin Xueru.
Xueru sedang berbicara serius dengan seorang wanita paruh baya yang juga memakai seragam Sekte Teratai Putih. Tak lama, wanita itu pergi menggunakan platform teratainya. Yu Fan mendekat, ingin menanyakan luka Xueru saat di hutan kemarin.
"Xueru," panggil Yu Fan.
Xueru berbalik. Matanya yang dingin menatap Yu Fan, dan ia sedikit terkejut merasakan ranah batin Yu Fan yang sudah jauh melampauinya. "Yu Fan... kau sudah Master Tahap Akhir? Cepat sekali." Ucapnya dalam hati.
Yu Fan mencoba mencairkan suasana dengan menawarkan sebungkus manisan buah. "Kau mau? Festival ini sangat indah, jangan hanya berdiri di kegelapan."
Xueru diam sejenak, lalu mengambil satu buah manisan itu. Ia menatap kembang api yang meledak di langit dengan tatapan yang sulit diartikan. "Nikmatilah saat-saat ini, Yu Fan. Karena setelah kita lulus dari akademi, kau dan aku adalah musuh."
Yu Fan tertegun. "Apa maksudmu?"
"Sekte Pedang Ilahi tempatmu bernaung dan Sekte Teratai Putih-ku telah bermusuhan selama berabad-abad. Kepentingan sekte berada di atas segalanya. Di luar gerbang akademi ini, aku tidak akan segan-segan mengayunkan pedangku untuk membunuhmu," ucap Xueru dengan suara yang tidak bergetar sedikit pun.
"Itu tidak perlu terjadi, Xueru," sahut Yu Fan bijaksana. "Kita bisa mengubah sejarah itu. Aku akan terus tumbuh kuat, bukan untuk membunuh, tapi untuk melindungi orang-orang di sekitarku... termasuk dirimu."
Xueru tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh kepahitan. "Kau terlalu baik, Yu Fan. Dan kebaikanmu akan membunuhmu suatu hari nanti. Jangan terlalu mudah percaya pada orang lain."
Sebelum terbang pergi, Xueru membisikkan sebuah puisi kuno:
"Bunga teratai mekar di atas darah, pedang tersembunyi di balik tawa. Saat langit runtuh dan bumi terbelah, jangan cari aku di antara cahaya."
Ia melesat pergi tanpa menoleh lagi. Yu Fan menghela napas panjang, memikirkan beban apa yang sebenarnya dipikul wanita itu. Ia kembali ke Yuexin, memapahnya dan membawanya terbang kembali ke akademi.
"Heehee... Yu Fan... kau tahu... kau sangat bau... tapi aku suka..." Yuexin mengigau sambil memeluk leher Yu Fan erat di udara. Yu Fan hanya menggelengkan kepala, menyerahkannya pada teman-teman sekamarnya sesampainya di asrama.
...****************...
Yu Fan kembali ke kota sendirian saat tengah malam. Puncak festival telah berlalu, namun sisa-sisa kegembiraan masih terasa. Ia melompat ke puncak sebuah pagoda tertinggi, melipat tangan di dada, memperhatikan denyut kehidupan kota dari ketinggian.
Tiba-tiba, pendengarannya yang tajam menangkap sebuah teriakan di distrik kumuh, tempat bagi mereka yang tidak mampu. Yu Fan melesat secepat kilat.
Di sebuah gang sempit, ia melihat seorang ibu yang memeluk anak laki-lakinya yang berusia sekitar 10 tahun. Di depan mereka berdiri tiga preman berwajah sangar yang memegang pisau.
"Kau berani menyenggolku, hah?! Bayar dengan nyawamu atau biarkan ibumu menghibur kami malam ini!" teriak si pemimpin preman sambil menendang anak itu hingga menghantam tembok.
"Ibu! Jangan!" teriak sang anak sambil merintih kesakitan.
Saat tangan preman itu hendak menyentuh bahu sang ibu, sebuah bayangan merah melintas. SLASSSHH!
Dalam sekejap, kepala preman itu terpisah dari tubuhnya. Darah menyembur ke dinding. Dua temannya yang lain gemetar hebat saat melihat sesosok pemuda berdiri di depan mereka dengan mata merah menyala dan aura merah pekat yang menekan jiwa mereka.
"Orang Nomor Dua... Yu Fan?!" teriak mereka ketakutan. Mereka mengenali wajah itu dari papan pengumuman akademi. Tanpa pikir panjang, mereka lari terbirit-birit sambil berteriak minta ampun.
Yu Fan membantu sang ibu bangkit. "Maafkan aku karena terlambat." Ia mengeluarkan pil penyembuhan dan memberikannya pada anak laki-laki itu. Seketika, luka memar di tubuh sang anak hilang.
"Terima kasih... Tuan Pahlawan!" sang anak menatap Yu Fan dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman. "Aku ingin menjadi sepertimu suatu hari nanti!"
Yu Fan memberikan 15 koin emas kepada ibu itu. "Gunakan ini untuk memulai usaha kecil. Jaga anakmu baik-baik." Ia menepuk bahu anak laki-laki itu. "Jadilah kuat, agar kau tidak perlu melihat ibumu menangis lagi."
Yu Fan mengantar mereka sampai ke pintu rumah mereka yang reyot, lalu menghilang di balik kegelapan. Ia tidak sadar bahwa tindakannya dari tadi dipantau oleh dua pasang mata dari atap yang berbeda.
Lin Xueru menatapnya dengan perasaan campur aduk. Namun di sisi lain, Mei Er, seorang murid wanita dari sekte lain yang terkenal licik, menjilat bibirnya. "Yu Fan... kekuatanmu, kebaikanmu, dan aura gelapmu itu... aku harus memilikimu. Kau akan menjadi boneka paling sempurna yang pernah kubuat."
Yu Fan kembali ke akademi, menyadari bahwa semakin tinggi ia terbang, semakin banyak bayangan yang mencoba menariknya jatuh. Namun, demi Chen Yang, demi Yuexin, dan demi misteri dirinya sendiri, ia tidak akan berhenti.