Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEK. 16
TING!
> “Bersiaplah, aku ingin mengajakmu dinner nanti malam.”
(Tertanda Max)
Sebuah notifikasi yang masuk membuat sang empunya ponsel refleks menoleh. Alis Alya sempat berkerut saat melihat nomor tanpa nama yang tertera di layar. Namun, begitu membaca isi pesannya, ekspresinya berubah bingung.
“Dari mana dia dapat nomor ponselku?” gumamnya pelan.
“Siapa?” tanya Ayi penasaran.
Alya menunjukkan layar ponselnya. Ayi langsung mengangguk paham.
“Oh, nggak heran sih kalau dia bisa dapat nomor lo. Dia kan orang terkenal, pasti punya banyak koneksi yang bisa diandalkan. Jadi, lo nggak perlu kaget begitu,” ucap Ayi santai.
Alya pun mengerti. Benar juga apa yang dikatakan Ayi. Orang seperti Max pasti memiliki koneksi di mana-mana. Hal seperti ini mungkin sudah biasa baginya.
“Ngajakin dinner, cieee…” goda Ayi sambil menyenggol bahu Alya jahil.
“Sedih banget rasanya. Bentar lagi bestie gue mau jadi bini orang,” lanjutnya, berpura-pura mengusap air mata.
“Najis ih! Nggak usah lebay, woy! Meskipun nanti gue nikah, nggak bakal ada yang berubah, kok. Gue pasti masih sering ngumpul kayak gini.”
> Karena pernikahan gue nanti cuma sebatas di atas kertas semata, lanjut Alya dalam hati.
“Serius? Bukannya kalau udah nikah waktu lo bakal habis buat ngurusin suami?” sahut Widya penasaran.
“Seharusnya begitu. Tapi kemarin gue sempat ngomong sama Max soal masa depan gue nanti. Dia bilang bakal ngasih gue kebebasan. Dia nggak akan ngekang sama sekali, jadi masa depan gue tetap ada di tangan gue sendiri,” jawab Alya sambil tersenyum tipis.
“Seriusan? Berarti lo tetap bisa kuliah dan ngejar cita-cita lo dong?” Ayi membulatkan mata tak percaya.
Alya mengangguk membenarkan.
BRAK!
“Kalau gitu, sebagai bentuk perayaan, gue traktir belanja!” seru Ayi penuh semangat. “Akhirnya sahabat gue yang cantik jelita ini tetap bisa lanjut menggapai cita-citanya. Dan yang paling penting, kita masih bakal bareng di kampus yang sama!”
Ayi langsung berdiri, diikuti Widya dan Alya yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah hebohnya. Gadis itu menarik pergelangan tangan Alya menuju salah satu butik dress terkenal.
Ayi berniat membelikan Alya dress baru untuk dinner nanti malam bersama calon suaminya. Widya dan Alya sampai dibuat bingung sendiri. Yang akan pergi dinner jelas Alya, tetapi yang paling bersemangat justru Ayi.
Meski begitu, Alya merasa bersyukur memiliki sahabat setulus mereka. Alya sendiri adalah tipe gadis yang cuek terhadap penampilan. Ia lebih nyaman tampil sederhana, rapi, dan natural.
Ia bahkan tidak terlalu suka berdandan layaknya kebanyakan wanita. Namun, dengan gayanya sendiri, Alya tetap terlihat cantik. Untungnya, ia memiliki Ayi yang seorang model dan Widya yang berbakat di bidang make-up.
Untuk malam ini, kedua sahabatnya itu memiliki peran masing-masing demi membuat Alya tampil sempurna. Setelah puas berbelanja, mereka pun pulang untuk bersiap menghadapi dinner nanti malam.
Tak terasa, malam akhirnya tiba.
Alya telah siap dengan dress hitam berbahan beludru yang kontras dengan kulit putihnya. Dress itu menjuntai hingga bawah lutut, dengan belahan kecil di paha kanan yang memberi kesan elegan sekaligus anggun.
Rambutnya dicepol tinggi, sementara beberapa helai anak rambut sengaja dibiarkan terurai lembut di sisi wajahnya, memperlihatkan leher jenjang miliknya. Kalung pemberian Max yang pernah ia terima sebelumnya kini menggantung manis di lehernya. Anting senada pun melengkapi penampilannya malam itu.
Dompet kecil berwarna senada menghiasi tangannya. Ditambah pulasan lipstik bernuansa netral, penampilan Alya malam ini benar-benar berbeda.
“Perfect! Apa gue bilang? Kalau lo dandan begini, cantiknya keterlaluan!” puji Ayi puas dengan hasil tangan dingin Widya.
Tok!
Tok!
“Apa sudah siap? Max menunggu di bawah, Nak,” ujar Tyo dari balik pintu.
“Udah dong, Om. Lihat nih, cantikan, kan?” sela Widya bangga.
Tyo tersenyum hangat. “Cantik. Anak Papa memang selalu cantik.”
Ucapan tulus itu membuat Alya tersenyum malu.
“Udah sana, buruan. Pangerannya udah nungguin tuh,” goda Ayi sambil mendorong pelan tubuh Alya.
Mereka tertawa bersama sebelum akhirnya keluar kamar dan mengantar Alya hingga ke depan pintu rumah.
Di ujung sana, Max sudah berdiri menunggu. Pria itu mengenakan pakaian bernuansa senada dengan dress Alya, membuat mereka terlihat seperti pasangan sungguhan.
Alya sedikit heran menyadarinya.
Sementara itu, begitu melihat Alya berjalan mendekat, Max terpaku beberapa detik. Tanpa sadar, satu kata lolos dari bibirnya.
“Cantik…”
Untuk pertama kalinya, ia melihat Alya berdandan dengan full make-up. Dan entah kenapa, penampilan gadis itu berhasil membuat pandangannya sulit berpaling.
“Apa yang kau lakukan di sini?” suara bariton berat Max mengalun di telinga Alya.
Alya menoleh lalu tersenyum lembut. “Aku cuma memberi dua anak kecil itu sedikit uang. Tadi aku lihat mereka mengorek sampah untuk cari makan.”
Ia menunjuk dua bocah kecil yang berdiri tak jauh dari sana.
Max mengikuti arah telunjuk Alya. Di seberang jalan, tampak dua anak berpakaian compang-camping berdiri kaku sambil menatap mereka polos.
“Kau merasa kasihan?” tanya Max datar.
“Eum… iya.” Alya mengangguk pelan. “Andai waktu itu Anda tidak datang menolong Papa saya, mungkin nasib saya juga akan seperti mereka.”
> Meskipun cara menolongmu terasa aneh karena harus menjalani pernikahan kontrak konyol itu, gerutunya dalam hati.
Max menatap Alya dari atas sampai bawah, seolah sedang menilai sesuatu dari gadis itu. Setelah beberapa saat, ia berdeham singkat.
“Ayo masuk.”
Alya menurut dan berjalan lebih dulu menuju restoran. Sementara itu, Max diam-diam mengeluarkan ponselnya.
“Urus kedua bocah itu. Kalau mereka masih punya orang tua, beri pekerjaan yang layak untuk keluarganya. Kalau yatim piatu, antar ke panti asuhan terbaik dan berikan donasi.”
Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Max langsung memutus sambungan telepon lalu menyusul Alya.
Entah kenapa, perlahan pikirannya mulai terbuka terhadap gadis itu. Namun, ia sendiri tidak tahu apa alasannya.
“Pesan apa pun yang kau inginkan,” ucap Max sambil menatap Alya.
Alya membuka daftar menu dan membacanya dengan saksama. “Aku mau sirloin medium rare tanpa kentang. Kentangnya diganti salad aja. Minumnya cranberry juice sama air mineral pakai lemon satu.”
Lalu ia mengangkat kepala. “Kalau Anda mau apa, Tuan?”
“Steak sirloin medium rare dengan saus peppercorn dan red wine cabernet sauvignon,” jawab Max singkat kepada pelayan.
Pelayan itu mengangguk sopan sebelum meninggalkan ruangan.
Kini, di ruang privat VVIP restoran bintang lima yang dipesan Max, hanya ada keheningan yang menggantung canggung. Tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara.
“Tidak perlu terlalu tegang. Saya tidak memakan orang,” ujar Max santai, meski wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.
Alya malah semakin bingung. Apa pria di hadapannya ini memang tidak pernah tersenyum? Atau jangan-jangan senyum adalah pantangan bagi seorang Max Alexander Wijaya? Atau… pria itu takut tersenyum karena khawatir cepat keriput?
> Hah! Gue mikir apa sih? Masa perkara senyum doang dipikirin sampai segitunya? batin Alya mengomel sendiri.
“Aku nggak tegang. Cuma… cuma lapar. Iya, aku lapar aja,” jawabnya gugup.
“Maaf, Tuan,” lanjutnya refleks.
Max langsung menyipitkan mata. “Tidak bisakah kau bicara lebih santai dengan saya? Kenapa harus seformal itu?” protesnya tidak suka.
Alya mengerut bingung. “Lah? Anda sendiri ngomongnya formal, masa aku nggak boleh?”
“Kau…”
“Kenapa, Pak? Aku salah ngomong? Kalau nggak begini, terus harus gimana?”
Max mengembuskan napas panjang.
> Sudah kubilang. Perempuan adalah makhluk paling merepotkan, batinnya frustrasi.
“Terserah kau saja. Senyamannya.” akhirnya ia mengalah.
“Ya sudah, Tuan saja.”
“Saya bukan majikanmu. Jadi, tidak seharusnya kau memanggil saya seperti itu.”
“Lho? Katanya terserah. Aku nyamannya begitu.”
“Apa pun selain ‘Tuan’,” tekan Max keras kepala.
“Terus apa dong? Masa harus manggil Max? Kan nggak sopan. Papa selalu bilang kita harus sopan sama yang lebih tua. Kalau nggak mau—”
“Lupakan.” Max cepat-cepat memotong ucapan Alya sebelum gadis itu melanjutkan ceramahnya.
Alya makin bingung dibuatnya. Ia bahkan baru ingin membuka mulut lagi ketika makanan mereka akhirnya datang.
“Silakan dinikmati.”
“Terima kasih!” ucap Alya ramah kepada pelayan.
Tanpa diduga, Max mengambil piring Alya lalu memotong steak gadis itu menjadi bagian-bagian kecil dengan telaten.
Alya memperhatikan semua itu diam-diam sambil tersenyum kecil.
> Dingin, datar, kaku… tapi ternyata cukup perhatian, batinnya menilai.
Seumur hidup, Max memang belum pernah berpacaran, apalagi dekat dengan wanita. Namun, perhatian kecil seperti ini bukan hal asing baginya. Sejak kecil ia terbiasa melihat sang ayah memperlakukan ibunya dengan lembut, bahkan hingga sekarang.
“Makanlah,” ujar Max sambil menyodorkan kembali piring Alya.
Alya menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih.”
Setelah itu, keduanya menikmati makan malam dengan tenang.
Beberapa saat kemudian, dinner mereka pun selesai. Kini Alya dan Max berada di atas kapal, duduk berdampingan menikmati indahnya malam. Semilir angin berembus lembut membawa hawa dingin. Tanpa banyak bicara, Max melepaskan jasnya lalu menyampirkannya ke tubuh Alya agar gadis itu tidak kedinginan.
Lalu, di tengah gemerlap malam dan suara debur air yang tenang, Max menatap Alya dalam diam sebelum akhirnya berkata pelan—
“Selamat ulang tahun.”