Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?
Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.
Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Air yang Menyala Biru
Perahu dayung kayu milik Mbah Jarot melaju pelan, membelah keheningan labirin bakau yang terasa semakin mencekam. Suara kecipak air yang diaduk oleh dayung kayu tua terdengar konstan, beradu dengan gesekan daun-daun nipah yang sesekali menyapu pundakku. Sisa-sisa aroma minyak solar dari pelabuhan perlahan menguap, digantikan oleh bau pekat lumpur rawa dan sisa pembusukan vegetasi purba yang basah.
Di dalam kegelapan yang nyaris gulita ini, aku masih berlutut di lantai perahu. Kepala Kala terasa berat di atas pangkuanku. Napas cowok itu tidak lagi sependek tadi setelah meneguk sebotol air tawar bersih, namun tubuh tingginya masih kelihatan sangat lemas. Dia diam, matanya terpejam, menikmati sisa-sisa kelembapan yang perlahan mengembalikan kesadarannya. Keadaan ini membuatku kikuk. Aku yang biasanya tidak bisa diam dan selalu punya kalimat makian untuk para kurir senior yang hobi memotong jalur kirimanku, mendadak membisu. Ada desir aneh yang menggelitik dadaku setiap kali kulit dinginnya bergesekan dengan kain celanaku yang lembap.
Tiba-tiba, tanpa bersuara, Kala menggerakkan lengan kanannya yang besar. Dia mengulurkan tangannya melewati bibir perahu yang lapuk, membiarkan jemarinya tenggelam ke dalam air rawa yang hitam pekat.
"Hei, jangan sembarangan celupkan tangan. Air di sini banyak pecahan kaca atau sirip pari rawa," tegurku pelan, berniat menarik lengannya kembali ke atas papan perahu.
Namun, kalimatku terputus di tenggorokan.
Tepat saat jemari Kala menyentuh permukaan air, sebuah riak kecil tercipta. Dan dari titik riak itu, sesuatu yang mustahil mulai menyebar. Air rawa yang tadinya sehitam tinta mendadak memancarkan pendaran cahaya biru safir yang sangat pekat. Cahaya itu tidak berpendar sekilas, melainkan merambat cepat seperti tinta yang tumpah di atas kain sutra, menerangi kolong-kolong akar bakau yang meliuk-liuk di kanan-kiri kami.
"Astaga..." bisikku tertahan. Mataku melotot lebar.
Cahaya biru itu begitu terang hingga memantul di permukaan wajah Kala, menegaskan garis rahangnya yang tegas dan beberapa sisik keperakan yang mulai kembali berkilau di sepanjang pelipis matanya. Rawa yang tadinya terasa busuk dan menakutkan, dalam sekejap berubah menjadi lorong magis yang luar biasa indah. Ikan-ikan kecil yang berenang di bawah perahu kelihatan jelas, dikelilingi oleh pendaran neon biru yang berdenyut selaras dengan detak jantung.
Sebelum rasa takjubku hilang, pergelangan tangan kiriku mendadak terasa menyengat. Rasa perih yang awalnya kukira sisa cakaran kucing liar tempo hari di gudang sortir kini berubah menjadi sensasi hangat yang menjalar ke seluruh lengan.
Aku refleks menarik tanganku, membalikkan telapak tangan di depan dada.
Di balik kegelapan malam, bekas guratan tipis yang membentuk pola aneh mirip sulur tanaman di kulitku—yang selama ini kuanggap cuma tato iseng buatan ayahku saat aku masih kecil—ikut bereaksi. Tato itu menyala. Warnanya biru menyala, memancarkan pendaran cahaya yang sama persis dengan air rawa yang disentuh oleh jemari Kala.
"Apa-apaan ini?!" pekikku tertahan, buru-buru menggosok pergelangan tanganku dengan tangan kanan, mencoba mematikan cahaya aneh yang keluar dari kulitku sendiri. Namun, debaran hangat itu justru semakin kuat, berdenyut selaras dengan pendaran air di luar perahu.
Kala perlahan membuka matanya. Manik mata emasnya yang berpupil vertikal menatap lurus ke arah pergelangan tanganku yang menyala, lalu beralih menatap wajahku yang pucat karena syok.
Tidak ada keterkejutan di wajah cowok itu. Hanya ada sorot mata yang dalam, teduh, dan sarat akan rahasia masa lalu.
"Itu bukan sihir murahan, Lara," suara Kala terdengar parau, namun ada nada wibawa yang membuatku mendadak terpaku. Dia mengubah posisinya perlahan, bangun dari pangkuanku dan duduk bersandar pada dinding perahu, tanpa melepaskan pandangannya dari lenganku.
"Cahaya biru itu adalah reaksi dari segel darah kuno yang tertanam di dalam tubuhmu."
Aku mendengus keras, mencoba tertawa walau suaraku bergetar hebat. "Segel darah? Jangan membual kau, Kala! Ini pasti karena infeksi air es ikan atau bakteri rawa yang masuk ke bekas luka. Aku ini cuma kurir paket harian di Tanjungbalai, bukan karakter di dalam dongeng pengantar tidur!"
Kala tidak membalas sinismeku dengan amarah.
Dia justru memajukan tubuhnya, membuat jarak di antara kami mengikis drastis. Tangannya yang dingin bergerak perlahan, memegang pergelangan tangan kiriku yang masih menyala biru. Begitu kulit kami bersentuhan, pendaran cahaya di tato itu bergulung menciptakan pusaran kecil yang menenangkan rasa perih di kulitku. Sentuhan mistis yang intens ini membuat napasku mendadak tertahan di dada.
"Kau bisa membohongi pikiranmu sendiri, tapi darahmu tidak bisa berbohong," kata Kala pelan, matanya berjarak hanya beberapa senti dari mataku. "Tato itu adalah tanda pengenal bagi mereka yang memegang kunci hulu sungai Asahan. Leluhurmu... mereka bukan orang biasa di pesisir ini. Mereka adalah para penjaga aliran air yang memastikan makhluk seperti kami tidak melintasi batas menuju dunia luar. Dan sekarang, ikatan itu bangkit karena kau menyentuhku."
Otakku mendadak kosong. Bualan mistis cowok ini terdengar gila, sangat gila untuk telinga seorang anak pelabuhan yang hidupnya cuma berkutat dengan manifes kargo, resi pengiriman, dan kejaran utang kosan. Tapi, rasa hangat yang menjalar dari jemarinya menuju jantungku, serta pendaran biru yang memantul di bola matanya, adalah bukti nyata yang tidak bisa kubantah dengan logika jalanan.
Hidupku sebagai kurir biasa yang kuyu dan harian... rasanya sudah patah dan tidak akan pernah bisa kembali normal lagi setelah malam ini.
"Heh, bocah! Berhenti main lampu!"
Sebuah teguran ketus dari ujung perahu membubarkan kedekatan mistis di antara aku dan Kala. Mbah Jarot mendengus keras, membuang ludah sirihnya yang berwarna merah pekat tepat ke arah air rawa yang menyala biru. Pluk. Bercak merah itu langsung merusak kesucian warna biru di bawah sana.
Mbah Jarot menatap kami berdua dengan mata tuanya yang sipit dan galak. "Kalian pikir kita ini sedang tamasya malam? Cahaya biru itu memang cantik bagi mata bocah kota seperti kau, Lara. Tapi bagi rawa ini, itu seperti menyalakan lampu suar di tengah sarang buaya. Sinar itu bisa memancing perhatian hal-hal buruk yang bersembunyi di balik akar nipah. Mau mampus digulung anak buah Baron?!"
Mendengar peringatan keras dari si nelayan tua, Kala perlahan menarik kembali tangannya dari air.
Begitu jemarinya terangkat, pendaran cahaya biru di permukaan rawa berangsur-angsur meredup, kembali menyisakan permukaan air yang hitam pekat dan dingin. Bersamaan dengan itu, cahaya di pergelangan tangan kiriku ikut padam, menyisakan sisa kehangatan yang masih berdenyut samar di bawah kulitku.
Suasana kembali gelap gulita. Perahu dayung kayu Mbah Jarot terus bergerak melaju pelan, menusuk lebih dalam ke daerah rawa yang kini mulai dipenuhi kabut putih tebal. Namun, ketenangan kali ini terasa berbeda. Hidungku mulai menangkap bau lain yang samar namun tajam—bau belerang yang menusuk, seolah kami sedang mendekati sebuah tempat pembuangan industri yang mati di tengah hutan bakau terlarang ini. Aku mencengkeram erat tali ransel oranyeku, merasakan perubahan ritme alam yang semakin tidak bersahabat, siap menghadapi apa pun bahaya yang bersembunyi di balik kabut malam.