Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Di Bawah Pengawasan Sepasang Mata Elang
BAB 13: Di Bawah Pengawasan Sepasang Mata Elang
Keheningan di dalam ruang kerja CEO terasa semakin padat dan mencekik ketika pintu jati besar itu tertutup rapat di belakang punggung Dika. Manajer Keuangan muda itu melangkah maju dengan tegap, menggenggam sebuah map kulit hitam berisi laporan audit triwulan di tangan kirinya. Namun, atmosfer dingin dan ketegangan psikologis yang pekat di dalam ruangan tersebut langsung menyergap indra penciumannya, membuat langkah kaki Dika sempat tertahan selama sepersekian detik di atas lantai marmer.
Sebagai seorang pria yang peka, Dika segera menyadari ada yang tidak beres. Tatapan matanya secara refleks bergeser dari meja kerja agung sang CEO ke sudut ruangan, tempat di mana Luna Maharani berdiri.
Visual Luna saat itu tampak begitu rapuh, seolah-olah embusan angin dari pendingin ruangan saja sanggup menumbangkan tubuh ringkihnya. Blus sutra berwarna dusty rose yang dikenakannya tampak sedikit kusut di bagian lengan akibat remasan jemarinya sendiri. Kulit kuning langsatnya yang mulus kini kehilangan rona alami, menyisakan pucat yang kentara di bawah binar lampu meja yang temaram. Sepasang matanya yang bulat dan melankolis terlihat berkabut, menyembunyikan sisa air mata yang mati-matian dia tahan agar tidak luruh di depan orang lain. Jepitan perak berbentuk bunga kecil yang bertengger di sanggul rendahnya berkilau sunyi, menjadi tanda kepemilikan mutlak tersembunyi yang hanya dipahami oleh dirinya dan pria berkemeja hitam di balik meja utama.
Dika menahan napas sejenak, ada secercah rasa iba dan kekhawatiran yang tulus membakar dadanya begitu melihat kondisi melankolis sang asisten pribadi. Namun, dia harus tetap menjaga profesionalismenya sebagai seorang bawahan.
"Selamat pagi, Tuan Devano. Ini laporan audit triwulan yang Anda minta kemarin sore. Semua data dari divisi keuangan sudah disinkronisasi," ucap Dika seformal mungkin, melangkah mendekati meja kerja kaca tebal dan menyerahkan map kulit tersebut.
Devano tidak langsung meraih map itu. Pria bertubuh tegap setinggi seratus delapan puluh lima sentimeter itu bersandar di kursi kulitnya dengan santai, namun gerakan tubuhnya memancarkan aura intimidasi yang sangat dominan. Rahang perseginya yang kokoh bergeming, dan sepasang mata elangnya yang kelam beralih dari layar laptop, mengunci pergerakan Dika dengan tatapan yang sangat tajam dan tidak bersahabat.
Devano menangkap dengan sangat jelas bagaimana mata Dika tadi sempat singgah dan menatap lekat ke arah wajah melankolis Luna. Ego seorang alpha male dan rasa posesif teritorial yang pekat di dalam diri Devano seketika terusik. Pria itu menipiskan bibirnya, melirik Luna yang masih menunduk dalam di sudut meja.
"Asisten Luna," suara bariton Devano yang berat dan dalam memecah kesunyian, terdengar begitu penuh perintah. "Kemari. Ambil map dari Pak Dika dan periksa ringkasannya untuk saya."
Luna tersentak kecil. Dia tahu ini adalah taktik Devano untuk memamerkan kekuasaannya di depan Dika. Dengan langkah yang anggun namun lambat, Luna berjalan mendekat ke arah meja kerja Devano. Setiap ketukan sepatu hak tahu miliknya di atas marmer terasa begitu berat. Saat dia mengulurkan tangan untuk menerima map dari Dika, jemari tangannya yang dingin sempat bergetar.
Dika menyerahkan map tersebut dengan gerakan lambat, matanya kembali menatap Luna dengan binar simpati yang dalam dari dekat. "Ini halaman pertamanya, Mbak Luna. Semua sudah saya beri pembatas," ucap Dika lembut, mencoba memberikan sedikit ketenangan melalui nada suaranya.
"Terima kasih, Pak Dika," lirih Luna dengan suara serak yang hampir tak terdengar.
"Sangat efisien, Pak Dika," potong Devano tiba-tiba dengan nada suara yang meninggi dan dingin, memutus kontak mata di antara Luna dan Dika secara sepihak. Devano memajukan tubuhnya, menumpu kedua tangannya di atas meja kerja kaca, menatap Dika dengan pandangan meremehkan. "Karena Anda sudah di sini, ada satu kebijakan baru yang ingin saya sampaikan langsung agar divisi Anda bisa menyesuaikan diri."
Dika menegakkan posisinya, menatap sang CEO dengan serius. "Kebijakan apa yang Anda maksud, Tuan?"
Devano menyunggingkan senyuman tipis yang teramat kejam dan manipulatif di sudut bibirnya. Dia melirik Luna yang kini berdiri kaku di samping kursinya. "Mulai hari ini, meja kerja Asisten Luna akan dipindahkan ke dalam ruangan ini. Tepat di sudut kanan depan meja saya. Segala bentuk dokumen, memo, atau laporan keuangan yang ditujukan untuk saya, harus diserahkan langsung ke mejanya di dalam ruangan ini. Tidak ada lagi kubikel luar untuk asisten pribadi saya."
Mendengar keputusan mendadak itu, Dika terbelalak kaget. Dahinya berkerut dalam. Sebagai manajer senior, dia tahu betul bahwa kebijakan ini sangat tidak biasa dan melanggar privasi serta kenyamanan kerja yang standar di lingkungan korporasi. Memindahkan meja asisten wanita ke dalam ruang kerja tertutup milik CEO pria adalah tindakan yang terlalu intim dan berpotensi memicu gosip yang jauh lebih liar di kalangan karyawan luar.
"Maaf sebelumnya, Tuan Devano," ucap Dika, mencoba memberanikan diri berbicara secara profesional demi melindungi Luna yang tampak semakin tertekan. "Secara regulasi internal, meja asisten pribadi biasanya ditempatkan di koridor luar demi efisiensi penyaringan tamu dan menjaga kenyamanan serta profesionalitas kerja di dalam ruangan utama. Apakah tidak sebaiknya—"
"Pak Dika," potong Devano dengan suara yang mendadak merendah namun mengandung penekanan yang sedingin es, sanggup membekukan keberanian siapa saja di dalam ruangan itu. Mata elangnya berkilat penuh amarah yang tertahan karena mendapati bawahannya berani mencampuri urusannya dengan Luna. "Di dalam gedung Devano Group ini, satu-satunya kenyamanan yang berlaku dan harus dipatuhi adalah kenyamanan saya. Bukan kenyamanan asisten saya, apalagi kenyamanan Anda."
Devano bangkit berdiri dari kursi kebesarannya, menjulang tinggi dan melemparkan aura intimidasi yang mutlak, membuat Dika terpaksa mundur setengah langkah karena tekanan mental yang luar biasa.
"Jika saya merasa lebih efisien memantau kinerja asisten saya dari jarak satu meter agar dia tidak kelayapan merayu pria lain di koridor kantor, maka itu adalah hak mutlak saya sebagai pemilik perusahaan ini. Apakah ada hal lain dari kebijakan saya yang belum jelas di otak cerdas Anda, Manajer Dika?"
Hantaman kalimat ketat penuh sindiran itu membuat wajah Dika sempat memerah padam karena menahan dongkol. Dia melirik ke arah Luna, melihat bagaimana gadis anggun itu kini meremas map kulit hitam di dadanya dengan kepala yang tertunduk sedalam-dalamnya. Bahu Luna bergetar samar, menahan luka batin yang semakin dalam karena harga dirinya kembali dikuliti dan dipamerkan seolah dia adalah barang pajangan tak berharga di depan rekan kerjanya sendiri.
Dika menyadari, sekeras apa pun dia mencoba membela, Devano memiliki kuasa mutlak yang tidak bisa dilawan oleh seorang karyawan biasa sepertinya. Dengan helaan napas berat, Dika menundukkan kepalanya secara formal.
"Saya mengerti, Tuan Devano. Saya akan menyesuaikan alur koordinasi divisi keuangan dengan meja baru Mbak Luna di dalam ruangan ini. Saya permisi kembali ke ruangan saya," ucap Dika dengan suara yang tertahan. Sebelum dia berbalik dan melangkah pergi, Dika memberikan satu tatapan melankolis terakhir penuh simpati dan permohonan maaf kepada Luna—sebuah tatapan yang seolah berkata, 'Maafkan saya, Mbak Luna... saya tidak bisa membantumu terlepas dari kurungan ini.'
Begitu pintu jati besar itu kembali tertutup rapat di balik kepulangan Dika, ruangan itu kembali diselimuti oleh kesunyian yang teramat mencekam. Luna memejamkan matanya, membiarkan satu tetes air mata akhirnya lolos membasahi pipi kuning langsatnya yang tirus. Dia merasa sekecil semut, merasa sekotor-kotornya wanita yang sedang dijadikan alat pamer kekuasaan dan balas dendam oleh sang mantan kakak ipar.
"Jangan berani-berani menghapus air matamu di depan meja saya, Luna," desis Devano dingin sembari kembali duduk di kursinya dengan angkuh. "Bersiaplah. Orang-orang fasilitas gedung akan segera memindahkan mejamu kemari."
Kurang dari lima belas menit kemudian, beberapa petugas fasilitas gedung dengan pakaian seragam abu-abu masuk ke dalam ruangan, memindahkan meja kerja kayu jati berukuran sedang milik Luna dari kubikel luar ke dalam ruangan kerja CEO. Mereka meletakkan meja itu tepat di sudut kanan, berhadapan langsung dengan dinding kaca transparan raksasa dan meja kerja megah milik Devano.
Dari balik dinding kaca yang sengaja dibiarkan terbuka transparan itu, Rania dan beberapa karyawan administrasi luar bisa melihat dengan jelas bagaimana posisi baru Luna saat ini. Bisik-bisik sinis dan tatapan penuh kebencian kembali bertebaran di luar sana, menganggap Luna benar-benar telah sukses menggunakan pesona melankolisnya untuk mengurung diri bersama sang CEO tampan di dalam sangkar emas terlarang.
Luna duduk di kursi kerja barunya dengan punggung yang kaku dan kepala yang tertunduk menatap permukaan meja kayu yang kosong. Di seberang ruangan, berjarak hanya beberapa meter, Devano sedang memperhatikannya dengan senyuman tipis penuh kemenangan yang sangat berbahaya. Luna merasa seperti seekor burung hias yang diletakkan di dalam sangkar kaca transparan, siap ditonton dan dinilai oleh siapa saja tanpa memiliki hak untuk menutup tirai kehidupannya sendiri.
Drrt.
Di tengah siksaan batin yang mendalam itu, ponsel Luna yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar satu kali, menampilkan sebuah notifikasi pesan singkat yang masuk. Dengan tangan yang gemetar, Luna meraih benda persegi tersebut dan membuka layarnya.
Sebuah pesan dari Siska.
[Kak Siska]: "Luna! Ya ampun, Kakak baru saja diberi tahu oleh teman sekretaris Kakak di kantor pusat kalau mejamu hari ini dipindahkan ke dalam ruang kerja Mas Devano! Ini gila, Luna! Berarti Mas Devano benar-benar ingin selalu dekat denganmu agar bisa memantau kabarku melalui kamu! Bagus banget kerja kamumu di sana! Sekarang dengar perintah Kakak, di dalam tas kerjamu ada botol parfum kecil aroma melati yang biasa Kakak pakai dulu saat masih jadi istrinya. Kakak sengaja taruh di tasmu kemarin. Sekarang juga, kamu cari kesempatan diam-diam untuk menyemprotkan parfum itu di sudut meja kerjanya atau di kursi kerjanya! Biar Mas Devano mencium aroma tubuh Kakak setiap hari dan makin gila merindukan aku! Lakukan sekarang, Luna! Jangan sampai gagal!"
Luna meremas ponselnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata perih kembali merebak di pelupuk matanya yang melankolis. Dadanya terasa begitu sesak bagai dihimpit oleh beban berton-ton. Siska begitu buta oleh ambisi narsistiknya, begitu serakah ingin kembali meraih kemewahan melalui Devano, tanpa pernah tahu bahwa setiap detik yang dilewati adiknya di dalam ruangan tertutup ini adalah neraka jahanam yang terus membakar habis sisa-sisa harga diri yang dia miliki.
Luna mendongak perlahan dengan mata yang berkaca-kaca, menatap lurus ke seberang meja. Di sana, Devano sedang menatapnya balik dengan sepasang mata elang yang kelam dan tajam, seolah pria itu tahu persis penderitaan dan perang batin luar biasa yang sedang mengoyak seluruh isi dada asisten pribadinya malam ini.