Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16:Latihan Bersama Senior
Langit di atas Sekte Bing Si pada hari keempat sejak Chen Lin bergabung dengan sekte Bing Si tidak lagi menunjukkan semburat aurora yang indah, melainkan tertutup oleh awan kelabu yang menggantung rendah, membawa janji akan badai salju yang lebih besar.
Bagi sebagian besar murid baru, cuaca seperti ini adalah penghalang untuk menjalankan misi luar. Namun, bagi Chen Lin, cuaca buruk adalah tirai terbaik untuk menyembunyikan gerakannya yang semakin tidak masuk akal.
Tiga hari pertama telah ia lalui dengan ritme yang bisa membunuh praktisi biasa. Di saat murid lain masih sibuk mengeluhkan dinginnya asrama atau mencoba menjilat senior tertentu, Chen Lin telah menyapu bersih papan misi kategori C dan D di Aula Misi Halaman Luar.
Ia bergerak seperti bayangan yang menyatu dengan kabut es, memburu monster-monster yang bahkan enggan didekati oleh murid senior yang sudah berada di tingkat Marrow Purification menengah.
Pagi itu, Chen Lin melangkah masuk ke Aula Misi. Langkah kakinya yang ringan tidak menimbulkan suara di atas lantai kristal. Ia meletakkan dua kantong besar berisi inti monster dan tumbuhan herbal di atas meja petugas.
Suara dentingan inti monster yang saling berbenturan menarik perhatian puluhan pasang mata yang sedang berkumpul di depan papan misi.
"Ini penyerahan misi terakhir untuk gelombang pertama," ucap Chen Lin dengan nada datar, wajahnya tetap tertutup ekspresi dingin yang sulit ditembus.
Petugas aula, seorang pria tua bernama Pak Tua Mo, menatap tumpukan itu dengan tangan gemetar. Ia menghitung satu per satu inti monster Beruang Salju dan Laba-laba Kristal yang dikumpulkan Chen Lin.
"Sepuluh... lima belas... dua puluh lima inti tingkat Marrow Purification? Dan kau juga menemukan Rumput Roh Es yang tumbuh di tepi jurang terlarang? Murid Chen, kau tahu bahwa misi ini biasanya dikerjakan dalam kelompok, bukan?"
"Aku lebih suka bergerak sendiri. Koordinasi dengan orang lain hanya akan memperlambat gerakanku," jawab Chen Lin singkat.
Bisikan-bisikan mulai memenuhi ruangan.
"Dia benar-benar gila. Itu misi kategori C yang paling sulit!"
"Lihat auranya, bukankah dia baru masuk tiga hari yang lalu?"
"Peringkat tiga di ujian memang bukan sekadar keberuntungan."
Pak Tua Mo menghela napas panjang, lalu mengesahkan token poin milik Chen Lin. "Total poinmu sekarang mencapai 2.800 poin. Ini adalah rekor tertinggi bagi murid baru dalam sejarah sepuluh tahun terakhir Halaman Luar. Kau berhak menukarnya dengan sumber daya apa pun di Paviliun Harta Karun."
Chen Lin tidak membuang waktu. Ia langsung menuju Paviliun Harta Karun, sebuah bangunan berbentuk pagoda yang seluruh strukturnya terbuat dari es transparan.
Di sana, ia bertemu dengan penjaga paviliun, seorang wanita tua misterius yang hanya dikenal sebagai Nenek Es.
"Aku ingin menukar poin ini dengan Pil Esensi Sumsum Salju kualitas murni dan Cairan Pemurni Meridian Langit," ujar Chen Lin sambil menyerahkan tokennya.
Nenek Es mengangkat matanya yang keruh, menatap Chen Lin dengan saksama. "Pilihan yang berani. Pil Esensi Sumsum Salju mengandung energi dingin yang sangat liar. Jika kau tidak memiliki fondasi yang kuat, tulang-tulangmu akan hancur dan membeku dari dalam. Apakah kau yakin sanggup menahannya, anak muda?"
"Aku tidak akan meminta sesuatu yang tidak bisa kukendalikan," balas Chen Lin dengan keyakinan yang tenang.
Setelah menerima botol-botol giok berisi obat-obatan tersebut, Chen Lin segera kembali ke gubuknya. Ia mengunci pintu dan memasang formasi peringatan sederhana di sekeliling ruangan.
Malam itu, badai salju benar-benar meledak di luar, menciptakan isolasi alami yang sempurna. Chen Lin melepas jubah luar dan pengikat dadanya, membiarkan tubuh femininnya bernapas dalam kesunyian.
Ia menelan pil pertama. Rasa dingin yang tajam seperti ribuan bilah pisau mikro mulai merobek meridiannya. Namun, alih-alih panik, Chen Lin mengaktifkan Esensi Tulang Rembulan.
Cahaya putih yang murni terpancar dari pori-porinya, membungkus setiap tetes energi obat dan menariknya masuk ke dalam sumsum tulangnya.
"Tahan, Chen Lin! Proses ini akan membuang semua sisa kotoran duniawi dari tubuhmu!" suara Lin XingYu bergema, memberikan dukungan mental.
Rasa sakitnya tak terlukiskan. Chen Lin merasa seolah-olah sumsum tulangnya sedang direbus dalam cairan nitrogen.
Suara kecil terdengar berulang kali dari dalam tubuhnya saat struktur tulangnya memadat dan menjadi lebih murni. Kristal-kristal hitam yang berbau busuk mulai keluar dari kulitnya itu adalah kotoran yang selama ini menghambat aliran energinya.
Menjelang fajar, saat badai mulai mereda, sebuah gelombang energi yang kuat meledak dari pusat tubuh Chen Lin. Cahaya perak itu menelan seluruh ruangan sebelum akhirnya perlahan meredup.
Chen Lin membuka matanya, dan sesaat, pupil matanya berkilau seperti bintang di langit malam.
Ia menghembuskan napas panjang, dan seketika uap panas yang keluar dari tubuhnya membeku menjadi butiran es halus di udara.
"Marrow Purification... Tingkat 3. Tubuh ini terasa jauh lebih ringan dan kuat."
Meskipun ranahnya meningkat drastis, Chen Lin tahu bahwa kekuatan tanpa pengalaman bertempur hanyalah hiasan.
Keesokan harinya, ia memutuskan untuk pergi ke Lapangan Latihan Hutan Pinus, tempat yang lebih tenang dan sering digunakan oleh murid senior untuk mengasah teknik mereka.
Di sana, ia bertemu kembali dengan Feng Jian dan Li Mei, dua senior yang menyambutnya di hari pertama.
Feng Jian sedang melatih ayunan pedang beratnya, sementara Li Mei sedang melakukan gerakan akrobatik di atas tiang-tiang es.
Begitu melihat Chen Lin datang, Li Mei langsung melompat turun dengan kelincahan seekor kucing salju. Ia menyipitkan matanya, merasakan perubahan drastis pada aura pemuda di depannya.
"Tunggu, Chen Lin! Jangan bilang kau melakukan terobosan lagi?" tanya Li Mei dengan nada terkejut yang tidak bisa disembunyikan.
"Hanya tiga hari, dan auramu sekarang terasa jauh lebih tajam dari saat kita bertemu di gerbang!"
Feng Jian menghentikan latihannya, menyeka keringat yang membeku di dahinya.
"Li Mei benar. Tingkat 3? Kau melompati dua tingkat dalam tiga hari? Ini gila! Bahkan murid jenius di Halaman Dalam pun jarang ada yang memiliki kecepatan seperti ini."
Chen Lin hanya memberikan senyum tipis yang hampir tidak terlihat. "Aku hanya memanfaatkan sumber daya yang kudapatkan dari misi. Senior, apakah kalian bersedia meluangkan waktu untuk berlatih tanding denganku? Aku butuh tekanan nyata untuk menstabilkan kekuatanku."
Feng Jian dan Li Mei saling pandang, lalu keduanya tersenyum menantang. Mereka merasa tertantang oleh keberanian junior yang satu ini. Bagi mereka, ini adalah kesempatan untuk melihat sejauh mana kemampuan junior terkuat mereka ini berkembang.
Latihan dimulai di tengah lapangan yang dilapisi es tebal. Feng Jian memegang pedang besarnya yang terbuat dari logam hitam yang sangat berat.
Ia mengambil posisi kuda-kuda yang kokoh, memancarkan aura stabil setingkat Marrow Purification Tingkat 7. Di sisi lain, Chen Lin hanya memegang pedang besinya dengan santai, namun matanya sangat fokus.
Angin kencang bertiup, menerbangkan salju di antara mereka. Feng Jian memulai dengan serangan pembuka, sebuah tebasan vertikal yang membawa beban ribuan kilogram.
Chen Lin tidak mencoba menahannya secara langsung, ia tahu perbedaan kekuatan fisik mereka. Ia bergeser sedikit, menggunakan langkah kaki yang ia pelajari dari Jurus 7 Pedang Bayangan, membiarkan pedang berat itu menghantam tanah hingga esnya pecah berkeping-keping.
"Jangan hanya menghindar, Chen Lin! Di medan perang, kau harus tahu kapan harus membalas!" teriak Feng Jian sambil memutar pedangnya untuk serangan horizontal.
"Aku sedang mencari celah, Senior. Beratmu adalah kekuatanmu, tapi juga bebanmu," jawab Chen Lin dengan tenang.
"Lalu temukan celah itu sebelum pedangku membelahmu menjadi dua!" sahut Feng Jian dengan tawa yang bersemangat.
Chen Lin tiba-tiba menghilang dari pandangan Feng Jian. Dalam sekejap, tiga bayangan pedang muncul dari arah yang berbeda. Feng Jian terkejut, ia merasakan dingin yang menusuk dari bayangan-bayangan tersebut.
Ia terpaksa menarik kembali serangannya untuk bertahan, menciptakan perisai energi di sekeliling tubuhnya. Bayangan itu menghantam perisainya dengan kekuatan yang mengejutkan.
"Teknik bayanganmu... ini bukan hanya ilusi!" gumam Feng Jian dengan napas memburu.
"Ini adalah esensi es yang kupadatkan, Senior. Berhati-hatilah," balas Chen Lin sambil mendarat dengan cepat beberapa meter di belakangnya.
"Luar biasa! Ayo, tunjukkan lebih banyak lagi padaku!" seru Feng Jian, kembali menerjang dengan semangat yang berkobar.
Jika hari pertama adalah tentang menahan beban, hari kedua adalah tentang kecepatan. Li Mei menggunakan sepasang belati es pendek yang sangat lincah.
Ia bergerak seperti angin puyuh, menyerang titik-titik vital Chen Lin dengan presisi yang mengerikan. Li Mei berada di ranah Marrow Purification Tingkat 6, dan keahliannya dalam pertempuran jarak dekat sangat disegani di Halaman Luar.
Chen Lin harus memutar pedangnya dengan kecepatan tinggi untuk menangkis setiap tusukan belati Li Mei. Suara dentingan logam terdengar seperti musik yang cepat dan ritmis di tengah hutan pinus.
Li Mei terus merunduk, melompat, dan menyerang dari sudut-sudut yang tak terduga, memaksa Chen Lin untuk menggunakan indra spiritualnya secara maksimal.
"Kau terlalu kaku, Chen Lin! Pedangmu harus mengalir seperti air yang membeku, bukan seperti kayu yang kering!" kritik Li Mei sambil melancarkan tendangan ke arah rusuk Chen Lin.
"Aku sedang mencoba menyelaraskan napasku dengan gerakan bayanganku, Senior," jawab Chen Lin sambil menangkis tendangan itu dengan sarung pedangnya.
"Bernapaslah dengan hatimu, bukan hanya dengan paru-parumu! Rasakan aliran es di sekitarmu!" teriak Li Mei, gerakannya semakin cepat hingga bayangannya sendiri mulai tertinggal.
Chen Lin memejamkan matanya sesaat, mengikuti saran Li Mei. Ia membiarkan Esensi Tulang Rembulan mengalir ke kakinya.
Tiba-tiba, gerakannya menjadi jauh lebih halus. Saat Li Mei menyerang dengan tusukan ganda, Chen Lin tidak hanya menghindar, ia mengintari di sekitar serangan itu.
Dalam satu gerakan yang sangat lincah, ia berhasil menempelkan ujung pedangnya di belakang leher Li Mei.
"Cukup," ucap Chen Lin pelan.
Li Mei terdiam, merasakan dinginnya bilah pedang Chen Lin di kulitnya. Ia perlahan menurunkan belatinya dan berbalik dengan wajah penuh kekaguman.
"Kau belajar dengan sangat cepat... Terlalu cepat, hingga itu terasa menakutkan bagi kami yang sudah bertahun-tahun di sini."
"Itu karena instruksi Senior sangat tepat sasaran," puji Chen Lin, mencoba tetap rendah hati.
"Berhenti memujiku. Kau adalah monster kecil, dan aku yakin kau akan segera meninggalkan kami menuju Halaman Dalam," sahut Li Mei dengan senyum bangga dan tatapan yang sedikit iri.
Pada hari ketiga, Feng Jian dan Li Mei memutuskan untuk bekerja sama melawan Chen Lin. Ini adalah ujian terakhir sebelum Chen Lin kembali fokus pada misinya. Pertarungan dua lawan satu ini menciptakan tekanan yang luar biasa besar.
Feng Jian memberikan serangan-serangan berat yang memaksa Chen Lin untuk terus bergerak, sementara Li Mei mengincar celah setiap kali Chen Lin mencoba membalas serangan Feng Jian.
Suasana di lapangan latihan sangat mencekam. Udara di sekitar mereka membeku akibat benturan energi spiritual yang intens.
Chen Lin terpaksa menggunakan seluruh kemampuannya. Ia mengaktifkan lapisan kedua Jurus 7 Pedang Bayangan secara penuh.
Tujuh bayangan pedang kristal muncul secara bersamaan, mengelilingi Chen Lin dan melindunginya dari segala arah.
"Sekarang ini baru namanya latihan!" seru Feng Jian sambil menghantamkan pedangnya ke arah salah satu bayangan.
"Jangan biarkan dia mengumpulkan energinya, Feng Jian! Serang dari kiri!" perintah Li Mei sambil meluncur di atas es.
"Aku akan mencoba menahan mereka berdua secara bersamaan!" teriak Chen Lin, suaranya terdengar jernih di tengah kekacauan tersebut.
Chen Lin memutar tubuhnya, dan tujuh bayangan pedang itu meledak keluar secara radial. Ledakan energi dingin ini memaksa Feng Jian dan Li Mei untuk mundur beberapa langkah.
Chen Lin memanfaatkan momen itu untuk meluncur maju, menyerang Feng Jian dengan kecepatan tinggi sambil melepaskan satu bayangan tambahan untuk menghalangi gerak Li Mei.
Denting senjata terdengar bertubi-tubi. Chen Lin tampak seperti sedang menari di antara kedua seniornya. Meskipun ia terengah-engah dan bajunya mulai basah oleh keringat, matanya memancarkan kepuasan yang mendalam.
Ia merasa setiap sel di tubuhnya kini benar-benar sinkron dengan ranah Tingkat 3 miliknya.
"Kau benar-benar tidak memberi kami ampun, ya?" ujar Feng Jian sambil terengah-engah setelah sesi latihan berakhir.
"Kami yang seharusnya berkata begitu. Kau hampir saja memotong tali rambutku tadi!" canda Li Mei sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Terima kasih atas bantuannya selama tiga hari ini, Senior. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa menguasai kekuatan baru ini secepat ini," ucap Chen Lin sambil membungkuk hormat.
Malam itu, setelah sesi latihan yang melelahkan namun memuaskan, Chen Lin duduk di tepi jurang di belakang asramanya. Langit kembali jernih, memperlihatkan jutaan bintang yang bersinar terang.
Di kejauhan, ia bisa melihat puncak Halaman Dalam yang masih tertutup kabut tebal, tempat di mana para murid elit yang sesungguhnya berada.
Latihan dengan Feng Jian dan Li Mei telah memberinya perspektif baru. Ia menyadari bahwa meskipun ia memiliki bakat dan sumber daya yang melimpah, dunia ini jauh lebih luas dari apa yang ia bayangkan.
Masih banyak teknik yang belum ia kuasai, dan masih banyak ranah yang harus ia tembus sebelum ia bisa benar-benar merasa aman.
"Kau sudah melakukan hal yang benar, Chen Lin," suara Lin XingYu muncul kembali.
"Membangun hubungan dengan senior yang baik hati akan memberimu informasi dan perlindungan sosial di dalam sekte. Tapi jangan pernah lupa, tujuanmu tetaplah puncak."
"Aku tahu, XingYu. Aku tidak akan membiarkan kenyamanan sesaat ini menumpulkan pedangku," jawab Chen Lin dalam hati.
Ia memandangi tangannya yang kini tampak semakin halus akibat pemurnian sumsum tulang. Meskipun penyamarannya masih sempurna, ia merasa identitas aslinya sebagai wanita semakin menuntut untuk diakui melalui kekuatan yang ia tunjukkan.
Ia harus menjadi begitu kuat sehingga ketika rahasianya terungkap suatu hari nanti, dunia tidak akan berani meremehkannya.
Besok, ia akan kembali ke Aula Misi. Kabar tentang terobosannya ke Tingkat 3 pasti sudah menyebar luas, dan ia yakin bahwa tugas-tugas yang lebih berbahaya, mungkin tugas langsung dari para Penatua, akan segera datang mencarinya.
Namun, Chen Lin tidak lagi merasa cemas. Dengan pedang di tangan dan esensi rembulan di dalam tulang, ia siap menghadapi badai apa pun yang akan dikirimkan oleh takdir kepadanya.