Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Bulan telah menggantung di langit yang hitam.
Udara yang awalnya hangat, berubah menjadi dingin yang menusuk tulang.
Bintang-bintang berkelap-kelip, menghias langit malam yang hitam.
Arumi sedang duduk bersila di atas ranjangnya.
Gadis itu akan melakukan raga sukma.
"Fokuskan pikiran kamu, Arumi, buatlah dirimu setenang mungkin, jangan pikirkan apapun," ucap Nyai Sekar Arum memberi arahan.
Arumi memejamkan matanya, lalu menarik napas untuk membuat rileks dirinya.
Setelah pikirannya cukup tenang, Arumi pun membaca doa yang telah diajarkan oleh Nyai Sekar Arum.
Perlahan, sukma Arumi keluar dari tubuhnya.
Sementara itu, badan Arumi masih ada di kamar itu, tapi masih dalam keadaan duduk.
Namun, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, sebelumnya Nyai Sekar Arum telah meminta Lia untuk diam didekat raga Arumi yang kosong.
Karena raga yang kosong akan mudah diincar oleh makhluk halus.
Bisa saja raga itu akan diambil alih oleh makhluk jahat, karena itulah sebisa mungkin harus ada yang menjaga.
"Kini, Arumi yang saat ini berwujud sukma, sedang melayang menyusuri desa.
Gadis itu akan pergi ke gapura desa, lalu memagari dari sana, agar Susi tidak bisa masuk.
Arumi merasakan badannya yang sangat ringan ketika berbentuk sukma.
Entah mengapa, grafitasi seolah tak berpengaruh padanya.
"Arumi, aku akan melindungi kamu dengan ilmu halimun ya, biar tidak ada yang melihatmu," ucap Nyai Sekar Arum.
"Iya, silakan, Nyi," jawab Arumi sambil berhenti sejenak, agar Nyai Sekar Arum lebih mudah untuk menggunakan ilmunya.
Ilmu halimun adalah sebuah ilmu yang berguna untuk melindungi seseorang agar tidak terlihat.
Dengan ilmu ini, maka jin maupun manusia tidak akan bisa melihat orang tersebut.
Hebat memang, ketika melintasi seseorang pun, orang itu tidak akan menyadari.
***Setelah berjalan beberapa saat, tibalah Arumi di gapura desa Dukuh Asem.
Gapura itu masih bagus memang, tulisannya pun masih terbaca dengan baik.
Sebab, desa ini memang bukanlah desa terpencil.
Bisa dikatakan, bahwa desa Dukuh Asem adalah desa yang maju.
Di sini serba ada, apalagi di kota kecamatan, di sana begitu ramai.
Arumi berdiri melayang di depan gapura desa.
Lalu, gadis itu mengangkat tangannya sejajar dengan gapura.
Arumi membaca beberapa doa yang telah diajarkan oleh Nyai Sekar Arum.
"Allahu akbar!" seru Arumi sambil menghentakan tangannya.
Seketika itu, pagar gaib terbentuk, menghalangi siapapun makhluk gaib yang berniat tidak baik atau memiliki aura jahat untuk masuk.
Untungnya, jika siang Susi memang tidak berkeliaran di desa.
Kuntilanak merah itu hanya akan datang malam hari, lalu pergi kembali setelah mendapat mangsa.
Karena jika sampai sepanjang hari Susi ada di desa, tentu saja dipagari pun percuma, sebab dia sudah ada di dalam desa.
Setelah memagari desa, Arumi kembali pulang ke rumahnya.
***Arumi mendekati tubuhnya yang masih dalam posisi bersila.
Dengan cepat, sukma gadis itu kembali merasuk ke dalam tubuhnya.
Arumi membuka matanya, sembari menghela napas lega.
Tidak lega bagaimana, Arumi baru pertama kali memagari sesuatu, awalnya gadis itu juga merasa takut jika usahanya tak berhasil.
"Lia, makasih udah jagain badanku, ya," ucap Arumi.
"Sama-sama, hihihi," jawab Lia seraya terbang keluar.
"Allahuakbar, Allahuakbar," suara adzan terdengar dari speaker masjid, membuat Arumi merasa begitu senang.
"Alhamdulillah, ya Allah, akhirnya adzan juga, aku bisa buka puasa sekarang," ucap Arumi.
Sewaktu Arumi pergi memagari desa, itu memang sehabis Magrib.
Dan ternyata, waktu cepat berlalu, hingga tak terasa adzan Isya sudah berkumandang.
Arumi meregangkan badannya, yang sudah cukup lama duduk bersila.
Kemudian, Arumi melangkahkan kakinya keluar kamar.
Di luar, gadis itu berpapasan dengan Nyai Sawitri.
"Mau ke mana, Arumi?" tanya Nyai Sawitri.
"Mau makan, Bu," jawab Arumi.
"Loh, kamu ini udah buka puasa, kan? Kok jam segini baru makan?" tanya Nyai Sawwitri.
"Udah, Bu, tadi aku cuma makan roti aja, jadi sekarang mau makan nasi," jawab Arumi.
"Oh, ya udah sana," ucap Nyai Sawitri sambil berlalu pergi.
Tentu saja jawaban Arumi itu hanya alasan saja, lagipula tidak mungkin Arumi berkata jika ia baru mau berbuka sekarang, karena pasti akan mencurigakan.
Arumi lanjut berjalan menuju ke dapur.
Untungnya, di sana sudah tak ada lagi pembantu rumah yang beberes.
Arumi mengambil segelas air, lalu meneguknya, setelah sebelumnya membaca doa terlebih dahulu.
Rasa segar dirasakan oleh gadis itu, kala air tersebut berhasil membasahi kerongkongannya.
Lalu, Arumi membuka tudung saji.
Rupanya, di sana terdapat ikan asin, tahu goreng, tempe, oseng kangkung, dan ada sambal juga tentunya.
"Wah, enak bener ini," ucap Arumi.
Dengan cepat, Arumi mengambil nasi dan lauk pauk, lalu makan dengan lahap.
***Selesai makan, Arumi hendak beranjak bangkit, namun rupanya ada Bi Surti yang datang ke dapur.
"Eh, ada Non Arumi lagi makan, toh," ucap Bi Surti.
"Iya nih, Bi, laper," jawab Arumi.
"Ya udah atuh, Non, ini piringnya biar Bibi aja yang cuci," ucap Bi Surti.
"Oh iya, terima kasih, Bi," jawab Arumi.
"Sama-sama,"
"Nak, cepatlah pergi ke kamarmu, kamu harus bermeditasi, sepertinya Susi sudah datang," ucap Nyai Sekar Arum memperingati.
Arumi mengangguk pelan.
Gadis itu berpamitan pada Bi Surti, dan kembali ke kamarnya.
Arumi kembali duduk bersila sambil memejamkan matanya.
Dwar.
Dwar.
Suara ledakan terdengar nyaring, namun hanya Arumi saja yang dapat mendengarnya.
Rupanya, Susi sudah mulai menerobos pagar gaib yang dibuat oleh Arumi.
Sementara itu, Arumi terus berusaha sekuat tenaga, agar pagar yang ia buat tidak hancur.
***Di gerbang desa, Susi sangat marah karena ia tidak bisa masuk ke desa Dukuh Asem.
"Hihihihi, pagar ini begitu kuat," ucap Susi.
Susi mencakar-cakar pagar gaib tersebut, namun tetap saja ia tidak bisa masuk.
Bahkan retak pun tidak, itulah yang membuat Susi marah.
Bam.
Susi memukul pagar gaib itu, dan juga melemparkan bola api raksasa.
Kretak.
Pagar itu retak, namun belum terbuka.
Sementara Arumi, gadis itu hampir saja terpental, beruntung Nyai Sekar Arum segera menolongnya.
Kini, Nyai Sekar Arum yang mengendalikan pagar gaib itu melalui tubuh Arumi.
***Susi masih terus berusaha menghancurkan pagar gaib itu, namun sia-sia.
Yang ada, itu hanya membuang-buang tenaga saja.
Karena sudah begitu marah, akhirnya Susi memilih memakai kekuatan penuhnya.
"Hihihiiiii,!"
Susi melemparkan bola api yang sangat besar, bahkan juga memukul pagar gaib tersebut dengan kekuatan penuhnya.
Braaaak.
Pagar gaib itu pun langsung hancur seketika, karena tak kuat menahan serangan dasyat tersebut.
Namun, meski begitu, waktu Susi sudah habis.
Susi menghilang dengan sendirinya dari sana.
Akan tetapi, menghilangnya Susi bukanlah atas kemauan dia sendiri, karena seperti ada rantai yang menarik kuntilanak itu.
***Kembali pada Arumi, tubuh gadis itu bergetar hebat akibat pagar gaibnya yang dihancurkan.
Nyai Sekar Arum segera keluar dari tubuh Arumi.
"Arwah itu kuat sekali," ucap Nyai Sekar Arum.
"Terus gimana ini, Nyai?" tanya Arumi.
"Sudah, dia sudah pergi. Sepertinya waktunya terbatas, jadi dia tertarik dengan sendirinya," jawab Nyai Sekar Arum.
Sebenarnya, hal itu cukup mengherankan.
Kenapa bisa Susi tertarik pergi dengan sendirinya?
Karena bila seperti itu, berarti kemungkinan Susi adalah kuntilanak merah peliharaan, dan dukunnya yang menarik kunti itu.