Seri Cinta Tak Perna Salah dengan menceritakan dilema dari kisah cinta seorang dokter Riana Yang terhalang oleh perbedaan. kisah ini mengisahkan tentang perjodohan, perselingkuhan dan cinta beda usia yang menjadi permasalahan orangtua. Dan juga rahasia lama yang tersimpan. yang menjadi pengahalang Riana untuk bahagia bersama pilihannya.
Apakah dokter Riana akan bisa bertahan dalam masalah yang dia hadapi untuk mempertahankan cinta sejatinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elvano
Masa cuti Ria sudah berakhir dan dia sudah kembali bekerja lagi. Davin memberikan mobilnya untuk Ria kendarai sedangkan dia ke kampus menggunakan motornya. Pagi - pagi Ria sudah bangun. Dia membantu mama mertua dan Stella di dapur. El sudah bangun sementara di gendong opanya di teras samping sambil berjemur. Davin masih di kamar mau bersiap pergi kerja.
"Ria sama aku saja kerja, kan kita searah."
"Boleh juga antie." Ria sementara pumping buat stok makanan El. Dia juga menyiapkan satu alat pumping buat di rumah sakit nanti. Air susunya banyak. Takut demam jika tidak di pumping. Selesai pumping, Ria menyusui langsung anaknya sambil sarapan. Davin mengodai anaknya. Gerakan El menutup pabrik susunya membuat semua di meja makan tertawa.
"Nanti oma pukul papimu sayang, enak aja ambil makanannya adek." omongan omanya direspon dengan suaranya. Membuat semua diruangan meja makan kembali tertawa.
"Wah bahaya nih, saingannya papi."
Ria makan disuapi oleh Davin sementara El masih menyusui. Setelah dia puas, baru dia melepaskan susunya. Ria mengatur posisi yang baik agar dia sendawa. Lalu opanya mengendong kembali. Dirumah ada bibi yang membantu mama dan papa.
"Kak, nanti aku antar istriku aja. Sekalian ada hal penting yang mau kami bicarakan."
"Oke papinya El."
"Mama, papa Stella berangkat kerja." Stella langsung ke El mencium pipinya kiri dan kanan serta bermain sedikit.
"Antie berangkat kerja ya sayang."
Ria sudah selesai bersiap dengan baju kerjanya. Puji Tuhan badannya sudah kembali ke berat normalnya. Dia mencium anaknya dan menitip pada papa dan mama.
"Ma, pa, Ria titip El ya."
"Iya sayang, pergi kerja saja. El sama kami."
Setelah berpamitan Davin dan Ria berangkat kerja. Ternyata ada mobil BMW yang sedang memantau rumah keluarga Andreas. Mobil Davin dan Ria di ikuti oleh mobil tersebut. Sampai ke tempat kerja Ria di rumah sakit. Davin menyadari itu, dan dia sempat memotret mobil tersebut lewat kaca spion mobilnya.
"Sayang, seperti ada yang ikuti kita."
"Iya mas."
Ria langsung menghubungi papanya dan menanyakan apakah mama yang mengikuti kita, Ria menceritakan semuanya. Tentu papanya marah mendengar hal itu dia langsung menanyakan mamanya namun beliau bersumpah bahwa bukan mama yang melakukan hal serupa lagi
"Bukan mama sayang."
"Sayang, kenapa hubungi papa??? Kan aku bisa hubungi teman polisiku." dengan suara kerasnya.
"Aku takut mama, melakukannya lagi mas."
"Maafkan aku, tidak bermasuk suara keras ke kamu." Davin mencium bibir istrinya.
Tak lama teman polisi yang Davin hubungi sudah ada di rumah sakit, dia yang akan mengikuti Davin. Dan benar ketika mobil itu mengikuti mobilnya Davin, dia mengarahkan ke jalan sempit sesuai arahan Ari temannya yang polisi itu. Dan di gank sempit itu mobil penguntit di kurung oleh mobil polisi. Waktu dibuka ternyata ketiga mahasiswi dari Davin.
"Ngapain ikuti saya."
"Ini rencana Lidya pak."
"Iya pak, kami berdua hanya ikut - ikut."
Lidya sangat marah, karena kedua temannya menghianatinya. Mereka bertiga di amankan ke kantor polisi. Hanya untuk di introgasi. Sampai orangtua mereka menjemput.
Di kampus Davin kedatangan tamu yang adalah orangtua dari Lidya, karena dari informasinya bapak Davin menyusahkan dia dalam penyelesaian skripsinya. Davin menunjukan tanggal dan bulan Lidya konsultasi, dan skripsi yang belum direvisi. Lalu Davin menceritakan tentang kelancangan Lidya mengusil istrinya serta berita yang dia naiki ke media sosial. Papa dan mama Lidya malu seketika.
"Begini bapak dan ibu. Saya akan membantu dia sebagai pembimbingnya untuk menyelesaikan studinya. Besok jam sepuluh, bapak dan ibu bisa menyuruh anaknya datang dengan skripsi yang sudah di revisi."
"Terima kasih pak Davin dan kami mohon maaf atas kesalahan anak kami."
"Siap bapak dan ibu."
Selesai ujian skripsi dengan dua mahasiswanya, Davin lanjut mengajar satu jam dengan mahasiswa - mahasiswi tingkat bawah. Jam di tangannya sudah menunjukan pukul tiga sore. Davin langsung menjemput istrinya yang sudah menunggunya di lobi rumah sakit. Waktu melihat mobil suaminya Ria langsung menuju ke mobil itu. Masuk ke mobil, Ria mendapat ciuman mesra dari suaminya yang brondong itu.
"Siapa sayang yang ikuti kita tadi pagi."
"Lidya dan genknya."
"Ulat bulu lagi. Capek deh punya suami brondong yang di sukai oleh mahasiswinya."
"Emang suami brondongmu berselingkuh??"
"Coba saja mas, aku ninggalin kamu dengan El."
"Jangan coba - coba Riana."
"Mas ngancam saya??"
"Tidak sayang, tetapi kamu tidak bisa keluar dalam kurungan yang sudah aku ikat seumur hidup."
"Lebay."
"Biar aja, sayang masih nifas kalau tidak sudah saya hajar satu ronde di mobil ini."
"Dasar suami mesum."
"Hanya sama kamu sayang."
Ria menyadari bahwa dia sangat disayangi dan diratukan oleh suaminya, yang sebenarnya lebih cocok menjadi adeknya. Karena dia adalah adek dari sahabatku. Namun perasaan cintanya lebih besar dari status sosial di masyarakat. Dia tidak melihat usia, dia tidak malu. Malah dengan berani menempatkan El di rahimnya Ria dan mereka menikah. Dia memaksakan dirinya lebih dewasa dari aku secara umur, namun sedari kecil tanpa mereka sadari Davin inilah yang selalu menenangkan Riana Timothy, jika di sekolah dia jatuh atau di buli teman kelasnya.
"I love you Davin suamiku."
"Kamu tahu Riana Timothy cintaku itu lebih besar dari cintamu kepadaku??"
"Tetapi aku sayang dan mencintaimu sayang."
"Kamu sudah menyadari keadaanku??"
"Sudah sayangku." Davin memeluk istrinya.
"I love you, jangan tinggalkan aku.Tetaplah di sampingku apapun, cobaannya kita akan lalui bersama."
"Sikap mu ini, yang membuat aku tidak bisa menjauh dari mu sayang."
"Ayo kita pulang, El sudah menunggu kita di rumah."
Pasangan suami istri ini langsung pulang, namun sebelumnya mereka mampir di toko buah - buahan membeli beberapa buah - buahan. Sampai di rumah, Ria tersenyum melihat bayinya yang sudah mandi bersih. Dia belum bisa mengendongnya karena baru pukang kerja dari rumah sakit.
"Mami mandi dulu ya, baru mami gendong." El yang senang melihat mami dan papi nya, seketika menangis karena maminya belum mengendongnya. Terpaksa opanya membujuknya. Masih terdengar suara tangisan kecilnya.
"Sayang mandi cepat anakmu nangis itu."
"Iya mas ini sudah mau selesai. Mas tolong boleh, buatkan aku susu hangat bisa."
"Oke sayang."
Davin langsung keluar ke dapur dan membuat susu buat istrinya. Kak Stella juga sudah pulang, dia membawa kue kesukaan Ria dan juga beberapa buah.
"Kenapa menangis??"
"Mau maminya."
"Ria mana."
"Aku disini." Ria langsung mengambil buah hatinya dicium dan benar, anak ini maunya minum susu langsung di pabriknya. Ria minum susu yang di buat suaminya habis segelas, dan langsung duduk, mengatur posisi yang nyaman untuk menyusui buah hatinya.
El sedang asik menikmati susunya. Dia melihat maminya dan hanya mengedipkan matanya. Dia minum kejar sampai hampir kesedak.
"Adek, pelan sayang, ini punya adek. Mami mohon maaf ya."
"Sama seperti papinya, minum seperti takut di ambil orang lain."
"Iya kah pa, papinya El begitu."
"Betul nak." Mamanya menambahkan.
"Salah - Salah, ini kan darahku. Like father, like son. Oke jagoan papa."
Meskipun baru tiga bulan lebih usianya namun Elvano Ivander Andreas ini sangat aktif. Ria sedang menyusui El sambil menikmati kue yang dibeli antienya di temani mertuanya.