NovelToon NovelToon
Layu Sebelum Mewangi

Layu Sebelum Mewangi

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Single Mom / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: miss tiii

" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.

Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wangi yg Menembus Tembok

Lima tahun telah berlalu, dan waktu telah menyeka semua sisa air mata di wajah Arumi. Ia berdiri di depan kiosnya yang bercat putih bersih, menata botol-botol bumbu racikan buatannya sendiri yang kini punya label: "Bumbu Ibu Arumi".

Kini ia mengenakan kemeja katun yang rapi dan jilbab yang disampirkan anggun. Tidak ada lagi celemek plastik hitam yang basah.

"Ibu! Lihat, Kinan dapat bintang emas dari Bu Guru!"

Seorang gadis kecil berusia lima tahun berlari menghampirinya. Rambutnya dikuncir dua, matanya bulat bersinar penuh kecerdasan—sangat kontras dengan mata redup ayahnya dulu. Kinan. Ia tumbuh menjadi anak yang ceria dan sangat aktif.

Arumi berlutut, memeluk putri kecilnya erat-erat. "Wah, pintarnya anak Ibu! Nanti pulang sekolah kita makan ayam goreng ya?"

"Hore!" Kinan melompat kegirangan.

Tiba-tiba, suasana ceria itu terusik oleh kehadiran sesosok pria di ujung lorong pasar. Pria itu tampak sangat tua untuk usianya yang kini baru empat puluh empat tahun. Rambutnya mulai memutih tak beraturan, bajunya lusuh, dan ia tampak kebingungan melihat perubahan kios Arumi yang kini sangat maju. Baskara.

Ia melangkah mendekat dengan ragu. Matanya tertuju pada Kinan.

"Itu... itu Kinan?" suara Baskara parau, hampir berbisik.

Arumi berdiri, menarik Kinan ke belakang punggungnya secara naluriah. Tatapannya tidak lagi benci, melainkan datar—seperti menatap orang asing yang meminta sumbangan.

"Mau apa lagi, Mas?" tanya Arumi tenang.

Baskara menatap Kinan dengan pandangan yang sulit diartikan. "Dia... sudah besar ya. Cantik. Mirip aku."

"Dia mirip ibunya yang berjuang menghidupinya, Mas," potong Arumi tajam.

Baskara tertunduk. Ia meremas jemarinya yang gemetar. "Rum... aku dengar usahamu sukses. Aku... aku sekarang tinggal di emperan toko teman. Aku tidak punya kerjaan tetap. Apa ada lowongan di kiosmu? Jadi kuli panggul pun tidak apa-apa..."

Arumi tertegun sejenak. Pria yang dulu menolak jadi kurir karena "gengsi ijazah", kini mengemis jadi kuli panggul di depan mantan istrinya.

"Dulu Mas bilang kuli itu tidak selevel dengan Mas," ujar Arumi tanpa nada mengejek, hanya menyatakan fakta.

"Aku lapar, Rum. Sudah dua hari aku cuma makan sisa pasar," gumam Baskara tanpa berani menatap mata Arumi.

Kinan mengintip dari balik kaki ibunya. "Ibu, siapa om ini? Kenapa bajunya kotor?"

Hati Arumi bergetar mendengar pertanyaan polos putrinya. Ia menatap Baskara, lalu menatap Kinan. Ia ingin marah, tapi ia sadar, ia sudah terlalu jauh di depan untuk menengok ke belakang dan membawa kemarahan itu.

"Ini... hanya orang yang butuh bantuan, Sayang," jawab Arumi pada Kinan.

Arumi mengambil selembar uang dari laci kasirnya, lalu menyerahkannya pada Baskara melalui meja kios.

"Ini untuk Mas makan. Tapi maaf, Mas... tidak ada lowongan untukmu di sini."

Baskara menerima uang itu dengan tangan gemetar. "Kenapa, Rum? Aku janji akan rajin. Aku mau dekat dengan Kinan..."

"Mas mau dekat dengan Kinan?" Arumi menggeleng pelan. "Kinan butuh teladan, Mas. Dia butuh melihat orang yang berjuang, bukan orang yang hanya muncul saat perutnya lapar. Selama lima tahun ini, Mas ke mana? Mas bahkan tidak tahu kapan dia mulai berjalan. Mas sudah kehilangan hak untuk disebut ayahnya sejak Mas memilih untuk 'tidak mau pusing' di pengadilan dulu."

Baskara terdiam. Kalimat lamanya kini menghantamnya kembali seperti bumerang yang mematikan.

"Pergilah, Mas. Cari hidupmu sendiri. Jangan buat Kinan bingung dengan kehadiranmu yang hanya sementara," lanjut Arumi.

Baskara memandangi uang di tangannya, lalu memandangi Kinan yang kini kembali asyik bermain dengan bintang emasnya. Ia menyadari satu hal yang terlambat: Arumi tidak hanya "mewangi", Arumi telah menjadi matahari yang terlalu silau untuk ia dekati kembali dengan kegelapannya.

Tanpa kata, Baskara berbalik. Ia berjalan menjauh, menyeret kakinya yang berat di atas lantai pasar yang kini terasa sangat luas dan dingin baginya.

Arumi menarik napas panjang, menghirup aroma bumbu rempah di kiosnya. Ia tersenyum. Ia telah benar-benar mekar, dan akarnya kini tertancap kuat di tanah kebebasan.

1
Diana Bellusi
bagus ceritanya q suka💪
miss tiii: halooo kakk, jangan lupa vote yaaa , salam kenalll🙏🤭
total 1 replies
Emily
dah baskara gak usah harap Arumi lagi pigi kerja jadi kuli buat ngisi perutmu
Emily
kerja baskara jangan ngintipin arumi aja
Emily
lha baskara itu pernah berjuang apa
Emily
nah gitu dong Rumi
Emily
ah ngomong aja kau Rumi..makin banyak kau ngomong makin mentiko lakikmu
Emily
si Arumi kan udah pernah ngomong begitu jgn sampe berkali kali ngomong begitu tapi tetap masih mengharap laki mokondo
Emily
lha Arumi di tinggal saja laki begitu..malah balik lagi
Emily
baskara kerja apa kok modelnya begitu.. bpak nya Arumi juga salah kenapa menjodohkan anaknya dgn leleki gak jelas
Emily
semangat
Yuli Yanti
sbetulnya nama anaknya Bayu apa Kinan. bingung aku
miss tiii: Kinan Buu , episode berapa yg masih nama Bayu biar saya ganti , makasihh atas komentarnya 🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!