Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.
Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.
Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.
Akankah penyamaran Willy berhasil?
Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain
Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Willa membeku saat mendengar pertanyaan Summer yang tiba-tiba. Pikirannya langsung tertuju pada apa yang terjadi kemarin, dan ia juga mulai kepikiran soal yang terjadi tadi di kampus.
Untuk beberapa saat Willa diam. Sendok di tangannya berhenti di udara, dan matanya tidak berani langsung menatap Summer. Ia butuh beberapa detik untuk sekadar menarik napas.
“Hah?” balasnya kemudian, seolah tidak paham apa yang Summer katakan.
Summer tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya lurus, tenang, tapi cukup menimbulkan tekanan tersendiri buat Willa.
“Gue nanya,” ulang Summer pelan, “apa yang lo sembunyiin dari gue, Wil?”
Willa terkekeh kecil, dengan berusaha mencari jawaban yang mungkin masuk akal.
“Apaan sih, Mer. Lo tiba-tiba nanya kayak gitu, lo mikir gue punya rahasia gitu?” tanya Willa, mencoba terdengar santai.
Summer tetap diam memperhatikan Willa, wajahnya datar tanpa ada senyum dibibirnya ataupun reaksi lain. Tidak ada raut wajah marah, curiga atau juga kesal. Dan justru itu yang membuat Willa makin tidak nyaman.
“Gak tahu juga. Tapi, gue ngerasa kalau lo keliatan beda,” lanjut Summer.
“Maksudnya?”
“Lo beneran Willa yang gue kenal selama ini kan? Lo bukan cowok kan?”
Jantung Willa berdetak dengan cepat mendengar pertanyaan Summer, bahkan ia sudah bersiap dengan segala kemungkinan terburuk kalau Summer tahu siapa dia sebenarnya.
“Kenapa diem? Lo nggak tahu musti jawab apa? Jujur aja, Will. Lo siapa, dan kenapa lo keliatan beda?”
Willa menghela napas, lalu akhirnya menaruh mangkuknya di meja. Ia sudah bersiap dengan segala resikonya, dan bahkan bersiap mengaku siapa jati dirinya meski kemungkinan dibenci Summer itu besar.
“Iya, gue ngaku.. gue mau jujur kalau gue sebenernya…”
“Nah kan, akhirnya lo ngaku juga!” seru Summer, memotong ucapan Willa hingga membuatnya mengernyitkan kening.
“Maksudnya? Gue kan belum ngaku apa-apa, Mer?”
Summer tersenyum geli, lalu mengeluarkan sebuah benda yang membuat Willa membola seketika.
“Anjir, Summer!” serunya refleks.
Summer melipat bibirnya kedalam saat melihat raut pamit Willa, yang lagi-lagi terlihat konyol seperti kemarin.
“Loh, kenapa lo kayak kaget gitu? Emang lo beneran kenal benda ini?” tanya Summer.
Ia sendiri tidak tahu darimana datangnya, saat ada rasa senang ketika menggoda Willa seperti saat ini. Apalagi saat melihat wajah Willa yang merah padam karena malu.
“Jelas gue kenal, Summer. Karena itu punya gue, punya gue...”
Summer memejamkan mata sekilas, melihat raut kesal sekaligus konyol dari wajah Willa. Ingin ia meledak saat itu juga. Tapi sekuat mungkin coba ia tahan, karena menunggu raut yang paling ‘gong’ dari Willa.
“Yakin punya lo? Masa lo punya ginian, will?” tanya Summer, dengan suara setengah menahan tawa.
“Heh, jangan ngetawain gue lo… jangan karena sempak spongebob, lo ngetawain gue seenaknya.”
“Dih, siapa yang ngetawain lo. Gue cuma… gue cuma heran,” lanjut Summer sambil menahan senyum. “Selera lo ternyata unik juga.”
“Unik pala lo. Itu normal tau, dan itu tandanya kalah gue cewek yang estetik dan… sensasional”
“Pffftttt…”
“Mulai… ape lo?”
“Yakin, lo bilang ini normal? Normal dari mana Markonah?” tanya Summer, akhirnya gagal menahan tawa. “Umur segini masih pakai sempak Spongebob, mana tuing-tuing lagi, mana….”
“Yeee emang kanape hah? Emang lo gak suka Spongebob? Kok bisa gak suka, emang spongebob salah apa ke lo?” balas Willa cepat.
“Gak ada,” jawab Summer masih dengan tawa yang ia tahan.
“Gak usah ngeledekin ya. Asal lo tahu, Spongebob itu orangnya baik dan idaman tau, dia rajin kerja, punya rumah sendiri, pelihara siput, hidup stabil. Banyak yang kalah sama dia.”
Summer menutup mulutnya, bahunya sampai bergetar menahan tawa.
“Astaga! Lo jadi pengarang handal cuman buat bela sempak?” Summer terkiki geli, lagi-lagi berusaha untuk tidak meledakkan tawa lagi.
“Eh Markonah, gue bukan ngarang ya. Tapi itu kan emang cerita beneran, dan sekarang gue lagi ngebelain karakter legendaris.”
Summer yang sudah tidak bisa lagi menahan, akhirnya ia tertawa lepas tanpa ragu. Suara tawanya memenuhi kamar kecil itu. Willa yang awalnya kesal malah ikut diam beberapa detik, memperhatikan Summer. Sepersekian detik, Willa menatap lekat ke arah Summer yang tertawa dengan begitu lepas, membuat kecantikannya semakin terpancar meski tanpa polesan makeup. Ini juga kali kedua Summer tertawa selepas ini, selama mereka kenal dekat.
“Udah puas lo ketawanya?” tanya Willa jutek, menutupi rasa malunya sendiri gara-gara sebuah celana dalam.
Summer mengusap sudut matanya yang berair.
“Belum. Tapi gue tahan dulu deh, kasian juga kalau lo gue ketawain mulu. Tar malah ngamuk.”
Summer terkekeh geli. Sementara Willa berdecak kesal.
“Sialan lo,” dengus Willa.”udah ya, sekarang balikin semfak gue, gak usah ngetawain gue lagi.”
Summer mengangkat celana pendek itu lebih tinggi, dengan lagi-lagi menahan tawanya sendiri.
“Lo beneran mau ini balik?”
“Yaiyalah, Mer. Itu sempak gue, buruan sini balikin. Ngapain di lo mulu sih.”
“Tapi lo serius, kalau ini punya lo?
“Yaiyalah punya gue, masa punya jelangkung.”
“Yeeee, ya iya. Gue tahu kalau ini bisa jadi punya lo, masa punya jelangkung? Lo pikir jelangkung pake sempak?”
“Ya gak tau, ko tanya saya,” sahut Willa dengan nada yang khas dari salah seorang mantan pemimpin indonesia.
“Kirain tau.”
“Gue bukan bapaknya jelangkung, Summer. Mana gue tau tuh jelangkung pake sempak Spongebob atau nggak. Yang jelas, benda keramat yang lo pegang itu punya gue, dan gue mau itu balik.”
“Sekali lagi gue tanya, ini beneran punya lo? Yakin?”
Willa langsung berdiri dari duduknya.
“Serius, Mer. Itu punya gue. Dari mana lo dapet itu sih?” .
Summer tidak langsung menjawab. Ia malah memutar celana itu perlahan, seolah mengamati.
“Lucu juga ya,” gumamnya. “Spongebob. Kuning lagi.”
“Mer!” potong Willa, tidak sabar.
“Iya, iya,” Summer akhirnya menatapnya. “Gue nemu ini di jemuran.”
Willa mengernyit.
“Jemuran mana?”
“Jemuran belakang. Yang nyambung sama kontrakan sebelah.”
Kalimat itu langsung membuat ekspresi Willa berubah.
“Terus?” tanyanya pelan.
Summer menyandarkan bahunya ke lemari.
“Awalnya gue kira punya lo yang jatuh ke sana. Tapi pas gue ambil, anak kontrakan sebelah bilang ini udah sempet dioper-oper.”
“Dioper-oper?” ulang Willa.
“Iya. Dari jemuran mereka ke jemuran kita. Katanya nyangkut di tali, terus kena angin. Pindah-pindah sendiri,” jelas Summer.
Willa menutup wajahnya sebentar.
“Gue pengen ilang aja gabung sama opet anjir,” gumamnya pelan.
Summer menahan tawa.
“Masalahnya bukan cuma itu, Wil.”
Willa menurunkan tangannya.
“Apa lagi?”
Summer mengangkat celana itu lagi.
“Ukuran.”
Willa langsung menatap tajam.
“Kenapa sama ukuran?”
Summer mendekat satu langkah.
“Ini bukan ukuran cewek.”
Deg.
Willa terdiam.
“Dan gue nemunya di jemuran yang nyampur sama jemuran cowok,” lanjut Summer. “Makanya gue nanya.”
Willa menelan ludah.
“Apa maksud lo?” tanyanya, meski ia sudah tahu arah pembicaraan ini.
Summer menatap lurus.
“Lo siapa, Wil?” ucapnya pelan. “Lo cewek… atau bukan?”
Tidak ada suara selain napas mereka, dan diam-diam Willa mengepalkan tangannya.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menghela napas panjang.
“Itu cuma celana dalaman gue,” jawabnya. “Udah lama gue pake model kayak gitu.”
Summer tidak langsung percaya. “Serius?”
“Iya,” balas Willa cepat. “Nyaman. Longgar. Gak ribet.”
Summer masih menatapnya, mencoba membaca ekspresi di wajah Willa.
“Terus kenapa bisa nyasar ke sana?” tanyanya lagi.
Willa menggaruk pelipis.
“Gue jemur semalam. Mungkin jatuh. Kena angin. Terus nyangkut ke sana.”
Summer mengangguk pelan. Penjelasan itu masuk akal.
Tapi tetap ada yang mengganjal.
“Lo panik banget tadi,” kata Summer.
“Ya iyalah panik!” balas Willa cepat. “Itu barang pribadi gue. Tiba-tiba ada di tangan orang lain. Lo bakal santai?”
“Masalahnya bukan itu.”
“Terus?”
“Lo panik karena celana ini ada di orang lain, apa panik karena ini celana jelangkung yang lo copet?”
“Sumerrr!!!”