Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Hari yang menyenangkan
Setelah acara mengunjungi makam tadi, Laura langsung saja mengarahkan kelima pengawalnya menuju tempat yang biasa ia datangi.
Taman dengan danau buatan. Di tempat ini cukup sepi pengunjung, padahal ini hari libur. Rumornya, di danau ini ada penunggunya. Ada seseorang yang mengakhiri hidupnya di danau buatan tersebut dan menjadi arwah penasaran. Namun Laura tidak percaya akan hal itu.
Selama ia berkunjung, ia tidak pernah menemukan hal aneh atau semacamnya. Suasana taman dan danau buatan itu cukup sejuk, tidak ada suasana mistis sama sekali. Bahkan saat sore hari menjelang malam pun, tidak ada hal buruk terjadi. Malah, saat sore hari pemandangan sangat indah. Laura jadi betah berada di sana.
Mereka menggelar tikar yang sudah di siapkan sebelum keberangkatan mereka. Pelayan Kim pun tidak lupa menyiapkan cemilan ringan untuk mengisi piknik kecil dadakan itu.
Laura mengadakan acara piknik kecil-kecilan ini sebagai bentuk perayaan atas kelima lelaki yang sudah menjadi Kakaknya itu. Juga, sebagai bentuk terimakasih kepada mereka berlima karena sudah menghiburnya kemarin.
Jika tidak ada mereka, mungkin ia sudah mati kebosanan di kediaman megah milik pria jelek alias suaminya.
“Tidak! Tidak! Itu salah, Kak Ar, susunannya tidak seperti itu!”
“Kak Zero tempat airnya kenapa miring, tolong geser sedikit.”
“Cake-nya jangan di simpan di pinggir, simpan di tengah-tengah.”
Perintah-perintah dan omelan terus Laura keluarkan kepada mereka yang sedang menata barang bawaan yang Laura bawa. Ia berkacak pinggang sambil meneliti setiap benda agar tersusun dengan rapi.
“Kak Hans berhenti memperhatikan sekitar, tolong bantu mereka. Mereka ini selalu salah mengatur tata letak bendanya!”
“Saya memastikan tidak ada paparazi yang menggangu kenyamanan Anda, Nyonya. Protokol keamanan 2 pasal satu, kami harus memastikan agar Anda—”
“Berhenti membicarakan protokol! Cepat bantu!” potong Laura dengan nada bicara garang.
“Baik, Nyonya.” Hans dengan patuh langsung saja membantu.
Ey.. walaupun tubuhnya besar dan di penuhi oleh otot-otot kencang. Ia tetap takut pada sosok di depannya. Bukan karena takut di pecat, ia lebih takut karena emosi seorang perempuan itu tidak dapat di prediksi.
Hans ini tipe pria yang takut perempuan, ya? Tidak dapat di bayangkan jika saja Hans menikah nanti, sepatuh apa pria besar itu kepada istrinya. Mungkin saja Hans akan jadi salah-satu golongan suami takut istrinya?
Dari kejauhan, Owen menenteng sebuah kantung keresek yang berisikan eskrim. Pria itu terengah-engah karena waktu yang di berikan Nyonya hanya lima menit. Dan jika dalam lima menit belum kembali, Nyonyanya akan memberikan hukuman berupa coretan maut pada wajahnya.
Tentu saja, dengan gerakan kilat Owen berlari pada supermarket terdekat, menerobos antrian agar bisa kembali dengan cepat. Tidak peduli dengan protesan ibu-ibu yang sedang berada di kasir. Ia lebih menyayangi wajahnya. Pria itu tidak ingin berakhir mengenaskan seperti Arlo kemarin.
“Nyonya, eskrim Anda sudah datang!” seru Arlo sambil menunjukan kantung belanjaannya. Nafasnya terdengar berat.
“Wah! Terimakasih Kak Owen, sini-sini duduk,” Laura menepuk-nepuk tempat di sampingnya, menyuruh Owen untuk duduk di sana.
Dengan langkah sedikit gontai, pria itu duduk di samping Laura. Masih berusaha mengatur nafasnya karena kelelahan berlari.
Sementara Laura, ia sibuk membuka kantung keresek tersebut. Enam cup eskrim dengan berbagai varian rasa. Laura mengambil eskrim coklat untuknya, lalu membagikan sisanya pada kelima pengawalnya secara random.
“Karena kalian sudah bekerja keras, mari makan eskrim!” seru Laura dengan senang. Gadis itu bahkan mengacungkan eskrim coklatnya dengan bangga.
Kelima pria berbadan tegap itu saling berpandangan sejenak, menatap cup es krim di tangan masing-masing dengan ekspresi yang sulit diartikan. Di bawah pohon rindang dan semilir angin sejuk, mereka tampak seperti sekumpulan prajurit yang dipaksa ikut pesta teh anak kecil.
Badan tegap memegangi sebuah cup eskrim? Ugh... Benar-benar sangat mencolok. Apalagi pakaian yang mereka gunakan full hitam dengan beberapa aksesoris lainnya.
“Kenapa diam saja? Ayo dimakan! Nanti keburu cair,” desak Laura sembari menyuapkan satu sendok penuh es krim cokelat ke mulutnya. Matanya berbinar senang.
Arlo menatap cup eskrim rasa stroberi di tangannya dengan kening berkerut. “Nyonya... apa ini tidak terlalu manis?”
“Manis itu bagus untuk suasana hati, Kak Ar! Jangan protes atau aku tambahkan coretan di pipi kiri supaya simetris dengan yang kemarin,” ancam Laura dengan mata melotot garang.
Mendengar hal itu, Arlo langsung bungkam. Ia dengan terburu-buru membuka cup eskrim dan melahapnya dengan cepat. Laura tersenyum senang setelahnya, ia melanjutkan acara makan eskrimnya.
Sementara itu, Owen yang masih mengatur napas akhirnya membuka cup es krim rasa mint choco miliknya. “Hah... rasanya kaki saya mau copot, tapi es krim ini benar-benar penyelamat. Nyonya, lain kali tolong beri waktu sepuluh menit. Ibu-ibu di kasir tadi hampir melempar saya dengan sepatu hak tingginya.”
Sementara Hans dan Gabriel sedari tadi hanya menyimak. Kedua pria itu sibuk memperhatikan sekitar taman. Takut-takut memang ada paparazi yang akan merusak momen tenang Nyonya mudanya. Mereka hanya memastikan tidak ada pengganggu yang akan merusak suasana hati Laura. Kenyaman Laura adalah nomer satu.
“Kalian berdua!” tunjuk Laura pada Hans dan Gabriel. “Berhenti memperhatikan sekitar. Tidak akan ada orang datang, tenang saja. Di sini aman.” Lanjutnya meyakinkan.
“Namun, Nyonya—”
Laura memotong protesan yang akan keluar dari dua belah bibir Hans dengan menyuapkan sesendok eskrim miliknya pada mulut Hans agar diam.
Mata pria itu sedikit membelalak. “Dingin.”
Laura tergelak. “Tentu saja dingin, namanya juga eskrim. Eskrim 'kan tidak ada yang panas Kak Hans.”
Gadis itu lalu beralih pada Gabriel dan Zero yang hanya diam memandangi cup eskrimnya. “Kenapa kalian tidak memakannya? Kalian tidak suka, ya? Ingin varian yang lain? Aku akan membelikannya. Tunggu sebentar.”
Laura sudah akan berdiri, namun langsung terdiam kaku saat kedua pria itu mencegahnya secara bersamaan. Suara besar mereka membuatnya terkejut. Ia bahkan sampai mengkedip-kedipkan matanya pelan.
“Maaf, Nyonya. Saya hanya jarang memakan makanan seperti ini. Tapi sesekali tidak masalah,” kata Zero dan langsung membuka penutup cup eskrim miliknya.
Gabriel menganggukkan kepalanya. “Terima kasih karena sudah mentraktir kami semua eskrim, Nyonya. Kami akan memakannya dengan senang hati.”
Laura tersenyum lebar. “Sama-sama, anggap saja itu kompensasi karena kalian sudah menghiburku kemarin.”
.
.
.
Acara makan-makan eskrim selesai. Laura dengan tingkah lakunya yang memang tidak bisa diam jika ada teman bermain langsung saja mengajak kelima pria itu bersenang-senang.
Mereka ber-enam banyak memainkan permainan anak-anak. Tentu saja itu usulan dari Laura sendiri. Bermain petak umpet, bermain gelembung, bahkan sekarang Arlo, Hans dan Laura sedang bermain lari-larian. Menghindari si predator yang akan menangkap salah-satu dari mereka. Tentu saja, si predator itu, Arlo.
“Akhhh! Kak Hans, tolong! Kak Ar mengejarku! Tolong! Tolong!”
Hans, yang sedang berusaha mengatur napasnya yang mulai berat karena harus berlari dengan bobot tubuh penuh otot, langsung sigap merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Ia berdiri bak benteng kokoh di depan Laura yang berlari sembunyi di balik punggungnya.
“Berhenti, Arlo! Target dilindungi oleh protokol keamanan khusus!” seru Hans dengan nada bicara yang masih terdengar seperti sedang bertugas, meski wajahnya sudah memerah karena lelah.
Arlo yang sedang menjadi ‘predator’ tertawa kencang, ia mencoba mengecoh Hans dengan gerakan zig-zag ke kiri dan ke kanan. “Tidak ada protokol dalam permainan ini, Hans! Minggir atau kau yang kutangkap!”
“Tidak mau! Kak Hans, jangan kasih lewat!” teriak Laura sambil menarik-narik ujung jas Hans agar pria besar itu tetap menjadi perisainya. Gadis itu tertawa terbahak-bahak sampai matanya menyipit, terkadang ia menjulurkan lidahnya mengejek Arlo yang masih berusaha menggapainya. Benar-benar menikmati momen kebebasannya.
Di sisi lain, Owen dan Zero sedang asyik bertaruh di tepi danau sambil memegang botol gelembung sabun.
“Aku bertaruh sepuluh ribu, Arlo tidak akan bisa menyentuh ujung baju Nyonya jika Hans sudah jadi tameng begitu,” ujar Owen sambil meniup gelembung-gelembung kecil ke udara.
Zero melirik datar. “Tiga puluh ribu untuk Arlo. Dia licik, lihat kakinya.”
Benar saja, dengan gerakan tipuan yang cepat, Arlo berpura-pura jatuh ke kiri, lalu dengan lincah melompat ke arah kanan Hans yang terbuka. “Kena!”
“TIDAKKKK!” Laura menjerit dramatis, ia langsung berbalik arah dan berlari sekencang mungkin menuju Gabriel yang sedang duduk santai di bawah pohon. “Kak Riel! Selamatkan aku! Kak Ar jadi monster!”
Gabriel menghela nafas pasrah saat Laura tiba-tiba menjadikannya tempat persembunyian baru. Ia terpaksa berdiri dan menahan dorongan Arlo yang datang menyerbu.
“Sudah, Arlo. Nyonya sudah kehabisan napas,” ujar Gabriel tenang, namun tangannya tetap sigap memblokir pergerakan Arlo.
“Curang! Kalian berempat ini kenapa kompak sekali melindungi Nyonya? Aku kan juga ingin menang!” protes Arlo sambil berkacak pinggang, napasnya tersengal-sengal.
Laura menjulurkan lidahnya ke arah Arlo dari balik bahu Gabriel. “Wlee! Itu artinya aku bos yang paling disayangi.”
Suasana taman yang tadinya sepi kini penuh dengan suara tawa dan perdebatan konyol. Kelima pria yang biasanya terlihat sangar dengan setelan jas hitam itu kini tampak berantakan. Dasi yang miring, kancing baju yang terbuka, dan kulit wajah yang memerah dengan peluh menghiasi.
“Aduh, kepalaku pusing karena terlalu banyak tertawa,” ujar Laura sambil mendudukkan dirinya kembali di atas tikar, memegangi perutnya yang kaku.
“Gerah sekali,” ujarnya sambil mengibaskan tangannya dengan kencang. “Tolong kipas-kipas.”
Arlo yang posisinya paling dekat langsung saja mengipasi Nyonya. Melupakan berdebatan kecil mereka tadi.
Hans melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul lima sore. Cukup lama mereka bermain-main, ya? Mereka bahkan tidak sadar karena terlalu sibuk bermain-main. Tapi tidak masalah, selagi Nyonyanya senang, apa saja akan mereka lakukan.
“Hah.. sudah-sudah,” Laura mengibaskan tangannya agar Arlo berhenti mengipasinya. Gadis itu berdiri lalu berjalan ke tepi danau, tentu saja di ikuti oleh kelima pengawalnya.
Laura mendudukkan tubuhnya, menoleh pada kelima pengawalnya untuk ikut duduk berjajar di sampingnya. Hans sudah ingin menolak karena waktu yang sudah hampir menjelang malam. Namun, ucapannya tertelan bulat-bulat.
“Matahari terbenam sebentar lagi, aku ingin menikmati suasananya,” gumam Laura yang masih bisa di dengar jelas oleh mereka semua.
“Baiklah, Nyonya. Hanya sampai matahari terbenam. Setelah itu mari kita pulang. Tuan muda bisa saja marah karena Anda terlalu lama berada di luar.”
“Dia tidak akan marah. Tenang saja, jika dia marah aku akan meninju wajahnya sampai gigi-giginya rontok semua!” seru Laura dengan menggebu-gebu.
Keheningan menyelimuti taman itu. Pandangan mereka terfokus pada matahari yang akan terbenam, namun keheningan itu berubah menjadi ketegangan saat Laura mengatakan suatu hal yang membuat mereka menolehkan kepalanya kepada Laura dengan kaku.
“Di sini tenang, ya? Apa mungkin karena rumor mengatakan danau ini memiliki penunggu?”
“Katanya sih ada yang bunuh diri terus arwahnya gentayangan.”
***
Ngebut banget nulisnya, maaf kalo ada kesalahan. Hampir lupa jika hari ini jadwal update. Semoga suka!
Senin, 20 April 2026
Published : Senin, 20 April 2026