No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyap Sebelum Badai
Luka di paha Song Yuan berdenyut perih, namun ramuan dari Mo Chen bekerja seperti sihir yang dingin—menutup luka dan membekukan rasa sakit dalam hitungan jam. Yuan kini berdiri di atas bukit yang menghadap langsung ke arah Ibukota Lin'an. Dari kejauhan, kota itu tampak seperti raksasa tidur yang dikelilingi tembok batu setinggi tiga puluh meter.
"Indah dari luar, busuk di dalam," gumam Yuan.
Ia tidak bisa masuk melalui gerbang utama. Wajahnya—meski sudah banyak berubah—masih memiliki garis wajah Klan Song yang terlalu mencolok bagi para penjaga yang memiliki daftar buronan. Ia butuh cara lain.
Yuan turun menuju sebuah desa kecil di kaki bukit yang menjadi tempat persinggahan para pedagang. Di sebuah kedai teh yang sepi, ia melihat seorang gadis muda dengan pakaian pelayan yang tampak sedang terisak sambil menggosok meja.
"Satu teh pahit," ucap Yuan sambil duduk di sudut, tetap dengan gaya "pendekar misterius"-nya.
Gadis itu terlonjak, buru-buru menghapus air matanya. "B-baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar."
Saat gadis itu kembali membawa teh, Yuan memperhatikan tangan gadis itu gemetar. "Kenapa kau menangis?"
Gadis itu menggeleng takut-takut. "Bukan apa-apa, Tuan. Hanya... hanya nasib buruk."
"Katakan. Mungkin aku bisa membuat nasibmu sedikit lebih baik," Yuan menatapnya dengan mata kuningnya. Entah kenapa, meski tatapannya dingin, ada aura perlindungan yang membuat gadis itu merasa aman.
"Besok... Komandan Gao Shuo mengadakan pesta besar di kediamannya di Ibukota. Mereka memesan sepuluh pelayan tambahan dari desa ini. Aku... aku terpilih, tapi semua orang tahu kalau pelayan yang masuk ke rumah Gao Shuo tidak pernah keluar dalam keadaan utuh," isak gadis itu.
Mata Yuan berkilat. Ini dia jalannya.
"Siapa namamu?"
"Ling... namaku Ling, Tuan."
"Ling, berikan pakaian pelayanmu dan tanda pengenalmu padaku. Kau akan tetap di sini, dan aku akan menjamin kau tidak akan pernah dipanggil lagi oleh orang-orang Gao Shuo," ucap Yuan datar.
Ling melotot. "Tuan? Tapi... Anda laki-laki! Mana mungkin—"
Yuan mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya—salah satu koleksi racun penyamaran dari Mo Chen. "Guruku mengajarkan banyak hal, termasuk bagaimana mengubah tekstur kulit dan suara dalam waktu singkat. Berikan saja pakaian itu, atau kau ingin mati di tangan Gao Shuo besok?"
Singkat cerita, dengan bantuan teknik manipulasi otot yang menyakitkan (lagi-lagi didikan sadis Mo Chen), Song Yuan berhasil "mengecilkan" bahunya dan menutupi aura membunuhnya. Ia kini mengenakan pakaian pelayan laki-laki (jongos dapur) yang bertugas membawa tong-tong tuak ke kediaman Gao Shuo.
Malam Pesta di Kediaman Gao Shuo
Kediaman Gao Shuo tampak sangat megah. Ratusan lampion merah tergantung di langit-langit, dan aroma masakan mewah memenuhi udara. Para pejabat tinggi Ibukota tertawa ria, bersulang untuk kesuksesan Gao Shuo yang baru saja diangkat menjadi Jenderal Besar.
Yuan, dengan kepala tertunduk dan memanggul tong kayu besar, berjalan melewati barisan penjaga. Indranya tetap waspada. Ia bisa merasakan ada pemanah yang bersembunyi di atas atap—sisa-sisa Unit Elang yang lebih senior.
"Cepat letakkan itu di gudang belakang, Bodoh! Tamu-tamu sudah haus!" bentak seorang mandor pelayan sambil memukul punggung Yuan dengan rotan.
Yuan tidak bereaksi. Dalam hatinya, ia sudah menghitung berapa detik yang ia butuhkan untuk mematahkan leher mandor itu. Tapi tidak sekarang. Fokusnya hanya satu: Panggung utama di tengah taman, di mana Gao Shuo sedang duduk dengan pongahnya.
Dari balik tumpukan tong tuak di sudut taman yang gelap, Yuan mengeluarkan busur lipat yang ia sembunyikan di dalam tong. Ia memasang Panah Tulang Jiwa yang paling mematikan.
Di atas panggung, Gao Shuo sedang mengangkat cangkir emasnya. "Untuk Kaisar! Dan untuk musnahnya setiap tikus yang mencoba melawan kehendak langit!"
Yuan membidik. Ia tidak menutup mata kali ini. Ia ingin melihat wajah pria itu saat ajal menjemput.
"Ini untuk ayahku, Jenderal Galak yang kau khianati," bisik Yuan.
Ia melepaskan tali busur.
Wusss!
Anak panah itu meluncur bukan seperti panah biasa, tapi seperti kilat hitam yang membelah keriuhan pesta. Panah itu melewati sela-sela penari, meluncur tepat di antara dua tiang utama, dan...
CRACK!
Anak panah itu menembus cangkir emas Gao Shuo, lalu terus melaju dan menancap tepat di tengah dahinya.
Suasana pesta yang tadinya bising mendadak sunyi senyap seolah-olah waktu berhenti berputar. Gao Shuo masih duduk tegak, matanya melotot tidak percaya. Cairan hitam dari panah beracun itu mulai menjalar cepat, mengubah wajahnya menjadi abu-abu dalam hitungan detik.
"ADA PEMBUNUH! TANGKAP PEMBUNUHNYA!" teriak salah satu pejabat.
Yuan tidak lari. Ia melompat ke atas meja perjamuan, melepaskan jubah pelayannya, dan berdiri dengan gagah di bawah sinar rembulan. Di tangannya, ia memegang lencana naga milik ayahnya.
"Aku adalah Song Yuan! Putra dari Jenderal Song Yan! Siapa yang berani maju?!" raungnya, suaranya menggelegar seperti guntur.
Malam itu, Ibukota tidak akan pernah melupakan nama Song Yuan. Pesta kenaikan pangkat Gao Shuo berubah menjadi upacara kematian yang paling megah dalam sejarah.
Para pengawal Unit Elang di atas atap serentak menarik busur mereka, mengincar jantung sang pemuda. Namun, Song Yuan hanya tersenyum dingin. Ia tahu, mulai malam ini, bukan lagi dia yang akan bersembunyi di bayang-bayang. Mulai malam ini, seluruh Ibukota Lin'an akan belajar cara takut pada kegelapan."
"Karena di mana ada bayangan, di situ ada busur Song Yuan yang siap mencabut nyawa."
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏