NovelToon NovelToon
Mawar Beracun Sang Menantu

Mawar Beracun Sang Menantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna Nellys

Warning!!

***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.

Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.

Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.

Pernikahannya bukan tentang cinta.

Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.

Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.

Suaminya.

Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.

Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.

***

“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.

Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”

Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.

Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Cela kecil

0o0__0o0

Mansion. Malam hari.

Margaret duduk anggun di ruang tengah. Jemari-nya membalik halaman majalah populer dengan santai, matanya terpaku pada deretan perhiasan berlian yang berkilau.

“Aku harus minta Papa membelikan kalung yang ini…” gumam-nya pelan, bibirnya melengkung penuh ambisi.

Ceklek!

Suara pintu terbuka.

Rison masuk, membawa tas kerja. Wajahnya datar, lelah, tanpa ekspresi.

Margaret yang melihat suami'nya pulang, langsung berdiri. Senyum manis terpasang seketika.

“Papa, akhirnya pulang juga…”

Ia meraih lengan Rison, memeluk-nya manja. Pipi wanita itu menempel seolah ingin menunjukkan kehangatan yang sebenarnya terasa di paksakan.

“Aku tadi lihat majalah…” lanjutnya, menarik Rison ke arah sofa. Tangan-nya cepat mengambil majalah di atas meja. “Ada koleksi kalung berlian yang bagus sekali.”

Rison tidak langsung merespon. Ia hanya menghembuskan napas panjang, lalu melonggarkan dasi yang terasa menjerat lehernya.

“Lihat… bagus, kan Pa ?” Reta menyodorkan halaman itu dengan mata berbinar.

Rison melirik sekilas.

Hanya sekilas.

Lalu mendengus pelan.

“Perhiasan kamu sudah banyak.” Suaranya dingin, nyaris tanpa emosi. “Buat apa beli lagi ? Bukankah sama saja.”

Kalimat itu jatuh seperti es.

Tak ada usaha untuk melembutkan.

Tak ada ketertarikan.

Hanya penolakan.

Alih-alih di sambut hangat, di lepaskan jasnya, atau sekadar di tanya kabarnya… yang Rison dapat justru tuntutan.

Dan itu perlahan mengikis kesabaran-nya, membuat hubungan pernikahan mereka semakin renggang.

Di sudut ruangan, Mawar baru saja masuk.

Langkah-nya terhenti.

Matanya mengamati pemandangan di depan dengan tenang… lalu perlahan, bibirnya melengkung tipis.

Senyum yang tidak sepenuhnya baik.

“Sepertinya… Papa mertua mulai muak dengan istrinya,” gumam-nya lirih. Tatapan-nya beralih pada Margaret. “Dan hubungan mereka…” ia menyipitkan mata, “tidak sehangat yang selama ini terlihat.”

Ada sesuatu yang berkilat di balik pandangan itu.

Kesempatan.

0o0__0o0

Margaret terdiam.

Senyum-nya membeku.

Beberapa detik… ia masih memegang majalah itu di udara, seolah berharap Rison akan menambahkan sesuatu. Sekadar pujian. Atau setidaknya, perhatian.

Tapi tidak ada.

Hanya keheningan dingin yang menggantung.

Perlahan, tangan-nya turun. Tatapan-nya berubah. Bukan lagi manja. Melainkan tersinggung.

“‘Sama saja’…?” ulangnya pelan. Suaranya masih lembut, tapi ada nada tajam yang mulai merayap.

Ia menoleh, menatap Rison lebih dalam.

“Papa pikir semua berlian itu sama ?” bibirnya tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Atau… Papa memang sudah tidak peduli lagi dengan apa yang Mama suka ?”

Kalimat itu terdengar seperti pertanyaan. Padahal jelas itu tuduhan.

Brak!

Margaret menutup majalah itu dengan sedikit keras. Lalu meng-genggam erat, seolah menelan rasa kecewanya.

Ia duduk dengan kasar, menyandarkan tubuhnya ke sofa, menyilangkan kaki dengan anggun—gestur yang berusaha menunjukkan kendali… meski hatinya mulai panas.

“Dulu…” lanjutnya, suaranya lebih pelan, namun penuh tekanan, “Papa tidak pernah bicara seperti itu.”

Ia menatap lurus ke depan, bukan lagi ke arah suaminya.

“Apapun yang Mama mau, Papa akan berikan. Bahkan sebelum Mama minta.”

Ada jeda.

Napasnya di tarik pelan.

“Sekarang…” ia tertawa kecil. Hambar. “Mama cuma minta satu kalung saja… rasanya seperti minta sesuatu yang berlebihan.”

Kepalanya sedikit menoleh, cukup untuk melirik Rison dari sudut mata.

“What's Wrong, Rison ? atau memang Mama sudah tidak menarik lagi untuk di perhatikan ?”

Pertanyaan itu menusuk.

Bukan karena keras. Tapi karena jujur… dan penuh luka yang di samarkan oleh ego.

Namun Margaret tidak akan pernah mengakui-nya. Ia kembali membuka majalah itu, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal jemarinya mencengkeram halaman dengan sedikit lebih kuat.

Rison tidak langsung menjawab.

Ia hanya berdiri di sana, menatap Margaret dengan sorot mata datar… terlalu datar.

Seolah semua kata-kata barusan tidak cukup berarti untuk menggoyahkan apa pun dalam dirinya.

Hening.

“Kalau kamu merasa tidak di perhatikan,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan berat, “mungkin karena memang tidak ada lagi yang perlu di perhatikan.”

Kalimat itu jatuh tanpa peringatan.

Tajam.

Dingin.

Margaret menegang.

Rison berjalan pelan mendekat, melepas dasinya dan meletakkan-nya di atas meja dengan tenang. Gerakan-nya santai… kontras dengan ucapan-nya yang mulai menusuk.

“Perhiasan, tas, baju, sepatu…” lanjutnya, kini menatap langsung ke arah istrinya. “Semua sudah kamu punya.” Ia berhenti sejenak. “Bahkan mungkin… terlalu banyak, sampai menumpuk di dalam lemari.”

Tatapan-nya turun sekilas ke majalah di tangan Margaret, lalu kembali naik ke wajahnya.

“Jadi jangan salahkan aku kalau sekarang aku mulai bosan memenuhi hal-hal yang sama sekali tidak berguna itu.”

Nada suaranya tetap datar. Tanpa emosi. Dan justru itu yang membuatnya terasa lebih kejam.

Ia menarik napas pelan, lalu menambahkan lebih pelan, namun jauh lebih menusuk:

“Lagipula… yang aku butuhkan saat pulang ke rumah bukan daftar keinginan baru mu.”

Ada jeda.

Matanya menyapu ruangan sebentar… lalu kembali pada Margaret.

“Tapi sesuatu yang… membuatku merasa nyaman untuk membuang rasa lelah setelah seharian kerja. Kamu bahkan melupakan tugasmu sebagai seorang istri.”

Kalimat itu menggantung.

Penuh makna. Atau sengaja di buat ambigu.

Rison kemudian meraih dasinya kembali.

Seolah percakapan itu sudah selesai.

Seolah Margaret… tidak lagi cukup penting untuk di perdebatkan.

Ia berbalik, pergi meninggalkan ruang tengah. Tanpa menunggu jawaban. Tanpa peduli bagaimana wajah istrinya saat itu.

Di sudut ruangan, Mawar masih berdiri. Matanya menyipit tipis. Senyum-nya perlahan muncul.

“Oh…” gumamnya pelan. “Ini bukan sekadar perdebatan biasa…” Tatapan-nya mengikuti langkah Rison yang menjauh. “…hubungan mereka sudah retak.”

Dan retakan… selalu jadi celah terbaik.

0o0__0o0

Langkah Rison terhenti tepat di ruang makan. Bukan karena panggilan. Bukan karena suara.

Tapi karena sesuatu yang sederhana… namun terasa berbeda.

Mawar sudah berada di dekatnya.

Tanpa banyak bicara, wanita itu mengambil alih tas kerja dari tangan Rison dengan gerakan halus. Tidak tergesa. Tidak pula ragu.

“Biar saya saja, Pa,” ucapnya pelan. "Papa pasti haus kan ?"

Nada suaranya lembut—tidak manja, tidak di buat-buat. Justru tenang… dan pas.

Rison tidak langsung bereaksi. Namun tangan-nya yang tadi menggenggam tas itu, secara refleks mengendur.

Mawar lalu berdiri sedikit lebih dekat.

Jemari-nya terangkat, menyentuh kerah jas Rison. Dengan hati-hati, ia membantu melepaskan-nya. Gerakan-nya rapi, terlatih… seolah itu hal yang biasa ia lakukan.

Tak ada kata berlebihan.

Tak ada senyum mencolok.

Hanya perhatian kecil… yang selama ini hilang.

“Kelihatan capek sekali,” bisiknya pelan, nyaris seperti gumaman. "Jangan terlalu di pus kerjanya, pa... Ingat sehat itu mahal."

Jas itu kini berada di tangan-nya.

Mawar berbalik sedikit, memanggil pelayan yang berdiri tak jauh dari sana.

“Tolong siapkan kopi dan camilan sehat untuk Papa,” ucapnya tenang. “Dan ini… antar ke kamar beliau.” Tas kerja dan jas Rison ia serahkan dengan rapi.

Pelayan itu mengangguk cepat, lalu pergi.

Semua berlangsung begitu alami. Seolah memang seharus-nya begitu.

Rison masih berdiri di tempatnya. Untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke rumah itu… bahunya terlihat sedikit lebih rileks.

Tatapan-nya beralih pada Mawar.

Bukan tajam.

Bukan dingin.

Melainkan… menilai.

Mencermati sesuatu yang baru saja terjadi.

“Kamu…” suaranya rendah, seolah belum sepenuh-nya sadar ingin mengatakan apa.

Mawar menoleh, menatapnya dengan ekspresi tenang.

“Minum air putih dulu, Pa,” potongnya halus. “Nanti kopi dan camilan-nya di antar pelayan.”

Senyum-nya tipis.

Sopan.

Tapi cukup hangat untuk meninggalkan jejak.

Mawar sedikit menunduk, menuangkan segelas air putih, lalu mengulurkan ke arah Rison.

Gestur kecil.

Namun penuh arti.

Rison tidak langsung bergerak. Ada jeda sesaat… sebelum akhirnya ia mengambil dan meminum sampai tandas.

Tenggorokan-nya memang kering, sejak perdebatan di ruang tengah dengan istrinya.

"Terimah kasih," Ucap'nya pelan. Ia meletakan gelas kosongnya ke atas meja. "Ares beruntung punya istri perhatian dan pengertian seperti mu."

Mawar tersenyum tipis, menunduk. Seolah malu-malu kucing karena di puji.

"Aku hanya menjalankan peran dan kewajiban sebagai istri." Jawabnya tenang. "Papa pasti jauh lebih beruntung mendapatkan istri seperti mama Reta."

Rison diam. Tak menyela. Walaupun dalam hati ia berteriak ingin menyangkal.

"Buktinya pernikahan papa dan mama langgeng sampai puluhan tahun." Lanjutkan mawar memuji. Seolah-olah kagum.

Rison menatap Mawar dalam-dalam. "Terkadang apa yang nampak di permukaan tidak seindah yang terlihat." Ucapnya ambigu.

"Hah ?" Mawar menatap Rison. Pura-pura tidak mengerti. "Apa maksud papa ?"

Rison tersenyum tipis. Menatap gemas wajah bingung menantu-nya. "Tidak apa-apa, jangan di anggap serius." Ia mengacak rambut mawar pelan.

Mawar diam mematung. Matanya berkedip-kedip syok. Namun bibir-nya menyeringai tipis.

Sangat tipis sampai Rison tidak menyadari-nya.

"Istirahat sana," Titah-nya lembut. "Papa mau ke kamar dulu."

Tanpa menunggu respon. Ia meninggalkan ruang makan. Namun kali ini bukan dengan rasa jenuh yang sama.

Di belakang-nya, Mawar berdiri diam. Matanya mengikuti langkah pria itu hingga menghilang dari pandangan.

Lalu senyumnya berubah.

Lebih tipis.

Lebih tajam.

“Hal kecil…” gumam-nya pelan. “…kadang justru yang paling membekas.”

Di sisi lain ruangan, Margaret masih duduk. Majalah itu terbuka di tangan-nya. Namun kini tak lagi terbaca.

Karena untuk sekian kalinya malam itu… Ia bukan lagi pusat perhatian.

0o0__0o0

1
Jojo Marjoko
ngesot gak tuh 🤭🤭🤭🤭 othornya melawak di tengah ketegangan 🤭🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
si presto mintak di sleding otaknya tuh 🤣🤣🤣🤣 jahat bet dah mah Ares
mrahboy Hboy
bagus ares😍😍😍😍 jadi laki jangan lembek...apalagi istrimu banyak yang ngincer👍👍👍
Selindia Morenas
Anjai, Ares mengerikan sekali epribady 🤣🤣🤣🤣 tapi gue suka 😍😍
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
antara tegang dan pengen ngakak bayangin LC ngesot kayak suster🤣Aresmu setia Mawar gak akan tergoda selain dengan mu Dreso lebih jahat dari iblis dan binatang emang
Selindia Morenas
gas.. update nya Thor 💪💪💪
mrahboy Hboy
ayo rose....cepat selamatkan suamimu😍😍😍😍
Aidil Kenzie Zie
kasihan Ares tak tau apa-apa malah jadi korban
Selindia Morenas: gue heran, mereka adik kakak tapi kayak musuh bebuyutan 🤭🤭🤭
total 1 replies
Qorey
lanjut thor
Selindia Morenas
siapakah itu ?
Selindia Morenas
mangkanya jaga suaminya yang bener....entar di gondol perempuan lain ... ngamok 🤣🤣🤣
Selindia Morenas
mawar benar-benar pemain 🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
lanjutkan Thor.....💪💪💪💪 semakipenasaran akoh🙏 🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
Mawar memang pintar 😍😍😍😍
mrahboy Hboy
menyala mawar 😍😍😍😍😍😍
Aidil Kenzie Zie
salfok sama Mawar apa sudah pakai celana dalam 🤭🤭🤭
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣
Jojo Marjoko
Terkadang perhatian kecil yang di abaikan justru nampak sangat berarti 😄😄😄😄 dan mawar pintar mencari cela itu 😍😍💪💪
Mita Paramita
🔥🔥🔥
sasip
sama seperti kejahatan, perselingkuhan pun bisa terjadi karena ada kesempatan.. 😉🤭😅
Qorey
bermain cantik kau mawar😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!