NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Dua Kata yang Cukup

Pinggang Citra terasa lemas.

Tanpa ia sadari, punggungnya sudah bersandar ke dadanya—dan ia membiarkan itu terjadi, meski tahu seharusnya tidak.

Jari-jari Arjuna bergerak pelan di lengannya. Bukan kasar. Justru itu yang membuatnya sulit bernapas—sentuhan itu terlalu hati-hati, terlalu sadar, seolah sedang menjaga sesuatu yang mudah pecah tanpa perlu diberitahu.

Citra menunduk. Pipinya sudah panas sejak tadi.

*Kenapa dia tidak bisa bersikap menyebalkan saja?*

Kalau dia kasar, kalau dia dingin seperti malam pertama,mungkin lebih mudah. Ada sesuatu yang bisa dilawan. Ada alasan yang jelas untuk membenci.

Tapi ini...

"Tuan Arjuna."

Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia rencanakan. Ia menelan ludah, lalu mencoba lagi,lebih teguh kali ini.

"Ada yang ingin aku bicarakan."

Arjuna mengangkat kepala sedikit. Tidak berkata apa-apa, hanya menunggu. Tatapannya tenang, tapi matanya membaca wajahnya dengan cara yang membuat Citra tidak nyaman,seperti semua yang ia sembunyikan bisa terbaca begitu saja oleh orang yang tepat, di waktu yang paling tidak ia inginkan.

Ia menarik napas.

"Tolong jangan beritahu Manajer Shafira." Jari-jarinya mencengkeram ujung selimut tanpa sadar. "Aku ingin tetap bekerja di sisinya. Belajar dari lingkungan itu. Shafira adalah bintang besar—ada banyak hal yang bisa kupelajari dari posisi itu yang tidak bisa kudapatkan dari tempat lain."

Arjuna diam sejenak. "Dan kau pikir aku akan diam begitu saja?"

"Aku tidak meminta kebaikanmu." Citra mendongak, menatapnya langsung,mencoba terlihat lebih yakin dari yang ia rasakan. "Aku meminta agar kau tidak ikut campur. Itu berbeda."

Arjuna menatapnya. Ekspresinya sulit dibaca,bukan dingin, bukan juga hangat. Entah apa yang ada di baliknya.

"Dan satu hal lagi."

Citra melanjutkan sebelum keberaniannya sempat habis.

"Jangan beritahu Shafira langsung. Biarkan aku yang mengelola itu sendiri, dengan caraku sendiri." Ia ragu sebentar....lalu sudah terlanjur. "Aku ingin tetap di posisi itu cukup lama untuk bisa ikut ujian masuk perguruan tinggi lagi. Jurusan seni pertunjukan."

Keheningan.

Bukan keheningan yang tidak nyaman,tapi jenis keheningan yang terasa seperti seseorang sedang benar-benar memproses sesuatu, bukan sekadar menunggu giliran bicara.

Arjuna menatapnya

benar-benar menatapnya...dan untuk pertama kalinya sejak malam ini dimulai, ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa Citra beri nama dengan tepat.

Bukan terkejut. Lebih dari itu.

"Ujian masuk perguruan tinggi," ia mengulang, pelan.

Bukan pertanyaan. Lebih seperti seseorang yang sedang memeriksa apakah yang ia dengar sesuai dengan yang ia lihat.

Citra mengangguk kecil. Dagunya terangkat sedikit.

refleks lama setiap kali ia merasa akan diremehkan, persiapan untuk mempertahankan sesuatu yang belum diserang.

Tapi Arjuna tidak meremehkannya.

Ia terkekeh,pelan dari dalam dada, bukan tawa mengejek yang Citra sudah siap hadapi. Ada sesuatu dalam suara itu yang tidak bisa langsung ia abaikan.

"Semua orang yang datang kepadaku menginginkan promosi," katanya, nada rendah dan sedikit geli. "Koneksi, kontrak, nama di kredit film. Kau tidak menginginkan itu?"

"Tidak."

Jawaban Citra keluar cepat,lebih cepat dari yang ia sadari. Ia menarik napas, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih terkontrol.

"Aku ingin belajar akting dengan benar. Dari awal. Bukan dari pintasan." Jeda singkat. "Pintasan itu rapuh. Sesuatu yang dibangun dengan benar lebih sulit diambil dari seseorang."

Keheningan lagi.

Kali ini lebih panjang.

Arjuna tidak bergerak. Ia hanya menatap gadis yang duduk di pangkuannya,gadis yang baru saja.......... di tengah malam yang kacau dan situasi yang sama sekali tidak menguntungkannya, berbicara soal ujian masuk perguruan tinggi dan akting yang dibangun dari awal dengan nada seseorang yang sudah memikirkan ini jauh sebelum malam ini terjadi.

Ada sesuatu yang bergeser di matanya. Sangat tipis, tapi Citra,yang sudah belajar membaca ruangan sejak lama—merasakannya.

"Baiklah."

Hanya itu.

Dua kata. Tapi cara ia mengucapkannya bukan seperti orang yang menyerah atau mengalah—lebih seperti seseorang yang baru saja memutuskan sesuatu setelah mempertimbangkannya dengan serius. Keputusan, bukan konsesi.

Lengan Arjuna tidak bergerak menjauh. Tapi tekanannya berbeda sekarang—bukan menahan, lebih seperti sesuatu yang lain yang Citra tidak mau beri nama karena memberinya nama akan membuat segalanya lebih rumit dari yang sudah ada.

Cahaya redup di ruangan itu tidak berubah. Udara malam tidak berubah.

Tapi ada sesuatu yang kecil dan diam yang bergeser di antara mereka...sesuatu yang tidak ada sebelum percakapan itu, dan tidak bisa sepenuhnya ditarik kembali setelahnya.

Citra memilih untuk tidak memikirkan apa artinya.

Ia menutup matanya, membiarkan napasnya pelan-pelan kembali normal, membiarkan ketegangan di bahunya perlahan luruh—bukan karena ia mempercayai pria ini, tapi karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk terus tegang.

*Untuk sekarang, ini cukup.*

Besok adalah urusan besok. Malam ini, ia masih hidup, masih berpikir, dan berhasil mengucapkan apa yang perlu diucapkan.

Itu sudah lebih dari yang ia harapkan dua jam lalu.

-

1
cipung
makin seru thotlr👍👍
cipung
semangat thor
cipung
keren...lanjut👍👍
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!