NovelToon NovelToon
Second Half: Velix The Next Legend

Second Half: Velix The Next Legend

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wawan wan

Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.

"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix

bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21: Tembok Besi dan Provokasi Raksasa

BAB 21: Tembok Besi dan Provokasi Raksasa

Tertinggal satu gol membuat SMP 21 mengamuk. Sebagai tim raksasa yang tidak pernah merasakan kekalahan sepanjang turnamen, harga diri mereka tercoreng. Pelatih mereka di pinggir lapangan terus berteriak dengan wajah tegang, menginstruksikan para pemainnya untuk menaikkan garis pertahanan dan bermain lebih menekan secara agresif.

"Reyhan! Turun sedikit, jemput bolanya! Jangan cuma nunggu di depan!" teriak sang pelatih dengan lantang.

Mendengar instruksi itu, Reyhan mengepalkan tangannya. Tubuh 175cm nya yang kekar mulai mundur ke area lini tengah pada menit ke-25. Dia tidak lagi menjadi target pasif; kini dia bertindak sebagai penjemput bola sekaligus perusak struktur pertahanan.

Begitu menerima umpan lambung dari beknya, Reyhan menggunakan keunggulan fisiknya untuk melindungi bola dari kawalan Danu. Dengan satu sentuhan kasar namun bertenaga, Reyhan memutar tubuhnya dan langsung menabrakkan bahunya ke arah Danu.

Bruk!

Danu terpental hingga tersungkur di atas lapangan tanah yang keras. Reyhan lolos dan langsung memacu larinya menuju kotak penalti Merah Marun.

"Awas! Tutup ruang tembaknya!" teriak Pak Joko panik dari bench.

Dua bek tengah Merah Marun langsung maju mengurung. Namun, Reyhan yang memiliki atribut fisik di atas rata-rata anak seusianya tidak melepaskan tembakan. Dia melakukan umpan tipuan dan mengirim bola mendatar ke sisi kanan, tempat penyerang sayap mereka berdiri bebas.

Bum! Penyerang sayap SMP 21 melepaskan tendangan keras, namun untungnya kiper Merah Marun melakukan penyelamatan gemilang dengan menepis bola keluar lapangan. Menghasilkan tendangan sudut untuk SMP 21.

"Sial, dia kuat banget, Vel. Dada gua sampai sesak pas ditabrak tadi," keluh Danu sambil meringis kesakitan saat dibantu bangkit oleh Velix.

Velix melepaskan mode monsternya sejenak, menepuk-nepuk debu di jersi Danu dengan sifat hangatnya yang suportif. "Lu udah kerja bagus, Dan. Fisik dia emang mateng duluan. Mulai sekarang, kalau dia turun ke tengah, jangan lu hadapi sendirian. Gua bakal double-team bareng lu. Kita jepit dia sebelum dia bisa muter."

Danu mengangguk mantap, rasa percaya dirinya kembali pulih setelah ditenangkan oleh sang jenderal lapangan tengah.

Sesi tendangan sudut dimulai. Lini pertahanan Merah Marun dijaga dengan sangat ketat. Reyhan berdiri di tengah kotak penalti, melompat-lompat kecil memamerkan jangkauan udara miliknya yang tinggi.

Bola melambung tinggi menuju tiang jauh. Reyhan melompat dengan meyakinkan, namun Velix yang sudah memprediksi arah bola berkat Analisis Lawan tidak melompat untuk berduel udara yang sia-sia. Dia sengaja menempatkan posisi tubuhnya tepat di bawah titik mendarat Reyhan, sedikit memberikan tekanan pada pinggul lawan secara legal sebelum Reyhan menyentuh bola.

Akibatnya, keseimbangan Reyhan di udara sedikit terganggu. Sundulannya meleset jauh di atas mistar gawang.

"Woi! Lu dorong gua ya?!" gertak Reyhan emosi, langsung berjalan merangsek maju dan menundukkan kepalanya untuk mengintimidasi Velix yang lebih pendek dari dirinya. Tubuh besarnya membayangi Velix.

Suasana di area penalti langsung memanas. Beberapa pemain SMP 21 ikut maju untuk menekan mental Velix. Suporter lawan di tribune pun mulai menyoraki nomor punggung 11 Merah Marun tersebut.

Namun, di hadapan efek pasif Cold-Blooded Mentor milik Frank Lampard, provokasi fisik dan verbal itu tidak lebih dari sekadar angin lalu. Detak jantung Velix bahkan tidak bergeser dari angka 75 BPM. Wajah remajanya menatap lurus ke mata Reyhan dengan pandangan yang teramat dingin, datar, dan sedingin es. Kedewasaan mentalnya justru menilai bahwa emosi Reyhan yang meledak-ledak adalah tanda bahwa sang striker mulai frustrasi.

"Lu mau main bola apa mau berantem, Rey? Kalau mau berantem, ring tinju bukan di sini," balas Velix dengan suara bariton yang sangat tenang namun menusuk ego sang lawan.

Reyhan tertegun. Dia terbiasa melihat bek-bek lawan ketakutan atau membalas makiannya dengan emosi yang menggebu-gebu. Namun, ketenangan ekstrem yang ditunjukkan oleh anak di hadapannya ini justru terasa sangat asing dan mengerikan—seperti menatap seorang pemain profesional dewasa yang sudah kenyang pengalaman di liga top dunia.

"Brengsek..." desis Reyhan, terpaksa mundur setelah wasit datang melerai dan memberikan peringatan keras kepada kedua belah pihak.

[Pemberitahuan Sistem: Tingkat Frustrasi Target (Reyhan) meningkat menjadi 65%.]

[Tingkat Konversi Peluang Lawan: Tetap 0%.]

[Sisa Waktu Babak Pertama: 5 Menit.]

Velix memutar lehernya, merasakan otot-otot tubuh 163.5cm nya yang bugar sepenuhnya beradaptasi dengan intensitas partai puncak. Sisi antusiasnya sebagai pencinta sepak bola taktis membara hebat. Babak pertama akan segera berakhir, dan dia bersiap memberikan satu kejutan taktis lagi sebelum turun minum untuk mengunci kemenangan mutlaknya di Jakarta Timur.

1
Alia Chans
lanjut🌹✍️🤭
Wawan
Salam kenal buat Velix✍️
aldo
seru sekali 🙏🙏🙏🙏
aldo
ayo lanjut author 🙏🙏🙏🙏
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏
NoxVeil
Ayok like dan komen guys biar tambah smngt up nya💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!