*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.
Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. Pertemuan Pertama
Perjalanan pulang menuju area perumahan elite tempat tinggal Arsenio berjalan dengan keheningan yang sangat hakiki. Tidak ada lagi aksi kebut-kebutan ala Formula E, tidak ada lagi tatapan mata tajam yang menghunjam, dan yang paling penting—tidak ada lagi suara gemuruh aneh dari perut sang CEO.
Arsenio menyetir dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Punggungnya yang biasa tegak sembilan puluh derajat seperti prajurit upacara kini sedikit bersandar lesu pada jok kulit mobil mewahnya. Jas Tom Ford ratusan juta yang menjadi kebanggaannya malam ini terasa seperti beban hidup yang sangat berat. Sesekali, ia melirik Kiera dari sudut matanya dengan pandangan penuh dendam kesumat, namun ia terlalu lemas bahkan hanya untuk membuka mulut dan mengeluarkan kalimat sarkas andalannya.
Sementara itu, Kiera duduk dengan sangat nyaman di sampingnya. Gaun hijau zamrudnya dirapikan, dan ia sibuk bersenandung kecil sambil memandangi lampu-lampu jalanan Jakarta. Suasana hatinya malam ini luar biasa cerah, secerah langit musim kemarau. Mengetahui fakta bahwa seorang Arsenio Yudhistira yang terkenal gila kontrol dan perfeksionis baru saja ditumbangkan oleh ulekan cabai dua ribu perak adalah obat lelah paling mujarab setelah sebulan penuh ia disiksa secara mental di kantor.
Mobil akhirnya memasuki kawasan perumahan elite yang super ketat. Rumah utama keluarga Yudhistira yang megah bak istana bergaya modern-klasik berdiri kokoh di ujung jalan. Arsenio menghentikan mobilnya tepat di depan lobi teras rumah, lalu mematikan mesin dengan helaan napas panjang yang terdengar sangat menderita.
Sebelum mereka berdua sempat membuka pintu mobil untuk turun, pintu utama rumah mewah itu mendadak terbuka lebar. Sesosok wanita anggun berpakaian rumahan yang sangat modis melangkah keluar dengan senyuman lebar. Itu adalah Alea Yudhistira.
Dari kejauhan, sejak mobil itu memasuki pekarangan, sepasang mata tajam Alea sudah memperhatikan interaksi di dalam sana melalui kaca depan yang transparan. Ia melihat bagaimana putranya yang biasanya sedingin es batu itu tampak lemas dan cemberut, sementara gadis di sampingnya tampak terus mengoceh sembari tertawa puas. Mereka berdua tampak selalu saja adu mulut tanpa henti, namun dari cara Arsenio sesekali memastikan sabuk pengaman Kiera terpasang dengan benar atau bagaimana ia mengalah saat Kiera merebut botol air mineral, Alea tahu ada rasa peduli tersembunyi yang sangat kuat di antara keduanya.
Alea langsung bisa menebak siapa gadis itu. Senyumnya melebar. Ini adalah Kiera Anandita, wanita yang belakangan ini namanya selalu memenuhi meja makan rumah karena Arsenio tidak pernah absen menceritakan kekesalannya tentang gadis itu—tentu saja dengan sejuta alasan menyebalkan andalan sang CEO, seperti *“Kiera itu asisten paling tidak becus, Mom,”* atau *“Dia merusak estetika kerja saya.”* Namun bagi Alea, fakta bahwa Arsenio mengingat setiap detail kecil kelakuan seorang wanita adalah sebuah anomali besar.
Begitu Kiera turun dari mobil, ini adalah pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan ibu dari bos tirannya. Kiera mendadak gugup, buru-buru membungkuk hormat. "Selamat malam, Ibu. Maaf mengantarkan Pak Arsenio selarut ini."
"Malam, Sayang! Kamu Kiera, kan?" sapa Alea dengan nada suara yang sangat ramah dan bersemangat, membuat Kiera sedikit terkejut. "Aduh, aslinya cantik sekali! Ayo, silakan panggil Mommy Alea saja ya."
Kiera tersenyum canggung. Menghormati batasan profesionalnya sebagai asisten pribadi, ia merasa tidak enak jika harus langsung memanggil dengan sebutan seakrab itu. "Terima kasih, Ibu Alea. Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Ibu," jawab Kiera dengan sopan, tetap mempertahankan panggilannya.
"Arsen, kenapa diam saja di situ? Ayo ajak Kiera masuk dulu, ini sudah larut malam," perintah Alea menatap putranya yang baru turun dengan wajah pucat.
"Tidak usah, Mom. Kiera mau langsung pulang saja, aku akan minta sopir rumah mengantarnya," potong Arsenio ketus, mencoba mempertahankan gengsi NPD-nya yang sebenarnya sudah compang-camping di dalam toilet pom bensin tadi.
"Eh, iya, Ibu. Tidak usah repot-repot, saya bisa langsung pulang naik taksi daring saja kok dari depan gerbang," tolak Kiera halus, merasa sungkan.
"Tidak ada penolakan ya, Kiera sayang. Pokoknya harus masuk dulu, minum teh hangat sebentar di dalam," paksa Alea dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah—ternyata sifat tiran Arsenio memang turunan genetik.
Kiera yang bingung langsung melemparkan pandangan meminta bantuan kepada Arsenio. Namun, sang CEO yang sudah terlalu lemas untuk berdebat dengan ibunya hanya bisa mengedikkan bahu pasrah, seolah memberi tanda *'ya sudah, masuk saja daripada Mommy makin berisik'.*
Dengan langkah ragu, Kiera akhirnya melangkah mengekor di belakang Alea dan Arsenio. Begitu melewati pintu depan, sepasang mata Kiera seketika membelalak sempurna. Selama perjalanan masuk menyusuri koridor dan ruangan demi ruangan, Kiera tidak bisa berhenti berdecak kagum dalam hati.
Ini sama sekali tidak terlihat seperti rumah tempat tinggal. Ini lebih seperti resort mewah bintang lima yang biasa ada di Bali atau Maldives! Lantainya menggunakan marmer premium yang saking mengilapnya bisa digunakan untuk berkaca, langit-langitnya sangat tinggi dengan lampu gantung kristal yang megah, dan di bagian tengah terdapat taman terbuka dengan kolam renang luas yang memantulkan cahaya lampu air yang eksotis. Keindahan dan kemewahan arsitekturnya benar-benar berada di level kosmis yang belum pernah Kiera bayangkan sebelumnya. *“Gila... ini mah kalau gue tersesat di dalam sini, tiga hari baru ketemu jalan keluar,”* batin Kiera menggeleng-geleng takjub.
Saat mereka tiba di area ruang keluarga yang luas, sesosok pria paruh baya yang masih terlihat sangat gagah dan berwibawa tampak sedang duduk santai membaca dokumen tabletnya. Pria itu mendongak, menatap kedatangan mereka dengan kening berkerut. Itu adalah Bima Yudhistira, ayah Arsenio.
"Lho, ada tamu larut malam begini? Siapa itu, Ma?" tanya Bima dengan suara baritonnya yang dalam.
Sebelum Alea atau Arsenio sempat menjawab, seorang pelayan senior yang kebetulan sedang mengantarkan nampan teh hangat di dekat sana langsung membantu menjawab dengan sopan, "Itu Mbak Kiera, Bapak. Asisten pribadi baru Pak Arsenio yang belakangan ini sering Pak Arsenio ceritakan saat makan malam."
Mendengar jawaban jujur dari pelayannya, seringai jahil yang sangat kentara dan menyebalkan langsung terpampang jelas di wajah tampan Bima Yudhistira. Aura tiran penguasa bisnisnya mendadak lenyap, berganti menjadi aura bapak-bapak penggoda anak remaja.
Bima meletakkan tabletnya, lalu menatap Kiera dan Arsenio bergantian dengan pandangan mata yang sangat jenaka.
"Oh... jadi ini Kiera yang sering kamu ceritakan ke kami itu, Arsen?" tanya Bima dengan nada sengaja dibuat dramatis, lalu sedetik kemudian ia terkekeh kecil. "Wah... kalau dilihat-lihat langsung begini, pip pip pip... calon mantu nih!"
*DEG.*
Dunia Arsenio rasanya runtuh seketika. Pertahanan gengsi NPD-nya yang setinggi langit malam ini benar-benar diledakkan tanpa sisa oleh daddynya sendiri di depan asisten ugal-ugalan yang paling sering ia nistakan.
Seketika itu juga, seluruh wajah tampan Arsenio Yudhistira langsung memerah padam sampai ke ujung telinganya, bukan karena efek cabai rawit Cak Ji lagi, melainkan karena rasa malu yang luar biasa hebat hingga ke ubun-ubun.
"DADDY!" teriak Arsenio histeris dengan suara yang naik beberapa oktav, membuat Kiera yang berada di sampingnya spontan langsung meledak dalam tawa kencang yang sangat puas menyaksikan sang tiran agung akhirnya terkudeta total di rumahnya sendiri.