Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Pintu Executive Suite itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengunci seluruh kebisingan pesta pernikahan yang melelahkan di luar sana. Ruangan itu sudah didekorasi dengan romantis; kelopak mawar merah tersebar di atas ranjang king size, dan aroma lilin aromaterapi lavender memenuhi udara.
"Aduhh... pegel banget! Kakiku rasanya mau copot, Mas!" keluh Arunika sambil berjalan tertatih menuju sofa beludru di sudut ruangan. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya tanpa memedulikan gaun pengantinnya yang mekar memenuhi lantai.
Thomas melepaskan jas jasnya, menyampirkannya di lengan sofa, lalu melonggarkan dasinya. Ia menatap Arunika yang sedang meringis sambil memijat pergelangan kakinya.
"Lepas dulu heels kamu," ucap Thomas pendek.
"Ha?" Arunika mendongak, matanya yang besar mengerjap bingung.
"Lepas dulu heels kamu. Sekarang duduk diam di situ," ulang Thomas dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Thomas berlutut di depan Arunika. Tanpa menunggu persetujuan, ia meraih pergelangan kaki gadis itu dan mulai melepaskan pengait sepatu hak tinggi setinggi 12 cm yang sudah menyiksa Arunika selama delapan jam terakhir.
"Mas... mau ngapain?" tanya Arunika gugup. Jantungnya kembali berdisko saat merasakan jemari hangat Thomas bersentuhan dengan kulit kakinya.
"Diam saja," jawab Thomas pelan. Setelah kedua sepatu itu lepas, Thomas berdiri. "Aku siapkan air hangat di bathtub supaya kamu bisa mandi dan rileks. Badanmu pasti kaku semua setelah berdiri menyapa ribuan orang tadi."
Arunika hanya bisa melongo menatap punggung tegap Thomas yang berjalan menuju kamar mandi. "Mas Thomas... dia beneran manusia atau malaikat sih kalau lagi mode begini?" gumamnya lirih.
Tak lama kemudian, suara gemericik air terdengar. Thomas kembali keluar dengan lengan kemeja yang sudah digulung hingga siku. Ia menatap Arunika yang masih duduk di posisi yang sama, namun wajah gadis itu tampak sedang berjuang dengan sesuatu di punggungnya.
"Kenapa belum ganti?"
"Itu dia, Mas..." Arunika menoleh ke belakang dengan susah payah, tangannya menggapai-gapai udara di balik punggungnya. "Mas, susah banget! Boleh tolong bukain resletingnya nggak? Ini macet di tengah-tengah payetnya, aku nggak nyampe."
Thomas terdiam sejenak. Ia menatap punggung Arunika yang terbalut gaun indah itu. Menarik resleting gaun pengantin istrinya di malam pertama bukanlah sesuatu yang ada dalam rencana "kontrak" mereka, tapi situasi darurat ini tidak bisa dihindari.
Thomas melangkah mendekat. Ia berdiri di belakang Arunika, membuat bayangannya menutupi tubuh gadis itu.
"Tapi jangan modus ya, Mas! Awas! Inget kontrak kita, poin nomor empat: tidak ada kontak fisik yang tidak diinginkan!" seru Arunika tiba-tiba dengan nada waspada, meski wajahnya sudah merah padam.
Thomas mengembuskan napas pendek, mencoba menahan tawa atau mungkin rasa frustrasinya. "Kalau aku mau modus, aku tidak perlu menunggu kamu minta bantuan resleting, Arunika. Cepat berbalik."
Arunika memutar tubuhnya membelakangi Thomas. Ia menyibakkan rambutnya yang disanggul ke samping, memperlihatkan leher jenjang dan punggung atasnya yang putih mulus. Thomas menelan ludah. Jemarinya yang biasanya stabil saat menandatangani kontrak jutaan dolar, kini sedikit gemetar saat menyentuh kepala resleting kecil di antara tumpukan payet kristal.
"Sakit nggak?" tanya Thomas rendah.
"Nggak, tapi pelan-pelan ya, Mas. Perih kalau kejepit payetnya," jawab Arunika pelan. Suaranya terdengar sangat kecil di ruangan yang sunyi itu.
Thomas mulai menarik resleting itu dengan sangat hati-hati. Gerakannya sangat pelan, memastikan tidak ada kulit Arunika yang tersangkut. Saat resleting itu perlahan turun, memperlihatkan lebih banyak kulit punggung istrinya, Thomas merasa tenggorokannya mendadak kering.
"Mas... udah belum? Kok lama banget?" tanya Arunika, suaranya sedikit bergetar.
"Sabar. Payetnya tersangkut di kain pelapisnya," sahut Thomas, berusaha tetap fokus. Ia membungkuk sedikit, membuat napasnya menerpa tengkuk Arunika.
Arunika merinding hebat. "Mas, napasnya biasa aja dong! Jangan ditiup-tiup!"
"Aku tidak meniup, aku sedang melihat detailnya," dalih Thomas, meski ia tahu detak jantungnya sendiri sudah tidak keruan.
Sret.
Akhirnya, resleting itu meluncur turun sampai ke batas pinggang. Gaun itu seketika melonggar. Arunika segera menahan bagian depan gaunnya dengan kedua tangan di dada agar tidak merosot.
"Udah... udah kebuka semua, Mas?" tanya Arunika tanpa berani menoleh.
"Sudah. Mandilah. Airnya sudah siap," Thomas segera menjauhkan diri, berdiri tegak dengan tangan di saku celana, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang hampir runtuh.
Arunika berdiri dengan canggung, memegang gaunnya erat-erat. "Makasih ya, Mas. Mas beneran nggak modus kan tadi?"
Thomas menatap Arunika dengan tatapan intens yang membuat gadis itu terdiam. "Arunika, jika aku benar-benar ingin melakukan sesuatu, kamu bahkan tidak akan sempat menyebut kata 'kontrak'. Sekarang masuk ke kamar mandi sebelum airnya dingin."
Arunika langsung lari tunggang-langgang masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya dengan bunyi klik yang keras. Di dalam, ia bersandar pada pintu sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. "Gila... Mas Thomas kalau lagi mode 'predator' gitu serem juga ya. Tapi kenapa aku malah deg-degan bukannya takut?"
Sementara itu, di luar, Thomas mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca lebar-lebar untuk membiarkan angin malam yang dingin mendinginkan kepalanya.
"Kontrak sialan," umpatnya pelan.
Ia meraih ponselnya, melihat foto-foto pernikahan mereka yang baru saja dikirim oleh Ardi lewat WhatsApp. Ada satu foto saat ia mencium pipi Arunika di pelaminan. Di foto itu, Arunika terlihat kaget namun matanya memancarkan kebahagiaan yang nyata.
Thomas tersenyum miring. Ia tahu, meskipun malam ini mungkin akan berakhir dengan mereka tidur di sisi ranjang yang berbeda, tapi setidaknya satu hal sudah pasti: Arunika Nirmala sudah resmi menyandang nama Adiputra.
Setengah jam kemudian, Arunika keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama panjang satin yang jauh lebih tertutup daripada gaun pengantinnya. Rambutnya basah dan wajahnya terlihat segar.
"Mas, giliran Mas mandi. Airnya masih hangat kok," ujar Arunika sambil menghindari kontak mata langsung.
Thomas mengangguk. "Tidurlah duluan kalau mengantuk. Aku akan mandi sebentar."
Saat Thomas masuk ke kamar mandi, Arunika melihat ke arah tempat tidur yang penuh dengan kelopak mawar. Ia segera membersihkan kelopak-kelopak itu ke satu sisi, menyisakan ruang kosong di tengah.
"Kita beneran tidur satu kasur?" gumamnya pada diri sendiri. "Tapi kan ini kamar hotel, nggak ada sofa yang cukup buat tidur Mas Thomas yang badannya kayak raksasa itu."
Arunika naik ke atas ranjang, menyelimuti dirinya sampai ke dagu. Ia memejamkan mata, namun telinganya tetap tajam menangkap suara air dari kamar mandi. Pikirannya melayang pada ucapan Thomas di pelaminan tadi; tentang bagaimana pria itu tidak akan membiarkannya menyesal.
"Dua tahun ya..." bisik Arunika. "Kenapa dua tahun rasanya jadi terlalu singkat kalau sama Mas Thomas?"
Tak lama kemudian, lampu kamar diredupkan. Arunika merasakan sisi ranjang di sebelahnya sedikit amblas. Aroma sabun maskulin yang segar memenuhi indra penciumannya. Thomas sudah berbaring di sana, memberikan jarak yang cukup sopan di antara mereka.
"Mas?" panggil Arunika pelan.
"Kenapa? Belum bisa tidur?" suara Thomas terdengar berat dan tenang di kegelapan.
"Enggak... cuma mau bilang... selamat malam, Mas Thomas."
Ada keheningan sejenak sebelum Thomas menjawab. "Selamat malam, Nyonya Adiputra. Tidurlah, besok kita harus menemui orang tua kita sebelum kembali ke apartemen."
Arunika tersenyum di balik selimutnya. Panggilan 'Nyonya Adiputra' itu terasa jauh lebih manis daripada 'Baby girl'. Ia perlahan terlelap, tidak menyadari bahwa di sampingnya, Thomas sedang menatapnya dalam kegelapan dengan tatapan yang sangat jauh dari kata "kontrak". Bagi Thomas, malam ini adalah awal dari rencana jangka panjang untuk membuat Arunika lupa bahwa mereka pernah menandatangani selembar kertas perjanjian.
gagal
coba lagi dong 🤭