Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.
Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.
Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.
Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Hari hari berjalan seperti biasa, Nadira semakin lihai merawat Keano. Bi Siti juga selalu membantu Nadira merawat Keano setelah pekerjaannya selesai.
Sementara itu di lain sisi, Diana sedang memperhatikan Nadira dengan tatapan kebencian. " Wanita itu perlahan akan merubah kebencian Mahesa menjadi rasa cinta. Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi!." gumamnya.
Diana melihat pintu kamar Mahesa terbuka, ia kemudian masuk diam diam sambil mengendap endap. Diana membuka lemari pakaian milik Nayla, kemudian mengambil piyama kesayangan Nayla sekaligus hadiah ulang tahun pernikahan yang diberikan oleh Mahesa.
Dengan tatapan licik Diana menyeringai. " Kali ini kamu akan benar benar tamat!."
Diana keluar dari kamar Mahesa, kemudian ia memanggil seorang pelayan.
Tak berselang lama seorang pelayan muda datang menghadap. " Ada apa nyonya besar?." tanya nya.
" Kamu berikan baju ini pada Nadira, katakan padanya ini hadiah dari Mahesa!."
" Baik nyonya besar." ucap pelayan muda itu.
pelayan itu kemudian berlalu dari sana.
Diana duduk santai di sofa yang ada di kamarnya. " Kita lihat, apa yang akan terjadi selanjutnya!." Diana tersenyum licik.
***
Nadira terlihat sedang merapikan tempat tidur Keano.
Tiba tiba seorang pelayan datang. Nadira menghampirinya dengan ramah.
" Nadira, aku mau memberikan ini padamu. Tuan Mahesa memberikan ini sebagai hadiah." ucap pelayan muda itu dengan ekspresi tidak suka.
Nadira terperanjat, " Apa? hadiah?." tanya nya tak percaya.
" Iya, terima saja. Masih untung di kasih. Kami saja yang sudah bertahun tahun kerja di sini tak pernah mendapatkan hadiah dari tuan Mahesa." Pelayan muda itu terlihat iri pada Nadira.
Nadira yang masih bingung dan belum mengerti memutuskan untuk menerima piyama berwarna broken white itu.
" Apa kamu tidak berbohong?." tanya Nadira curiga.
" Apa aku terlihat seperti orang bohong?." pelayan muda itu memutar bola matanya malas. Kemudian ia pergi dari sana tanpa mendengarkan Nadira yang masih ingin bicara.
" Pembunuh tapi di kasih hadiah, wanita itu sangat beruntung." gumam pelayan muda itu sambil berjalan.
Di kamar, Nadira memandang piyama di tangannya. Piyama itu sangat indah, bahannya lembut dan mengkilap.
Nadira tiba tiba langsung tersenyum. " Ternyata dia pria yang baik. Dia sudah memberikan uang, kemudian memberikan hadiah."
Nadira menyimpan piyama itu dengan baik, ia berencana untuk berterimakasih pada Mahesa. Tapi Mahesa tidak ada di rumah.
***
Hari sudah berganti malam, Nadira terlihat sudah mengenakan piyama pemberian Mahesa. Ia tersenyum senang di depan kaca.
" Piyama ini sangat indah. Bahannya lembut." gumamnya dengan senyuman. Piyama itu sangat berbeda dengan baju bajunya yang lain.
Nadira dapat mendengar suara mobil Mahesa yang sudah terparkir di garasi.
" Dia sudah datang." jantung Nadira berdegup kencang. Sepertinya Mahesa sudah mulai memaafkannya. Kemarin malam Mahesa juga tidak jadi menghukumnya. Nadira semakin yakin kalau Mahesa memang sudah memaafkannya.
Nadira menunggu bi Siti cukup lama, tapi bi Siti tak terlihat. Nadira tidak mungkin meninggalkan Keano sendirian di dalam kamar itu, akhirnya Nadira menggendong Keano dan membawanya ke kamar Mahesa.
Saat ini Nadira sudah berada di depan pintu kamar Mahesa. Ia mengetuk. Tak berselang lama pintu terbuka.
Nadira dapat melihat Mahesa, pria itu berdiri di ambang pintu.
Nadira tersenyum ke arah Mahesa. " Terimakasih sudah memberikan piyama ini pada saya tuan. Anda ternyata orang yang baik." ucap Nadira.
Keano terlihat diam saja di dalam pelukan Nadira, Keano terlihat seperti merasakan aura negatif dari ayahnya.
Sementara itu Mahesa menatap Nadira dari ujung kaki sampai kepala. Mahesa mengenali baju yang di pakai Nadira, itu adalah milik Nayla.
" Beraninya kamu..."
Mahesa terlihat menatap marah ke arah Nadira.
Senyum Nadira perlahan memudar, terlihat Mahesa begitu marah.
" Tuan, apa yang terjadi?." tanya nya yang tak mengerti.
" NADIRA....."
Nadira panik saat melihat Mahesa mengepalkan tangannya. pria itu benar benar marah.
" Pelayan!." teriak Mahesa.
Kemudian bi Siti datang setelah mendengar teriakan Mahesa. Bi Siti terkejut saat melihat Nadira yang mengenakan pakaian milik nyonya Nayla. Piyama itu adalah piyama kesayangan nyonya Nayla.
" Nadira... Darimana kamu mendapatkan piyama ini?." tanya bi Siti panik.
" Ini hadiah dari tuan Mahesa." Jawab Nadira takut takut.
" Pelayan, bawa Keano ke kamarnya."
Mahesa terlihat sangat marah. Matanya merah sama persis seperti saat kejadian meninggalnya Nayla.
" Bi... apa yang sebenarnya sedang terjadi?." tanya Nadira yang mulai ketakutan.
" Nadira... Kamu sedang memakai baju kesayangan mendiang nyonya Nayla." jawab BI Siti. Ia pergi membawa Keano sambil menangis.
Deg
Jantung Nadira berdegup kencang, rasanya dunia seolah berhenti berputar. Ternyata ia sedang mengenakan baju Nayla, istrinya Mahesa.
Nadira mulai gemetar hebat, ternyata ia telah di jebak.
" Beraninya kamu menyentuh barang kesayangan istriku. Kamu harus mati!."
Nadira menggeleng pelan, " Tidak tuan, seorang pelayan memberikan piyama ini padaku. Dia bilang kalau piyama ini hadiah dari tuan. Aku tidak mengambilnya." Nadira berlutut di hadapan Mahesa sambil mengatupkan kedua tangannya.
" Kamu sudah menyalahgunakan kepercayaan ku!."
Mahesa menarik lengan Nadira dengan kasar, ia membawa Nadira ke pinggir kolam renang.
" Tuan, saya mau diapakan?." tanya Nadira panik.
Mahesa terus saja berjalan dengan cepat, ia begitu marah pada Nadira. Piyama yang dipakai Nadira adalah hadiah pernikahan darinya, dan piyama itu juga merupakan baju kesayangan Nayla. Saat melihat baju itu di pakai Nadira, Mahesa bisa melihat wajah Nayla. Mahesa kembali terbayang tatapan tak bernyawa dari Nayla.
Saat sudah di tepi kolam, Mahesa berhenti dan menatap Nadira dengan tajam.
" Kamu tidak berhak menyamakan dirimu dengan istriku. Kamu hanyalah seorang wanita pembunuh dan selamanya akan seperti itu!."
Mahesa mendorong Nadira ke dalam kolam renang. Ekspresinya dingin dan datar.
Nadira kaget dan terkejut saat di dorong, ia merasakan hawa dingin menusuk sampai ke tulangnya.
Nadira bisa menjangkau dasar kolam dengan kakinya, air hanya sampai di bahunya membuatnya bisa bernafas dengan lega. Walaupun sebelumnya ia sempat meneguk air kolam.
Nadira menatap Mahesa yang berdiri di pinggir kolam, pria itu menatap tajam ke arahnya.
" Tuan, percayalah aku mendapatkan ini dari seorang pelayan. Tolong jangan salah sangka padaku!." ucap Nadira mencoba menjelaskan semuanya.
" Kamu akan berada di kolam ini sebagai hukuman. Kamu hanya akan keluar setelah aku perintahkan." ujar Mahesa dengan penuh amarah.
"Dari balkon itu." tunjuk Mahesa pada sebuah balkon. " Aku akan mengawasi mu dari saja. kalau kamu berani naik ke atas, aku akan membunuhmu!."
Mahesa berlalu pergi dari pinggir kolam, menyisakan Nadira yang masih berada di tengah kolam.
Nadira mematung, ia merasa sangat bodoh. " Bagaimana aku bisa percaya begitu saja bahwa tuan Mahesa memberikan hadiah padaku? Harusnya aku sadar kalau aku hanyalah seorang pembunuh di matanya. Aku sudah dijebak." gumamnya dengan linangan air mata.
Air kolam itu sangat dingin, Nadira tak bisa naik ke atas karena Mahesa sedang mengawasi nya dari atas balkon.
Pria itu masih menatap tajam ke arah Nadira. Nadira menunduk sambil menatap pantulan wajahnya di air.
Di sisi lain, Diana tersenyum senang dari balik kaca jendela kamarnya.
" Kamu akan mati kedinginan dalam kolam renang itu wanita pembunuh!." ujar Diana dengan senyum puas.