Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎
Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.
Dulu dipuji, kini dihina.
Dulu didekati, kini dijauhi.
Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Balik Ketenangan
Badai di Balik Ketenangan
Hari pertama berlalu tanpa insiden berarti bagi Xiao Ba.
Ia menghabiskan sebagian besar siang itu di dalam gua tersembunyi di antara tebing empat dan tebing lima, memanen Kristal Roh Laut dari dinding dinding yang tidak pernah tersentuh selama ratusan tahun. Setiap kristal yang ia lepaskan dari dindingnya memancarkan cahaya biru kehijauan yang sebentar menerangi wajahnya sebelum redup menjadi batu kecil berwarna biru tua yang bisa disimpan ke dalam tas penyimpanan.
Jumlahnya sudah lebih dari yang bisa dikumpulkan oleh tiga keluarga gabungan dalam satu hari penuh.
Namun, ia tidak berhenti sampai di situ.
Setelah air pasang kembali menutup mulut gua di sore hari, ia naik ke permukaan tebing dan mulai menjelajahi celah celah yang belum pernah ia masuki selama pengelanaan sebelumnya. Dengan indra spiritualnya yang jauh melampaui siapa pun di kawasan ini, ia bisa mendeteksi keberadaan Kristal Roh Laut dari jarak yang membuat pencarian manual menjadi jauh lebih efisien.
Di beberapa tempat tersembunyi di sisi tebing empat, ia menemukan beberapa kluster kecil kristal yang terselip di antara formasi batu karang yang hanya bisa dijangkau dengan teknik pergerakan tertentu. Bagi kultivator lain, tempat tempat itu tidak akan terdeteksi bahkan jika mereka berdiri tepat di depannya.
Bagi Xiao Ba, semuanya terlihat seperti lampu yang menyala di kegelapan.
Ketika malam tiba, ia masuk ke dalam gua yang sudah tidak berpenghuni di sisi tebing lima, menyalakan api kecil, makan dari perbekalan yang ia bawa, lalu duduk bersila menghadap celah gua yang menghadap ke laut.
Dari luar, suara suara pertarungan masih terdengar samar samar dari berbagai penjuru kawasan tebing. Para junior dari keluarga keluarga yang lebih agresif rupanya tidak menunggu malam untuk beristirahat. Ada yang sedang bertempur melawan binatang buas, ada yang sepertinya sedang berkonflik dengan sesama kultivator.
Xiao Ba tidak peduli dengan semua itu.
Ia menjalankan Teknik Kultivasi Kaisar Langit, membiarkan aliran energi dari laut, batu karang, dan angin malam bekerja memurnikan dan meningkatkan kultivasinya.
Pagi hari kedua, ia bangun sebelum fajar.
Ia duduk di mulut gua, menyaksikan matahari terbit dari balik Laut Selatan yang membentang tak bertepi, membiarkan cahaya pertama hari itu menghantam wajahnya dengan hangat.
Pemandangan seperti ini tidak pernah bisa ia nikmati dari dalam kediaman Keluarga Xiao di atas Bukit Karang. Di sana, matahari selalu muncul sudah agak tinggi karena terhalang oleh deretan bangunan kota. Namun, dari sini, dari ketinggian tebing yang menghadap langsung ke laut lepas, ia bisa melihat lengkung cakrawala yang sempurna dan titik oranye terang yang perlahan membesar menjadi cakram emas yang menerangi seluruh dunia.
"Indah," gumamnya, kata yang jarang keluar dari mulutnya.
Ia menarik napas dalam dalam, merasakan aroma garam dan fajar yang bercampur menjadi sesuatu yang tidak bisa ia namakan, namun tidak akan pernah ia lupakan.
Lalu ia bangkit dan mulai bergerak.
Hari kedua ia habiskan dengan menjelajahi kawasan antara tebing tiga dan tebing empat yang belum sempat ia masuki dengan tuntas. Di sana, ia menemukan beberapa lorong angin sempit yang menghubungkan sisi tebing yang menghadap ke darat dengan sisi yang menghadap ke laut. Lorong lorong ini terlalu sempit dan berbahaya bagi kebanyakan kultivator karena arus anginnya yang bisa melempar tubuh ke dinding tebing, namun bagi seseorang dengan kekuatan fisik setara Tubuh Fana Puncak, mereka hanya terasa seperti angin kencang yang menyegarkan.
Di ujung salah satu lorong angin itu, di sisi tebing yang menghadap langsung ke laut dan tidak bisa dijangkau dari arah manapun kecuali melalui lorong itu, ia menemukan sebuah ceruk kecil yang dindingnya penuh dengan kristal biru kehijauan yang bahkan lebih besar dari yang ia temukan di gua pertama.
Ia bekerja dengan tenang seperti biasa.
Sore hari kedua, saat ia sedang beristirahat di atas tonjolan batu yang menghadap ke laut setelah seharian bekerja, indra spiritualnya menangkap sesuatu yang bergerak ke arahnya dari jarak sekitar setengah mil.
Dua aura.
Ia mengenalinya.
Xiao Tian dan Xiao Xiyun.
Mereka bergerak ke arah yang benar benar tepat, seolah ada seseorang atau sesuatu yang mengarahkan mereka ke lokasi yang hampir persis di mana ia berada.
Xiao Ba tidak bergerak dari tempatnya duduk.
Ia mengamati dua aura itu mendekat dengan sabar, membiarkan mereka datang sendiri tanpa perlu ia jemput atau ia hindari.
Sepuluh menit kemudian, dua sosok muncul dari celah antara dua formasi batu karang besar, mendaki tonjolan batu di sebelah timur dan berhenti ketika mereka melihat sosok berambut hitam yang duduk santai sambil menatap laut tidak jauh dari sana.
Xiao Tian berhenti melangkah.
Ekspresinya bercampur antara terkejut menemukan yang ia cari dan sesuatu yang lebih dekat dengan kewaspadaan.
"Xiao Ba," panggilnya dengan nada yang berusaha terdengar santai, namun tidak berhasil sepenuhnya.
Xiao Ba memutar kepalanya perlahan, menatap Xiao Tian dan Xiao Xiyun dengan tatapan yang datar dan tenang.
"Xiao Tian. Xiao Xiyun." Ia mengangguk singkat. "Butuh dua hari untuk menemukan aku di sini. Tidak terlalu buruk untuk seseorang dengan alam kultivasi Tingkat 4 Menengah."
Wajah Xiao Tian sedikit memerah oleh sindiran itu.
"Cukup basa basinya. Sampah sepertimu sebaiknya tahu diri dan tidak berada di kawasan yang berbahaya seperti ini."
"Berbahaya?" Xiao Ba melirik ke arah laut sejenak, lalu kembali menatap Xiao Tian. "Aku sudah di sini sejak hari pertama. Belum ada yang berbahaya sejauh ini."
"Itu karena kamu belum bertemu dengan apa yang menunggumu di tebing enam dan tujuh," kata Xiao Xiyun sambil tersenyum dengan bibir, namun tidak dengan matanya.
Kata kata itu keluar terlalu mudah, terlalu cepat.
Dan keduanya langsung menyadari kesalahan itu.
Xiao Ba menatap Xiao Xiyun sejenak. Lalu menatap Xiao Tian. Lalu kembali ke Xiao Xiyun.
"Apa yang menungguku di tebing enam dan tujuh?" tanyanya dengan nada yang terdengar seperti orang yang benar benar ingin tahu, bukan orang yang sudah mengetahui jawabannya sejak lama.
pertahankan👌