NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15 : Dia adalah pangeran

"Kau menunggu lama?" tanya Han yang tiba-tiba muncul dan menghampiri Alin.

"Tidak juga. Mei di mana?"

"Dia ke toilet sebentar, nanti menyusul, kita disuruh masuk duluan."

Bersama Han, Alin melangkah memasuki gerbang utama istana yang megah. Ballroom istana ditata dengan luar biasa megah, menyajikan dua baris meja makan yang sangat panjang. Meja utama di ujung ruangan diperuntukkan bagi keluarga kerajaan. Berdasarkan informasi yang beredar, Sang Raja tidak dapat menghadiri rangkaian acara resmi ini, sehingga posisinya diwakilkan oleh pangeran kedua.

Alin sedari tadi duduk bercengkrama dengan Han. Namun, ketenangan itu pecah saat Mei kembali dari toilet dengan wajah pucatnya.

"Alin, Han... Kalian tidak akan percaya apa yang baru saja kulihat," bisik Mei dengan suara bergetar cemas.

"Apa? Kau melihat hantu?" ledek Han berbisik.

"Aku serius! Ini benar-benar menyeramkan!" Raut wajah Mei tampak panik, matanya bergerak gelisah.

Alin menyenggol lengan Mei pelan. "Kita bahas nanti saat pulang. Jaga sikapmu, Mei, ini istana."

"Rasanya aku ingin mati saja sekarang... ya Tuhan, tamatlah riwayatku," rintih Mei tertahan, hampir menangis.

Han mulai tertular panik. "Ada apa sebenarnya?"

"Rei... ah, aku harus memanggilnya apa sekarang? Pria itu... dia ternyata Pangeran Yan!" berondong Mei dengan suara super pelan namun penuh penekanan.

Bagai disambar petir, Alin dan Han terbelalak. "Kau gila!" desis mereka kompak.

"Kalian berdua, kumohon percayalah—"

"PUTRA MAHKOTA UTAMA, PANGERAN LIE, MEMASUKI RUANGAN."

Suara lantang moderator menggema, memotong ucapan Mei. Seluruh tamu undangan serentak beranjak berdiri dari kursi mereka untuk menyambut kedatangan sang pewaris takhta.

"PANGERAN YAN, MEWAKILI YANG MULIA RAJA TIANJI XUE, MEMASUKI RUANGAN."

Bersamaan dengan itu, pintu kayu raksasa di ujung aula berderap terbuka lebar. Pangeran Utama, Lie, melangkah masuk terlebih dahulu dengan seragam resmi kerajaan berwarna putih bersih yang sangat berwibawa. Tepat di belakangnya, mengiringi dengan langkah tegap dan dingin, adalah Pangeran Yan—dalam balutan seragam resmi hitam pekatnya. Ukiran lambang bintang emas berkilau di pundak mereka, menyimbolkan beban besar Negara Xinglan yang dipikul oleh kedua pangeran tersebut.

Napas Alin tercekat. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat sosok Pangeran Kedua itu berjalan melewati barisan mejanya. Di belakang sang pangeran Yan, tampak Yuchen berjalan dengan sikap siaga.

"Pangeran Yan... dia benar-benar Rei," bisik Mei lemas di samping Alin.

"Aku harap kalian berdua tidak pernah membuat masalah dengannya dulu," sahut Han, mendadak merasa was-was.

Alin hanya bisa tertunduk. Ia tidak mengerti mengapa Rei menyembunyikan identitas sebesar ini darinya. Pria itu punya ribuan kesempatan untuk menjelaskan, tapi mengapa semalam ia hanya berbasa-basi menanyakan kabar dan mengucapkan selamat malam seolah dia hanyalah pria biasa?

Pikirannya mendadak riuh. Ingin rasanya ia menghubungi Yuhan sekarang juga. Namun, peraturan istana sangat ketat, semua ponsel wajib dinonaktifkan. Lagi pula, jika dipikir-pikir kembali... bukankah Yuhan seharusnya sudah tahu siapa Rei saat mereka pertama kali bertemu di rumah sakit waktu itu? Mengapa kakaknya juga diam saja?

Dan yang paling membuat Alin ingin tenggelam ke dasar bumi adalah memorinya yang tiba-tiba berputar pada kejadian lalu. Ia pernah menampar wajah sang pangeran. Ia bahkan pernah mengusir Pangeran Yan dari hadapannya.

Matilah aku, batin Alin frustrasi.

"Kau tidak menyentuh makananmu?" bisik Han menyenggol lengan Alin.

"Aku mau muntah, Han,” stres Alin tanpa mengangkat wajah.

"Aku akan menemanimu mati nanti, Lin," keluh Mei tidak kalah lesu.

Di meja utama, kedua pangeran duduk bersisian, menjadi pusat perhatian seluruh ruangan. Ketampanan mereka yang luar biasa sukses memikat banyak mata wanita yang hadir.

Pangeran Lie menyesap minumannya, matanya melirik ke arah meja para tenaga medis asing. "Itu Dokter Yi, bukan?" tanyanya pelan pada sang adik.

"Ya," jawab Rei singkat. Ia meneguk minumannya, namun sepasang netra elangnya sama sekali tidak beralih dari Alin. Tatapannya tajam, mengunci siluet wanita itu tanpa berkedip.

Lie terkekeh pelan, melirik Yuchen yang berdiri kaku di belakang kursi Rei. "Sama sekali tidak seperti yang dijelaskan Yuchen. Dia terlihat sangat anggun dan pendiam di sana. Katamu kemarin dia wanita yang bar-bar?"

Yuchen langsung menunduk hormat. "Yang Mulia, maaf, hamba—"

"Bahkan dia jauh lebih cantik dibandingkan wanita-wanita bangsawan pilihan Raja untukmu," potong Lie langsung dengan nada memuji. Merasakan aura di sebelahnya mendadak mendingin, Lie segera mengangkat tangan. "Tenang saja. Aku tidak akan merebutnya."

Rei hanya melirik kakaknya dengan tatapan sedingin es.

"Tapi, lihat pria-pria di sana," Lie menunjuk halus dengan dagunya ke arah beberapa pria yang duduk di sekitar meja Alin. "Aku yakin, setelah acara ini selesai, mereka akan langsung bergerak mendekati wanitamu."

Sepanjang acara berlangsung, Alin hanya diam mematung. Bahkan saat sesi tanya-jawab mengenai topik pertemuan kali ini dimulai, Alin sama sekali tidak mendongakkan kepalanya. Ia terus tertunduk, meremas jemarinya sendiri yang mulai basah oleh keringat dingin. Sikap gelisah itu tidak luput dari perhatian Rei, yang menyadari Alin sudah berulang kali melirik jam tangannya.

"Setelah ini selesai, aku akan langsung pulang," bisik Mei.

"Tapi setelah ini masih ada acara ramah tamah. Kita minum sebentar lalu—"

"Aku juga mau langsung pulang, Han. Perutku mendadak sakit sekali," sela Alin. Ketegangan mentalnya mulai memengaruhi fisiknya. "Coba kau pegang tanganku."

Han segera meraih tangan Alin dan langsung terkejut. "Kau baik-baik saja? Kenapa tanganmu dingin dan basah begini?" tanya Han cemas.

Di meja utama, Rei yang menyadari pergerakan itu langsung memberi isyarat. "Yuchen. Cari tahu ada apa dengannya."

"Siap, Yang Mulia," Yuchen segera mundur, untuk melaksanakan perintah.

Lie yang melihat hal itu hanya tersenyum maklum. "Mungkin dia ketakutan padamu, Yan. Dia tidak akan se-shok itu jika sejak awal kau sudah jujur padanya."

Begitu sesi penyampaian pendapat selesai, Alin segera bangkit berdiri dan melangkah cepat meninggalkan ballroom, mengabaikan formalitas acara ramah tamah yang akan dimulai.

"Dokter Yi tidak dapat mengikuti acara ramah tamah, Yang Mulia. Rekannya, Dokter Mei, juga meminta izin untuk langsung pulang," lapor Yuchen yang baru saja kembali ke sisi Rei.

Rei bersiap untuk bangkit, namun Lie menahan lengannya pelan. "Silakan susul dia. Tapi ingat pesanku, pastikan tidak melakukan hal yang terlalu intens di muka umum."

Di salah satu sudut taman terbuka yang sepi, tidak jauh dari aula ramah tamah, Alin dengan tergesa-gesa mengaktifkan ponselnya. Ia sangat butuh berbicara dengan Yuhan. Ia berharap semua ini hanya mimpi buruk, atau setidaknya Rei hanya memiliki wajah yang kebetulan mirip dengan sang pangeran.

BIP BIP BIP

"Kak? Halo? Kakak?" panggil Alin panik saat panggilannya tersambung. Namun, suara di seberang sana terputus-putus oleh distorsi yang bising. Sinyalnya sangat buruk.

Alin mendesah frustrasi. Ia baru ingat ucapan Yuhan tadi pagi, selama acara berlangsung, istana mengaktifkan alat pemecah gelombang (signal jammer) untuk mencegah komunikasi tidak dikenal masuk demi alasan keamanan. Itulah mengapa ponselnya tidak mendapat sinyal sama sekali.

"Kau Dokter Yi?"

Sebuah suara bariton ramah mengejutkannya. Seorang pria berdiri di sana, menyodorkan secangkir teh hangat kepadanya. "Aku Yunhe. Satu angkatan dengan Dokter Han saat kuliah dulu."

Alin mengerjapkan mata, mencoba menguasai diri. "Ah, ya." Ia menerima cangkir itu dan menyambut jabat tangan Yunhe dengan canggung.

"Han mengatakan perutmu sedang sakit sehingga kau tidak bisa bergabung di dalam. Apa kau butuh obat?"

"Tidak perlu, terima kasih. Aku sudah sedikit lebih baik."

"Kalau begitu, mau bergabung sebentar di dalam? Aku dengar kau lulusan Universitas Xinan. Kebetulan di dalam ada profesor yang dulu pernah mengajar di fakultasmu. Mungkin kau bisa menyapa beliau sebentar."

Alin beralih menatap lorong aula. Ia sungguh enggan untuk kembali melangkah ke dalam, namun Yunhe sudah mengulurkan tangannya dengan sopan, memberi isyarat mengajak Alin berjalan bersama.

Sambil berpura-pura memperbaiki posisi cangkirnya, Alin mengabaikan uluran tangan itu dengan halus dan mulai melangkah masuk secara perlahan. Matanya menyapu ke segala sudut ruangan, merasa sedikit lega karena ia tidak mendapati keberadaan Pangeran Yan di sana.

Namun, keberuntungan tidak berpihak padanya malam ini.

BRAAAKK! KLAAANGG!

"Akh...!"

Seorang perempuan yang berjalan tergesa-gesa tanpa sengaja menabrak tubuh Alin. Cangkir di tangan Alin terlepas, jatuh menghantam karpet dibawahnya.

"Ah! Maaf... maafkan aku! Oh, ya ampun, tidak... itu teh panas! Tangan mu..." Wanita itu langsung panik luar biasa melihat air panas yang mengenai punggung tangan Alin.

"Dokter Yi!" Yunhe dengan sigap bergerak maju, hendak meraih tangan Alin yang memerah untuk memeriksanya.

Namun, sebelum jemari Yunhe sempat menyentuh kulit Alin, seluruh orang di ruangan itu mendadak tersentak kaku. Sebuah aura dingin yang pekat menusuk atmosfer.

Pangeran Yan sudah berdiri di sana. Dengan gerakan tegas yang tidak terbantahkan, tangan kekar sang pangeran menahan bahu Yunhe, menghentikan gerakan pria itu seketika. Tatapan matanya yang tajam seolah mampu membunuh siapa saja yang berani membantah.

"Yang Mulia..."

Semua orang di dalam ruangan langsung menunduk hormat dengan tubuh gemetar, termasuk Alin. Saat it ia bahkan tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk mengangkat wajahnya dan menatap sepasang mata hitam yang kini sedang menghujamnya dengan rasa khawatir bercampur amarah yang tertahan.

"Yuchen," suara berat Pangeran Yan menggema dingin di keheningan ruangan. "Bawa dia ke klinik kerajaan sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!