NovelToon NovelToon
Haruskah Seperti Ini

Haruskah Seperti Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:845
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Gema Sebuah Mimpi dan Topeng yang Kian Retak

​Pagi itu, udara di sekitar area kampus masih menyisakan embun semalam, membawa hawa sejuk yang menyegarkan ke sela-sela pepohonan rindang di taman utama fakultas. Sinar matahari pagi baru saja merangkak naik, menembus kanopi dedaunan hijau, menciptakan pola bayangan yang menari-nari di atas permukaan paving block. Di salah satu sudut taman, di bawah sebuah pohon mahoni besar yang usianya mungkin setua bangunan kampus ini sendiri, terdapat sebuah bangku dan meja bundar dari semen yang sudah menjadi teritori tak resmi bagi geng kecil itu.

​Rahmi, Alan, Randi, dan Ardi duduk mengelilingi meja semen tersebut. Suasana pagi yang seharusnya tenang sebelum kelas pertama dimulai, seperti biasa, dipenuhi oleh keributan konyol dari dua sahabat mereka yang tak pernah bisa diam.

​Ardi, yang sedari tadi terus menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil menatap ke arah gedung kantin di seberang taman, tiba-tiba berdiri dengan gerakan gelisah.

​"Duh, perut gue udah demo anarkis nih dari tadi," keluh Ardi sambil memegangi perutnya. "Nasi kuning Bi Neneng pasti udah mateng jam segini. Sambel terasinya lagi manggil-manggil nama gue. Udah ah, gue duluan ke kantin ya! Takut kehabisan sisa keraknya!"

​Tanpa menunggu persetujuan yang lain, Ardi langsung mengambil langkah seribu, berlari kecil menyusuri jalan setapak taman menuju arah kantin dengan terburu-buru.

​Melihat Ardi kabur begitu saja, Randi yang sedang asyik memainkan ponselnya langsung mendongak. Matanya membulat panik, menyadari bahwa ia bisa kehilangan kesempatan untuk dibayari atau setidaknya meminta jatah lauk tambahan dari temannya itu.

​"Woy! Tunggu gue, kampret! Lu janji mau nraktir gue gorengan!" teriak Randi sambil buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. Ia melompat dari tempat duduknya dan langsung mengejar Ardi yang sudah berjarak belasan meter. "Ardi, tungguin! Jangan rakus lu makan sendiri!"

​Dari tempat duduknya, Rahmi hanya bisa menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan absurd kedua temannya itu.

​"Dasar dua curut kurang gizi," gumam Rahmi pelan, nada bicaranya sinis namun terselip kehangatan seorang sahabat.

​Setelah kepergian Ardi dan Randi, suasana di bangku semen itu mendadak hening. Hanya terdengar suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin sepoi-sepoi dan langkah kaki beberapa mahasiswa yang melintas di kejauhan. Keheningan ini seharusnya menjadi momen yang canggung, namun bagi Rahmi dan Alan, diam bersama adalah sebuah rutinitas yang biasa.

​Namun, ada yang tidak biasa dengan Alan pagi ini.

​Rahmi menolehkan wajahnya, melirik ke arah pemuda yang duduk tepat di seberangnya. Alan tampak mematung. Tubuhnya memang berada di taman kampus ini, duduk tegak dengan jaket hitam kebanggaannya, namun sorot matanya yang biasanya tajam dan fokus kini tampak kosong melompong. Alan terdiam dalam lamunan yang teramat dalam, seolah jiwanya sedang mengembara di dimensi lain.

​Di tangan kanan Alan, ponsel pintarnya tergeletak di atas meja semen, layarnya menyala terang. Dari sudut matanya, Rahmi yang memiliki insting tajam bisa melihat dengan sangat jelas rentetan notifikasi di layar tersebut. Ada 4 pesan baru yang masuk dari aplikasi WhatsApp. Dan nama pengirim yang tertera di sana, dengan huruf tebal yang sangat menyakitkan mata Rahmi, adalah: Bunga.

​Empat pesan dari wanita cantik primadona kampus itu terpampang nyata, menunggu untuk dibaca. Namun, anehnya, Alan sama sekali tidak merespons. Pemuda itu hanya menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong tak bernyawa.

​Kenyataannya, pikiran Alan saat ini sama sekali tidak berada pada pesan-pesan manis dari Bunga. Meskipun layar ponsel itu menyala tepat di depan hidungnya, visual yang tergambar di dalam otak Alan adalah gulungan kabut putih perak yang tebal dan mencekam. Lamunan Alan masih melayang jauh, terseret kembali ke dalam pusaran mimpi buruknya semalam.

​Di dalam kepalanya, suara alarm yang membangunkannya tadi pagi seolah hilang, digantikan oleh kesunyian yang memekakkan telinga dari lorong kosan. Alan kembali melihat wajah Rahmi di dalam mimpinya. Ia melihat dengan sangat jelas bagaimana raut wajah gadis tomboi yang selalu terlihat tangguh itu hancur berkeping-keping. Ia melihat air mata yang mengalir deras membasahi pipi Rahmi, melihat bahunya yang bergetar hebat dalam keputusasaan, dan yang paling mengganggu kewarasannya... ia melihat bagaimana bibir Rahmi bergerak-gerak meneriakkan sesuatu kepadanya, namun tak ada satu pun suara yang berhasil menembus tabir kabut itu.

​'Apa yang coba lu sampein ke gue, Mi?' batin Alan bertanya-tanya, dadanya kembali merasakan denyutan ngilu yang sama seperti saat ia terbangun dari tidur. 'Kenapa di saat gue coba ngedeket, lu malah makin jauh? Apa ini cuma sekadar bunga tidur, atau... ada sesuatu yang selama ini bener-bener gak gue liat dari lu?'

​Pertanyaan-pertanyaan itu berputar liar seperti badai di dalam tempurung kepala Alan, membuatnya benar-benar terisolasi dari dunia luar. Ia bahkan tidak menyadari bahwa gadis yang menjadi pusat dari mimpi buruknya itu kini sedang menatapnya dengan perasaan campur aduk.

​Di seberang meja, Rahmi menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Melihat Alan hanya diam memandangi layar ponsel yang menampilkan pesan dari Bunga, Rahmi secara otomatis mengambil kesimpulan yang salah—kesimpulan yang sangat logis bagi seorang wanita yang sedang patah hati.

​'Lu sebegitu senengnya dapet pesan dari dia, Lan? Sampai lu senyum aja nggak sanggup, saking lu terpesona sama nama Bunga di layar itu?' batin Rahmi menjerit pilu.

​Rasa cemburu, amarah, dan kesedihan melebur menjadi satu racun yang menggerogoti ulu hatinya. Rahmi tidak tahan lagi melihat pemuda yang ia cintai mati-matian itu termenung memikirkan wanita lain (menurut asumsinya) tepat di depan matanya sendiri. Ini adalah sebuah siksaan mental yang melampaui batas toleransinya.

​Rahmi harus menghentikan ini. Ia harus menyadarkan Alan.

​"Lan!" tegur Rahmi dengan suara keras, mencoba menutupi getaran perih di tenggorokannya.

​Namun, tidak ada respons. Alan masih mematung, matanya masih terpaku pada kehampaan di balik layar ponselnya. Lamunannya tentang kabut dan air mata Rahmi di dunia mimpi terlalu pekat untuk ditembus oleh satu panggilan saja.

​Melihat Alan yang tak bergeming, kekesalan Rahmi sedikit memuncak. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja semen itu, lalu memanggilnya lagi dengan volume suara yang lebih tinggi, hampir membentak.

​"Lan!!"

​Tetap saja, hening. Alan hanya berkedip sekali secara mekanis, namun kesadarannya belum kembali berlabuh ke raganya. Hembusan angin taman seolah membawa suara Rahmi pergi sebelum sempat menyentuh gendang telinga pemuda itu.

​Rahmi berdecak kesal, namun di balik kekesalan itu, ada kepanikan kecil. Tidak biasanya Alan melamun separah ini. Mengabaikan insting defensifnya, Rahmi mengulurkan tangan kanannya melintasi meja, lalu menepuk bahu kiri Alan dengan cukup keras. Sentuhan fisik itu disertai dengan panggilan teguran yang menyebutkan nama lengkap pemuda itu—sebuah kebiasaan Rahmi jika ia sudah benar-benar kehabisan kesabaran.

​"Alan Prawija!" seru Rahmi tegas, tepat di hadapan wajah Alan.

​Sontak, sentuhan fisik di bahunya dan penyebutan nama lengkapnya itu bekerja bagai sengatan listrik bervoltase tinggi. Alan tersentak kaget. Tubuhnya sedikit terlonjak di bangku semen. Kesadarannya ditarik paksa dari lorong berkabut itu kembali ke realita di bawah pohon mahoni.

​"Eh... iya!" sahut Alan tergagap, matanya membulat sedikit. Napasnya tiba-tiba terasa sedikit memburu, seolah ia baru saja berlari menembus jarak yang jauh.

​Alan langsung mendongakkan kepalanya, dan pandangannya langsung bertabrakan dengan sepasang mata Rahmi.

​Detik itu juga, waktu seakan berhenti berdetak di sekitar mereka berdua. Alan menatap lurus ke dalam manik mata gadis tomboi di hadapannya itu. Bayangan wajah Rahmi yang hancur menangis di dalam mimpi, kini bertumpang tindih dengan wajah nyata Rahmi yang sedang menatapnya dengan raut kesal bercampur khawatir.

​Tatapan Alan saat itu bukanlah tatapan datar, kaku, dan acuh tak acuh seperti yang selalu ia berikan kepada Rahmi selama setahun terakhir persahabatan mereka. Bukan. Tatapan Alan kali ini sangat tajam, sangat dalam, membedah setiap inci dari ekspresi wajah Rahmi. Ada kebingungan yang nyata di sana, ada rasa ingin tahu yang mendesak, ada secercah rasa bersalah yang tak beralasan, dan... ada sebuah tatapan yang teramat sulit untuk diartikan. Seolah-olah Alan sedang berusaha menembus topeng yang dipakai Rahmi, mencari sisa-sisa air mata atau kebenaran yang mungkin tersembunyi di balik mata galak gadis itu.

​Ditatap dengan intensitas yang luar biasa seperti itu dari jarak yang begitu dekat, pertahanan batin Rahmi nyaris hancur lebur.

​Jantung Rahmi, yang tadi berdenyut ngilu karena cemburu, kini berdetak tak keruan dengan ritme yang sangat cepat hingga rasanya ingin melompat keluar dari tulang rusuknya. Ia merasa ditelanjangi oleh tatapan Alan. Sorot mata pemuda itu terlalu kuat, terlalu menusuk, seakan mampu membaca setiap kata "aku cinta padamu" yang selama ini hanya bisa Rahmi teriakkan di dalam hati.

​Rahmi merasa napasnya tercekat. Rasa panik mulai menyelimutinya. Ia takut, teramat takut, jika Alan menyadari perasaannya sekarang, di saat Alan jelas-jelas sedang dimabuk asmara oleh kehadiran Bunga. Jika Alan tahu sekarang, Rahmi yakin ia tidak hanya akan kehilangan cinta, tapi juga kehilangan satu-satunya posisi yang mengizinkannya berada di dekat pemuda itu: sebagai seorang sahabat.

​Untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari kehancuran yang lebih besar, Rahmi buru-buru menarik tangannya dari bahu Alan. Ia memasang wajah ketus, senjata andalannya.

​"Apaan sih lu, Mi?" tanya Alan pelan, suaranya masih terdengar sedikit parau karena sisa-sisa keterkejutan. Tatapannya masih belum terlepas dari wajah Rahmi.

​Rahmi menelan ludah, memaksa bibirnya untuk bergerak dan mengucapkan kalimat yang justru akan menorehkan luka lebih dalam pada hatinya sendiri. Dengan susah payah, dan dengan kekuatan akting yang luar biasa dari seorang wanita yang sedang hancur, Rahmi menunjuk menggunakan dagunya ke arah ponsel Alan yang tergeletak di meja.

​"Tuh, si Bunga ngirim pesan," ucap Rahmi dengan terpaksa, nada suaranya dibuat sedatar dan secuek mungkin.

​Kalimat itu meluncur dari bibir Rahmi bagaikan silet yang mengiris tenggorokannya sendiri. Ia adalah orang yang menunjuk kepada saingannya. Ia yang memberitahu pria yang ia cintai bahwa wanita idamannya sedang menunggu balasan. Ini adalah bentuk penyiksaan diri yang paling masokis yang pernah Rahmi lakukan sepanjang hidupnya, namun ia harus melakukannya agar Alan berhenti menatapnya dengan tatapan mematikan itu.

​Setelah mengatakan hal tersebut, Rahmi langsung memalingkan wajahnya dengan cepat. Ia menatap lurus ke arah dedaunan mahoni di atas mereka, ke arah gerbang kampus, ke arah mana saja asalkan tidak harus bertatapan dengan mata Alan. Ia menggigit bagian dalam pipinya keras-keras, menahan agar tidak ada setetes pun air mata yang menumpuk di pelupuk matanya jatuh ke pipi.

​'Gue emang bodoh,' maki Rahmi pada dirinya sendiri dalam diam. 'Gue yang ngebangunin dia dari lamunannya, cuma buat ngingetin dia ke cewek lain. Selamat, Rahmi, lu bener-bener juara dalam hal nyakitin diri sendiri.'

​Mendengar ucapan Rahmi, Alan menundukkan pandangannya.

​"Eh... iya," gumam Alan singkat.

​Ia meraih ponselnya yang masih menyala. Rentetan pesan dari Bunga kembali mengambil alih layarnya. Lamunan tentang mimpi buruk itu perlahan mulai tersapu oleh realita dan kewajibannya untuk merespons wanita yang sedang menjalin kedekatan dengannya saat ini.

​Alan membuka aplikasi pesannya. Bunga mengirimkan beberapa pesan yang menanyakan kepastian dan detail tentang janji mereka untuk bertemu di hari Minggu nanti, yang jatuh tepat dua hari lagi dari hari ini. Bunga bertanya tentang jam berapa mereka akan berangkat dan di mana titik kumpul yang pas agar mereka bisa berangkat bersama menuju kafe bernuansa pegunungan di Dago Atas tersebut.

​Rahmi, yang berpura-pura melihat ke arah lain, sesekali melirik dari sudut matanya. Ia melihat bagaimana jemari Alan mulai mengetik balasan di atas layar kaca itu. Walaupun wajah Alan kembali datar, tapi gesturnya menunjukkan bahwa ia sedang memberikan perhatian penuh pada percakapan virtual itu.

​Setiap ketikan ibu jari Alan di layar ponsel terasa bagai detakan palu godam di dada Rahmi.

​Alan membaca ulang pesannya sejenak, lalu menekan tombol kirim. Balasan Alan untuk kepastian kencan mereka sangat sederhana, namun sangat menegaskan kedekatan mereka.

​[Iya Ngga, nanti aku jemput kamu ya ke rumah.]

​Tidak butuh waktu lama, hanya selang beberapa belas detik, ponsel Alan kembali bergetar kecil. Di seberang sana, Bunga yang sepertinya memang sedang memegang ponsel, langsung memberikan balasan persetujuan dengan antusiasme yang manis.

​[Oke ☺️ Hati-hati ya Alan ngampusnya hari ini.]

​Alan menatap balasan singkat bercampur emotikon itu. Ada kepuasan tersendiri di hatinya menyadari bahwa urusannya dengan Bunga untuk akhir pekan ini telah beres dan terjadwal dengan baik. Ia meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket, merasa bahwa satu beban pikiran telah terangkat. Namun, ganjalan aneh tentang mimpinya bersama Rahmi belum sepenuhnya hilang, hanya saja terpaksa ia kubur dalam-dalam untuk saat ini.

​Waktu berlalu dengan cepat, melintasi pergantian jam mata kuliah yang diisi oleh materi-materi akuntansi yang menguras otak, hingga akhirnya bel bernada panjang yang menandakan berakhirnya seluruh aktivitas perkuliahan sore itu berbunyi nyaring di seluruh penjuru gedung.

​Di dalam ruang kelas yang mulai riuh rendah oleh suara mahasiswa yang membereskan peralatan tulis mereka, geng kecil itu mulai merapikan tas masing-masing. Ardi dan Randi, seperti biasa, adalah orang pertama yang sudah menggendong tas ransel mereka dan bersiap untuk bergegas pergi.

​Alan menutup ritsleting tas punggungnya dengan tenang. Tepat sebelum mereka berempat melangkah keluar dari pintu kelas, tiba-tiba Rahmi menghentikan langkahnya. Gadis tomboi itu menoleh ke arah Alan yang berjalan di sampingnya.

​Ada dorongan impulsif di dalam dada Rahmi yang tak bisa ia bendung. Keheningan dan rasa was-was yang ia pendam sejak pagi di taman kampus kini menuntut sebuah kepastian. Ia harus tahu apa yang akan ia hadapi sore ini di tempat kerja Alan.

​"Lan," panggil Rahmi, suaranya terdengar sedikit ragu, namun ia memaksakan diri agar terdengar sinis seperti biasa. "Si Bunga ke cafe lagi gak sore ini?"

​Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Sebenarnya, Rahmi tidak ingin tahu. Ia sangat takut mendengar jawabannya. Namun, ketidaktahuan jauh lebih menyiksa baginya. Jika Bunga datang, ia harus menyiapkan mental baja untuk melihat pemandangan menyakitkan itu lagi, atau mencari-cari alasan untuk pulang lebih awal.

​Mendengar pertanyaan mendadak dari Rahmi, Alan menghentikan langkahnya di ambang pintu kelas. Ia menoleh menatap Rahmi dan terdiam sejenak. Ada secercah rasa heran melintas di benaknya. Mengapa belakangan ini Rahmi jadi sering sekali menanyakan keberadaan atau urusannya dengan Bunga? Bukankah Rahmi biasanya paling tidak peduli dengan urusan asmara orang lain?

​Namun, otak logis Alan yang tumpul akan perasaan wanita menepis keheranannya itu dengan cepat. Ia berpikir mungkin Rahmi hanya sekadar kepo layaknya teman-teman perempuan pada umumnya.

​"Ya gue gak tau, Mi," jawab Alan santai, mengangkat bahunya sedikit. "Lu tanya aja sendiri sama orangnya kalau emang lu penasaran banget. Kan lu yang biasanya hobi ngobrol ngaler-ngidul."

​Mendengar jawaban Alan yang terkesan cuci tangan dan malah melempar bola kepadanya, emosi Rahmi yang sudah labil seharian ini langsung tersulut. Rahmi membalas ucapan Alan dengan cepat dan tajam, matanya mendelik kesal.

​"Dih, apaan! Yang suka telponan sama chattingan tiap menit juga elu, bego!" sungut Rahmi dengan nada ketus yang menyengat. "Masa hal sepele kayak jadwal apel pacar lu ke kafe aja lu gak tau? Kalau gue yang nanya ke dia ntar dikiranya gue stalker lagi!"

​Alan sedikit terperanjat mendengar nada suara Rahmi yang mendadak meninggi dan penuh penekanan, terutama pada kata 'pacar lu'. Meskipun sebenarnya ia belum resmi berpacaran dengan Bunga, namun mendengarnya dari mulut Rahmi entah kenapa membuat telinganya sedikit panas. Alan merasa tidak perlu meladeni perdebatan ini lebih panjang. Ia punya pekerjaan yang harus segera ia selesaikan sore ini.

​"Emang mau apa lu tanya-tanya si Bunga segala sih, Mi?" balas Alan dengan nada suara yang mulai ikut meninggi, raut wajahnya mengeras menahan jengkel. Ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan. "Mending kita langsung cabut ke parkiran aja sekarang. Takut macet parah di jalan Dipatiukur. Ntar kalau gue telat sampai kafe, gue gak bisa nyantai dulu atau ganti baju sebelum shift kerja gue mulai. Bang Hendri bisa ngomel ntar."

​Sebelum perdebatan antara Alan dan Rahmi semakin memanas menjadi pertengkaran di ambang pintu, Ardi dan Randi yang sedari tadi sudah berdiri menunggu di lorong luar kelas langsung menyela obrolan mereka.

​"Woy, elah! Cepetan ah lu berdua malah debat capres di pintu!" seru Ardi dengan wajah tak sabar, tangannya melambai-lambai menyuruh mereka cepat.

​"Bener tuh kata si Ardi! Cepetan buruan!" timpal Randi tak kalah heboh. "Gue udah gak sabar banget pengen nebeng WiFi di kafe nih, kampret! Kuota gue udah sekarat banget sisa 50mb doang, ntar gue gak bisa download episode terbaru anime gue! Hayu ah gaskeun!"

​Melihat tingkah laku kedua sahabat mereka yang kelakuannya selalu berorientasi pada hal-hal gratisan dan perut, Alan dan Rahmi yang tadinya sedang tegang, secara otomatis dan bersamaan, langsung membuang napas kasar. Mereka berdua kompak menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, merutuki nasib memiliki teman seperti Ardi dan Randi. Ketegangan di antara mereka berdua pun mencair untuk sementara waktu.

​Setibanya di area parkiran fakultas, keempat sekawan itu langsung menuju kendaraan mereka masing-masing untuk berangkat menuju Cafe Nuansa.

​Kontras yang mencolok sangat terlihat dari cara mereka berkendara. Rahmi, dengan segala kemewahan fasilitas yang diberikan oleh ayahnya, berjalan gontai membuka kunci mobil SUV hitam keluaran Eropa miliknya. Sebuah mobil yang interiornya dilapisi kulit premium, sound system canggih, dan mesin yang menderu sehalus sutra—kendaraan khas anak sultan yang selalu menjadi pusat perhatian di parkiran kampus, meskipun pemiliknya berpenampilan seperti anak jalanan yang baru selesai moshing di konser rock.

​Di sisi lain area parkir, Alan berjalan menuju motor kesayangannya. Sebuah motor sport 250cc yang badannya penuh lekukan aerodinamis. Motor itu adalah hasil jerih payahnya menabung bertahun-tahun dari gaji kerjanya di kafe, sebuah benda yang ia rawat layaknya anak sendiri. Suara knalpotnya menderu rendah namun garang saat Alan memutar kunci kontaknya. Sementara itu, di belakangnya, Randi dan Ardi sudah nangkring berboncengan di atas motor matic usang milik Ardi yang bodinya penuh stiker band indie dan suaranya sedikit cempreng.

​Setelah bersiap, mereka beriringan keluar dari gerbang kampus. Mobil Rahmi melaju dengan tenang di depan, diikut oleh motor besar Alan yang bermanuver lincah membelah kemacetan sore Kota Bandung, dan di barisan paling belakang, motor matic Ardi berjuang mengimbangi kecepatan mereka.

​Perjalanan sore itu diwarnai oleh langit jingga yang perlahan berubah menjadi kelabu, seolah merefleksikan suasana hati Rahmi yang muram.

​Setibanya di pelataran parkir Cafe Nuansa, suasana kafe sudah mulai terlihat ramai oleh pengunjung yang datang untuk menikmati secangkir kopi sepulang kerja. Tanpa aba-aba, begitu mesin motor matic dimatikan, Randi dan Ardi langsung melompat turun dan berlari kencang menuju pintu masuk kafe, meninggalkan Alan dan Rahmi yang masih merapikan kendaraan mereka di parkiran.

​Kedua pemuda itu mendorong pintu kaca kafe dengan antusiasme yang luar biasa. Lonceng kecil di atas pintu bergemerincing nyaring.

​"Pagi, Baaang!!" teriak Randi dan Ardi serempak dengan suara menggelegar ke arah meja bar, seolah-olah saat ini matahari baru saja terbit, padahal hari sudah nyaris menjelang magrib.

​Bang Hendri, yang sedang sibuk mengecek catatan stock biji kopi di dekat mesin espresso, terlonjak kaget mendengar teriakan tak masuk akal itu. Ia menoleh dan mendelik ke arah dua parasit WiFi kesayangannya itu.

​"Pagi mata lu peyang!" balas Bang Hendri sewot, mengangkat buku catatannya seolah ingin melempar mereka berdua.

​Randi tertawa lebar, tak merasa berdosa sedikit pun. "Eh, salah ya, Bang? Ya udah deh, direvisi. Subuh, Baaang!"

​Bang Hendri memijat pangkal hidungnya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gaya dramatis, meratapi nasib kafenya yang selalu kedatangan makhluk-makhluk absud ini.

​"Kebiasaan lu pada," omel Bang Hendri dengan nada kebapakan yang khas. "Ke sini cuman ngemis WiFi aja kerjaannya, ngerusuhin pengunjung gue yang lain, ordernya cuma es teh manis satu gelas diminum berdua! Ampun dah gue punya kenalan mahasiswa model begini."

​Sementara Ardi dan Randi cengengesan tak peduli dan mulai melangkah menuju meja pojok kebesaran mereka, pintu kaca kafe kembali berderit terbuka. Kali ini, Alan dan Rahmi melangkah masuk secara beriringan.

​Begitu pandangan Bang Hendri menangkap sosok Rahmi yang berjalan di sebelah Alan, raut wajah pria paruh baya itu seketika berubah. Omelan lucunya menguap begitu saja. Ada sorot kelegaan, namun sekaligus rasa kasihan yang mendalam saat ia menatap wajah gadis tomboi itu.

​Bang Hendri meletakkan buku catatannya di atas meja bar, lalu bersandar menghadap ke arah Rahmi yang kebetulan sedang melintas di depan bar untuk menuju ke mejanya.

​"Kemarin ke mana lu, Mi?" tanya Bang Hendri. Suaranya tidak keras, namun nadanya sangat serius dan menuntut jawaban.

​Mendengar pertanyaan itu, langkah kaki Rahmi terhenti. Ia terdiam sejenak. Tangannya yang masuk ke dalam saku jaket jeans-nya mengepal erat. Ia tahu betul bahwa ia harus memberikan alasan yang sama seperti yang ia berikan pada teman-temannya di kampus tadi pagi.

​Dengan wajah datar dan ekspresi se-natural mungkin, Rahmi menoleh menatap pria yang sudah menganggapnya seperti adik sendiri itu.

​"Biasa, Bang... PMS," jawab Rahmi singkat. Ia sengaja tidak memperpanjang kalimatnya agar suaranya tidak terdengar bergetar. "Perut gue kram parah kemaren, jadi gue milih goleran aja di kasur seharian."

​Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Rahmi, Bang Hendri tidak memberikan respons secara verbal. Pria paruh baya itu hanya diam mematung, menatap lurus ke dalam sepasang mata Rahmi.

​Sebagai orang yang memiliki asam garam kehidupan jauh lebih banyak, Bang Hendri tidak bisa dibohongi semudah itu. Ia melihat kantung mata Rahmi yang sedikit membengkak meskipun sudah ditutupi bedak tipis. Ia melihat bagaimana kilau ceria yang biasanya ada di mata gadis itu kini redup sepenuhnya.

​Bang Hendri menghela napas panjang dalam diamnya.

​'PMS... atau lu cuma gak mau ngeliat si Bunga deket-deket sama si Alan di sini, Mi?' batin Bang Hendri berbicara sendiri, sebuah monolog yang sarat akan kepedihan.

​Mata Bang Hendri tak lepas dari sosok rapuh di hadapannya. Ia merasa sangat iba melihat perjuangan gadis ini.

​'Mau sampai kapan, Mi? Mau sampai kapan lu nyembunyiin perasaan lu yang berdarah-darah itu di balik topeng persahabatan kalian? Lu ngerasa dengan pakai topeng itu lu bisa terus ada di deket dia, lu ngerasa aman karena gak akan pernah ditolak. Tapi lu salah besar, Mi. Topeng persahabatan lu itu adalah bom waktu. Topeng itu yang nantinya bakal ngehancurin hati lu sendiri secara perlahan, sampai lu gak akan sanggup lagi buat napas.'

​Meskipun hatinya menjerit ingin menceramahi Rahmi agar jujur pada perasaannya sendiri, Bang Hendri sadar bahwa ini bukan kapasitasnya untuk ikut campur terlalu dalam. Ia tidak ingin mempermalukan Rahmi di depan teman-temannya, apalagi di depan Alan yang kini sudah berlalu menuju ruang loker karyawan di belakang untuk berganti seragam.

​Bang Hendri memutus kontak mata mereka, lalu menegakkan tubuhnya, kembali memasang wajah bos kafe yang santai.

​"Ya udah kalau gitu, lu istirahat aja ngadem di sini. Minum yang anget-anget," ucap Bang Hendri mengakhiri interogasi bisunya. Ia lalu memalingkan wajahnya ke arah seorang pelayan yang sedang menyusun gelas tak jauh darinya.

​"Gue mau ke atas dulu ya. Mau ngopi bentar sambil ngelarin laporan keuangan bulan ini di ruangan. Lu makan dulu sana, Gi. Gantian shift jaga bar-nya sama si Alan kalau dia udah beres ganti baju," perintah Bang Hendri.

​Yogi, salah satu pelayan senior di kafe itu, langsung mengangguk hormat. "Iya, Bang. Siap laksanakan."

​Setelah memberikan instruksi, Bang Hendri berbalik dan melangkah menuju tangga yang mengarah ke lantai dua, meninggalkan hiruk-pikuk kafe di bawah.

​Setelah Bang Hendri pergi, Rahmi kembali melanjutkan langkahnya menyusul Randi dan Ardi. Kedua sahabat karib itu sudah duduk anteng di meja pojok favorit mereka. Randi sedang sibuk mengetikkan password WiFi kafe di ponselnya, sementara Ardi sudah mulai berteriak memanggil Yogi untuk memesan seporsi besar kentang goreng dan minuman termurah yang ada di menu.

​Rahmi menarik kursi kayu dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Ia meletakkan kunci mobilnya di atas meja dengan kasar.

​Secara fisik, Rahmi sudah berada di tempat favoritnya, dikelilingi oleh teman-temannya. Namun secara mental, Rahmi sedang berada di medan perang yang paling menakutkan.

​Perasaan was-was dan kecemasan yang luar biasa mulai menyelimuti seluruh relung hatinya. Ia duduk dengan posisi tubuh yang tegang. Matanya yang tajam bak elang sesekali melirik dengan liar ke arah pintu kaca kafe setiap kali ada suara lonceng berbunyi, mendadak berdebar kencang saat melihat siluet pengunjung yang masuk, lalu kembali menghela napas lega saat menyadari bahwa yang datang bukanlah orang yang ia takuti.

​Rahmi sangat ketakutan. Ia teramat sangat tidak ingin melihat Bunga melangkah masuk dari pintu itu sore ini. Ia tidak ingin melihat senyum Bunga, tidak ingin mendengar tawanya, dan yang paling utama, ia tidak ingin melihat bagaimana mata Alan menatap Bunga dengan kelembutan yang menyayat hati, membelah jiwanya menjadi dua, perlahan-lahan menghancurkannya dari dalam sementara ia harus terus duduk di sana dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja di balik topeng 'sang sahabat'.

1
Reza Reva
kasihan Rahmi cinta tak terbalas
Yuni Uni
paling ga suka baca novel on going,,,capek nungguh up nya tp tetep nungguin kapan up nya thor
falea sezi
lanjut Thor q ksih Hadiah
falea sezi
pindah kuliah rahmi🤣 laki g tau diri emank sih dia g tahu siapa yg bantu dia kira hendri tp dia uda buang berlian demi jalang🤣
falea sezi
pergi jauh rahmi pengorbanan mu g di hargai
falea sezi
kacian bgt rahmi klo lu lebih milih bunga lu salah besar alan🤭ada yg tulus nrima lu apa adanya loh malah lirik bunga bangke
Reza Reva
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!