Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?
Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.
Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Perahu Dayung Mbah Jarot
Roda truk Ucok akhirnya berhenti berputar setelah melewati jalanan tanah berbatu yang berlubang parah. Suara bising mesin diesel yang sedari tadi mengawal pelarian kami mendadak mati, menyisakan sunyi yang langsung menyergap telinga. Kami sampai di kolong jembatan rawa purba, salah satu sudut paling mati di pinggiran Tanjungbalai yang luput dari jangkauan lampu jalanan kota.
Aku buru-buru memarkirkan motor bebekku di balik semak liar, lalu melangkah cepat mendekati bagian belakang truk. Atmosfer di sini berubah drastis. Tidak ada lagi kilatan lampu halogen atau teriakan petugas pos jaga. Yang ada hanyalah bau busuk lumpur bakau yang menyengat, bunyi jangkrik yang saling bersahutan, dan suara kecipak air muara yang hitam pekat beradu dengan akar-akar pohon nipah.
"Cepat, Lara! Jangan buang waktu, hawa di sini tidak enak," bisik Ucok setengah berteriak dari balik pintu kemudi. Dia bergerak cepat ke belakang, membuka selot besi pintu boks truk dengan suara berderit pelan.
Begitu pintu boks terbuka, kepulan uap putih dingin langsung menyembur keluar, membawa bau anyir sisa ikan tongkol yang menusuk hidung.
Namun, bukan bau ikan yang membuat dadaku mendadak sesak, melainkan pemandangan di dalam boks kayu itu.
Kala terguling di antara sisa es balok yang hancur.
Tubuh tingginya menekuk, kedua tangannya mencengkeram dadanya sendiri, dan napasnya tersengal-sengal pendek seperti orang yang kehabisan oksigen. Yang mengerikan, kulitnya tidak lagi memancarkan pendaran perak yang sehat, melainkan tampak kering, kusam, dan dipenuhi keringat dingin yang mengucur deras.
Tubuhnya gemetaran hebat.
"Kala! Hei, kau kenapa?!" Aku langsung memanjat lantai boks truk, tidak peduli lagi celanaku harus basah kuyup terkena lelehan air es ikan.
Aku menyentuh pipinya. Dingin, tapi kering. Sial, ini bukan karena dia kedinginan. Otakku langsung mengingat sesuatu tentang sifat dasar makhluk air seperti dia. Es balok hancur yang disediakan Ucok ini adalah es batangan buatan pabrik Sektor Timur yang diproses menggunakan campuran bahan kimia penstabil dan asap es yang kering.
Itu bukan air tawar alami yang dia butuhkan.
Berjam-jam terkurung di dalam boks itu justru membuat kelembapan tubuhnya terkuras habis.
Dia dehidrasi parah.
"Air... air tawar..." bisik Kala sangat lirih, nyaris tak terdengar. Mata emasnya yang biasa menatapku dengan angkuh dan tajam, kini meredup layu, setengah tertutup oleh kelopak matanya yang bengkak. Keangkuhan cowok pelindung hulu sungai ini runtuh total malam ini. Dia terlihat begitu rapuh dan tak berdaya.
"Ucok, bantu aku papah dia turun! Pelan-pelan, dia lemas sekali!" seruku panik.
Ucok sempat ragu, wajahnya ketakutan melihat sekelebat sisik perak yang mulai memudar di pelipis Kala, tapi dia tetap mengulurkan tangan kekarnya. Kami berdua memapah tubuh besar Kala keluar dari boks truk. Kakinya menyentuh tanah lumpur isap di tepi rawa, langsung amblas sebatas mata kaki. Kala nyaris tersungkur ke depan kalau aku tidak menahan dadanya dengan kedua tanganku. Bobot tubuhnya yang berat membuat napas kurusku ikut terengah-engah.
"Woi! Kelamaan korang! Mau mampus ditangkap orang Baron di sini?!"
Sebuah suara serak dan ketus memecah kegelapan dari arah bawah rimbunnya pohon nipah. Sesosok pria tua bertopi pandan muncul dari balik badan perahu dayung kayu yang bergoyang pelan di atas air hitam. Itu Mbah Jarot.
Mulutnya bergerak-gerak sibuk mengunyah sirih, lalu meludah ke arah akar bakau, meninggalkan bercak merah pekat yang langsung larut ditelan air muara.
"Mbah, tolong, dia sekarat! Dia butuh air rawa alami!" kataku setengah memohon sambil terus menahan tubuh Kala yang makin merosot ke bawah.
Mbah Jarot mendengus, mata tuanya menatap Kala dengan pandangan dingin tanpa simpati.
"Kukira naga sakti, rupanya cuma cacing besar yang payah. Tarik dia ke atas perahu sebelum air surut!"
Ucok membantuku mendorong punggung Kala sampai cowok itu berhasil merangkak naik ke atas bilah papan perahu dayung yang sudah lapuk.
Setelah memastikan Kala aman, Ucok menepuk pundakku pelan. "Aku harus balik ke pasar sebelum subuh, Lara. Biar manifesku tidak dicurigai orang gudang sortir. Kau hati-hati dengan si tua bangka ini."
Aku mengangguk cepat. "Terima kasih, Cok. Utang nyawa aku sama kau."
Truk boks Ucok segera berlalu, menyisakan aku, Mbah Jarot, dan Kala yang terkapar di tengah perahu. Mbah Jarot mulai mendorong dayung kayunya menjauh dari tepi lumpur. Perahu bergerak lambat, membelah kabut tipis yang mulai turun menyelimuti permukaan labirin bakau.
Aku langsung berlutut di samping Kala. Suasana di atas perahu ini begitu sunyi, hanya ada suara kecipak dayung yang mengayuh air pelan-pelan.
Aku membuka ransel oranyeku, mengambil sebotol air minum mineral yang kubawa dari kosan. Dengan tangan gemetaran, aku mengangkat sedikit kepala Kala, meletakkannya di atas pangkuan pahaku yang basah.
"Hei, minum ini dulu. Ini air tawar bersih, bukan es kimia," bisikku pelan, mencoba melembutkan suaraku yang biasanya cempreng dan suka memaki.
Aku mengarahkan ujung botol ke bibirnya yang pecah-pecah. Kala meminumnya dengan rakus, seteguk demi seteguk hingga airnya meluber ke dagu dan lehernya. Tangannya yang besar bergerak lemah, tanpa sengaja mencengkeram pergelangan tanganku yang bebas. Sentuhan kulitnya yang sedingin es membuat jantungku berdesir aneh. Ada rasa canggung yang mendadak menyergap dadaku saat menatap wajahnya dari jarak sedekat ini dalam remang malam.
Dia perlahan membuka matanya, menatapku lurus-lurus. "Kenapa... kau tidak tinggalkan saja aku di pos jaga tadi? Kau bisa celaka gara-gara mulut lancangmu itu."
Aku mendengus pelan, pura-pura kesal untuk menutupi rasa gugup yang mendadak menyerang.
Aku mengambil selembar kain dekil dari dalam tas, membasahinya dengan sisa air minum, lalu menyeka keringat dingin di dahi dan pelipisnya dengan gerakan yang kuusahakan selembut mungkin.
"Jangan banyak cakap dulu kau. Sudah kubilang kan, aku ini kurir logistik. Sekali paket sudah kuambil, pantang bagi aku untuk kecolongan atau meninggalkannya di tengah jalan. Termasuk kau, paket besar merepotkan," ujarku ketus, walau mataku tidak berani menatap langsung ke dalam manik mata emasnya yang indah.
Kala tidak membalas. Dia hanya mengembuskan napas panjang yang mulai terasa lebih teratur, lalu perlahan memejamkan matanya kembali, membiarkan kepalanya tetap bersandar di atas pangkuanku seolah itu adalah tempat paling aman di dunia. Kebergantungan penuh yang dia tunjukkan malam ini membuat perasaanku makin campur aduk.
"Jangan senang dulu korang berdua," suara serak Mbah Jarot tiba-tiba memutus momen canggung di antara kami. Dayung kayunya masih bergerak konstan, membawa perahu kami menyusup semakin dalam ke bawah terowongan alami yang dibentuk oleh dahan-dahan pohon bakau yang saling bertautan di atas kepala.
Mbah Jarot kembali mengunyah sirihnya, matanya menatap tajam ke kegelapan di depan kami. "Kita ini sudah masuk ke jalur tikus air yang terlarang. Di balik akar-akar nipah ini, mata-mata Baron sering pasang perangkap atau bersembunyi. Kalau sampai korang lengah sedikit saja, nyawa kita bertiga taruhannya. Paham?!"
Peringatan Mbah Jarot membuat kehangatan kecil di dadaku langsung menguap, digantikan oleh rasa waswas yang kembali mencuat. Aku memandang ke sekeliling. Hutan bakau di kanan-kiri kami tampak seperti raksasa hitam yang siap menelan perahu tua ini bulat-bulat. Sisa peradaban pelabuhan yang bising telah hilang sepenuhnya di belakang kami. Kini, kami benar-benar bergerak masuk ke dalam jantung kegelapan rawa, menuju misteri dan bahaya yang sudah menanti di babak berikutnya.